
Dapur hotel sedikit gempar dengan kehadiran tangan kanan dan suami Karina. Awalnya cuma Darwis dan Arion saja yang hadir untuk membuat sarapan sebagai ganti tidak jadi memasak makan malam.
Tapi, karena hal itu terdengar oleh Karina, seketika turun perintah bahwa Li dan Gerry juga harus turut memasak. Tentu saja Darwis dan Arion tersenyum, mereka menaik turunkan alis mereka, meledek Li dan Gerry.
Karina juga memberi perintah, bahwa setiap suami harus memasak makanan favorit istri mereka. Gerry sedikit ragu dan gugup, jujur ia belum tahu makanan kesukaan Mira. Sebagai istri yang pengertian, Mira memberitahu makanan kesukaannya.
Bagi Arion itu sangat mudah, bagi Karina, semua makanan adalah favoritnya, yang penting halal. Begitupun dengan Darwis. Sedangkan Li, ia tersenyum lebar. Favorit Elina adalah mie goreng.
Para istri melihat aksi suami mereka berperang dengan alat dan bahan masak dari kursi yang disediakan. Para chef tetap mengerjakan tugas mereka membuat hidangan untuk para tamu hotel dengan tetap mencuri pandang kepada empat tuan muda. Mereka semakin tampan dengan lengan kemeja digulung sesiku serta apron yang diikat di pinggang.
Karina, tersenyum tipis melihat Arion yang sibuk memasak, dengan sesekali menatap Karina dengan senyum manisnya.
Karina kemudian tenggelam dalam laporan yang sekretaris dan asistennya kirimkan via email. Joya, matanya tidak lepas dari Darwis, begitu pun Elina dan Mira. Mira terpesona dengan keahlian Gerry. Begitulah, Pedang Biru mampu mendidik pria menjadi serba bisa.
Sepertinya aku harus pulang hari ini, pikir Karina mendapati ada masalah pada laporan mereka. Elina mendapati ekspresi Karina berubah suram, aura Karina sangat mengena padanya.
"Ada apa?"tanya Elina berbisik.
"Seusai Ashar kita kembali," jawab Karina pelan. Elina mengangkat alisnya sekilas lalu mengangguk.
Aku rindu markas, batin Elina.
*
*
*
Seusai membasuh wajah dan membersihkan diri, Riska dan Satya melangkah menuju ruaneg makan yang mewah dan luas.
Keduanya cukup menjaga jarak tidak mau menjadi perhatian. Saat memasuki ruang makan, Riska berpapasan dengan Excel. Riska agak canggung, sebab kemarin ia kan pamitnya pulang ke rumah. Excel tersenyum, menyapa Riska.
Satya melirik wajah Excel, merasa tidak nyaman, Satya melangkah duluan menuju meja tanpa sepatah katapun. Excel mengelis tidak paham, tapi segera ia tepis.
"Kamu menginap di sini Ris? Kok kemarin kamu cepat banget pulangnya, padahal kita kan mau ngobrol banyak sama kamu," tegur Excel. Riska mengusap tengkuk dengan tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Hm, tadi malam aku ada acara lagi bareng keluargaku. Mama dan Papa aku juga enggak ada di rumah, jadi nginap bareng keluarga. Sorry," jawab Riska. Alis Excel terangkat.
"Oh acara apa?"tanya Excel kepo seraya mengedarkan pandangannya.
"Ya acara keluarga!"tegas Riska.
"Eh? Okey I understand. Yang tadi itu siapa?"tanya Excel penasaran dengan Satya.
"Dia, teman kakak ipar aku." Memang benar kan.
"Kamu kok masih di sini? Apa kamu menginap juga?"tanya Riska balik penasaran. Excel tersenyum, ada kegetiran di sana.
"Aku menginap di sini sama orang tua aku. Sore nanti aku balik ke Korea," jawab Excel. Riska tertegun sejenak, ia lupa bahwa setelah tamat SMP, Excel dan keluarganya pindah ke Korea.
"Ris," panggil seseorang dari belakang. Riska menoleh, begitu pun Excel. Mira dan Gerry bersama tiga pasangan lainnya menatap Riska penuh selidik. Riska bergidik, terutama tatapan mata Karina.
"Iya," jawab Riska sedikit tergagap.
