
Pukul 14.00, Si putih berhenti mulus di depan rumah Karina. Karina menyingkirkan kepala Miu dari pahanya. Miu yang lelap hanya menggerakkan telinganya. Karina berdecak sebal. Pak Anton segera membukakan pintu mobil Karina, Karina keluar.
Karina menyuruh Pak Anton mendekat, Pak Anton mendekat ragu. Karina membisikkan sesuatu. Pak Anton segera beranjak melakukan apa yang Karina bisikan.
"Miu, ayo bangun," ucap Karina. Miu menggerakkan matanya, hanya membuka separuh, seperti mata sipit jadinya. Dengan ogah-ogahan Miu turun dari mobil dan mengikut Karina dengan kantuk yang mendera.
***
Di lain tempat, kediaman Wijaya.
Terlihat Amri dan Maria berduaan di taman depan rumah mereka. Maria terlihat memetik beberapa bunga mawar untuk diletakkan di vas, sebagai penghias ruangan.
Amri duduk di bangku taman dengan dua gelas jus alpukat di meja kecil samping bangku serta majalah di tangannya.
"Rumah kita memangnya kurang hijau ya, Ma?" tanya Amri tiba-tiba, mengangkat pandangannya menatap Maria, agak aneh dengan alasan Karina dan Arion yang pindah sementara ke rumah Karina.
"Sebenarnya rumah kita sudah cukup hijau, Pa. Akan tetapi masih kurang jika dibandingkan rumah Karina. Papa kan tahu sendiri rumah Karina. Baru masuk gerbang cemara dan pinus langsung menyambut kita. Belum lagi tamannya, bukan sekedar bunga, tapi juga ada taman buah dan tanaman herbal. Mama saja nyaman jika di sana," tutur Maria.
"Tapi kan masih nyaman rumah sendiri, Ma," ucap Amri.
"Ya kan di sana memang rumah Karina, Pa," sahut Maria menaikkan salah satu alisnya.
"Hmm … Papa lupa," jawab Amri dengan senyumnya. Amri lanjut membaca majalah di tangannya.
Setelah mendapat mawar beserta tangkainya sesuai yang dibutuhkan, Maria memanggil pelayan dan memberikan mawar yang telah ia ambil. Pelayan datang menghampiri.
"Ganti bunga di vas yang sudah layu dengan bunga ini. Jangan lupa ganti air vasnya," titah Karina.
"Baik, Nyonya," jawab pelayan tersebut mengambil keranjang mawar itu.
Maria duduk di samping Amri. Mengambil gelas yang masih penuh dan meminumnya.
"Pa? Bagaimana ya kabar Ayah dan Ibu? Kalau gak salah, bentar lagi Ibu kan melahirkan," ujar Maria mengingat kakek Bram dan Nita.
Sejak masalah pernikahan kemarin, sama sekali tak pernah membahas tentang ini. Seakan semua itu tak pernah terjadi, dan mereka tak ada hubungannya dengan kakek Bram dan Nita.
"Untuk apa bertanya tentang mereka. Mau wanita itu hamil kek, melahirkan kek, Papa gak peduli. Papa malas berhubungan dengan mereka. Biarlah mereka melakukan apa yang mereka suka. Papa tak peduli lagi," jawab Amri datar. Maria menghela nafas. Hati Amri masih saja sekeras batu jika membahas masalah ini.
"Ya kan biar bagaimana pun, Papa kan anaknya Ayah. Kita gak bisa gitu saja memutuskan hubungan dengan mereka," ujar Maria.
"Tapi, Ayah duluan yang memutuskan hubungan dengan Papa. Dia lebih memilih wanita itu ketimbang Papa, anaknya sendiri," tutur Amri tegas.
"Huft. Papa sama Ayah ternyata memang ayah dan anaknya. Memang benar pepatah buah jatuh tak jauh dari pohon. Sifat Papa dan Ayah sama, sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah," keluh Maria memijat pelipisnya.
"Hmm," gumam Amri. Maria berhenti membahas tentang kakek Bram dan Nita. Ia berniat bekerja sama dengan Karina untuk mendamaikan hubungan ayah dan anak ini. Semoga saja Karina bersedia.
Mereka beranjak masuk ke dalam rumah, kala rintik air hujan mengguyur kembali kota. Waktu menunjukkan pukul 16.00. Tak berapa lama, air langit turun dengan derasnya.
Disertai suara halilintar di langit dan angin yang berhembus kencang menerbangkan dedaunan kering yang jatuh ke tanah serta yang masih berada di pohon.
***
Sedangkan di kediaman Karina, rintik hujan baru turun. Miu membuka matanya saat merasakan tubuhnya kejatuhan air. Lama-kelamaan semakin deras. Miu melihat sekitarnya.
Lalu menunduk ke bawah, matanya membulat dan langsung melonjak kaget. Terlihat gigi ikan piranha yang Karina pelihara menempel di tempat ia tidur.
