
"Astaga! Aku pasti sudah gila menyetujuinya. Ayo Lah bukankah ini terlalu cepat? Mengapa pria itu jujur sekali? Hanya saja anaknya lumayan tertutup. Malah keluarganya terpandang semua lagi, Tuhan, ini anugrah atau cobaan?" racau Jesica dengan tangan memukul random kasur.
Jessica menghembuskan nafas kasar dan bernegosiasi untuk tidur.
"Otak, kamu harus tidur. Mata kamu harus istirahat. Tubuhku, kamu harus bugar esok pagi. Hati, kamu kembali normal. Dan Jesica ayo tidur. Jika tidak besok kau akan terlambat!" oceh Jesica pada dirinya sendiri, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, tangannya tidak lupa mematikan lampu kamar.
Seperti biasa, orang-orang menjalani aktivitas keseharian mereka. Bayu ke sekolah, Enji bekerja, Arion dan Karina juga. Amri dan Maria yang berkeliling komplek dan beragam aktivitas lainnya.
Karina, menyuruh Pak Anton membawanya ke lokasi yang Karina kirim ke GPS mobil. Pak Anton sedikit heran sebab arah yang dituju berlawanan dengan arah kantor, lebih ke arah kediaman Wijaya.
Ternyata lokasi yang dituju Karina adalah sebuah panti asuhan. Pak Anton membukakan pintu, Karina dengan gayanya serta kacamata yang ia kenakan membuka pagar kayu panti dan masuk ke dalam. Beberapa anak berlari masuk ke dalam dan lalu keluar diikuti oleh seorang dua orang wanita berbeda umur. Satunya sudah berumur dan satu lagi Karin perkirakan masih berusia 20 tahunan.
"Selamat Pagi, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita yang sudah berumur itu sopan terhadap Karina. Ia tahu, ia berhadapan dengan siapa sekarang. Karina melepas kacamatanya.
"Hanya penasaran. Mengapa di depan sana ada plang ini dijual? Apakah ini bukan milik panti?" jawab Karina sembari duduk di kursi teras panti.
"Anda tertarik untuk membelinya?" tanya wanita yang lebih muda itu dengan wajah muram.
Sedangkan anak-anak panti lain tetap beraktivitas namun tatapan mereka terarah ke teras, tampak jelas rasa takut dan sedih bersamaan.
Wajah kedua wanita itu pun menjadi muram.
"Jawab!" Karina jengah.
"Sebenarnya, tanah ini sudah kami beli, namun entah bagaimana caranya, seminggu lalu ada orang yang datang dan menunjukkan surat bahwa tanah ini atas namanya. Padahal kami sudah membelinya," papar wanita itu dengan wajah lesu.
"Hm, bagaimana bisa?" tanya Karina.
"Kami kehilangan surat kepemilikan tanah ini sebulan yang lalu, kami sudah mengajukan pembuatan surat baru tapi setelah kami datangi, tidak ada pengajuan atas nama kami. Dengan sangat tidak rela, kami harus melihat tanah ini diberi label dijual. Kami, tidak punya biaya untuk membeli tanah ini kembali terlebih para donatur yang mengundurkan diri bertahap takut dengan pengacau itu," jelasnya dengan mata yang geram.
"Apa orang kaya dapat seenak jidat menindas orang lemah? Apa kekayaan mereka hasil penindasan?" cerca wanita muda itu geram.
"Siapa memangnya?" Karina santai sembari meminum teh hangat yang disajikan.
"Mereka. Geng Harimau Hitam, saat ini mereka tengah naik daun. Kami tidak ada kekuatan untuk melawan mereka. Nyawa anak panti bisa jadi taruhannya," jelasnya, terlihat jelas raut wajah cemas di wajahnya. Karina menaikkan alisnya.
Ya begitulah, yang baru merasa sok kuat, tidak sadar di belakang mereka ada pemangsa yang siap menerkam. Yang sudah senior hanya menunggu waktu untuk mengajari junior.
