Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 129


__ADS_3

Keesokan harinya. Pagi ditemani hujan ringan mengguyur kota. Suara air langit yang jatuh menghantam bumi menimbulkan suara yang khas. Namun, itu tidak membuat para pejuang pagi menghentikan langkah mereka.


Salah satu contohnya adalah para ibu yang kembali dari pasar dengan menenteng barang belanjaan mereka. Contoh lainnya adalah para penarik becak yang setia menunggu dan mengantar para penumpang. 


Alarm berdering kencang, menunjukkan pukul 06.00. Membangunkan sepasang insan yang tertidur lagi selepas shubuh.  Siapa lagi kalau bukan Karina dan Arion. Karina mengucek matanya pelan. Arion bersandar pada kepala ranjang.


"Kok hujan sih? Padahal Shubuh tadi gak," gerutu Karina yang mendengar suara rintik hujan. Arion mengerjapkan matanya, kemudian menatap Karina. 


"Sudah ketentuan Sayang. Ingat, hujan itu anugerah. Harus kita syukuri. Hmm … hujan juga akan mengurangi polusi, jadi udara pagi ini sangat segar," ujar Arion dengan senyum menawannya. Karina mengangguk. Membenarkan ucapan Arion. 


"Hmm … sudah sana gih, kamu mandi. Siap-siap ke kantor. Aku juga mau ke kantor," sahut Karina beranjak turun dari atas ranjang, menuju pintu kaca dekat jendela dan membukanya.


Arion memperhatikan Karina. Posisinya sudah duduk di pinggir ranjang. Karina melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. 


Arion bangkit dan menghampiri Karina. Karina melihat pemandangan pagi halaman depan rumah yang diguyur hujan ringan.


Kedua tangannya bertumpu pada pagar besi balkon. Arion memeluk Karina dari belakang, memberi rasa hangat saat udara pagi yang dingin menyapa.


Cukup lama mereka berada di balkon, sekitar lima menitan, akhirnya mereka kembali masuk ke dalam kamar.


Arion langsung masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya agar segar sebelum bertemu dengan berkas, dokumen dan file di meja kerjanya nanti. Setelah selesai, gantian Karina yang mandi.


Selepas berpakaian kerja dengan rapi, Arion keluar dari kamar, menuruni tangga menuju dapur. 


***


Pukul 07.00, Karina dengan tas selempangnya menuruni tangga.


"Non, sarapan sudah tersedia," ujar Bik Mirna saat Karina tiba di anak tangga terakhir.


Karina mengangguk, tak lupa senyum ramah ia sematkan. Bik Mirna agak tertegun. Namun, dengan segera menetralkan ekspresinya. 


"Lihat suami saya, Bik?" tanya Karina.


"Tuan ada di dapur, Non. Sepertinya tadi kayak buat susu gitu. Mungkin susu ibu hamil buat Nona," jawab Bik Mirna. Karina ber-oh-ria dan melangkahkan kakinya menuju dapur. 


Arion yang sudah selesai dengan segelas susu ibu hamil untuk Karina segera berbalik, berniat menuju meja makan.


"Astaga!" seru Arion saat melihat Karina berdiri tepat di belakangnya. Hampir saja susu di tangannya ia lemparkan. 


"Kenapa?" tanya Karina tanpa rasa bersalah.


"Kamu jalan kok gak ada suaranya?" tanya Arion. 


"Ye, kamu kira aku hantu? Kamu saja yang terlalu fokus membuat susu itu." Karina mendengus dan berbalik menuju meja makan.


Arion terkekeh dan menyusul Karina. Kini mereka berdua tengah menikmati sarapan pagi yang terhidang di meja makan. Karina sudah tak cemberut lagi, setelah rayuan maut Arion.


Setelah selesai sarapan, Arion menyodorkan susu yang ia buat. Dengan senyumnya, Karina menerima dan menenggak habis susu tersebut. 


"Kamu nanti ke cafe gak?" tanya Arion.


"Gak Ar. Aku cuma ke perusahaan bentar, terus ke markas dan balik kemari," jawab Karina memberitahu agendanya hari ini.


"Oh … ya sudah. Kamu jangan terlalu lelah." Arion memberi nasehat lagi. Karina mengangguk patuh.


Arion beranjak menuju kamar, mengambil tas kerjanya, kemudian kembali lagi ke bawah dan bersama-sama dengan Karina menuju garasi.