"Siapa ini?"tanya Riska menilik Excel. Excel tertunduk dengan mata tajam Mira.
"Ini, teman SMP aku Kak," jawab Riska, bergerak ke samping Mira.
"Halo, my name is Excel," sapa Excel gugup.
"Excel? Namamu cukup unik. Semoga kamu nyaman di hotel ini," sambar Karina sebelum Mira membalas perkenalan Excel.
__ADS_1
Excel mengangguk. Ia nyaman di hotel ini.
"Xel, kamu belum masuk Nak?"tanya seorang wanita dari menghampiri Excel. Excel menoleh, ia diam-diam menghela nafas lega.
"Belum Ma," jawab Excel.
"Eh, Presdir KS Tirta Grub dan Jaya Company bukan?"kaget pria yang bersama Mama Excel, yang tak lain adalah Ayah Excel.
Karina dan Arion mengangguk.
"Salam kenal, tuan, nyonya. Senang bisa bertemu dengan Anda berdua," ujarnya gembira.
"Iya," singkat Karina dan Arion. Para tangan kanannya saling pandang.
"Kami permisi," ujar Arion, Ayah Excel mengangguk walaupun tidak rela. Karina dan rombongan segera masuk, Riska pun ikut dengan mereka.
Excel menatap langkah Riska dengan hati yang menciut, ia takut dengan tatapan Karina dan lainnya.
"Kamu kenal salah satu dari mereka Xel?"tanya mama Excel.
"Hanya Riska, dia teman SMPku," jawab Excel.
"Bagus! Kamu dekati anak itu, yang Papa sapa tadi adalah presdir perusahan besar negara Y. Bisa punya satu hubungan kerja sama dengan mereka, masa depan kita aman," ucap senang Ayah Excel. Excel menggeleng tidak setuju.
"Tatapan mereka seperti menelanjangiku. Bisa-bisa aku mati deketin Riska. Papa Riska juga jenderal besar negara ini. Keluarga terlalu seram untuk dipijakin," tolak Excel tegas. Ayahnya mendengus sebal dan masuk ke ruang makan. Mama Excel menepuk pundak putranya.
"Pilihan yang tepat!"pujinya. Excel tersenyum tipis lalu merangkul wanita pertama dalam hidupnya itu masuk.
*
*
*
Mereka duduk saling berhadapan. Setelah berdoa, mereka menyantap sarapan mereka dengan hening.
"Kami akan pulang setelah ini. Perusahaan ada beberapa masalah," ucap Karina seusai sarapan.
"Astaga! Karina benar. Perusahan terlalu lama di tangan Papa. Aku tidak akan tahan dengan mulut bebek Papa nanti. Karina kita harus segera pulang," seru Arion panik. Ia pergi tanpa pamit, pasti Amri akan mengomelinya sepulangnya dari sini.
"Bayu juga akan protes padaku," sahut Karina.
"Secepat ini? Setidaknya pulanglah nanti siang. Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu, Karina. Beberapa masalah yang timbul menyebabkan aku tidak bisa bersama denganmu," protes Satya cepat. Ia menatap Karina penuh harap. Gerry melirik sinis.
"Aku setuju," ujar Darwis, Joya pun mengangguk. Sebentar sekali ia menghabiskan waktu dengan Karina.
"Pekerjaan kami sudah menumpuk, tiga hari pasti sudah menutup meja," ucap Gerry, ia ingat pekerjaannya yang kemarin saja belum selesai.
"Ah iya, kami juga harus membuat persiapan pesta akhir tahun, kami akan sibuk setelah pulang dari sini," timpal Li.
"Aku harus bekerja, izinku berakhir jam 12.00 nanti, kalau tidak aku akan kena surat panggilan," ucap Mira setelah mendapat tatapan dari Gerry.
"Aku rindu kasur di markas," ucap Elina yang membuat Li mendengus senyum.
"Aiya, masalah izinmu kan ada Karina, siapa yang berani menentang kalau pimpinan tertinggi sudah bertitah." Satya memjawab ucapan Mira.
"Ayo lah Karina," bujuk Joya. Karina dan Arion saling pandang. Kalau Arion, setuju atau tidaknya tangan kanan Karina, tidak berefek padanya. Tapi untuk Karina, pasti akan dilema.
"Hai Guys!"sapa Rian dengan santainya.
