Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 348


__ADS_3

Keesokan paginya, insiden yang menimpa Tirta Hotel menjadi trending dan mengundang banyak tanya publik. Terlebih media menguak bahwa penyerangan Tirta Hotel ditujukan pada keluarga Wijaya. Selain itu, menghilangkan keluarga Wijaya juga membuat publik menerka kemana perginya mereka, terluka atau sengaja bersembunyi?


Pihak kepolisinya yang tiba di lokasi tadi malam, menemukan para pengawal dan penyusup  yang telah mati bergelimpangan di lantai lima. Sedangkan untuk pria tuanya, dibawa pergi oleh anggota Pedang Biru.


Selain itu pihak kepolisian juga mengutus tim khusus untuk mencari kemana perginya keluarga Wijaya. 


Hal itu juga terjadi pada perusahaan KS Tirta Grub. Rapat darurat yang dipimpin oleh Lila dan Raina untuk menjawab pertanyaan jajaran perusahaan mengenai kondisi pimpinan tertinggi mereka.


"Jadi intinya … Presdir dan keluarga baik-baik saja dan kini tengah menenangkan diri di suatu tempat!"ucap Lila menatap jajaran petinggi perusahaan.


"Tapi Nona, kami belum tenang jika belum menyaksikannya sendiri," ujar salah seorang petinggi.


"Kalian tidak percaya pada kami? Kami juga cemas mengenai mereka tapi kami tetap tenang dan menjalankan tugas kami seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Hal itu juga berlaku bagi kalian. Untuk pemegang saham, saham kalian hanya sebagian kecil di sini. Jangan coba menyetir perusahaan ini! Presdir hanya menenangkan diri selama beberapa hari! Dia akan segera kembali!"tegas Raina, menatap satu-persatu peserta meeting, tatapan tajam terutama pada beberapa pemegang saham yang mulai menunjukkan gelagat ini menjadi pimpinan, walaupun hanya sementara.


Saat ruang meeting serasa mencekam akibat aura yang Lila dan Raina keluarkan, tiba-tiba saja layar yang biasa digunakan untuk persentasi, menyala, menampilkan Karina yang duduk bersandar pada kursi. Keadaan Karina tidak seperti orang yang menderita akibat luka tembak dan tusuk. Wajahnya pun tampak segar, lengkap dengan senyum tipis dan tatapan setajam elang.


"Nona," sapa Lila dan Raina menunduk hormat, diikuti dengan yang lainnya.


Karina hanya menerima sapaan Lila dan Raina. 


"Sudah ku duga kalian akan ribut!"


Nada dingin seperti biasa.


Lila melirik kamera pengawas yang dipasang di setiap sudut ruangan, ukurannya yang kecil membuatnya tidak terlihat jelas.


"Hanya insiden kecil sudah membuat kalian kalang-kabut!"


Insiden kecil? Lila dan Raina tersenyum simpul. Keduanya mendengar dengan jelas dari suami mereka bahwa Karina dan keluarga terluka cukup parah. Tapi apakah Karina sengaja tidak memakai gendongan lengan dan menggunakan hiasan yang lebih dari biasanya untuk meyakinkan mereka? Secara tadi pagi Karina masih menggunakan gendongan lengan dengan wajah yang masih pucat.


Tadi pagi, sebelum berangkat ke kantor, keduanya menatap intruksi langsung Karina via rapat darurat online. Karina rupanya mengawasi meeting ini dari tempatnya berada.


"Kalian sudah puas bukan? Aku baik-baik saja. Kalian lakukan apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Sasha dan Aleza ada bersama denganku. Anggap saja aku mengambil cuti kelahira. Kalian tidak perlu cemas dan berprasangka buruk. Satu lagi, aku tidak ingin mendengar laporan buruk apapun saat aku tidak di perusahaan! Kalau tidak bersiaplah menanggung akibatnya!"


"Kami mengerti, Nona!"


Jawaban kompak membuat Karina mengembangkan senyum.


"Urus media. Dalam satu jam insiden ini sudah terkubur dengan berita lain. Aku muak mendengar siaran beritanya!"ucap Karina memberi perintah.


"Baik, Nona!"


*


*


*


Selepas meeting, Lila dan Raina turun menuju lobby untuk konferensi pers. Para wartawan sudah menanti tak sabar, beragam pertanyaan langsung membanjiri Lila dan Raina.


"Insiden di Tirta Hotel memang sangat mengejutkan. Kami sangat berterima kasih atas perhatian publik terhadap Presdir dan keluarga. Untuk rekan wartawan sekalian kami hanya ingin menyampaikan bahwa Presdir dan keluarga dalam kondisi yang sehat dan kini tengah menenangkan diri. Kejadian tadi malam sangat mengguncang beliau dan keluarga," ucap Lila.


"Penyebab insiden tersebut hanyalah ulah gangster yang ingin menculik kedua pewaris guna mendapat tebusan. Pihak yang berwajib telah menutup kasus ini. Saya harap kalian tidak menggali lebih jauh lagi demi kenyamanan bersama. Terima kasih," timpal Raina.


