
"Itulah alasannya aku bercinta dengan Joya," terang Darwis mengakhiri ceritanya.
"Hmm … jadi maksudmu jantung yang di kirimkan ke rumah Joya itu adalah jantung orang lain?" tanya Rian memastikan.
"Begitulah," jawab Darwis.
"Sudahlah. Ayo kita tidur," ajak Darwis. Rian dan Satya mengangguk menyetujui dan segera menuju kamar masing-masing.
***
Kediaman Karina, negara B.
Saat ini Karina tengah berada di ruang belajar, untuk menginterogasi Andi. Di sampingnya standby Aleza.
"Emm … emmm …," ucap Andi yang mulutnya dilakban dan didudukkan di kursi. Kaki dan tangannya juga diikat. Karina menatap sinis dirinya.
"Andi Leksmana. Dokter ahli penyakit jantung. Lulusan universitas S. Mulai bekerja 2 tahun yang lalu di Tirta Hospital," ucap Karina datar.
Andi menatap waspada dirinya. Matanya menanyakan siapa dirinya.
"Buka mulutnya," perintah Karina. Aleza segera membuka lakban pada mulut Andi.
"Siapa kau?" tanya Andi.
"Apa tak ada pertanyaan lain? Aku bosan setiap kali menculik ditanya siapa aku?" tanya Karina santai.
Dahi Andi mengerut. Benaknya berkelana berusaha mengingat apakah ia pernah bertemu atau berurusan dengan wanita di hadapannya kini.
"Yo … apa yang kau lakukan pada putri ibu ini?" tanya Karina menunjuk Bik Ana yang baru masuk. Mata Andi membulat, tak lama ia tersenyum tipis.
"Tidak kenal," jawabnya.
"Bohong!" seru Bik Ana geram.
"Bukankah kamu yang melakukan operasi pada putriku tiga hari yang lalu?" tanya Bik Ana.
"Nyonya, saya bukan hanya mengoperasi Putri Anda. Mana mungkin saya ingat satu-persatu wajahnya," ujar Andi. Bik Ana menahan kemarahannya sebab Karina mengedipkan matanya untuk Bik Ana bersabar.
"Hmmph …," dengus Bik Ana.
Karina berdiri dan mendekati Andi. Tangannya terulur memegang pundak Andi.
"Aku pemilik rumah sakit tempatmu bekerja. Dan aku menerima laporan bahwa kau melakukan pengambilan organ tubuh tanpa izin," ucap Karina datar.
"Pemilik Tirta Hospital? Bagaimana bisa?" gumam Andi pelan.
"Haih … ya bisalah. Leza bius dia," perintah Karina kembali duduk.
Aleza segera mengambil jarum suntik dan membius Andi dengan mudahnya. Karina tersenyum kecil melihatnya. Perlahan Andi mulai tak sadarkan diri.
"Percuma saja bertanya padanya. Tak ada gunanya. Lebih baik cari tahu sendiri kebenarannya," ucap Karina dingin.
"Leza, buatkan aku topeng wajahnya. Aku akan menyamar sebagai Andi Leksmana," perintah Karina. Aleza mengangguk dan segera menscan wajah Andi untuk membuat topeng. Bik Ana menatap bingung mereka.
"Bagaimana bisa Nona menyamar sebagai laki-laki? Suara dan fisik anda sangat menonjol?" tanya Bik Ana menyuarakan kebingungannya. Karina tersenyum simpul.
"Itu masalah kecil Bibi. Serahkan saja padaku. Kecanggihan teknologi jawabannya. Pedang Biru punya alat penyamaran yang sempurna," terang Karina berdiri kemudian meninggalkan ruang belajar.
"Percayakan saja pada Queen. Dia tahu apa yang ia lakukan," timpal Aleza pada Bik Ana dan keluar menjalankan perintah Karina.
Bik Ana mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Orang seperti apa dirinya ini?" gumam Bik Ana menatap rak-rak buku di hadapannya. Kemudian keluar dan menutup rapat pintu ruang belajar.
***
Selasa, pukul 06.00, Karina mengerjapkan matanya perlahan. Karina bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Ia memegang kepala pusing dan merasa melupakan sesuatu.
"Janji?" gumam Karina. Matanya membulat seketika dan segera mengambil handphone di nakas. Membuka kontak dan menghubungi Arion.
