Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 68


__ADS_3

* ADEGAN DEWASA!!*


"Baiklah silahkan duduk dan bergabung dengan kami," ajaknya. Joya segera duduk di sofa tunggal yang tersedia di sana. 


Joya lantas membuka topinya dan memperhatikan tiga pria itu. Orang yang berbicara dengannya tadi memiliki wajah yang cukup tampan.


Dengan kemeja putih polos dan dua kancing atas yang sudah terbuka menambah kadar ketampanannya. Dua pria lain juga tak kalah rupawan. Masing-masing dari mereka memegang cerutu di tangannya.


Namun, pria yang berada di sebelah kiri itu memandangnya dingin dan sinis seolah menunjukkan ketidaksukaannya.


"Hai Rian, dia terlihat lumayan," bisik seorang pria yang berada di kanan pria yang berbicara dengan Joya tadi.


"Hmmm …," respon Rian.


"Jadi informasi apa yang kau inginkan Nona …," tanya Rian terhenti sebab tak mengetahui nama Joya.


"Joya," ucap Joya memperkenalkan dirinya.


"Ah ya, Nona Joya. Jadi apa yang Anda cari?" tanya Rian lagi tersenyum.


Joya terlihat ragu mengatakannya. Terlebih lagi, para wanita seksi yang menempel pada tiga pria itu membuatnya risih. Rian tampak mengerti dengan itu. Dengan cepat ia memerintahkan para wanita seksi itu keluar.


"Nanti kita lanjutkan," bisik seorang wanita dan mengecup singkat bibir Rian.


"Hmmm …," sahut Rian dingin.


Setelah wanita terakhir keluar, Joya masuk dalam mode datar untuk melakukan negosiasi dan penawaran.


"Hmm … tak nyaman rasanya jika hanya Nona yang memperkenalkan diri. Perkenalkan saya Rian, pria di kiri saya bernama Darwis dan yang di kanan saya bernama Satya," ucap Rian datar. Joya mengangguk mengerti.


"Langsung saja. Aku ingin mengetahui tentang leader Pedang Biru Mafia," ucap Joya menatap mereka bertiga tajam. Rian mengangkat sudut bibirnya ke atas melihat permintaan Joya.


"Nona? Anda sadar dengan itu?" tanya Satya.


"Tentu saja. Aku sudah lelah mencarinya kesana -kemari. Setiap markas sudah aku intai tetap saja yang dapat menemukannya," jawab Joya mantap.


"Haih. Kau ini orang yang ke sekian ratus mencarinya. Tapi kami hanya punya satu informasi kecil, itupun dengan penawaran yang sangat tinggi. Jadi apa penawaranmu Nona cantik," ucap Satya tersenyum menggoda ke arah Joya. Joya mengepalkan tangannya. Namun ia sangat memerlukan informasi itu, walaupun hanya sedikit.


"Saham sebesar 5% Argantara Company," ujar Joya. Ketiga pria itu saling berpandangan. Tak lama mereka tertawa sinis.


"Ternyata kau putri dari Reza Argantara. Setahuku dia juga leader Black Tiger Mafia. Berarti dirimu adalah Ketua Muda mafia itu," ucap Rian. Joya mengerutkan dahinya. Ia menatap waspada Rian. Ia memegang pistol dari balik badannya namun tetap diam tak menembak.


"Rian, dia tampak bingung. Hai Nona, kamu pasti sudah mendengarkan kami di sini adalah gudang informasi yang tidak pernah terekspos ke publik," jelas Satya.


"Saham 5 persen terlalu kecil," sahut Darwis yang sedari tadi diam.


Darwis memang pendiam tapi ia memiliki lidah yang sangat tajam terutama dalam hal negosiasi. Rian dan Satya terhenyak mendengar itu. Sebab tak biasanya Darwis berbicara.


"Aku tambah. Jadi 10%," ucap Joya menyilangkan tangannya.


"Kalian berdua pergilah. Biar aku yang menangani ini," titah Darwis pada kedua temannya.


Rian dan Satya saling lirik, tak lama mereka pun berdiri dan melangkahkan kaki mereka keluar. Ketika melewati Joya, Satya memperingati Joya lirik akan berhati-hati dengan Darwis.


"Semoga kau beruntung Nona Joya," bisik Satya. Joya tak peduli. Ia hanya ingin informasinya.


"Masih sama. Terlalu kecil," ucap Darwis mengisap cerutu dan menghebuskan asap dari mulutnya.


