Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 266


__ADS_3

Arion menjabat tangan Enji dengan mengucapkan terima kasih. Masalah perusahaan sudah hampir teratasi, tinggal menunggu kabar dari Amri saja. Arion lantas berjalan menuju mejanya mengambil air minum lalu meminumnya. 


Sembari minum, Arion melihat waktu pada jam di pergelangan tangannya. Dahinya mengeryit mendapati waktu sudah menunjukkan pukul empat sore lewat sedikit. Rasa bersalah pun hinggap di hatinya, mengingat panggilan Karina yang ia abaikan. 


Semoga saja Karina tidak marah, harap Arion.


"Zi, Kakakmu pulang sama sama kamu tadi kan?" tanya Arion menoleh ke arah Enji yang masih berkutik dengan laptop.


Enji menatap Arion dan menggeleng.


"Kakak pulang sama Pak Anton tadi. Aku hanya mengantar Mama dan Bayu," jawab Enji.


Arion tersenyum tipis. Tak berselang lama Amri dan asisten Rian masuk dengan wajah yang memancarkan kelegaan. Tanpa bertanya pun sudah tahu jawabannya. Semua sudah terkendali.


"Kalau gitu Ar pamit pulang duluan ya," ucap Arion. 


"Ya sudah, wajah Karina tadi sangat kesal kau pergi begitu saja. Papa ingatkan agar kamu hati-hati," ujar Amri.


Arion mengangguk dan segera melangkah keluar ruangan. 


"Perusahaan sudah aman, kalian boleh pulang. Sebagai ganti libur kalian yang terganggu hari ijin, besok kalian saya liburankan dan kembali masuk lusa!"ucap Amri kepada para staff yang masih berada di perusahaan.


Para staff mengangguk dan bergegas pamit pulang, tak lupa mengucapkan terima kasih pada Amri.


"Malam ini makan malam di rumah Papa, okey!" ujar Amri pada Enji.


Enji mengangguk setuju. Lagipula ia sedang malas masak, Jessica kan libur di hari libur.


*


*


*


Arion mencari keberadaan Karina di seluruh bagian rumah. Kamar tidak ada, lantai satu juga tidak ada, taman juga kosong tidak ada orang. Lantai tiga juga nihil, dipanggil enggak ada sahutan.


Para pelayan juga tidak muncul batang hidungnya. Biasanya saat ia pulang, setidaknya ada satu yang menyambutnya di samping mobil. Pak Anton juga tidak ada, biasanya Pria itu sedang mencuci mobil. 


"Apa Karina pergi ke suatu tempat? Tapi kok enggak izin? Lagipula kemana dia pergi sampai jam segini belum pulang?" pikir Arion menghempaskan tubuhnya di sofa.


Telunjuknya menekan dalam pelipis. Arion berpikir ke mana Karina pergi.


"Aduh pelupa banget aku ini! Kan ada handphone!" seru Arion pada dirinya sendiri.


Butuh waktu cukup lama menunggu Karina menjawab panggilannya. Cemas pun datang menghampiri, Arion menggigit jarinya mengurangi rasa tak sabar. 


Hatinya lega saat panggilan dijawab.


"Assalamualaikum, Sayang," tanya Arion setelah Karina menjawab panggilannya.


"Waalaikumsalam." 


Arion tersentak dengan nada ketus Karina. Benar dugaannya, Karina pasti marah. Arion berusaha membujuk Karina.


"Kamu di mana?" tanya Arion lembut.


"Minggat!"


Arion terlonjak kaget sampai berdiri dari duduknya. 

__ADS_1


"Sayang, kamu bercanda kan? Apa salahku sampai kamu minggat? Aku tahu aku salah tadi enggak ngomong apapun sama kamu, aku minta maaf, masalah tadi sungguh mendesak. Kamu di mana? Biar aku jemput, Sayang jangan kekanak-kanakan pergi dari rumah kerena hal sepele," ucap Arion, menurutnya Karina agak aneh belakangan ini.


"Pikir saja sendiri, lagipula kamu tidak cekatan dan mudah panik!"


Sesuai mengatakan itu, Karina memutuskan panggilan sepihak. 


"Hah?"


Arion semakin bingung. Dicoba lagi menghubungi Karina, sekarang handphone Karina malah tidak aktif. 