__ADS_1
Arion yang masih tertidur dengan posisi telungkup merasa terganggu mendengar dering handphonenya yang berisik. Tanpa beranjak dan membuka matanya, tangan Arion berusaha mencari dan menggapai handphone.
"Halo?" ucap Arion serak.
"Halo Ar? Kamu masih tidur?" tanya Karina pelan.
Mata Arion membulat dan segera duduk. Ia melihat siapa yang menelpon.
"Karina?" gumam Arion pelan.
"Halo Ar?" panggil Karina.
"Hah iya," sahut Arion.
"Maaf. Aku telah ngasih kabar lagi. Kamu pasti khawatir," ucap sesal Karina.
"Kenapa?" tanya Arion datar. Hatinya senang sekaligus kesal.
"Aku sangat sibuk. Jadinya handphone aku nonaktikan," jawab Karina.
"Kamu ingkar janji. Kamu tahu gak? Aku dibully sama Papa gara-gara aku galau rindu sama kamu," aduh Arion. Karina diam.
Cepat sekali perubahannya, batin Karina.
"Dibully? Kamu diapain?" tanya Karina panik.
"Papa nyanyi gak jelas di depan kamar," jawab Arion.
"Nyanyi? Lagu apa?" tanya Karina.
"Penyakit cinta," jawab Arion.
"Hmm … gak salah sih. Oh ya Ar aku mau bilang kalau hari ini kemungkinan aku malam akan hubungi kamu. Kamu jangan marah ya?" ujar Karina.
"Sibuk amat sih? Memangnya mau ngapain?" tanya Arion.
"Masalah lahan pembukaan cafe. Ada pihak keluarga yang mengatakan bahwa penjualan tanah itu hanya keputusan sepihak. Dan sekarang mereka menuntut pihak pembangunan cafe," terang Karina.
"Biasalah. Ada kesalahan teknis. Untuk pengacara aku ada kok. Jadi kamu jangan khawatir ya," pinta Karina.
"Hmmm … ya sudah deh. Aku percaya sama kamu," ujar Arion.
"Makasih Sayang," ucap Karina.
"Sudah dulu ya. Aku mau siap-siap," ujar Karina lagi.
"Oke. Semangat Sayangku. I love you. Muah …," ucap Arion.
"Love you too …," balas Karina segera mengakhiri panggilan.
Arion senyum-senyum sendiri jadinya. Dengan segera ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Pukul 07.00 Arion keluar dari kamar dengan pakaian kerjanya menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi Ma, Pa, Bayu," sapa Arion menarik kursi untuknya.
"Pagi Ar," sahut Maria. Amri mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Arion menatap dirinya kesal.
"Bucin ya mulai kambuh. Sudah dapat kabar dari Karina?" tanya Amri pelan.
"Hmmm …," sahut Arion. Hening.
"Sudahlah. Ayo sarapan. Bayu sudah mau berangkat loh," ujar Maria tegas. Mereka mulai sarapan dengan tenang. Lima belas menit kemudian, acara sarapan selesai.
"Kakak Karina kapan pulang kak Ar?" tanya Bayu penasaran.
"Jika sesuai jadwalnya maka besok kak Karina sudah pulang. Tapi katanya ia bisa lebih lama jika masalah belum kelar juga," jelas Arion mengusap rambut Bayu.
"Oh …," sahut Bayu.
__ADS_1
"Masalah apa rupanya Ar?" tanya Amri.
"Masalah pembangunan cafe cabang Pa," jawab Arion.
"Arion pamit ke kantor ya …," pamit Arion berdiri dan menyambar tas kerjanya lalu mencium tangan Amri dan Bayu.
"Iya. Hati-hati," ujar Maria. Arion mengangguk dan segera menuju mobilnya ke perusahaan.
"Bayu juga pamit ke sekolah ya Ma, Pa …," ujar Bayu. Amri dan Maria mengangguk dan mengantar Bayu sampai ke mobil.
***
Pukul 08.00, Karina menuruni tangga menuju meja makan. Penampilannya berubah drastis. Dengan pakaian khas dokter, Karina hampir 99% mirip dengan Andi. Rambut Andi yang panjang sebahu dan lurus serta bentuk tubuh dan tinggi badan menunjang kemiripannya.