Jumlah mereka banyak dan menatap lapar Miu. Kepala mereka, mereka antukan ke kaca. Mencoba menembusnya. Dengan segera ia berlari menuju ke dalam rumah. Mencari Karina.
Ternyata tadi Karina menyuruh Pak Anton memasang kaca penutup kolam ikan piranha. Kaca itu pastinya transparan dan memiliki ketebalan yang tebal dan kuat pastinya. Hingga mampu menahan beban sekitar 100 kg. Kaca yang digunakan sama dengan kaca yang digunakan untuk jembatan kaca di beberapa negara.
Miu yang jalan dengan ogah-ogahan dan mata mengantuk, mengikut saja pada Karina. Karina berhenti di atas kaca yang telah terpasang. Miu dengan santainya menjatuhkan tubuhnya dan kembali tidur di atas kaca. Kaca yang dingin ditambah angin sepoi-sepoi menambah kenyenyakan tidur Miu.
Karina tersenyum miring melihatnya. Karina beranjak, pastinya masuk ke dalam rumah, membiarkan Miu tidur.
__ADS_1
***
Miu menemukan Karina tengah duduk di ruang tengah ditemani segelas susu, cemilan ringan nan sehat serta majalah kesehatan di tangannya.
Miu mendekat dengan wajah ngambeknya. Ia berdiri di dekat kaki Karina. Air menetes dari bulu hitam Miu membahasi permadani dan kaki Karina tentunya. Karina menoleh ke bawah dan menyimpan majalahnya.
"Sudah bangun? Bagaimana? Hadiah bangun tidur yang cantik bukan?" tanya Karina tak ada rasa bersalah. Miu mengangkat kepalanya.
"Grrhhmm …," sahut Miu dengan geramannya. Nadanya terdengar kesal di telinga Karina.
"Makanya jangan jadi kucing malas. Sudah sana bersihkan tubuhmu. Minta Naina membersihkanmu. Jangan temui aku sebelum bulumu kering," ujar Karina.
Karina menunjukkan foto Naina serta memberikan handuk kecil berwarna putih untuk Miu.
Miu menggoyangkan ekornya dan menerima handuk itu dengan menggigitnya. Kemudian segera beranjak. Mencari Naina. Miu menyusuri area rumah Karina, mencari Naina.
Sebenarnya bisa saja Karina memanggil Karina tanpa Miu harus mencarinya sendiri. Biar olahraga sedikit Miunya.
Selepas Miu pergi, Karina lanjut membaca majalahnya. Hujan berubah dari rintik menjadi lebat.
Miu menemukan Naina sedang memberi makan reftil yang dikandangkan di akuarium dan terletak di halaman belakang dan menyatu dengan rumah utama.
Tak terpisah, hanya dibatasi oleh dinding kaca transparan. Jika membuka pintu belakang maka akan terhubung dengan pintu kaca menuju kandang. Naina terkejut dengan kedatangan Miu. Naina mundur beberapa langkah saat Miu berjalan mendekatinya.
Mengambil pedang yang tersedia tak jauh dari kandang reftil. Bersiap menyerang Miu, akan tetapi Miu malah santai dan tak takut serta berniat menyerang. Miu duduk ramah di hadapan Naina dan meletakkan handuk di lantai.
"Kamu? Apakah peliharaan Nona?" tanya Naina menurunkan pedangnya. Miu menggoyangkan ekornya.
"Aku disuruh memandikanmu ya?" tanya Naina lagi. Miu menjulurkan tangannya menyentuh handuk yang ia bawah.
"Baiklah. Ayo kita mandi, jaguar," ujar Naina meletakkan kembali pedang di tempat asalnya dan mengambil handuk Miu.
Miu mengikuti Naina yang berjalan menuju kamar mandi khusus hewan peliharaan. Di sana tersedia aneka peralatan mandi untuk hewan.
***
Karina masih stay in ruang tengah. Menoleh ketika semerbak harum menyapa penciumannya. Senyumnya mengembang melihat Miu yang telah selesai berbersih.
"Nah, jika begini kah kau lebih tampan. Tapi mengapa kau tetap jomblo? Padahalkan banyak sesama jenismu yang betina di markas. Atau mau ku carikan dari luar?" tanya Karina dengan menyertai ledekan untuk Miu. Miu menghentikan langkahnya dan menatap Karina dengan kekesalannya.
Karina malah terkekeh geli.
Apa aku dibawa pulang untuk diledek terus?batin Miu.
"Sudah-sudah. Jangan ngambek. Sini duduk di sampingku," ucap Karina menempuk sofa yang ia duduki.
Miu dengan enggan tapi mau menurut. Bik Mirna datang dari dapur dengan satu ikan goreng berukuran sedang. Bik Mirna meletakkannya di atas meja. Miu mengendus bau ikan goreng tersebut.
"Makanlah," tutur Karina. Miu dengan senang hati menyantapnya.
***
Waktu menunjukkan pukul 20.15.
