Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 151


__ADS_3

"Entahlah kak, aku takut bertemu dengannya. Nyaliku ciut membayangkan aku mau bertemu dengannya. Takut dia membenci dan tak mau menerimaku," ujar Enji sedih. 


Arion mengangkat tangannya dan berusaha menepuk pundak Enji.


"Cobalah dulu. Jangan negatif thinking sebelum mencoba. Kakak yakin pasti Enji bahagia. Kakak lihat ekspresi wajahnya yang penasaran saat kakakmu ini mau mengatakan siapa orang tuanya. Dan saat tak jadi wajahnya kecewa namun tetap tersenyum, jadi cobalah. Rasa kecewa pasti ada. Tapi tutupi itu dengan rasa bahagia dan kasih sayangmu nanti," saran Arion.


"Baiklah kak, siang nanti aku akan ke sekolahnya," ujar Enji.


"Bagus! Ini baru adikku," senang Karina. Enji tersenyum. Mereka berangkulan dan menatap ke langit, membiarkan cahaya mentari pagi menyapu hangat wajah mereka.


Byur!


Suara benda jatuh ke air membuat ketiganya menoleh dan mencari sumber suara.


"Kak apa mereka jatuh ke kolam ikan imutmu?" tanya Enji panik.


"Ikan imut? Yang mana Zi? Piranha apa si imut ikan cupa*g?" tanya Arion.


"Piranha lah kak, mana mungkin di kolam itu. Yang ada pada mabuk ikannya kalau mereka nyebur ke kolam ikan lagamu," ujar Enji.


"Tapi kolam piranha sudah aku lapisin dengan kaca berwarna gelap, tak mungkin bisa tembus, peluru saja tidak tembus," ucap Karina.


"Jika begitu …," ucap Enji.


"Astaga!" pekik ketiganya menepuk dahi serentak. Di lantai paling atas yang hanya beratap sebagian kan ada kolam renang. 


"Mereka ini," keluh Karina gemas.


"Kan kamu sendiri yang mengatakan anggap rumah sendiri, mereka melakukan apa yang kamu katakan sayang," ujar Arion.


"Benar juga, aku lupa." Karina menepuk dahinya lagi. Arion dan Enji mendengus. Karina diam dan melihat ke lantai di mana kolam renangnya berada. Karina mengerjap.


Mandi? Berenang? Ah roti sobek, kotak-kotak, perut sicpack, aku datang, owh aku mau lihat dia! pekik Karina dalam hati.


"Kak kau tersenyum mesum begitu apa ada? Kau mikir apa?" tanya Enji curiga.


"Ah Oppa aku datang, roti sobek aku datang, yuhuuu," girang Karina tancap gas ke masuk rumah.


"Hah? Sayang kamu naksir sama mereka? Istriku sayang, punyaku lebih dari mereka semua, Karina!" teriak Arion kesal dan cemburu.


"Ji antar aku, Istriku itu mengapa jadi begitu?" keluh Arion pada Enji.


"Kak jiwa playgirl kak Karina mulai deh, dulu saja waktu SMA satu sekolah kepincut sama dia, eh malah dihempas semua, tapi asal lewat kalau lagi mood disenyumin, dibaperin gitu loh," heran Enji menuntun Arion.


"Jadi sifat aslinya itu apa sih? Aku bingung jadinya," tanya Arion.


"Kak Karina itu bagaikan bungkon, dapat berubah berdasarkan kondisi. Tapi kebanyakan sih dingin," ujar Enji.


"Begitu ya," ucap Arion. Enji mengiyakan.


Blue Boys memang berenang di kolam renang. Satu hal yang unik dari kolam renang ini, airnya berwarna merah namun bukan darah. Itu adalah hasil pembiasan cahaya dengan lantai dasar kolam renang dan berwarna merah darah. 


Karina dengan wajah datarnya berjalan di pinggir kolam dan duduk di kursi santai yang tersedia.  Matanya dimanjakan dengan para member yang bercanda di tengah kolam.  Ada juga yang berenang olahraga. Para member yang berada di kolam renang menatap Karina. 


"Why?" tanya Karina.


"Tidak," jawab Koya.