Joya geram seketika. Saham yang ia miliki hanya sebesar 20% di Argantara Company. Dan sekarang ia sudah menawarkan 10% pria di hadapannya ini masih berkata terlalu kecil.


"13 persen. Iya atau tidak!!" ucap Joya penuh penekanan. Tangan kanannya masih memegang pistol di balik badannya.


"Belum cukup. Berikan aku semua sahammu maka kau dapat informasinya," sahut Darwis santai.


Emosi Joya sudah tak tertahankan lagi. Dengan cepat ia berdiri dan menodongkan pistol ke arah Darwis. Darwis malah terlihat santuy seperti tak ada masalah yang menimpanya. Dengan santai ia mengambil segelas whisky di atas meja dan meminumnya.


"Tidak mungkin!! Berikan informasinya atau kau mati. Sekarang aku yang memegang kendali," ucap Joya bersiap menarik pelatuk pistol.


"Hmm … kau pikir aku takut mati? No sweatheart," ujar Darwis meletakkan gelas dan merentangkan tanganya pada sandaran sofa.


"Heh percuma saja aku datang kemari. Membunuhmu pun tak ada gunanya," ketus Joya menyimpan kembali laptopnya dan membalikkan tubuhnya bersiap pergi.


"Hmm … jangan cepat emosi Nona. Duduklah dulu, kita lakukan lagi penawarannya. Apa kau tak haus? Minumlah segelas whisky," cegah Darwis berdiri dan menghanpiri Joya dengan dua gelas whisky di kedua tangannya. Joya membalikkan badannya menatap Darwis yang mendekatinya. 

__ADS_1


Ia menatap curiga gelas yang disodorkan Darwis.


"Kau curiga denganku Nona? Ayolah. Kembali duduk dan nikmati minuman ini," ajak Darwis mengulas senyum manis di wajahnya.


Joya tertegun melihat senyum manis Darwis. Jantungnya berdetak kencang.Tangan Joya mengambil gelas itu dan kembali duduk. Darwis mengubah senyum manisnya menjadi senyum devil.


Ia kembali duduk. Matanya menatap Joya yang mulai meminum whisky. Senyum Darwis terbit.


Deg ….


Joya tertegun saat rasa panas melingkupi tubuhnya, ia menjatuhkan gelasnya dan menatap marah ke arah Darwis.


"Brengsek!! Apa yang kau berikan padaku!!" teriak marah Joya.


Rasa panas di tubuhnya semakin menjadi. Ia malah melepas jaket hoodie menyisahkan tantop. Darwis mengangguk-anggukan kecil kepalanya.


"Obat perangsang," jawab Darwis santai meletakkan gelas di tangannya mendekati Joya yang mulai tak terkendali.


"Ahhhggg … mengapa semakin panas. Aku ingin bercinta," teriak Joya frustasi.


"Aku yang akan bercinta denganmu, swaetheart," bisik Darwis di telinga Joya dengan nada seksi dan menggoda.


"Menjauh dariku brengs*k," ucap marah Joya. 


"No, sweatheart. Tubuhmu berkata lain," sahut Darwis mulai mencium bibir Joya.


Joya meronta. Ia memukul keras dada bidang Darwis berusaha melepaskan diri. Namun tubuhnya terasa sangat lemas tak bertenaga. 


"****. Menurutlah," bentak Darwis merasa sakit di bibirnya akibat gigitan Joya.


"Menjauh dariku!!!" ketus Joya berusaha bangkit namun ditahan oleh Darwis.


Darwis memegang kedua tangan Joya dan mulai menciumnya kembali. Obat perangsangnya semakin bereaksi. Merenggut kesadaran dan akal sehat Joya. Perlahan ia membalas ciuman Darwis.


Aku mendapatkanmu, Joya, ucap Darwis dalam hati.


Ia mulai menggendong Joya ala bridal style tanpa melepas ciumannya dan membawanya menuju kamar pribadi yang terhubung langsung dengan ruangan VVIP ini. 


Di sana, Darwis membaringkan tubuh Joya perlahan di ranjang. Mereka masih terus berciuman. Tak lama, Darwis melepas ciumannya dan mulia menyusuri leher jenjang Joya.


Kedua tangannya mulai membuka celana jeans Joya. Setelah lepas, tangannya menyusup ke milik Joya dan mulai bermain di sana. Desahan terus mengalir kelur dari bibir Joya.


