
"Apa Queen sudah gila? Kita tak ada membuat opsi itu pada opini kita," ucap Darwis shock.
"Sialan! Berani sekali dia menampar Queen," ucap geram Li.
"Mereka mencari masalah dengan kita! Akan ku bumi hanguskan Black Diamond sampai mereka tak ada yang tersisa lagi!" ucap geram Darwis.
Mereka semua mengangguk menyutujui ucapan Darwis, kecuali Satya.
"Jangan gegabah. Kita tak tahu di mana Queen berada sekarang. Lebih baik kita mencari keberadaan Queen saja," saran Satya.
Keempat orang itu saling berpandangan. Mereka menimang saran Satya. Tak lama mereka mengangguk.
***
Keesokan harinya.
Di sebuah gedung tua di pinggir kota, di suatu ruangan berukuran 3x3 berwarna putih. Terdapat seorang pria dan wanita muda sedang beradu pandang. Masing-masing dari mereka membawa dua pengawal.
"Ada apa kau mencariku? Bukankah kau membenciku?" tanya seorang wanita cantik dengan nada dingin.
"Hmm … aku mau menawarkan kerja sama. Aku yakin kau pasti tertarik," jawab sang pria.
"Heh? Ada angin apa kau menawarkan kerja sama? Padahal kita baru berhubungan dalam dunia gelap ini?" kekeh wanita itu menatap tajam sang pria.
"Hmm … anginnya adalah musuh masa lalu," jawab sang pria tenang.
"Apa yang kau tawarkan?" tanya wanita itu setelah terdiam sejenak. Sang pria mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku bajunya dan memberikannya pada wanita itu.
"Hmm …," gumam wanita itu.
"Berikan laptopku," titah wanita itu pada pengawalnya. Sang pengawal mengangguk dan menyerahkan laptop yang sedari tadi ia pegang.
Wanita itu segera menghidupkan dan mencolokkan flashdisk pada laptop. Ia menarik senyum tipis pada saat ia mengetahui tawaran pria di hadapannya itu.
"Hehehehehe … musuh dalam selimut. Tak ku sangka kalian bisa berbuat seperti ini," sindir wanita itu. Sang pria hanya tersenyum. Tak ada niat menjawab dengan lisan.
"Aku terima," ujar wanita itu.
Sang pria berdiri dan mengulurkan tangan kanan berniat berjabat tangan. Wanita itu tersenyum dan membalas uluran tangan pria itu. Selepas itu sang pria langsung keluar dari ruangan itu diikuti kedua pengawalnya. Selepas kepergian pria itu, sang wanita menatap lekat laptopnya.
"Hmm … akhirnya pencarianku selesai," gumamnya tersenyum puas. Selepas itu dia dan pengawalnya beranjak pergi.
***
Saat kini Karina sudah tiba di tempat di mana kapar pesiar pemintaannya dibangun. Hari sungguh terik. Matahari tepat berada di atas kepala. Dengan kacamata hitamnya Karina melihat sudah sampai mana tahap pembangunan kapal pesiar itu.
Awalnya ada yang melarangnya masuk sebab tak mengenali Karina, namun Karina segera menunjukkan sebuah pena yang ia pernah gunakan pada saat meluluhlantahkan Pedang Hitam Mafia. Keunikan pena itu adalah terdapat ukiran mawar dan dua pedang dengan posisi silang dan mawar biru yang berada di tengahnya.
__ADS_1
Mawar biru melambangkan Karina. Melambangkan keindahan namun tak mudah disentuh sebab duri yang ada pada batang, sedangkan kedua pedang melambangkan para bawahan Karina yang selalu setia melindungi Karina. Sebelum Karina bergerak maka mereka dululah yang bergerak menumpas masalah yang hadir.
Lelah menggelingi area pembangunan, Karina memutuskan kembali ke mobil. Diraihnya pintu kulkas mini dan membukanya, mengambil botol air mineral lalu menenggaknya.
Hmm … syukurlah. Aku lebih tenang sekarang, batin Karina.
