Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 90_Pertengkaran_


__ADS_3

"Aku hanya penasaran. Didi bilang kau pergi dari perusahaan tidak bersama dengan Ferry dan sopir pribadimu. Kan tak mungkin kau meeting sendirian tanpa sekretaris," jawab Karina tenang. Wine mengembalikan ketenangan dan sikap santuynya.


"Lantas apa saja kau lihat? Pakai acara robot nyamuk lagi. Kami ini usaha cafe atau teknologi?" tanya Arion lagi. 


"Iseng saja. Kebetulan jadi," jawab Karina sekenanya. Tak peduli reaksi Arion yang seperti menahan geram.


"Apa yang kau lihat dan dengar Karina?" teriak Arion tak sabar.


"Owh … tenang suami Sayang. Aku melihat lambang berlian hitam dan kalau aku tidak salah bukankah itu lambang dari Black Diamond Mafia yang hilang jejak lima tahun lalu setelah berperang dengan Pedang Biru bukan?" jawab Karina santai. Ia malah menaik-turunkan alisnya. 


Arion terbelalak. Tangannya refleks mencekam tangan kanan Karina erat. Karina mengerut merasa tak nyaman. Arion seperti mengerahkan seluruh kekuatannya. 


"Apa yang kau lakukan? Kau menyakitiku!!" teriak marah Karina meletakan botol di tangannya ke meja. Karina menatap buas Arion. Dahi Arion mengerut. Seharusnya ia lah yang marah


"Dari mana kau tahu akan hal itu? Bahkan hampir mendetail?" tanya Arion lagi melonggarkan cengkramannya. Namun, tak melepaskan tangan Karina.


Baginya hal yang dikatakan Karina adalah aib terbesarnya sebagai Ketua. Dia tak bisa melindungi bawahan dan organisasinya sendiri. Hal itu menjadi sebuah duri dalam hatinya dan membuatnya membenci Pedang Biru.


"Kau tak tahu apa-apa tentang diriku!" sahut ketus Karina. Masih menatap buas Arion. 


"Benarkah? Ku kira aku tahu dirimu luar-dalam? Ternyata istriku ini banyak rahasia ya?" balas Arion mendekatkan diri pada Karina sampai tak ada jarak di antara mereka. Arion menghembuskan nafas kasar di telinga Karina yang menimbulkan sedikit rasa geli pada Karina.


"Menjauh dariku!" ucap Karina tegas.


Arion menarik senyum tipis. Karina sadar bahwa yang di dekatnya kini bukanlah Arion suaminya yang seperti biasanya, melainkan adalah satu dari tiga ketua Black Diamond Mafia, di mana di masa lalu ini dicap sebagai Mafia terjaya dan dikenal kejam. Namun, pesonanya memudar dan hancur berkeping-keping diserang Pedang Biru. 


"Ayolah Karina, katakan rahasiamu padaku. Aku ini suamimu loh," bujuk Arion mengelus pipi Karina.


Karina tahan dirimu. Kau harus segera berkelit! batin Karina mencari akal.


Karina tersenyum manis dan mengalungkan tangannya ke leher Arion.


"Rahasia apa? Bukankah kau Ketua Black Diamond. Pasti kau bisa mencari tahu semua tentangku bukan? Apa kemampuan kalian ikut hancur bersama organisasi kalian?" tanya Karina mengandung nada sindiran. Mata Arion membulat. 


"Jangan pernah hina organisasi mafiaku!" bentak Arion murka.


Plak ….


Arion menampar Karina. Karina tertegun dan mengusap pipinya yang memanas. Karina semakin menatap Arion buas. Nafasnya naik-turun.


****! Persetan dengan berkelit. Dia berani menamparku!! umpat Karina dalam hati. 


Sedangkan Arion menatap tangannya sendiri yang telah menampar Karina. 


"Kau menamparku?" tanya Karina berusaha kembali menetralkan emosinya.


"Maaf. Aku tak sengaja. Aku terbawa emosi dan dendam," sesal Arion berusaha memeluk Karina. 


"Jangan sentuh aku! Aku muak padamu!" sarkas Karina. Arion membeku. Ia meruntuki kebodohannya. 


Apakah hubunganku akan semakin buruk dengan Karina? batin Arion.