Perlahan namun pasti, sekarang mereka tak memakai sehelai benangpun. Permainan Darwis yang sangat lembut dan santai membuat Joya semakin terlena.


"Aku ingin memasukimu sekarang," bisik Darwis. Joya menganggukkan kepalanya. Wajahnya memerah menahan kenikmatan.


"Teriaklah jika sakit," lanjut Darwis memposisikan tubuhnya di antara dua paha Joya bersiap memasukan kejantanannya yang sudah ia lapisin dengan pengaman.


Perlahan, ia mulai memasuki Joya. Joya kembali mendesah. Wajah Darwis tampak kecewa sebab Joya sudah tidak suci lagi.


"Pengalaman pertamamu dengan siapa?" tanya Darwis pelan. 


"Kekasihku," jawab Joya. 


Deg.


Hati Darwis terasa sangat sakit. Dengan cepat ia menarik kejantanannya dan melepas pengaman, dengan segera ia berdiri untuk memakai pakainnya. Namun, Joya yang masih terpengaruh, malah menahan Darwis agar tidak pergi.


"Ayo lanjutkan. Mengapa kau pergi?" tanya Joya parau memegang tangan Darwis.


"Maaf. Aku tak bisa. Kau sudah ada yang punya. Aku khilaf tadi," sahut Darwis.


"Lanjutkan. Aku bilang lanjutkan," seru Joya langsung menarik Darwis ke ranjang. Darwis terpelanting jatuh dengan posisinya di bawah Joya.


"Kau buat aku jadi seperti ini dan kau mau pergi begitu saja? Brengs*k kau. Kau lebih brengs*k dari Arion. Kau jahat," tangis Joya.


Ia malah curhat dengan Darwis. Dengan rakus Joya mulai mencium dada bidang Darwis dan meningkalkan berkas kemerahan di sana. Darwis tertegun.


"Aku jahat?" tanyanya lirik.


"Siapa Arion?" tanya Darwis pelan berusaha mencegah bibir Joya mencium dadanya agar hasratnya tak kembali lagi.


"Dia kekasihku. Tapi dia selingkuh. Dia meninggalkanku dan menikah dengan wanita lain. Aku mencintai dan membencinya. Aku membenci istrinya, Karina kau harus mati di tanganku," jawab Joya mencekik leher Darwis membayangkan Darwis adalah Karina.

__ADS_1


Darwis yang mulai kesulitan bernafas berusaha melepaskan cekikan Joya. Sebab tenaganya yang masih besar, dengan mudahnya ia melepaskannya dan membalikkan tubuh Joya menjadi di bawahnya. Ia menatap seduh Joya yang masih menangis.


"Tenanglah. Jangan menangis," ujar Darwis menghapus air mata Joya.


"Bercintalah denganku, Darwis," pinta Joya menarik leher Darwis dan memangut bibir pria itu. 


Darwis memejamkan matanya merasakan lum*tan di bibirnya. Hasratnya kembali naik. Joya melepas bibir Darwis dan menatapnya seduh.


"****. Kau tak pernah berubah. Jangan salahkan aku," geram Darwis memulai permainan. Ia kembali membuka lebar paha Joya dan memasukkan adik kecilnya.


"Ah kenapa masih sempit. Apa kau sudah lama tak bercinta dengan kekasihmu itu?" keluh Darwis.


Bukan hanya Darwis yang merasakan itu, Joya juga meresakan sesak dan sakit di bagian bawahnya saat adik kecil Darwis masuk.


"Hampir dua tahun. Lagian milikmu sangat besar," keluh Joya. Perlu usaha lumayan lama.


Jlebb.


Akhirnya berhasil. Adik kecil Darwis masuk sepenuhnya ke dalam milik Joya. Darwis diam sejenak, mengadaptasikan adik kecilnya. Tak lama ia mulai memaju-mundurkan pinggulnya. 


"Ahhh … ahhhh … ahhhh lebih cepat lagi," pinta Joya. Darwis menurut dan mempercepat durasinya. Tangannya menggerayai dada Joya, sesekali ia meremas gemas keduanya. 


Mata Joya mendelik ke atas saat mencapai pelepasan pertamanya. Ia meremas kuat rambut Darwis. Cairan hangat terasa si adik kecil Darwis yang masih bersemayam di milik Joya. Peluh membasahi tubuh Darwis. Ia semakin memacuh tubuh Joya.