__ADS_1


Di sana masing-masing sopir mereka telah menunggu di dekat mobil masing-masing. Arion memang membawa sopir pribadinya. Sedangkan Karina, Pak Antonlah yang mulai berkerja kembali, setelah free kurang lebih enam bulanan.


"Hati-hati di jalan, Sayang," ucap Arion sebelum masuk mobil, mengambil waktu sebentar mencium kening dan mengusap lembut perut Karina.


"Kamu juga. Semangat kerjanya." Karina mencium telapak tangan suaminya. 


Sang sopir segera membuka pintu untuk Arion. Arion langsung masuk. Sang sopir segera menutup pintu dan menunduk hormat pada Karina.


"Mari Nyonya," pamit sang sopir. Karina mengangguk.


Perlahan mobil Arion meninggalkan garasi mobil Karina. Setelah mobil menghilang dari pandangan Karina, barulah Karina masuk ke dalam mobil. Pak Anton segera melajukan mobil menuju perusahaan Karina.


***


Pukul 11.00, Karina meninggalkan perusahaannya setelah proses perjanjian dengan Reza. Hujan sudah berhenti pukul 09.00 tadi. Aleza dan Sasha mulai berkerja. Mereka bekerja sama dengan Lila dan Riana yang sudah masuk kerja juga.


Toh dilarang pun tak bisa. Para suami hanya bisa menghela nafas. Bagi suami mereka, yang penting istri mereka perhatian dan menjalankan tugas sebagai istri. 


Sesuai agenda, Pak Anton mengemudikan mobil menuju markas Pedang Biru. Sesampainya di markas, Karina dapat melihat para bawahannya tengah bersantai dan beristirahat sesudah latihan.


Mengumpulkan tenaga untuk latihan selanjutnya dan menjalankan tugas yang mereka emban. 


"Queen," panggil Darwis, di belakangnya ada Rian dan Satya. Li dan Gerry belum nampak batang hidung mereka. Karina menampilkan wajah datarnya.


"Hm," sahut Karina.


"Bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanya Karina pada Darwis. Kini mereka berjalan beriringan di koridor menuju kamar Miu. 


"Semua aman Queen. Anda bisa hadirkan di acara akad nikah saya dengan Joya?" tanya Darwis penuh harap. Kedatangan Karina dalam pernikahannya adalah keinginan terbesarnya. 


"Hm. Aku akan datang," sahut Karina datar. Walaupun sebenarnya enggan, tak mungkin Karina pilih kasih sesama tangan kanannya.


"Benarkah?" Darwis memastikan. 


"Iya, Darwis," jawab Karina tegas. Darwis terlonjak senang. Mereka berempat telah tiba di depan pintu kamar Miu.


Karina membuka pintu kamar dan melangkahkan kakinya masuk. Terlihat Miu tertidur di atas ranjang. Kedua tangan bertumpu di bawah dagunya. 


"Ck. Dasar kucing malas. Bangun Miu," kesal Karina menggoyangkan badan Miu. Mata emas itu terbuka. Mengeram marah tidurnya diganggu, Miu belum tahu siapa yang membangunkannya.


"Kau marah?" tanya Karina dengan nada dinginnya. Miu terperajat dan menoleh ke arah Karina.


Refleks ia duduk tegak di atas ranjang, pandangannya menunduk takut. Sesekali melirik Karina.


"Queen, kami izin keluar, masih ada kerjaan yang belum kami selesaikan," pamit Darwis.


Pekerjaan yang dimaksud Darwis adalah tentang kasino yang dia dan dua rekannya ini pimpin. Laporan sudah banyak yang masuk ke email mereka, harus segera diperiksa dan dikerjakan.


"Oke. Oh ya, panggilkan Li dan Gerry ke ruanganku," sahut Karina masih menatap Miu yang seperti anak kecil dihukum.


"Baik," jawab Darwis. Ketiganya segera beranjak keluar kamar Miu. 


"Mengapa ekspresimu begitu? Merasa bersalah? Dasar kau ini." Karina menyentuh kepala Miu. Miu memejamkan matanya. 


Tak berselang lama, Karina mengajak Miu keluar kamar menuju ruangannya di lantai tiga. Miu dengan senang mengikut. Berjalan di samping Karina dengan goyangan ekornya.


Bersamaan dengan tibanya Karina di ruang kerjanya, Li dan Gerry pun tiba di sana. 