__ADS_1


"Kau mau aku jawab semua pertanyaanmu bukan? Oke akan aku jawab. Yang pertama, memang aku mengikuti dan mengintaimu. Ya itu benar. Sangat benar. Kedua, mengapa aku tahu banyak akan tentang Black Diamond dan Pedang Biru sebab aku adalah leader Pedang Biru. Ya, Arion aku lah leadernya. Kepala Pedang Biru yang telah menghancurkan mafiamu. Itu kebenaran. Itu rahasiaku," jawab Karina dengan nada tinggi. Ada kelegaan di hati Karina.


Namun, bagi Arion itu adalah sebuah badai yang menghantamnya. Arion mundur beberapa langkah, bersandar pada dinding. Ia memegang dadanya mencoba menelaah jawaban Karina. 


"Katakan itu bohong Karina. Katakan ini cuma prank. Katakan Aayang! Katakan ini semua bohong," pinta Arion gemetar. 


Sayang, Karina malah menarik senyum sinis.


"Itu benar Arion. Ini semua benar. Semua pemikiran dan kecurigaanmu tentangku itu benar. Akulah Queen dari Pedang Biru. Li dan Gerry adalah tangan kananku. Bahkan KS Tirta Grub juga milikku. Terimalah kebenarannya Arion. Semua sudah terbongkar. Aku adalah musuhmu dan kau adalah musuhku. Tak ada yang perlu disembunyikan lagi. Jikalau lebih lama disembunyikan, cepat atau lambat pasti akan terbongkar dan untuk meminimalisir rasa cinta yang telah menggebu lebih baik aku jujur saja padamu. Bagaimana? Apa kita akan tetap menjadi musuh Arion?" tanya Karina penuh tekanan. 


Arion diam. Tak sanggup berkata apapun. Pikirannya blank alias kosong. Tubuhnya melorot menyentuh dinginnya lantai.


"Mengapa kebenaran sangat menyakitkan? Mengapa itu harus dirimu, Sayang? Mengapa?" tanya lirik Arion. Air mata menghiasi pipinya.


Karina menghapus air mata yang menetas dari sudut matanya. Ia juga merasakan hal sama dengan Arion. 


Akhirnya terbongkar juga. Memang seharusnya cepat atau lambat ini akan terjadi. Tapi mengapa harus dengan cara seperti ini?batin Karina sedih.


Karina meremas dadanya. Menahan rasa sakit di hatinya. Karina mengikuti kata hatinya, berjalan menghampiri Arion yang sedang menjambak rambutnya sendiri. Karina berjongkok di hadapan Arion dan memegang tangan Arion.


"Kau sudah dengan kebenarannya Arion. Rahasiaku sudah aku bongkar. Tapi duri dalam hati kita masih runcing. Apa yang harus kita lakukan? Aku tak bisa menyangkal atau berbohong tentang rasaku. Aku sangat mencintaimu. Kau cahaya dalam hidupku. Tapi kebenaran ini aku tak tahu apakah akan memperbesar cahaya itu atau sebaliknya akan membuat cahaya itu meredup dan hilang selamanya?" tutur Karina lemah.


Arion mendongak menatap mata Karina yang sendu. Arion langsung memeluk Karina. Karina membalas pelukan itu.


"Karina … apa kau akan meninggalkanku hanya karena kita musuh? Bukankah musuh bisa berteman dan berdamai?" tanya Arion pelan.


"Apakah air dan minyak bisa bersatu?" tanya balik Karina.


"Semua sudah terbongkar. Aku tak bisa menjawabnya sekarang,"ujar Karina melepaskan tangkupan tangan Arion lalu berdiri dan berjalan menjauh. Menyambar kunci mobil pribadinya yaitu Marcedes Benz. 


"Kau mau kemana Sayang? Ini sudah larut," ucap Arion beranjak dan berusaha menahan Karina dengan memeluknya dari belakang. Langkah Karina terhenti.


"Aku butuh ketenangan Ar. Jangan halangi dan cari aku. Aku ingin sendiri. Aku akan pulang saat hati dan masa laluku denganmu bisa selaras," ucap Karina berusaha menahan air matanya. 


Ia melepaskan pelukan Arion dan segera keluar kamar menuju garasi di mana mobilnya berada.


