
Setelah Intan keluar dari ballroom, suasana hening. Karina tersenyum tipis, kedua tangannya bersandar pada sofa, matanya melirik Tuan Adiguna serta Darwis, menyisakan rasa penasaran di hari Darwis dan Tuan Adiguna.
"Saatnya menyelesaikan masalah!"
"Sebagai seorang jenderal, sudah seharusnya kamu keras terhadap segala bentuk kejahatan." Karina mengawali pembicaraan setelah hening beberapa saat.
Tuan Adiguna menatap Karina dengan wajah rumitnya. Namun dalam hati menyetujui ucapan Karina, ia memang harus keras pada segala bentuk kejahatan yang mengancam tanah air, keluarga serta perdamaian dunia.
"Tapi tidak seharusnya kamu keras terhadap kebenaran!" Alis Tuan Adiguna saling bertautan, tidak mengerti arti ucapan Karina.
"Maksud Anda?"tanya Tuan Adiguna serius. Ia merasa saat ini ia tengah menjalani pengadilan.
"Tentang putra tunggal Anda," ucap singkat Darwis memberi kata kunci.
"Aku percaya putraku masih hidup. Jikalau ia sudah tiada, setidaknya aku melihat jenazahnya di depan mata kepalaku sendiri!" Tuan Adiguna masih berkeras hati, tidak mau menerima. Karina terkekeh. Kekehan itu terdengar seperti alarm di telinga Darwis. Darwis menerka apa yang akan Karina selanjutnya.
"Melihat sikap dan kekerasan hatimu, aku jadi teringat kesenian daerah di negaraku. Apa perlu aku membuat patung anakmu seperti rakyat membuat patung si gale-gale lalu memanggil rohnya yang sudah tenang di sana? Kemudian memberitahumu bahwa ia sudah tiada?"
Tuan Adiguna tidak mengerti lagi ucapan Karina, ia tidak tahu apa yang dimaksud Karina. Ia hanya percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, bukan yang ia dengar, akan tetapi ada kalanya setiap yang kita lihat bukannya kebenarannya, dan biasanya akan terjadi banyak salah paham dan konflik.
Darwis tertegun, ia berdecak sebal dengan Karina dalam hati.
Mengapa jadi membahas boneka anak raja?batinnya.
"Jangan bicara yang tidak masuk akal. Sekarang saya minta dengan penuh rasa hormat Anda menarik kata-kata Anda mengenai putra saya!"ucap Tuan Adiguna penuh penekanan.
"Untuk apa ditarik? Tidak ada yang salah dengan pernyataan saya? Seluruh keluarga dan militer di sini tahu bahwa putra Anda sudah tiada dalam perang 3 tahun lalu. Mereka hanya tidak tegas memberi Anda pengertian, takut Anda drop dan mempengaruhi kemiliteran serta tonggak keluarga. Makanya, mereka hanya diam tidak menanggapi kalau Anda membahas tentang putra Anda itu, paling keras cuma mengangguk," ucap Darwis.
Lagi-lagi Tuan Adiguna menyetujui dalam hati bahwa sikap anggota keluarga serta jajaran militernya diam jika ia membahas tentang Eko.
"Tidak! Apapun penjelasan kalian, aku akan tetap percaya bahwa Eko masih hidup!"tegas Tuan Adiguna lagi.
Karina mengubah raut wajahnya menjadi serius. Tuan Adiguna merasa bergidik melihat mata tajam dengan senyum Karina yang mengerikan baginya. Karina merentangkan kedua tangannya di pinggiran sofa, matanya melirik Tuan Adiguna.
Mengapa tekanannya kuat sekali? Aku merasa aku berhadapan dengan seorang pemimpin mafia besar. Padahal ia hanya seorang CEO, tapi aku bisa tunduk padanya?heran Tuan Adiguna dalam hati.
Jelas kau tunduk, dia kan Queen Pedang Biru. Darwis tersenyum remeh pada Tuan Adiguna, Tuan Adiguna tidak melihat itu, ia menilik lekat Karina. Ada sesuatu yang menggeliat di hatinya, seperti setitik rasa rindu serta perasaan familiar.
"Siapa kau?" Akhirnya Tuan Adiguna menanyakan pertanyaan legend, ia ragu identitas Karina hanya seorang CEO, jelas aura kepemimpinan Karina menyebar lebih dari seorang CEO.
"Putri Sanjaya!"jawab Karina. Tuan Adiguna menaikkan alisnya. Karina menoleh ke arah Tuan Adiguna.
__ADS_1
"David Tirta Sanjaya!"lanjut Karina. Mata Tuan Adiguna seketika membulat, jemarinya mencengkeram erat pegangan sofa. Darwis mengeryit dengan reaksi Tuan Adiguna, di samping itu ia juga heran mengapa Karina memberitahu garis keturunannya pada orang asing.