"Kolam renangmu unik ya, merah ku kira tadi darah atau sirup," ucap Tata menciptratkan air ke arah Kuki.


"Jika mau kolam darah sesungguhnya bisa, tapi apa kau tahan bau anyirnya darah?" tanya Karina menaikkan satu alisnya dan tersenyum tipis.


"Darah? Sungguhan? Memang ada?" tanya Blue Boys tak percaya.


"Adalah, darah para musuh yang akan ku tumpas dan darahnya aku tampung di kolam ini, jadinya kan kolam darah," jelas Karina enteng.


Glek. Blue Boys menelan ludah takut. Mereka saling berpandangan dan menuju pinggir kolam lalu naik. Mengambil handuk dan mengelap tubuh mereka.


Mata Karina menatap lekat mereka walau sejenak. 


"Aku mau pulang," pinta Chimmy.


"Ini mah lebih para dari mau syuting," tambah Mang.


"Boleh saya ke markas Anda?" tanya Koya dan Kuki.


Lima member lainnya melongo, dua minta pulang, dua lagi minta lanjut lantas tiga lagi mau apa?


Rasa penasaran, takut bercampur jadi satu oleh karena itu mereka memutuskan tetap lanjut. 

__ADS_1


"Hehehe … aku bercanda kawan, jangan serius sekali. Aku lagi gak mood war, oh ya bersiaplah, kalian akan ke markasku, pakaian simpel saja," ujar Karina menahan tawa melihat ekspresi mereka tadi.


"Kau mengerjai kami?" pekik Tata kesal.


"Bercanda Anda tidak lucu," ketus Agus.


Karina menarik aura bersahabatnya menjadi mencekam. Ia menatap Agus tajam.


"Aku memang tidak lucu, itulah caraku bercanda, kalian berada di genggemanku selama satu minggu, jadi let's enjoy we quality time," ucap Karina datar.


"Baiklah," sahut Blue Boys.


Enji dan Arion yang mendengar itu geleng-geleng kepala, walaupun tak bisa melihat, jelas di benak Arion wajah loading Bangtan Boys.


"Cepat bersiap, kita sarapan lalu ke markas," titah Karina tegas menghampiri Arion dan Enji.  Blue Boys mengangguk dan beranjak.


"Yang kamu cemburu ya?" tanya Karina lembut.


"Hm," sahut Arion kesal.


"Sudah jangan cemburu, hanya kamu yang ada di hati aku, tak ada yang lain," ujar Karina.


"Iya, kamu juga jaga pandangan dong Yang, masa kamu lari saja tanpa pikir panjang, kalau terjadi apa-apa gimana? Kasihan anak kita," nasehat Arion.


"Baiklah, aku kan cuma penasaran, lihat di ig dan media sosial lainnya tak puas, mumpung bisa lihat langsung kan wajah aku antusias," jelas Karina.


"Kak kau tak menhacker mereka kan?" tanya Enji curiga.


"Sebenarnya mau, tapi kan harus jaga pandangan, maaf ya Yang," pinta Karina.


"Iya, sudah yuk kita bersiap," putus Arion. Enji dan Karina mengangguk dan bergegas menuju kamar masing-masing.


Pukul 07.30, semua berkumpul di meja makan. Menikmati sarapan nasi uduk dan lontong kecap spesial. Lahap, itulah keadaan sekarang. Antusias Blue Boys tinggi sekali menyantap makanan baru bagi mereka.


Apalagi yang tukang makan, berebut dengan Karina yang juga kuat makan dan ada yang harus ia beri asupan di dalam rahimnya. Bik Mirna dengan cepat membawakan lagi sarapan dari dapur.


Akhirnya keadaan kembali tenang. Pukul 08. 15 semua telah berdiri di depan pintu rumah Karina.


Di sana hanya terparkir dua mobil yaitu marcedes benz untuk Karina dan Arion serta lamborgini Venemo untuk Enji. Nyatanya Enji lebih memilih menaiki motor sport. 


Saat Blue Boys tengah mengobrol, mereka dikejutkan dengan lantai di depan mereka yang merenggang.


"Gempa!" pekik Kuki.