"Berapa harga tanah nya?" tanya Karina. Wajah keduanya tertegun sejenak, dengan bibir bergetar keduanya menjawab serentak.
"Satu milyar," jawab mereka.
"Lumayan mahal," komentar Karina.
Keduanya merasa lidah mereka keluh, satu milyar bagi orang sekaya Karina, bukankah hanya selembar baginya? Aih, keduanya lebih baik jaga sikap.
"Baiklah, aku sudah selesai. Terima kasih atas waktunya."
Karina beranjak dan memakai kembali kacamatanya. Kedua wanita itu menatap bingung Karina, bahkan saat mobil sudah menjauh dari panti mereka tetap terpaku, hingga salah seorang anak menyadarkan mereka.
"Bunda, Kakak, apakah dia akan menjadi penolong kita?" tanya anak itu polos.
__ADS_1
"Semoga," jawab keduanya dengan senyum harapan.
Karina menghubungi Li untuk menyelesaikan masalah panti asuhan tadi. Li yang baru saja selesai dari kolam renang langsung bergegas melaksanakan tugas.
Dalam kurun waktu dua jam, Karina sudah menerima kabar bahwa semua telah beres. Karina hanya tersenyum sebagai jawaban.
Tak lama, telepon kantornya berbunyi, Karina segera menekan tombol menjawab.
"Nona, ada telepon untuk Anda dari panti asuhan Cahaya," ujar seseorang yang Karina kenali sebagai suara resepsionis lobby.
"Sambungkan," ucap Karina. Tak berselang lama, terdengar suara Ibu panti.
"Hallo Nyonya," ujar Ibu panti dengan nada gembira.
"Hm," sahut Karina.
"Saya dan segenap penghuni panti ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan Nyonya. Sungguh kami tidak menyangka dengan kenaikan Nyonya," ucap Ibu Panti.
"Sudah kewajibanku," sahut singkat Karina.
"Ah ya, satu lagi. Saya akan menjadi donatur tetap untuk panti Anda. Saya harap, Anda dapat mengelola panti sebaik mungkin," tukas Karina yang disambut bahagia Ibu Panti. Ia mengucapkan terima kasih lagi, bahkan hanya ucapan saja tidak cukup baginya.
"Baik Nyonya. Saya mengerti," ucap Ibu Panti. Karina menghela nafas panjang dan tersenyum cerah. Karina kembali tenggelam dalam pekerjaannya.
"Waduh dua anak Mama mau ke mana tampil cantik begini?" canda Intan saat mendapati Mira dan Riska menurun tangga dengan keadaan rapi dan cantik.
"Ih Mama, kita kan tiap hari tampil cantik," protes Riska mengerucutkan bibirnya saat tiba di anak tangga terakhir. Intan terkekeh.
"Jalan-jalan Ma," ujar Mira memberikan ciuman di pipi Intan.
"Benarkah?" tanya Intan menatap Riska. Riska yang bergelayut manja di tangan Intan mengangguk dengan tatapan memelas agar diizinkan. Intan menghela nafas.
"Baiklah, tapi …," ucap Intan tapi dipotong duluan oleh Riska.
"Tapi tanpa pengawal. Ya Ma. Riska mohon kali ini saja. Biarkan kami bebas tanpa pengawal. Rasanya tidak enak jadi pusat perhatian. Please ya Ma, no bodyguard ya?" potong Riska yang membuat Intan menatap tajam putri bungsunya itu.
"Tidak, harus dengan pengawal. Jika tidak mau, buang jauh-jauh niat kalian!" tegas Intan. Riska mendengus. Mira menyentuh pundak Intan.
"Ma, boleh ya, Mira yang akan jagain Riska. Lagipula selama tidak di rumah ini Mira selalu pergi sendiri, jujur kurang nyaman rasanya jika diikuti, boleh ya Ma, enggak lama-lama kok," bujuk Mira.
Intan terdiam sejenak, setelah menimang, Intan mengangguk lemah dan mengizinkan dengan beberapa pesan. Dengan riang keduanya menuju mobil dengan Mira yang mengemudi. Intan menatap mobil yang digunakan Riska dan Mira dari balkon. Ia menghembuskan nafas kasar lalu kembali masuk.
