
Dahi Karina mengerut saat merasa ada yang menembus kulitnya. Segera matanya membuka dan melirik ke bawah.
"Akhh … sakit. Cabut itu!" pekik Karina berontak.
Amri dan Maria tersentak kaget. Arion panik melihat Karina yang berontak. Kakinya ia gerakan tak beraturan membuat dokter ikut panik. Bahkan satu dokter kenal tendangannya dan terpelanting ke belakang.
"Nyonya tolong diam. Akan semakin sakit jika anda menegangkan kaki Anda!" perintahnya.
"Siapa kau? Apa hakmu menyuruhku diam?! Lepaskan jarum itu!!" bentak Karina marah.
Kaki kanannya sakit tak terhingga. Amri dan Maria ikut menahan tubuh Karina. Karina masih berontak dengan jarum masih melekat di kakinya. Tak berapa lama, Karina diam tak bisa berontak lagi. Tenaganya terserap pada rasa sakit. Jarum suntik masih berada di kakinya tanpa pengguna. Tubuhnya lemas. Namun tatapan matanya masih tajam.
Mata Karina menatap nyalang Arion.
"Maaf Sayang," ujar Arion.
Dokter kembali memegang dan melanjutkan suntikan pada Karina. Arion mengarahkan lengannya ke mulut Karina saat Karina kembali berontak.
"Arghhhhh …," pekik Arion saat Karina menggigit kuat lengannya.
Perlahan gigitannya melemah. Arion membuka matanya. Karina pingsan. Dokter sudah selesai dan mencabut jarum. Arion semakin panik.
"Cepat periksa istriku. Dia pingsan. Periksa keseluruhan!" seru Arion. Amri dan Maria menatap khawatir Karina.
"Nyonya Muda tidak apa Tuan. Ia hanya kaget," ujar sang dokter.
"Bagaimana bisa tak apa? Dia takut jarum dan sekarang pingsan!" marah Arion emosi. Dokter itu menelan ludah takut. Dengan segera ia dan rekannya memeriksa Karina. Arion morang-maring kesal.
"Sabar Ar. Karina pasti baik-baik saja. Dia wanita yang kuat," ujar Maria.
"Iya Ma. Tapi Karina itu … aish … sudahlah," ucap Arion bingung mau berkata apa lagi.
"Hmm … bagaimana bisa luka senjata tajam? Padahal kan dia jatuh dari motor? Apa istrimu berperang di sana?" tanya Amri mengutarakan rasa penasarannya.
"Hush … Papa ini," ucap Maria tak terima.
Arion hanya diam tak menjawab. Ia mengusap bekas gigitan Karina yang lumayan dalam. Bahkan ada darah yang keluar. Arion segera mengambil obat merah dan mengoleskan pada lukanya.
"Ya mana kita tahu Ma," ucap Amri.
Kedua dokter itu telah selesai mengobati luka Karina. Kini kaki Karina terperban rapi.
"Tuan, Nyonya, selain luka ini, saya menemukan luka memar di sekitar tangan, ada lebam di perut sebelah kiri. Dan satu lagi bibir Nyonya muda ada pecahan kecil. Tapi sudah diobati. Hanya luka di kakinya yang bermasalah," ucap dokter memberitahu hasil pemeriksaan. Arion membelalakan matanya tak percaya.
Arion menatap Karina yang masih tak sadarkan diri.
"Tuan Muda harus menjaga Nyonya Muda dengan baik. Jangan sampai ia berjalan tanpa bantuan. Berat badan yang ia tumpukan pada kaki akan menambah parah lukanya. Saya sarankan Nyonya Muda menggunakan kursi roda untuk beberapa waktu ke depan," tambah dokter itu lagi.
"Baiklah. Terima kasih. Kalian berdua bisa keluar," ujar Arion pada kedua dokter itu. Mereka segera membereskan bawaan mereka dan keluar.
Tinggallah Maria, Amri dan Arion di kamar menatap Karina yang tengah berbaring pingsan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Dugaan Papa sepertinya benar. Dia perang di medan perang bukan di meja hijau," ucap Amri. Arion hanya menggeleng tak mau berburuk sangka.
"Sudahlah Pa. Nanti saja kita tanyakan jika Karina sudah sadar. Lebih baik kita biarkan Karina istirahat dengan tenang. Mama perhatikan dari dia pulang tadi seperti menahan kantuk berat," ujar Maria.
"Hush … Mama ini. Karina cuma pingsan Ma, bukan tewas," ucap Arion mendengar kalimat istirahat dengan tenang.
"Iya Ar. Mama salah ngomong. Sudah yuk, Pa. Kita keluar," ajak Maria dan Amri.
Amri mengangguk. Mereka berdua segera meninggalkan Arion dan Karina. Arion duduk dan membelai lembut rambut Karina.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Arion lirik.
__ADS_1
Arion memutuskan tidur siang menemani Karina. Arion memeluk Karina dengan hati-hati takut kakinya menyentuh luka Karina.
***
Tak terasa sudah pukul 19.00, Karina mulai sadar dari pingsannya. Perlahan mata cantik itu membuka, mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke netralnya. Karina melirik sekelilingnya. Ia ingat ini kamarnya. Namun, ia tak melihat Arion.
Karina menajamkan pendengarannya barangkali ada suara orang mandi di kamar mandi. Namun tak ada. Karina melirik jam. Dahinya mengerut.