Arion pun ikut panik, ia menggenggam erat tangan Karina. Karina dan Enji hanya tersenyum. Karina menggerakkan kepalanya agar ketujuh member itu tenang.


"Santai Hyung, ini bukan gempa, hanya mobil yang mau keluar dari garasi dan ini adalah jalannya," terang Enji berteriak. Blue Boys tenang seketika. Mereka anteng. Arion tampak membulatkan matanya.


"Garasi bawah tanah katanya?" tanya Chimmy.


"Ya, kita lihat saja," jawab Koya.


"Mobil untuk kita kah?" terka Tata.


"Mungkin," sahut RJ. Karena mengobrol yang fokus tanpa mereka sadari di depan mereka kini telah terparkir satu mobil alphard berwarna hitam. Pak Anton memberikan kunci pada Nam Joon dan bergegas ke mobil yang akan Karina naikki.


"Kuy berangkat, lima di mobil ini dan dua lagi di lamborgini, sayang sudah dikeluarkan tak dipakai, anak nakal ini memang aneh," ajak Karina. Enji terkekeh. Ia rindu naik motor.


"Oke," jawab Blue Boys. Karina dan Arion langsung masuk mobil.


Pak Anton masuk dan menyalakan mesin mobil. Enji memakai helm dan menaiki motor. 


"Aku dan anak ini naik Lamborgini dan kalian berlima naik ini ya," titah Koya sebagai leader.


"Oke," jawab mereka.


Kuki dan Koya langsung masuk ke mobil lamborgini dengan Kuki sebagai pengemudi dan lima lainnya naik alphard dengan Agus sebagai pengemudi. 


Tak lama, tiga mobil dan satu motor itu keluar dari kediaman Karina. Karina sebagai pembawa jalan melaju dengan kecepatan sedang. Perubahan rencana, mereka ke markas dulu baru rumah sakit, itupun hanya mengantar para member setelah itu capcus deh ke hospital.


"Hyung, mobil ini berbeda," ucap Kuki. Koya menaikkan satu alisnya serta memperhatikan seisi mobil.


"Apa yang berbeda? Sama saja seperti mobil lamborgini apa umumnya," tanya Koya. Kuki mendengus. Kirain tahu, huh.


"Yang pertama kemudinya lebih nyaman, ringan serta kecepatannya sudah dimodifikasi. Ini lebih cepat daripada aslinya. Yang kedua, ada tombol tambahan di sini, lihat juga apa yang terdapat di sini, intinya mobil ini sudah dimodifikasi," jelas Kuki.


"Oh ya?" tanya Koya tak percaya. Melihat tombol apa saja yang terdapat di sisi pintunya. Tanpa sengaja ia menekan satu tombol. 


Sistem suara dan sensor gerak aktif. Menuju markas, kecepatan biasa 200 km/jam. 

__ADS_1


Suara sistem bergema. Kuki dan Koya saling pandang. Kuki tanpa sengaja melepaskan kemudi.


"Hyung apa yang kau tekan?" panik Kuki merasa mobil melaju lebih cepat dan menyalip mobil Karina. Bergerak dengan kecepatan tersebut menyalip kendaraan yang menghambat.


"Mana aku tahu, aku hanya menekan satu tombol dan hasilnya begini," seru Koya berpegang erat pada pegangan di atas kepala.


"Astaga! Lebih baik aku bersama mereka saja," teriak Kuki. Koya berusaha tenang. 


"Tenang Kook, ini bukan masalah. Tapi kecepatan ini siapa yang menyetel? Apa Nona Karina?" ujar Koya menoleh ke arah Kuki.


"Wanita itu memang aneh!" keluh Kuki. Mereka akhirnya duduk diam dan menikmati perjalanan sebab mobil bisa mendeteksi kendaraan lain, belokan dan rambu lalu lintas.


"Jadi ingat film tarzan," ucap Koya.


"Yang mana? Buatan siapa? Banyak film tarzan," tanya Kuki.


"Yang di India," jawab Koya.


Sedangkan lima member lainnya terpukau takjub dengan cara Kuki mengemudi, padahal sistemlah yang bertugas. 