"Minggat? Memang semarah itu Karina padaku?" gumam Arion tidak mengerti. 


Arion sekarang menggerutu pada dirinya sendiri. Gara-gara masalah kecil Karina sampai minggat. Wanita hamil memang sangat sensitif. 


Tapi tunggu dulu, pria itu tadi mengatakan akan merusak hubunganku dengan Karina lewat asmara, apa lagi yang sudah pria itu lakukan?


Dan satu lagi, mengapa baru ku sadari, inikan rumah Karina, mana mungkin dia minggat dari rumahnya sendiri, Sayangku itu bukan tipe orang yang rela meninggalkan tempat bersejarahnya. Tapi kemana Karina pergi? Aku harus segera menemukannya.


 Arion sangat cemas, tapi kan biasanya Karina tidak gampang cemburu atau pergi tanpa penjelasan? Yang ada kalau dia terpergok dengan wanita lain karena suatu hal, wanita yang bersamanya itu yang bisa menjadi sasaran emosi Karina.


Tapi itu tidak penting, sekarang waktunya mencari keberadaan Karina.


Setelah Arion pergi dari rumah, para pelayan termasuk Bik Mirna dan Pak Anton keluar dari tempat persembunyian mereka yakni garasi bawah tanah. Wajah mereka datar, terdengar beberapa menghela nafas. 


"Untung kita sembunyi, kalau enggak bisa pecah nih telinga dengerin Tuan uring-uringan dan marah," ucap lega Bik Mirna dengan wajah memancarkan kelegaan.


Pak Anton tetap berwajah datar.


"Ke mana perginya Nona?" tanya Naina.


"Saya hanya mengantarnya ke bandara. Nona memang tidak berubah, suka membuat bawahannya panik sendiri, tapi yang pasti Nona pergi sebab dua hal, masalah tadi siang sama masalah anggota. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar Nona selalu aman," ucap datar Pak Anton.


*


*


Mengenai Gerry katanya dibawa ke rumah sakit. Untuk yang satu ini Arion agak kurang percaya sebab setahunya Gerry sangat pandai menjaga diri. Tapi bukan masalah, itu bukan urusannya. 


Arion berniat bertanya pada Enji, tapi pasti akan menyebabkan kegaduhan di rumah. Jalan minta tolong sahabat pun dilakukan. Arion berdecak sebal karena Calvin tidak kunjung menjawab panggilannya. 


Sedang apa sih dia? pikir Arion.


Arion menyerah menghubungi Calvin, emosi yang ada jika dilanjutkan. 


"Gue butuh bantuan loe," ucap Arion saat Sam menjawab panggilannya.


"Sorry Ar, gue enggak bisa bantu loe. Gue juga dalam masalah besar. Sudah dulu ya, nati gue hubungi loe balik," jawab Sam dengan suara pelan dan langsung memutus panggilan sepihak.


Arion mendengus, dilemparkannya handphone ke kursi belakang lalu memejamkan matanya sejenak.


"Dasar sahabat kurang asem. Giliran dibutuhkan enggak ada yang ready," gerutu Arion.


Dahinya mengeryit mencari jalan lain.


Eh aku kan bisa melacak keberadaannya. Coba aku cek lokasi terakhirnya, batin Arion.


Arion segera meraih laptop dan mencari keberadaan Karina melalui nomor dan sinyal Karina terakhir kali sebelum handphone Karina nonaktif. 


"Negara B? Mengapa dia ke sana? Ada masalah apa yang mengharuskannya turun tangan? Apa ada hubungannya dengan Joya? Sebaiknya aku segera menyusul saja, sebelum di sana terlalu malam," gumam Arion, segera menuju bandara.

__ADS_1


Tak lupa menghubungi pilot pesawat pribadi Black Diamond. Akan jadi pertanyaan jika ia menggunakan pesawat pribadi keluarga Wijaya.


*


*


*


Suasana di sebuah ballroom hotel sangat meriah. Alunan musik menambah hidupnya


suasana malam. Di panggung yang tersedia, terlihat ada tujuh orang yang berdiri anggun dan berwibawa dengan salah satu di antaranya adalah MC acara. Keenam orang itu tidak lain adalah keluarga Adiguna.