__ADS_1


"Ada tugas apa Queen?" tanya Li sopan. Ia bisa menebak, jika salah seorang atau mereka dipanggil ke ruangan Karina ataupun ke ruang meeting maka ada tugas yang akan mereka kerjakan dan sifatnya bersifat serius.


"Aku ingin melakukan uji DNA untuk memastikan bahwa yang dimakamkan itu Enji atau bukan," jawab Karina. Li dan Gerry berpandangan bingung. 


"Queen? Maksud Anda … Anda berniat membongkar makam Enji?"


Karina mengangguk. Li tak habis pikir. Begitupun Gerry. Baru kemarin diziarahi dan sekarang Karina menyuruh mereka untuk membongkar makam Enji.


Ingin memastikan? Itu artinya Karina ragu bahwa yang dimakamkan itu orang lain, bukan Enji. Itulah isi kepala mereka berdua.


Ya, Karina semalamam berpikir mengenai keputusannya. Dan keputusannya adalah Karina tetap akan membongkar makam Enji untuk melalukan tes DNA.


Agar kecurigaan dan apa yang ia lihat kemarin ada titik terang. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan Arion. Arion hanya tahu bahwa Karina membatalkan niatan itu.


"Ada sudah memikirkannya matang-matang Queen?" tanya Gerry memastikan. 


"Jika boleh tahu, apa alasannya Anda melakukan ini?" tanya Li penasaran.


"Aku sudah memikirkannya matang-matang Gerry. Alasannya, kemarin aku melihat sosok yang sangat mirip dengan Enji, hal itu mengganggu pikiranku. Entah mengapa hatiku aneh dengan itun Anehnya, mobil itu seperti tahu jika dia dikejar. Sayangnya aku gagal mendahului mobil itu dan akhirnya lolos," jawab Karina mantap. 


"Baiklah jika itu dapat membuat Anda tenang. Kami akan melakukannya," tutur Li.


"Kalau begitu, apakah kami boleh melakukannya hari ini? Lebih cepat lebih baik bukan?" imbuh Gerry.


"Silahkan. Aku tunggu hasilnya secepatnya. Data DNA Enji ada di laboratorium, di lemari paling ujung laci ke empat. Ada di kotak biru. Semuanya lengkap di sana," ujar Karina, berdiri dari kursinya.


"Baik Queen," jawab Li dan Gerry serentak. Karina tersenyum tipis. 


"Ayo Miu, kita pulang," ajak Karina pada Miu. Miu menggerakkan ekornya setuju. 


"Anda mau membawa Miu bersama Anda? Anda ingin membuat mertua Anda manjat tembok?"


Li tersenyum membayangkan ekspresi Maria dan Amri jika Miu benar-benar Karina ajak pulang.


"Kau kira mertuaku cicak?" ketus Karina.


"Hehehe, jika cicak pasti ekornya sudah putus, Queen." Gerry tergelak geli. 


"Bukan kaki Gerry, tapi kaki. Hahaha …," timpal Li.


Karina menjawab pertanyaan Li tadi.


"Oh. Saya kira Anda bertengkar dengan keluarga Wijaya itu," ucap Gerry menggaruk kepalanya.


"Jika ia, memangnya kenapa? Mau membumihanguskan keluarga itu?" tanya Karina menyilangkan kakinya. Li dan Gerry mengangguk mantap. Karina lagi-lagi tersenyum tipis mendengarnya.


"Sudah. Aku mau pulang," ujar Karina. Li dan Gerry menunduk seperti biasa saat Karina melewati mereka berdua. Li dan Gerry bergegas saat punggung Karina menghilang di balik dinding. Bersiap melaksanakan tugas mereka.


Pak Anton sedikit terkejut, melihat Karina yang masuk mobil diikuti Miu. 


"Jalan Pak," titah Karina, mengelus kepala Miu yang bertumpu pada pahanya.


"Baik Non," jawab Pak Anton dengan suara gugup. Perlahan, mobil putih itu segera meninggalkan markas Pedang Biru kembali pulang ke kediamannya.


Di jalan, Miu betah sekali menutup mata. Karina bahkan gemas sekaligus kesal. Senyum licik tersemat pada bibir Karina. Niat iseng berada dalam benaknya.


Astaga, apa yang akan Nona lakukan pada jaguar ini? batin Pak Anton was-was sekaligus penasaran. Tak sabar untuk tiba di rumah dan menyaksikan apa yang akan terjadi pada Miu.

__ADS_1


***


__ADS_2