Karina tak perlu memotong rambutnya, sebab pada hari Kamis lalu ia sudah potong rambut sebahu. Dada Karina menjadi datar sebab dibalut kain ketat. Dengan penemuan yang ia ciptakan yaitu alat perubah suara menambah kemiripannya.
"Astaga? Bagaimana bisa dirimu bisa keluar?" tanya kaget Bik Ana yang tidak tahu bahwa itu adalah Karina sebab Karina sudah memakai topeng perubah wajahnya.
"Tentu saja bisa Bibi. Inikan rumahku," jawab Karina yang belum mengubah suaranya.
"Anda? Nona Karina?" tanya Bik Ana heran.
"Lantas? Siapa lagi?" tanya balik Karina duduk di kursi meja makan. Dan mulai menyantap sarapannya.
"Bagai pinang dibelah dua," gumam Bik Ana takjub.
"Bik saya akan segera menyelesaikan masalah ini. Tunggu saja kabar jadinya," ujar Karina setelah sarapan. Bik Ana mengangguk paham. Hanya kejelasan kematian putrinya yang ia butuhnya.
Karina bangkit dari duduknya dan segera menuju garasi untuk ke rumah sakit sebagai dokter Andi Leksmana.
"Hmmm … dari yang ku baca diakan naik motor. Oke akan akan naik motor ini saja," gumam Karina mengambil kunci motor dan helm lalu menaiki motor sport berwarna merah, Ninja H2R yang bisa melesat melebihi 400 km/jam.
Karina segera menghidupkan mesin motor dan memanaskannya sebentar. Tak lupa helm sudah berada di kepalanya.
Lima menit kemudian, Karina menjalankan motornya perlahan keluar garasi, tiba di jalan raya, Karina segera melajukan motornya membelah jalanan dengan menyalip kanan-kiri kendaraan yang menurutnya lambat. Lima belas menit kemudian, Karina tiba di parkiran rumah sakit. Ia lantas segera masuk menuju ruangannya.
Sepanjang melewati koridor, banyak yang menatap kagum dirinya, gayanya yang cool serta seutai senyum menghiasi wajahnya.
"Kyaaiii … aku merasa dokter Andi berbeda hari ini? Lebih tampan dan sedikit cantik," pekik salah seorang suster yang berpapasan dengan Karina.
"Kau benar. Aku mencintaimu, dokter Andi," sahut suster lainnya. Karina mengabaikan itu. Ia mengamati setiap sudut rumah sakit yang ia lewati, tak lama ia tiba di depan pintu bertag name, Andi Leksmana.
Karina segera masuk ke dalam dan mengubah suaranya. Di dalam ternyata sudah ada Dokter Rizal.
"Tumben lama sekali dirimu tiba?" tanya seloroh Rizal.
"Hmm ...," sahut Karina/Andi. (Walaupun dalam masa penyamaran, namanya tetaplah Karina.)
Karina segera duduk di kursinya, tak lama asisten pribadi dokter Andi, Salsa masuk ke dalam ruangannya.
"Dokter ini jadwal Anda hari ini," ujar Salsa sopan. Karina mengangguk dan melambaikan tangannya menyuruh Salsa keluar. Rizal mengamati tindakan Andi dengan seksama.
"Kau tampak berbeda," celetuknya.
Karina mengangkat pandangannya dari jadwal dan menatap datar Rizal.
"Bukankah setiap hari aku seperti ini?" tanya Karina santai.
"Memang sih. Tapi kau kelihatan lebih cool," sahut Rizal. Karina hanya ber-oh-ria saja.
"Ada apa? Tumben sekali dirimu sudah ke ruanganku seawal ini?" tanya Karina menatap selidik Rizal. Rizal tersenyum canggung.
"Ada pesanan dari Bos," jawab Rizal mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya dan menyodorkannya pada Karina.
Bos? Siapa dia? batin Karina.
Ia semakin yakin ada kekuatan besar di balik ini semua. Karina menerima kertas itu dan membacanya.
"3 jantung, 2 ginjal?" gumam Karina.
__ADS_1
Aih … mengapa aku tak bisa lepas dari yang namanya urusan jantung? batin Karina.
"Ya. Ini permintaan Bos hari ini. Dan kebetulan dari yang ku tahu kau ada lima jadwal operasi hari ini kan?" ucap Rizal santai. Seolah ini sudah biasa bagi mereka. Karina mendengus kesal. Ia menatap datar Rizal meminta penjelasan.