"Bagaimana bisa? Kau keturunannya? Bukankah mereka sudah tiada belasan tahun lalu?" Suara Tuan Adiguna bergetar.
"Maka lihat baik-baik!" Karina memberi perintah. Aura anggun, bbijaksana serta kepemimpinan Karina pancarkan, terlebih saat matanya melihat sesuatu yang menyilaukan matanya, ia bahkan sampai menyipit. Darwis diam saja memperhatikan, menunggu dan melihat hasil dari kejadian malam ini.
Tuan Adiguna melihat gambaran familiar yang berdiri di belakang Karina, gambaran itu tersenyum lembut menenangkan dan membuat siapa saja yang melihatnya terpesona. Gambaran itu memegang kedua tangan Karina yang terentang, mengecup pucuk kepala Karina.
"Sungguh keturunannya," gumam Tuan Adiguna pelan. Setelah ia mengatakan hal itu, gambaran itu memudar dan menghilang, Tuan Adiguna mengedarkan pandangan mencari kemana perginya gambaran itu.
Tuan Adiguna menghela nafas kasar lalu mengamati wajah Karina.
Matanya sangat mirip, alisnya juga sama seperti dirinya, terlebih aura ini, hampir sama seperti dirinya, batin Tuan Adiguna.
"Di divisi mana putramu bertugas?"tanya Karina memecah lamunan Tuan Adiguna.
"Angle," jawab Tuan Adiguna cepat.
Karina lalu memanggil Li dan Elina. Kedua orang yang baru saja selesai makan malam, hampir menghabiskan sajian yang terhidang mendekat. Karina meminta laptop pada Li. Li segera mengambil tas punggungnya lalu mengeluarkan laptop untuk diberikan pada Karina. Elina mencari tempat duduk untuk menikmati saat-saat makanannya dicerna.
Karina langsung mengetikkan jemarinya di keyboard. Tak berselang lama, Karina membalik layar laptop menghadap Tuan Adiguna. Tuan Adiguna sedikit terkejut dengan apa yang tertera di layar.
"Kepala divisi Angel?"gumam Tuan Adiguna.
"Benar, ini saya Jendral Adiguna," jawab Pria itu. Karina memilih menutup mata. Membiarkan dia orang itu berbicara, tak membuang waktu Tuan Adiguna segera menanyakan keberadaan Eko.
Jelas Kepala divisi Angle menjawab sesuai realita, terlebih sudah diingatkan Karina untuk menjawab dengan jujur, akibatnya belakangan. Raut wajah Tuan Adiguna masih tidak terima dengan pernyataan Kepala divisi Angel.
Tuan Adiguna berteriak kencang, ia berdiri lalu menghancurkan barang apa saja yang ada di sekitarnya.
Pria itu kini menggila, Karina dan lainnya membiarkan saja itu terjadi, mereka menganggap wajar, Karina dengan wajah datar malah meminta Darwis mengambilkannya minuman, Darwis memutar bola mata malas.
"Miris," ucap Elina acuh melihat hal itu.
"Rasa kehilangan itu berat, aku berdoa kita akan selalu bersama. Aku tidak ingin kehilangan dirimu," ucap Li, mencium punggung tangan Elina dengan senyum tipis menawannya. Elina tersipu, ia memukul lengan Li pelan. Darwis melirik terganggu.
Bisa-bisanya dua orang ini bermesraan di saat panas begini?kesal Darwis dalam hati.
"Agkh! Aku tidak percaya! Agkh ... anakku masih hidup! Dia belum mati! Eko-ku masih bertugas di luar sana. Ia akan kembali! Dia pasti kembali!"teriak Tuan Adiguna histeris. Pria itu jatuh terduduk di lantai dengan mata memerah.
"Dia memang tiada di dunia ini, tapi dia masih hidup di hati orang yang menyayangi dan mencintainya," ujar Li yang merasa sedikit prihatin. Tuan Adiguna tidak menanggapi.
__ADS_1
Intan yang mendengar suara teriakan suaminya dari luar pintu ballroom, ingin masuk namun tertahan dengan pengawal yang menjaga pintu. Intan tidak bisa berbuat banyak, ia mondar-mandir gelisah, sesekali menggigit jarinya, matanya memancarkan rasa khawatir yang besar.
Semoga saja Presdir itu berhasil, harapnya.
"Kematian adalah hal yang wajar. Semua tahu, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak peduli status, umur, gender, harta, tahta, serta siapapun itu, semua akan kembali kepada-Nya. Hanya cara dan waktunya saja yang tidak kita ketahui," ujar Darwis memberi pengertian.
Tuan Adiguna menaikkan pandangannya, menatap Darwis sendu, setitik kristal bening jatuh dari pelupuk matanya. Bibirnya tampak bergetar, diikuti dengan dadanya yang naik turun.