"Jangan tinggalkan aku. Aku akan membuang duri ini Karina," ratap Arion. Tak berselang lama, Arion menghapus air matanya dan menampilkan senyum dingin. Ia mengambil handphonenya dan mengirim pesan kepada seseorang.


Tok ….


Tok ….


Tok ….


Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Arion segera membuka pintu dan berusaha menunjukkan wajah tanpa beban. Santai.


Ternyata itu adalah Amri dan Maria.


"Ya Ma, Pa," ucap Arion.


"Ar, Karina mau kemana? Kok gak sama kamu? Gak sama Didi juga? Kalian bertengkar? Raut wajah Karina juga dingin banget," tanya Maria beruntun. Memang, Saat Karina melewati mereka di ruang keluarga Karina hanya tersenyum dingin dan pergi tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


"Katanya sih kangen rumah Ma. Karina mau ke rumahnya," jawab Arion berbohong.


Aku pun tak tahu kemana dia pergi. Lebih baik Mama sama Papa gak usah tahu masalah ini. Apalagi tentang Karina yang sangat mengejutkan itu, batin Arion.


"Kok gak sama kamu Sayang? Mama khawatir, masa kamu enggak?" tanya Maria lagi.


Khawatir? Aku lebih khawatir akan orang yang mau mencelakainya, sambung Arion dalam hati.


"Mama tahukan sikap dan sifat menantu Mama yang cantik nan dingin itu?" tanya balik Arion.


"Hmm … sudahlah Ma. Mama tak perlu khawatir, Menantu kita itu pesilat," ujar Amri menenangkan Maria.


"Tapi Pa …," ucap Maria.


"Iya Ma. Tadi Ar sudah mau ikut tapi ditolak mentah-mentah," ujar Arion.


"Sudah. Ar cepat turun ke meja makan. Papa, Mama sama Bayu dari tadi nungguin kamu dan Karina turun tapi lama banget," ucap Maria mulai sedikit lega.


Arion mengangguk dan segera bersiap. Amri dan Maria turun ke meja makan bersiap untuk makan malam.


***


"Hmm … lagi-lagi aku terpancing. Haih setidaknya aku lega aku telah jujur. Sebaiknya aku lihat apa yang akan Arion lakukan setelah ini. Lebih baik aku pergi saja mengecek kapal pesiar yang aku minta enam bulan lalu," gumam Karina melajukan mobilnya kencang membelah jalalan.


Ia memutuskan menggunakan mobil ke sana. Tak ingin menggunakan kendaraan lain seperti helikopter maupun pesawat. 


Ia sengaja melakukan itu. Karina melirik handphone dan jam tangannya. Ia menghentikan sejenak mobilnya.


Menonaktifkan semua alat komunikasi dan mematikan jam tangannya. Sebab jam tangannya ini terhubung ke semua satelit markas Pedang Biru. 


"Hmm … hanya perlu 20 jam perjalanan darat bukan?" gumam Karina saat memasuki jalan bebas hambatan alias jalan tol.


Sedangkan di sisi lain, Li, Gerry, Darwis, Rian dan Satya tengah kebingungan saat alarm yang bertugas mengawasi keberadaan Karina berbunyi dengan kencang. Mereka segera melacak keberadaan Karina. Sayang, semua alat komunikasi Karina tak berfungsi.


Satu sisi, satelit yang ditembakan pada jam tangan Karina pun tak bisa melacak keberadaan Karina.


"Sial. Di mana Queen berada? Mengapa dia jadi lost kontak?" ucap Darwis heran.


"Mungkin Queen ada masalah serius. Jika aku tak salah ingat pasti saat ini Queen tengah menenangkan diri di suatu tempat," sahut Gerry. 


Kini ia tengah berkutat mencari hal apa yang terakhir kali Queennya lakukan.


"Whatt????!!"pekik Gerry kaget saat melihat hasilnya.


"Ada apa? Mengapa kau teriak?" kesal Li yang berada di samping Gerry.


"Queen membuka identitas aslinya pada suaminya," jawab Gerry menunjukkan apa yang ia temukan.


"WHATTTT?" seru Li, Darwis, Rian dan Satya bersamaan.


"Apa Queen sudah gila? Kita tak ada membuat opsi itu pada opini kita," ucap Darwis shock.

__ADS_1


__ADS_2