Mira dan Riska memutuskan untuk melepas bosan di taman kota. Setelah memarkirkan mobil keduanya berjalan menyusuri taman, bersua selfie, dan icip rasa saat berada di area kuliner.
Lelah, keduanya duduk di salah satu kursi taman.
"Eh Kak, aku toilet dulu ya," ujar Riska.
"Hm," jawab Mira.
"Mau es krim? Sekalian beli," tanya Riska.
__ADS_1
"Iya, rasa mocha ya," jawab Mira dengan mata berbinar. Riska terkekeh dan segera beranjak. Mira kembali tenggelam bermain dengan ponselnya.
"Hai," sapa seseorang.
Mira tidak menggubris, ia tetap fokus pada handphone. Terlebih saat ini ia memeriksa pekerjaannya, dan juga berbalas pesan dengan kekasihnya.
"Hallo, Nona, kamu dengar tidak?"
Pria itu mengeraskan volume suaranya. Mira melirik kesal ke samping, menampilkan sepasang kaki panjang yang dibalut jeans hitam lalu kembali ke handphone nya.
"Hm," sahut Mira dingin.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Pria itu.
"Maaf di sini sudah ada pemiliknya. Ada banyak bangku di taman ini, cari saja tempat lain," ujar Mira kini menatap kesal Pria itu.
Mira sedikit terkejut dengan Pria itu. Wajah tampan dengan alis yang cukup tebal, bibir menawan, mata emerald, dan dahi sengaja diperlihatkan.
"Ehem," dehem Pria itu menyadarkan Mira.
"Semua penuh, aku harus makan. Kamu seperti wanita berpendidikan, pasti tahukan bahwa dianjurkan saat makan atau minum dalam keadaan duduk?" ucap Pria itu.
Mira mengedarkan pandangannya. Ia mengeryit melihat semua bangku yang terisi padahal saat ia duduk tadi sebagian masih kosong. Mira mendengus dan menatap remeh Pria yang masih berdiri menatapnya dengan sebuah cup di tangannya.
"Bagaimana?" tanya Pria itu menaikkan alisnya.
"Silahkan, tapi saat adikku kembali kamu harus pergi," ujar Mira.
Pria itu tersenyum dan segera duduk. Mira kembali dalam dunia online nya.
"Tiga tahun kamu pergi meninggalkan tanah air, sikapmu jauh berbeda. Kamu jadi lebih dingin dan tertutup," ucap Pria itu tiba-tiba dengan tatapan ke depan sembari menyantap makanannya. Mira melirik menunjukkan ekspresi bingung nya.
"Apa kita saling kenal?" tanya Mira.
"Tentu," jawab Pria itu.
"Apa kau tidak mengenaliku? Bahkan setelah kau mendengar suara dan melihat wajahku?" Pria itu menatap Mira dalam. Mira mengeryit. Ia teringat satu hal.
"Apa kau orang yang mengirim pesan padaku beberapa hari lalu? Kata-katanya sama persis," cerca Mira dengan nada mengintimidasi.
"Good. Kamu benar," ucap Pria itu. Mira mendinginkan wajahnya.
"Apa dan siapa dirimu?" tanya Mira serius. Pria itu tersenyum kecut dan lanjut makan. Tidak memperdulikan tatapan mata Mira yang emosi padanya.
Seakan ia menikmati ekspresi Mira. Mira kemudian mengedarkan pandangannya mencari Riska, entah kemana anak itu. Jika Riska di sini, pasti Mira sudah mengajaknya pulang. Mengesalkan sekali bertemu Pria ini.
"Mira," panggil Pria itu dengan nada lembut.
Ia membuang cup ke tong sampah lalu dengan santai meraih botol minum milik Mira dan meminumnya. Mira membulatkan matanya. Ia ingin protes tapi Pria itu sudah menghabiskan minumnya.
"Kamu harus ingat saat aku mengenalkan diriku," ucap Pria itu serius.
__ADS_1