"Lantas di manakah sekarang Nyonya Wijaya beserta keluarga?"tanya salah seorang wartawan wanita.


"Beliau dan keluarga ada di tempat yang aman," jawab Lila.


Beragam tempat mulai bermunculan. Rumah? Pulau pribadi? Keluar kota atau negeri? Tidak ada yang tahu kecuali yang diberi tahu.


*


*


*

__ADS_1


Di tempatnya, Karina tersenyum puas saat membaca berita. Insiden yang menimpa mereka telah turun dari trending. Digantikan dengan skandal yang menimpa calon presiden dan korupsi yang dilakukan oleh ketua DPR terungkap ke publik. 


Ditambah dengan beberapa kasus lain yang aslinya telah terjadi dan hilang beberapa tahun lalu, semuanya itu terungkap bersamaan menyebabkan semua perhatian kini berakhir ke pemerintahan. 


Karina menyeringai.


"Selamat menikmati makanan kalian, tikus-tikus!"gumam Karina. 


Bukan hal sulitnya baginya mengubur berita trending yang bersangkutan dengannya. 


Kemampuan hacker dan mata-mata yang tersebar luas membuat kalian menyimpan file yang berisi keburukan, kejahatan yang dilakukan oleh seseorang yang berperan penting ataupun badan perusahaan dan pemerintahan. 


Karina hanya kalah dengan sosok pria tua yang kini sudah tewas, orang yang pernah menculiknya saat kecil. Tapi kini, Karina bisa bernafas lega dan tidak perlu was-was lagi.


Karina yang kini berada di ruang kerja milik ayahnya dulu semasa hidup, mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kerja ini. Wajah Karina berubah sendu. 


"Aku tidak pernah menyangka akan kembali ke rumah ini," gumam Karina, matanya memerah, merindukan keluarga kandungnya.


Ceklek.


Karina buru-buru menghapus air mata yang masih berada di pelupuk mata, menoleh ke arah pintu.


Li masuk dengan membawa nampan, menbawakannya sarapan. Memang, sejak bangun tadi, Karina langsung mencari laptop dan mengurus perusahaannya.


"Sarapan dulu. Tubuhmu akan semakin lemah jika tidak diisi," ujar Li, meletakkan nampan di atas meja, menatap Karina dengan tatapan perhatian.


Li mengeryit melihat mata Karina yang merah.


"Aku akan sarapan," jawab Karina. 


Terluka tidak membuatnya kehilangan nafsu makan. Mengenai Arion, Amri, dan Maria, mereka telah mendapat perawatan yang maksimal, kini dalam masa pemulihan. Arion sendiri juga menghandle perusahaan melalui Ferry. 


"Apakah sangat sakit? Matamu sampai memerah," ujar Li, menatap kedua lengan Karina yang tertutup dengan lengan dress sebatas siku.


"Keluarga Sanjaya?"


Karina mengangguk.


"Setelah sekian lama akhirnya aku kembali ke sini. Walaupun tidak pernah tinggal di sini, aku seakan bisa melihat kehangatan rumah ini dan ingatan saat menyaksikan keempat keluargaku terbaring kaku terus mengangguku. Hatiku masih panas mengingat hal itu. Rasanya amarahku tidak sirna walaupun semua pelakunya telah mati di tanganku. Kenyataan tidak berubah, dendamku memang terbalas tapi keluargaku tidak akan pernah kembali," tutur Karina, memejamkan mata menetralkan kesedihannya.


"Dendam hanyalah beban hati. Keluargamu pasti sudah tenang di sana. Mereka lebih membutuhkan doa daripada perasaan dendam yang berlarut. Kau yang mengajarkan kepadaku bahwa maut tidak mengenal apapun. Kematian adalah teman terdekat kita. Bukankah seharusnya kau ikhlas setelah dendammu terbalas?"sahut Li.


"Aku paham, Li. Hanya saja itu naik ketika kembali kemari. Ingatan itu kembali datang. Perasaanku menjadi campur aduk," balas Karina.


"Lepaskan ingatan itu Karina. Jangan memanjangkan benang merah. Jadikan hal itu benang biru."


"Benang biru? Ya setidaknya aku bisa melihat mereka berempat secara nyata walau hanya tinggal nama."


Senyum Karina membuat Li tak tahan untuk memeluk Karina. Memberi Karina kekuatan dengan menepuk-nepuk pelan punggung Karina.


Saat keduanya tenggelam dalam suasana sedih, perut Karina dengan lancang mengganggu. Perutnya berbunyi lapar, membuat Li tak bisa menahan senyum. Karina hanya menujukkan wajah datarnya.


"Aku akan menyuapimu," ujar Li meraih piring yang berisi makanan, hendak menyuapi Karina.


"Aku bisa makan sendiri," tolak Karina.


"Lukamu cukup dalam. Minimal dua hari baru sembuh. Untuk sementara aku yang akan menyuapimu," tegas Li. 