Ini adalah perayaan ulang tahun Tuan Aditya yang ke lima puluh dua tahun. Senyum bahagia terlukis jelas di wajahnya.


Tiga tahun belakangan ini, tidak ada perayaan apapun yang keluarga mereka adakan kecuali yang berhubungan dengan keagamaan mereka seperti hari natal. 


MC kembali bersuara setelah sebelumnya meminta keluarga Adiguna baik ke atas panggung. Acara ini adalah acara puncak, yakni potong kue.


Kue besar berbalut krim merah dan putih dengan tulisan Happy Birthday tersaji menawan di depan Tuan Adiguna. 


Suasana yang tadinya gaduh dengan pembicaraan yang beragam tapi paling banyak membicarakan tentang kembalinya Mira berubah menjadi lagu ucapan selamat ulang tahun.


Mira sendiri sebenarnya merasa kurang nyaman mendapat tatapan dari para tamu, terlebih ada beberapa pria yang usia masih muda sehat dengannya atau beberapa tahun di atasnya. 


Untunglah ia masih menyandang status keluarga Adiguna. Gadis bergaun coklat susu itu hanya memberikan senyum menutupi kegelisahannya.


Kini Mira semakin tidak nyaman setelah melihat Satya yang menatap lekat dirinya dengan senyuman aneh.


Mira merasa kini Satya bukan Satya yang ia kenal. Di samping Satya tentu saja duduk dua Tuan Muda lainnya serta Joya. 


Mira tersadar saat Rena menyenggol tangannya.


"Jangan melamun, jaga image, setelah ini Papa akan mengenalkan dirimu," ucap Rena.


"Mengenalkan?" beo Mira bingung.


Seharusnya tidak perlu. Mira menatap Rena dengan tatapan bodohnya.


"Iya Kak, kamu kan sudah lama tidak terlihat di dalam keluarga, para tamu mengira kamu sudah bukan keluarga Adiguna lagi," bisik Riska menjawab pertanyaan Mira.


Ah, Mira paham. Ia mengangguk. 


Mira kini fokus pada Tuan Adiguna yang sedang memotong kue ulang tahunnya. Intan mengambil potongan pertamanya lalu menyuapkan pada Tuan Adiguna, diikuti oleh Rena, sampai Riska terakhir.


Bahkan Baby Reksa saja ikutan. Tepuk tangan meriah, Tuan Adiguna juga membalas siakan keluarganya. 


Setelah itu ia mengambil mic dan menyampaikan sepatah dua kata.


"Selamat malam untuk kita semua. Sebelumnya saya ingin menyampaikan terima kasih kepada para tamu undangan yang bersedia menghadiri perayaan haru ulang tahun saya yang sederhana ini, saya berharap di hari spesial ini, kedepannya saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, serta dapat melindungi segenap bangsa, negara dan keluarga saya dari ancaman. Di hari yang spesial ini saya juga ingin memberitahu kepada kalian bahwasanya, menantu perempuan saya, istri dari anak lelaki saya sudah kembali, dia kembali setelah menemani Eko bertugas di sana."


Tuan Adiguna meminta Mira mendekat padanya, Mira kini berada di sisi kanan Tuan Adiguna, ia tersenyum dan melambai menyapa para tamu, terdengar suara bisik-bisik yang membahas tentang Mira dan Eko, tapi tatapan tajam Intan, Riska, dan Rena membunuh suara mereka.


Tuan Adiguna mengedarkan pandangannya, dan sekarang ia sedikit kaget dengan kehadiran ketiga Tuan Muda Kasino Heart of Queen. Darwis tersenyum dan menaikkan tangannya menyapa.


Tuan Adiguna segera mengubah ekspresinya lalu mengangguk. Tatapan para tamu mengikut arah pandang Tuan Adiguna, mereka seketika semakin diam melihat tiga tuan muda tampan duduk dengan berwibawa, dan mereka juga kagum dengan kecantikan Joya. 


Pantas saja ada tekanan yang besar, rupanya pusat bisnis negara ini ada di sini, batin para tamu. 


Ehem, jadi, kalian para pria muda, jangan berani mengganggu menantu perempuanku ini! Jika tidak kalian berhadapan denganku!" tegas Tuan Adiguna mengakhiri ucapannya. 

__ADS_1


__ADS_2