Joya sudah berkali-kali mencapai pundak. Namun, Darwis masih saja gagah perkasa. Sekitar 20 menit kemudian Darwis mencapai puncak dan menyemburkan benih cintanya di dalam rahim Darwis.


Mata Joya membulat saat merasakan rahimnya hangat. Dengan cepat ia mendorong Darwis yang masih menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru dicapai.


"Mengapa kau tak pakai pengaman? Mangapa kau keluar di dalam??" pekik Joya kesal berusaha membersihkan cairan putih yang mengalir keluar dari miliknya. Mata Darwis menatap heran Joya.


"Mengapa? Kau takut hamil? Tenang saja. Aku akan tanggung jawab saat ini maupun nanti," jawab Darwis santai mengusap pipi Joya.


"Tidak. Bagaimana bisa??" tolak Joya.


"Tenanglah Sayang. Aku di sini. Bagaimana jika kita lakukan lagi?" ajak Darwis mulai mencium bibir Joya lembut.


Joya terperangah. Ia mendorong dada Darwis. Namun Darwis malah menahan tangan Joya, perlahan tangannya mulai meluncur ke bawah, merangsang hasrat Joya kembali.


Joya mendesah tertahan. Masih ada efek obat perangsangnya. Nafasnya memburu. Permainan jari Darwis di miliknya semakin intens.


"Lakukanlah. Aku bisa gila seperti ini," parau Joya.


Darwis tersenyum manis. Dengan cepat ia membaringkan Joya lagi dan kembali memasukkan adik kecil. Ya, sore yang panas semakin panas. Desahan saling bersahutan.


Entah berapa kali mereka melakukannya, stamina Darwis seakan tak pernah habis.


***


Waktu menunjukkan pukul 20.00, Joya membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa sangat remuk dan lelah serta lengket. Ia bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Kepalanya terasa sangat pusing.


Matanya semakin terbelalak melihat tubuhnya yang polos dan tangan yang memeluk pinggangnya erat. Bayangan kejadian panas memenuhi kepalanya.


"Ahh … apa yang aku lakukan dengan pria ini? Ahhggg … aku menghianati Arion. Hiks … hisk … aku pun tak berbeda dengannya, tapi hubungannya dengan Karina resmi sedangkan dengan pria ini hanya sebatas penawaran," tangis Joya.


Perlahan ia menyingkirkan tangan Darwis dari pinggangnya dan mencoba berdiri.


Uhh … sakit sekali? Berapa kali aku melakukannya, tanya Joya dalam hati.


Perlahan ia mengambil pakaiannya yang dilipat rapi di atas nakas. Ada sebuah surat di sana. 


"Untuk Nona Joya Argantara," baca Joya. Dengan cepat ia memakai pakaiannya dan pergi meninggalkan Darwis yang masih lelap tertidur kembali ke hotel di mana ia menginap.


Satu jam kemudian, Darwis terbangun dan mencari Joya di kamar itu. Sudut bibirnya terangkat mengingat desahan Joya di bawah tubuhnya. Ia segera bangkit dan memakai celana boxernya dan bertelanjang dada. 


Darwis duduk di kursi dan menghisap cerutu. "Kita akan bertemu lagi, sweatheart," gumam Darwis. Tak lama pintu terbuka, muncullah Rian dan Satya yang menatap Darwis meminta penjelasan.


"Dia adalah orang yang ku cintai selama ini. Siapa sangkah ia muncul di hadapanku. Aku tak mau kehilangan dia lagi," jelas Darwis.


"Apa dia gadis galak dan pendiam yang kau taksir waktu kau sekolah dulu?" tanya Satya.


"Tentu," jawab Darwis.


"Lalu mengapa ia tak mengenalimu? Dan bagaimana bisa kau mengenalinya?" tanya Rian penasaran.

__ADS_1


"Aku sangat kenal betul Joya. Mau sampai jadi abupun aku mengenalinya. Dia punya tanda lahir di telinga kanannya. Bagi yang tidak memperhatikan jelas pasti tak akan melihatnya. Selain itu, aku tahu dari marganya yaitu Argantara. Hanya ada satu keluarga bermarga Argantara di duna ini. Dan untuk masalah mengapai ia tak mengenaliku, itu karena dulu semasa aku sekolah aku menyamar dengan topeng perubah wajah dari Queen," jawab Darwis menerawang ke masa lalu.


__ADS_2