Karina menatap kedua lengannya bergantian.


"Baiklah. Lalu bagaimana dengan yang lain?"


"Gerry mengurus suamimu. Aleza dan Sasha mengurus mertuamu. Ah ayo lekas makan, Bintang dan Biru sudah menangis haus," ujar Li. 


Karina makan sesuap. 

__ADS_1


 "Ah ya apakah aku harus menggunakan kursi roda atau tongkat penyangga?"tanya Karina dengan wajah tidak ingin.


"Jika kau tidak mau aku dan Gerry akan selalu sedia untuk menggendongmu," jawab Li, kembali menyodorkan makanan.


"Aku akan menggunakan kursi roda," putus Karina. 


"Seperti keinginanmu," sahut Li.


*


*


*


Seminggu telah berlalu. Keadaan Karina sudah pulih. Begitu juga dengan keadaan Arion, Amri, dan Maria. Selama di sini, keempatnya menghabiskan waktu dengan Bintang dan Biru. Li dan Gerry bekerja dari rumah ini. Repot rasanya bolak-balik dari sini ke markas.


Sasha dan Aleza juga masih di sini. Elina dan Mira apalagi. 


Ah hampir terlupakan, Alia yang juga ikut dirawat bergantian oleh Sasha dan Aleza. Untung saja Alia tidak rewel jadi tidak membuat Sasha dan Aleza kesulitan.


Sesuai keputusan, pagi ini mereka akan kembali ke kota mereka. Tidak menggunakan helikopter melainkan pesawat. Menggunakan dua mobil menuju bandara. 


Pesawat pribadi keluarga Wijaya sudah menunggu. Arion yang masih belum pulih total harus menggunakan kursi roda. Karina sendiri sudah bisa berjalan dengan normal. Begitu juga dengan Amri dan Maria. 


Setibanya di kota C, mereka langsung menuju rumah masing-masing. Di kediaman Karina, para pelayannya telah menanti dengan wajah cemas, menunggu Karina yang kunjung tiba.


Bik Mirna dan Pak Anton mondar mandir di depan rumah. Mereka baru berhenti dan bernafas lega kala gerbang tinggi kediaman terbuka dengan dua buah mobil masuk.


Kedua mobil itu tepat berhenti di depan barisan para pelayan.


"Nona, Tuan!"


Para pelayan langsung membungkuk hormat ketika Karina turun sedangkan Arion hanya membuka pintu, menunggu Li atau Gerry membawakan kursi roda untuknya. Bukannya manja atau apa, ia harus mengedepankan kesembuhannya secara total dalam waktu dekat daripada keras kepalanya yang bisa membuat lukanya semakin parah dan lama sembuh. 


Pak Anton yang menyadari bahwa Arion terluka dan belum bisa berdiri langsung membuka bagasi mobil. Terdapat kursi urid roda di sana. Segala Pak Anton mengeluarkan dan membukanya.


Pak Anton lantas segera membantu Arion duduk di kursi roda. Li yang terlambat hanya bisa menghela nafas, tersenyum.


"Terima kasih, Pak."


Arion tersenyum pada Pak Anton.


"Sudah tugas saya, Tuan," jawab Pak Anton.


Kini mereka memasuki rumah. Li menggendong Bintang dan Gerry menggendong Biru. Kamar Bintang dan Biru lah yang pertama dituju. 


Sebuah kamar dengan nuansa biru langit lengkap dengan corak-corak awan menjadi warna dinding kamar. Di tengah kamar terdapat dua box bayi yang lengkap dengan kelambu berwarna violet dan biru.


"Putih?"heran Mira yang mengutarakan keheranan Li, Elina, dan Gerry.


"Mengapa?"tanya Arion dan Karina bersamaan.


"Apakah ini untuk Bintang? Perasaan yang namanya Bintang itu identik dengan warna kuning. Kalau ke putih apa nyambung?"jelas Mira. 


"Mengapa tidak? Warna bintang tidak hanya putih. Mereka ada beberapa warna. Merah, biru, putih, kuning, dan jingga. Warna putih adalah bintang yang garis-garis hidrogennya paling kuat. So dimana nggak nyambungnya?"tanya Arion.


"Lain kali kalian harus lebih banyak belajar astronomi!"ucap Karina datar. 


Okay. Sekarang mereka berempat menyesal bertanya. 


Li dan Gerry kemudian membaringkan Bintang dan Biru di box masing-masing. Seusai itu, mereka bersama dengan istri mereka keluar, membiarkan Karina dan Arion berduaan dengan buah hatinya.


"Akhirnya kalian menempati kamar ini," ucap Arion.


"Welcome Starblue," sambut Karina tersenyum lebar. Kedua anak mereka menatap Arion dan Karina, bergerak-gerak kecil dengan bibir yang menunjukkan senyuman. Tatapan mata yang ikut merasakan kebahagian Karina dan Arion

__ADS_1


__ADS_2