Hujan masih betah mengguyur kota. Namun, durasi lebatnya mulai menurun, menjadi hujan ringan. Karina dengan Miu menuruni tangga. Karina memperkirakan sebentar lagi Arion tiba di rumah.
"Sana, sambut Arion," ujar Karina pada Miu saat tiba di anak tangga terakhir.
Miu berlari menuju pintu, tidak membukanya, menunggu ada tanda bel ditekan ataupun suara Arion. Tak berapa lama, terdengar suara deru mesin mobil, berhenti di depan rumah.
"Sayang, Karina. Suamimu yang tampan pulang kerja," ucap Arion lantang dari balik pintu seraya membuka pintu.
"Sayang, kamu di mana? Aku …," panggil Arion. Panggilannya terhenti. Arion diam membeku melihat siapa yang menyambutnya.
__ADS_1
Berharap Karina atau setidaknya pelayan lah yang menyambutnya, ini malah jaguar yang duduk manis di hadapannya dengan goyangan ekor dan juluran lidah.
"Ah …," pekik Arion segera berlari masuk ke mobil yang belum beranjak menuju garasi.
Miu berdiri dan ikut berlari menyusul Arion. Menaikkan kedua tanganya di jendela kaca mobil tempat Arion bersembunyi. Miu mengeram.
Arion memberanikan diri menatap Miu dari dekat walaupun terpisah dengan kaca.
Inikah peliharaan Karina? Miu ya kalau tidak salah namanya, pikir Arion.
"Ah, benar, dia pasti Miu, jika tidak pasti sudah dijadikan jaguar guling oleh Karina," gumam Arion.
Arion membuka kembali pintu mobil. Dengan rasa ragu, Arion menyentuh kepala Miu. Dan mereka segera masuk ke dalam rumah.
Miu menuntun Arion menuju meja makan. Di sana, Karina tengah memainkan handphonenya, mengecek email dari Raina.
"Sayang," panggil Arion lembut menghampiri Karina. Karina menoleh dan menyimpan handphonenya.
"Ya," sahut Karina tak kalah lembut. Karina berdiri dan menyalami Arion, tak lupa Arion mendaratkan ciuman di kening, pipi kanan dan kiri, serta berjongkok dan mencium perut Karina yang terbalut pakaian.
"Kucingmu ini tinggal bersama kita?" tanya Arion berdiri dan mengambil posisi duduk di samping Karina.
"Ya," jawab Karina singkat.
"Kamu gak takut kan?" tanya Karina.
"Gak. Aku gak takut kok, cuma kaget," jawab Arion cepat. Mengelak dari kenyataan.
"Baguslah," ujar Karina. Arion dan Karina segera makan malam. Miu pun ikut makan malam, karena terlatih dari kecil, Miu tak makan dengan berantakan.
"Kamu banyak kerjaan ya?" tanya Karina setelah makan malam, wajah lelah samar terlihat di wajah Arion.
"Iya. Kerjaan aku numpuk. Tapi tenang saja, suamimu yang tampan dan genius ini dapat menyelesaikan semuanya," jawab Arion.
"Pasti lelahnya, aku pijitin yuk di kamar," ujar Karina.
Arion tersenyum menggoda.
"Kau mau memijatku dengan cara apa?" tanya Arion. Karina mengerutkan keningnya.
"Tentu saja dengan tangan? Kau kira aku pijat plus-plus begitu?" kesal Karina.
"Plus-plus aku gak nolak kok. Lagian juga sudah halal," tutur Arion dengan senyum menawannya.
"Kau ini. Aku serius," ketus Karina memukul bahu Arion. Arion tak menghindar.
"Aku juga serius, Sayang," imbuh Arion.
"Mau atau tidak?" tanya Karina datar. Arion diam. Jika sudah datar pasti Karina serius.
"Tak perlu. Melihat senyummu saja sudah membuat lelahku hilang. Lebih baik aku saja yang memijatmu, okey?" jawab Arion.
"Benarkah?" tanya Karina.
"Tentu. Apapun untuk Sayangku," sahut Arion. Arion dan Karina segera menuju kamar mereka. Miu? Tentu saja mengikut.
Sesampainya di kamar, Arion menyegarkan tubuhnya lebih dahulu. Melepaskan semua kepenatan yang dirasakan satu harian. Karina berbaring di ranjang. Miu berada di bawah kaki Karina.
Tak butuh waktu lama, Arion keluar dari kamar mandi, dengan handuk melilit pinggang hingga lutut. Arion menuju walk in closet mengambil pakaian gantinya. Celana pendek dan kaos hitam menjadi pilihannya. Selepas berpakaian, Arion segera naik ke ranjang dengan membawa minyak untuk memijat.
Arion langsung memijat kedua kaki Karina, bergantian kanan dan kiri. Sampai Karina terlelap tidur, barulah Arion berhenti memijat.
"Good night, Honey," ucap Arion mengecup kening Karina.
__ADS_1
"Night, Miu," ujar Arion pada Miu. Setelah itu, Arion langsung tidur menyusul Karina dan Miu yang sudah duluan menuju alam mimpi.