Mereka heran, bingung serta takjub, inikah daerah baru bagi mereka, apalagi lalu lintas yang bisa dikatakan ramai, bisa-bisanya salip sana salip sini. Malah pakai acara ngedrift lagi saat belokan, suara decitan remnya itu loh, melengking dan membuat ngilu.


Karina serta Enji dan Pak Anton tersenyum tipis. Pasti ada tangan jahil yang tak bisa diam. Itulah batin mereka. 


Tak sampai empat puluh lima menit, tibalah mereka di parkiran markas. Mobil Kuki dan Koya duluan lah yang tiba, lebih cepat lima menit daripada Karina dan member lainnya.


Mereka turun sembari memuntahkan apa yang mereka santap tadi, rasanya mual, 


"Sistem mobil itu mau membunuh orang ya," keluh Kuki. Koya diam saja tak membalas dan sibuk mencuci wajahnya dengan air yang mengalir dari patung kepala singa.


"Kook mengemudimu luar biasa, kapan-kapan ajari aku ya," puji Chimmy. Koya menoleh.


"Bukan aku yang mengemudi, sistem lah yang mengemudi, Hyung RM menekan tombol berganti fitur kemudi tadi," jelas Kuki.


"Tapi serukan?" tanya Karina menunjukkan senyumnya dan tetap diam duduk di dalam mobil, hanya membuka kaca jendela.


"Ya pengalaman baru," jawab Koya.


"Okey, selamat bersenang-senang, kalian akan dipandu oleh Li, Elina, Gerry, Darwis dan Joya," jelas Karina.


Blue Boys mengerjapkan matanya. Li dan Elina serta Gerry mereka tahu. Tapi dua orang lain tidak. Dan Karina tak turun artinya Karina akan pergi. Lebih seram masuk kandang tanpa pemilik. 


"Kak aku duluan ya," ujar Enji.


"Ya," sahut Karina.


"Tenang saja, kami bukan berandalan. Jikalau pun iya kami adalah berandalan berprinsip, welas asih serta ternama," terang Karina.


"Baiklah, selamat jalan Nona," ujar Blue Boys membungkuk sebentar. Karina mengangguk. Mobilnya kembali melaju meninggalkan markas.


"Kemana kita pergi?" tanya Agus.


"Markas ini luas sekali, lebih mirip sebuah kampus besar dan ternama, lihat petanya," ujar Koya.


Benar, di tangan mereka ada amplop, namun belum mereka buka. Hanya punya Koya lah yang sudah terbuka sebab sudah koyak duluan.


Mereka menyobek amplop dan melihat lipatan peta. Ada mansion utama yaitu bangunan di hadapan mereka yang merupakan tempat untuk pemimpin dan tangan kanannya.


Ada auditorium untuk pertemuan akbar, ada beberapa kolam renang, laboratorium, ruang olahraga indoor dan otdoor serta ada arena berkuda, tembak, bela diri dan semua yang diperlukan. Tak salah dikatakan seperti kampus, memang benar adanya. 


"Welcome in Pedang Biru, Blue Boys," sambut Li dan Elina. 


"Hai kita jumpa lagi," ujar Elina menyapa.


"Ya Tuan, Nona," balas Blue Boys.


"Hei jangan panggil kami begitu. Panggil kami Kakak saja,"ujar Li.


"Oke, Hyung," patuh Blue Boys.


"Li, Elina apa Bangbang itu sudah tiba?" tanya Gerry yang baru selesai latihan tembak, rompinya saja masih melekat. Keringatnya mengucur deras.


"Tuh mereka," ujar Li menunjuk Blue Boys.


Gerry menatap satu persatu wajah member Boy Band. Ia mengeryit menatap Kuki.


"Apa Enji jadi Boyband? Anak itu alih profesi ya? Apa badannya luwes?" tanya Gerry pada Li dan Elina.


"Ah maaf, namaku Kuki, bukan Enji. Enji tapi entah pergi ke mana, dia tak mengajakku," ucap Kuki mengerutkan bibirnya.

__ADS_1


Gerry hanya ber-oh-ria. Singkat cerita tibalah mereka di arena tembak. Mereka diajari menjadi penembak pagi pemula. 


***


__ADS_2