Lebih baik aku tunggu saja pergerakan dari mereka. Aku tak boleh gegabah lagi. Pasti akan banyak masalah setelah pengakuanku. Hmm … lebih baik aku adakan saja konferensi pers, pikir Karina.
Ia segera mengambil dan mengaktifkan handphonenya. Tak menunggu lama, Karina membuka kontak dan mengklik nama Lila di sana.
"Saya Nona," sapa Lila sopan.
"Siapkan konferesi pers dalam tiga hari ini. Aku akan menunjukkan diriku ke publik," titah Karina.
Membuat Lila membulatkan matanya di tempatnya berada sekarang.
"Anda demam Nona?" tanya Lila cemas.
"Tidak. Aku sehat. Mungkin kau yang sakit telinga. Besok periksalah ke THT," kesal Karina. Ucapan seriusnya dianggap candaan.
"Eh … saya sehat kok Nona," elak Lila gugup.
"Em … laksanakan perintahku. Tak ada gunanya lagi aku sembunyi. Aku sudah membongkar identitas asliku pada Arion. Cepat atau lambat pasti berita ini akan menyebar. Aku mau mengumumkannya sendiri bukan dari pihak ketiga," terang Karina tegas.
"Baik Nona. Saya akan segera mempersiapkan
segalanya," jawab Lila tegas.
Tiga puluh menit kemudian, Karina tiba di basement apartemennya. Karina langsung masuk ke dalam lift menuju lantai 10 di mana apartemennya berada.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Karina segera menempelkan lima jarinya untuk di scan, tak lupa scan mata juga ia lakukan.
Klik.
Pintu terbuka otomatis. Karina segera masuk dan menuju kamar mandi. Satu hari satu malam tak mandi rasanya sangat tidak enak. Perasaannya kembali mengenang saat camping di puncak gunung. Waktu itu ia hanya mandi sekali dalam waktu tiga hari. Tapi itu sudah sangat lama. Kisah pada masa sekolah.
Karina merendam tubuhnya dalam buth up. Aroma lavender menenangkan pikirannya. Karina memejamkan matanya. Mengingat kejadian lima tahun lalu.
***
Flashback On ….
Di sebuah tempat yang luas, tak ada pepohonan maupun pemukiman. Hanya ada tanah gersang sepanjang mata memandang. Terdapat dua kubu yang saling menatap tajam.
Di sisi barat adalah seorang wanita dengan wajah yang ditutupi topeng, tak lupa para tangan kanannya juga mengenakan topeng untuk merahasiakan wajah mereka. Di sisi selatan ada tiga orang pria yang juga menggunakan topeng menutupi separuh wajah mereka.
__ADS_1
"Akhirnya kita bisa bertatapan muka juga ya Black Diamond," ucap tengil wanita bertopeng itu yang tak lain tak bukan adalah Karina. Ia masih berusia 19 tahun.
Sedangkan di samping kanan dan kirinya adalah Li dan Gerry yang baru ikut dengannya sekitar dua tahunan.
"Hmm … ternyata kau wanita, masih muda lagi," sahut salah seorang dari tiga pria di sisi selatan itu yaitu Samuel Anggara.
Berawal dari masalah kekuasan yang mana Black Diamond tak bisa menerima popularitas Pedang Biru yang melonjak mengalahkan popularitas mereka. Bahkan kekejaman Pedang Biru bahkan dicap nomor satu mengalahkan kekejaman mereka. Bagi Pedang Biru itu masalah biasa. Bukannya wajah roda berputar? Namun yang memancing amarah Pedang Biru sampai harus Queennya sendiri yang turun tangan adalah Black Diamond secara sembunyi-sembunyi menyerang markas Pedang Biru yang kala itu sudah hampir di seluruh dunia.
Bukan hanya kehilangan nyawa anggotanya, Pedang Biru juga kehilangan sosok yang sangat mereka hormati, yaitu maha guru mereka. Guru Queen mereka yang selalu mengajar dan membimbing mereka dari awal sampai sekarang harus meregang nyawa di usia uzurnya dengan cara yang mengenaskan.