Seketika tatapan tajam kedelapan orang itu membuat Rian mundur dengan tangan di dada.
__ADS_1
"Sorry!"ucap Rian takut.
"Bagaimana?"tanya Darwis, Satya, Li, dan Gerry pada Karina. Karina tersentak kaget dan mendengus sebal.
"Oke! Kami akan pulang sore!"putus Karina tegas. Li dan Gerry menghembuskan nafas kasar.
"Yes!"pekik Darwis dan Satya senang. Para istri kecuali Karina, mendengus senyum melihat reaksi suami mereka. Riska merasa kik-kuk. Ia melirik Mira, ingin mengatakan sesuatu. Sayangnya, Mira hanya fokus pada Gerry.
"Ini ada apa ya?"tanya Rian menarik kursi untuknya duduk.
"Inti dari masalah yang terjadi padaku adalah akibat kelalaianmu! Andai saja kau tidak meninggalkanku sendiri, aku dan Riska tidak perlu menikah. Gara-gara kau kami akan terjebak dalam pernikahan!"ketus Satya menjawab pertanyaan Rian. Rian yang tidak tahu menahu tentu saja memberikan wajah protesnya terhadap Satya. Ia pergi karena pekerjaan, bukan pribadi. Lagipula ia sudah memberi kabar pada Darwis. Rian lalu menatap Darwis.
"Bukankah aku sudah mengirim pesan padamu?"tanya Rian datar.
"Aku sudah tidur," jawab Darwis acuh.
"Sudah! Yang sudah terjadi jangan dibahas lagi!"tegas Karina yang melihat Satya hendak memarahi Rian.
"Jadi kalian berdua akan menikah? Wow Satya, kau hebat!"puji Rian, tatapannya berubah kagum. Satya mendelik kesal.
"Setidaknya pasanganku sudah ada!"balas Satya. Rian berdecak sebal. Memang, di antara mereka sekarang, hanya dirinya yang belum ada pasangan.
"Hm, kau harus berterima kasih padaku," ucap Rian.
"Harusnya aku memukulku!"sahut Satya.
"Aku telah membuatmu menemukan kekasih," lanjut Rian.
"Bicara lagi ku pukul kau!"ancam Satya yang geram dan jengah. Riska tampak menciut takut. Ia sendiri heran, biasanya Riska hanya takut pada Papa dan Mamanya, kini ia takut pada kesepuluh orang ini. Mafia memang berbeda.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"tanya Li memecah suasana yang hening beberapa saat. Kecuali Karina, Arion, dan Riska, semuanya saling melempar pandang.
"Baiklah, bagaimana dengan rekreasi? Ku dengar ada zoo aquarium di sini, kita bisa ke sana sekaligus makan siang," saran Arion.
"Ide bagus!"
"Aku setuju!"
"Ayo pulang," ajak Darwis.
"Em, kakak sekalian, aku tidak ikut ya, ada kerjaan yang harus aku lakukan," ucap Riska mengangkat wajahnya.
"Oke," sahut para wanita kecuali Karina.
"Aku akan mengantarmu," tegas Satya berdiri.
"Kita kumpul di rumah, jam 10.00!" tegas Karina berdiri, meninggalkan ruangan disusul Arion dan lainnya, baru Satya dan Riska. Karina dan lainnya segera menuju mobil dan melaju pulang ke rumah. Satya membukakan pintu untuk Riska.
"Ayo masuk," ujar Satya yang melihat Riska berdiri diam menatap dirinya.
"Kak, aku pulang sendiri saja. Aku bisa telpon sopir," ujar Riska. Satya mengangkat alisnya.
"Aku akan mengantarmu, aku sudah berucap, maka akan ku penuhi," jawab Satya.
"Em, baiklah," ucap pasrah Riska. Riska segera masuk. Satya menutup pintu dan langsung menuju kursi kemudi.
"Pakai sabuk pengamannya," tegur Satya.
"Ah iya," jawab Riska tergagap dan segera memakai sabuk pengaman. Satya tersenyum lucu, melihat rona merah di pipi Riska.
Mengapa jadi gugup begini?batin Riska bingung sendiri. Satya memutar lagu memecah keheningan suasana. Sembari mengemudi, Satya mencuri pandang terhadap Riska yang menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Cantik juga, batin Satya tersenyum tipis.