"Sudah ku katakan, Anda terlalu keras pada kebenaran. Anda tahu tapi Anda menampiknya. Anda mendengar, tapi Anda menutup telinga. Anda tidak hanya membuat diri Anda menderita, tetapi juga keluarga Anda. Anda memberi beban batin pada mereka, Anda menghadapkan mereka pada pilihan yang sulit!" Karina berujar datar dengan setitik rasa simpati di matanya.
"Karina, maksudmu beliau sudah tahu kebenaran tapi tetap menolak menerimanya?"tanya Darwis memastikan. Karina mengangguk.
"Astaga?!"pekik Darwis tidak percaya.
Tuan Adiguna kembali menunduk, ia tergugu. Tuan Adiguna terisak, tubuhnya semakin bergetar.
"Aku tahu, aku sudah tahu. Kamu benar, semua yang kamu ucapkan benar. Aku sudah tahu semuanya, tapi aku menolaknya. Hiks … hiks … hiks," ucap parau Tuan Adiguna. Karina memberikan senyum lebar.
"Aku terlalu keras pada diriku sendiri tentang Eko," lanjutnya masih dengan suara bergetar.
"Menangislah. Keluar kan segala kesedihan yang telah Anda pendam selama ini. Buatlah hati Anda ikhlas dan rela. Putra Anda juga sedih melihat kondisi Anda seperti ini. Salah satu kunci dari ketenangan adakah keikhlasan," ucap Karina memberi saran. Tangis Tuan Adiguna semakin keras. Intan tertegun mendengar suara tangis suami nya. Ia yakin pasti Karina dan Darwis sudah membongkar tuntas mengenai kematian Eko. Intan juga mengeluarkan mutiara cairnya. Ia bersandar pada dinding seraya menetralkan emosinya. Ia juga harus jaga image di depan penjaga pintu.
Di sisi lain, Gerry dan Mira yang sudah bertukar pakaian segera menuju ballroom. Selama di perjalanan, Mira menceritakan bagaimana ia bisa terjebak oleh Satya padahal Gerry sudah melarangnya, menurut Gerry itu dapat membuat Mira kembali takut. Tapi Mira kekeh, ia tidak mau Gerry menyalahkan kejadian ini semuanya pada Satya.
"Aku kira itu hanya minuman biasa, wajahnya tidak ada yang mencurigakan, hanya senyum tipis itu yang ia tampilkan, setelah aku meminumnya, tak lama tubuhku terasa panas, ia membawaku yang sudah hampir kehilangan kendali keluar ballroom ke kamar tadi. Dia langsung melemparku ke ranjang, aku melihat wajahnya berubah, Kak Satya begitu menakutkan. Aku tidak bisa melawannya. Tubuhku terasa sangat lemah. Ger, aku mohon jangan salahkan semuanya pada Kak Satya, biar bagaimanapun ia seseorang yang penting dalam hidupku." Gerry melirik Mira, tidak ada jawaban atau reaksi lain selain itu, bibir Gerry tetap tertutup.
"Gerry, kamu tidak marah kan aku meminta ini?" Mira gelisah Gerry tidak menanggapi ucapannya.
Walaupun jemari mereka bertautan, Mira merasa Gerry menjaga jarak dengannya.
"Ger," panggil Mira pelan. Gerry menghentikan langkahnya, otomatis langkah Mira juga berhenti, Gerry menatap Mira dengan tatapan datar. Mira dadanya berdebar tidak karuan.
Dengan gerakan cepat, Gerry mengurung Mira dalam penjara tangannya, tubuh Mira bersandar pada dinding. Tatapan mata Gerry sangat dalam sekarang, seakan masuk dan melihat isi hati Mira.
Mira membeku terkejut, belum habis keterkejutannya, Mira terbelalak kaget saat Gerry menciumnya tanpa ada tanda-tanda. Ciuman Gerry cuma beberapa saat, Mira tidak membalas sebab sangat terkejut. Seusai itu, Gerry menyentuh bibir Mira dengan telunjuknya lalu naik di dahi Mira.
"Aku tahu kau juga salah. Dasar wanita bod*h dan pelupa. Kau melupakan peringatan dariku!" Gerry menyentil kening Mira. Mira tertegun. Dalam hati meruntuk, ia sekarang ingat peringatan Gerry beberapa hari lalu saat telponan.
"Ayo jalan lagi," ajak Gerry, mengulas senyum tipis.
"Satya dan aku sama-sama Pedang Biru. Tidak banyak yang tahu bahwa Kasino Heart of Queen adalah bagian dari Pedang Biru. Jadi, mengenai Satya salah atau tidak, buatkan Queen yang menentukan," ucap Gerry. Mira kembali tertegun tidak percaya. Mira kini bergelut dengan batinnya, mereka melangkah bersama dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1