"Darah guruku akan diganti dengan nyawa kalian bertiga. Mata dibalas mata. Nyawa dibalas nyawa. Kalian akan mati hari ini!!" desis Karina dingin. Menatap tajam ketiga ketua Black Diamond dan pasukannya dengan bengis.
Arion, Sam dan Calvin gemetar dalam diam mereka. Mereka tak menyangka wanita bertopeng di hadapan mereka kini mengeluarkan aura mencekam. Tapi mereka berusaha menekan aura itu dengan aura mereka.
"Itu kesalahannya yang menghalangi kami. Andai saja ia tak menganggu dan tetap diam kami pasti akan membiarkannya hidup walau harus kehilangan salah satu anggota tubuhnya," ucap santai Arion.
Karina menarik senyum sinis di balik topengnya.
"Kau sangat tak tahu malu," geram Karina.
"Hehehe … aku tak tertarik bertarung dengan wanita. Lebih baik kau bubarkan saja mafiamu itu sebelum aku hancurkan," ucap Arion memberi peringatan tegas. Tanpa menunggu jawaban Karina, Black Diamond segera berbalik dan meninggalkan tempat.
Karina mengepalkan tangan geram. Emosinya naik ke ubun-ubun.
"Cih … jadi kalau aku wanita aku lemah gitu? Ngancam lagi mau menghancurkan mafia yang ku bangun susah payah. Mimpi saja kau di siang bolong," kesal Karina. Karina melirik Li dan Gerry yang tampak menahan emosi.
"Tak perlu ditahan. Nanti malah kita lampiaskan kematian mahaguru dan emosi kita. Semuanya kembali ke markas. Siapkan semua perlengkapan perang. Keluarkan juga helikopter dan pesawat tempur. Kita gempur semua markas Black Diamond dan bawa kepala tiga ketua songong itu ke makam guru!!" titah Karina lantang. Tak menunggu perintah untuk kedua kalinya, mereka segera beranjak. Kembali ke markas dan mempersiapkan segalanya.
***
Malam hari tiba. Pukul 22.00, Karina sudah bersiap dengan dengan pakaian serba hitam dan topeng biru khas Pedang Biru tersemat di wajahnya. Menutupi wajah dinginnya. Tak lupa rompi anti peluru ia kenakan di tubuhnya.
Rompi itu terasa sangat ringan. Sangat nyaman dikenakan. Tak lupa pena dan pistol dengan ukiran mawar dan pedang berada di tangan dan di kedua sisi pinggung Karina.
"Queen, apa perlu kita memanggil Darwis, Rian dan Satya?" tanya Gerry saat Karina bersiap memasuki mobil.
"Tak usah. Biarkan saja mereka di sana. Lagian tak perlu dipanggil pasti mereka akan datang sendiri," jawab Karina santai dan masuk ke dalam mobil. Melaju meninggalkan markas Pedang Biru menuju markas utama Black Diamond yang selama ini tersembunyi diikuti oleh mobil Li dan Gerry serta truk yang membawa pasukan mereka. Karina hanya membawa 100 pasukan elitnya.
Suruh siapa meremehkanku? batin Karina menarik senyum tipis di wajahnya.
Kurang lebih dua jam perjalanan, mereka tiba di dekat markas Black Diamond.
"Beri mereka hadiah," titah Karina dari earphone yang terpasang di telinga kanannya.
Sepuluh pasukan elit segera menerbangkan drone yang dilengkapi dengan granat dan bom. Suaranya yang telah diperhalus tak menimbulkan kecurigaannya.
"Ada yang melayang di udara!" pekik Sam yang sedang berjalan-jalan di halaman markas. Seketika alarm darurat berbunyi nyaring. Membuat semua penghuni markas utama Black Diamond Mafia siaga tempur. Mereka berkumpul di halaman markas bersama dengan Sam. Calvin dan Gerry yang baru saja ingin tidur segera mengganti piyama tidur mereka dengan pakaian tempur.
__ADS_1
Waktunya bersenang-senang, batin Karina tersenyum devil.
"Hmm … ledakkan drone itu," perintah Karina tegas.