"Berapa lama aku tidur?" gumam Karina menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Karina memejamkan matanya sesaat. Bayangan akan jarum suntik memenuhi ingatannya. Matanya membuka.
"Tidakkkk … jangan suntik aku!!" teriak Karina spontan.
Keringat dingin dirasakan Karina. Nafasnya memburu. Karina menarik lutut dan memeluknya. Ia meringis saat perih melanda.
Arion, Maria, Bayu dan Amri yang berada di ruang keluarga tersentak kaget mendengar teriakan Karina. Dengan langkah kilat Arion langsung menuju kamarnya. Diikuti oleh Amri, Maria dan Bayu.
Arion membuka pintu kamarnya. Wajah panik terukir saat tak mendapati Karina di atas ranjang. Sprei acak-acakan. Arion melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya.
Dan menemukan Karina duduk di samping bawah ranjang dengan memeluk lutut.
"Jangan … jangan suntik aku. Aku tak mau!" ucap Karina pelan.
"Ar, Karina kenapa?" tanya Maria khawatir.
"Kan tadi sudah Ar bilang Ma. Karina trauma akan jarum," jawab Arion mendekati Karina dan memeluknya.
"Jangan suntik aku. Jangan tusuk lagi. Aku tak tahan. Rasanya sangat sakit. Aku tak mau …," lirik Karina. Matanya sembab.
"Sayang, aku minta maaf ya. Kamu tenang. Gak ada yang akan suntik kamu lagi kok. Jangan nangis ya," ucap Arion pelan.
"Janji ya …," pinta Karina serak. Arion mengangguk dan segera mengangkat Karina ke atas ranjang.
"Maaf Sayang. Aku setuju agar luka kamu cepat sembuh. Aku khawatir luka kamu semakin bengkak dan tambah parah jadinya," ujar Arion. Karina menggeleng tak setuju.
"Seharusnya tidak perlu," ucap Karina datar.
"Mengapa Sayang? Itu juga untuk kebaikan kamu," ucap Maria.
"Aku ada cara yang lebih efektif Ma. Di lemari paling atas ada kotak obat khusus aku," ujar Karina.
Maria mendekati lemari yang disebut Karina dan membukanya. Ada sebuah kotak putih berukuran kecil di paling atas. Maria mengambilnya dan menunjukkan pada Karina.
"Maksud kamu ini Sayang?" tanya Maria memastikan.
Karina mengangguk. Maria membawanya dan menyerahkannya pada Karina. Karina segera membukanya dan mengambil satu botol kaca berwarna yang berisi cream berwarna biru muda dan meletakkannya di nakas. Maria mengambil kembali kotak dari tangan Karina dan mengembalikan ke tempat semula.
"Sebenarnya kamu kenapa? Mengapa banyak sekali luka dan lebam?" tanya Amri.
"Iya Sayang. Kamu bilang kamu jatuh dari motor, mengapa kata dokter ini adalah luka akibat senjata tajam. Dan lagi tubuh kamu juga banyak lebam. Bibir kamu pecah sedikit," ucap Maria.
Karina diam tak menjawab. Tak mungkin kan dia jujur dan menjawab ia habis melakukan tarung satu lawan satu dengan taruhan hidup atau mati.
Untung saja luka dalamnya tak terdeteksi dengan pemeriksaan manual dokter tadi. Karina bingung mau jawab apa? Setelah cukup lama, Karina akhirnya buka mulut.
"Ada yang nyerang Karina di jalan Pa, Ma. Entah siapa dalangnya. Karina gak tahu," jawab Karina.
Maria ingin bertanya lagi. Menurutnya jawaban Karina masih janggal namun ditahan oleh Arion dengan kode mata.
"Kamu kok tidak cerita? Kamu sudah lapor polisi kan?" tanya Arion. Karina mengangguk.
"Tapi yang paling penting kamu selamat," tambah Arion. Maria dan Amri pamit keluar kamar. Bayu ikut keluar juga.
__ADS_1
"Ar … aku lapar …," rengek Karina setelahnya.
"Ya sudah. Aku ambilkan dulu ya," ujar Arion.
"Mau makan di meja makan," tambah Karina.
"Sayang kamu jangan banyak gerak. Makan di kamar saja ya …," bujuk Arion.
"Ar kaki aku gak papa," ucap Karina.
"No. Mulai saat ini jika kamu mau kemana-mana akan aku gendong atau pakai kursi roda," tolak Arion tegas.
"Ar … kaki aku baik-baik saja," ucap Karina meyakinkan.
Arion menggeleng tak menggubris. Karina mendengus kesal. Arion tersenyum dan segera mengambil makan malam untuk Karina.
Bohong jika Karina tak merasa sakit. Ia merasa kakinya tegang atau terasa sangat tidak nyaman.
"Ck … lukanya semakin sakit saja!" gerutu Karina pelan.
10 menit kemudian Arion kembali dengan membawa sepiring makanan untuk Karina. Dengan cekatan Arion menyuapi Karina.
Tak sampai 15 menit seluruh makanan di piring meluncur masuk ke lambung Karina. Selesai itu, Arion. kembali ke dapur mengantarkan piring kotor.
***
Waktu menunjukkan pukul 22.00, Karina bersandar pada pundak Arion.
"Sayang …," panggil Arion pelan memulai obrolan.
"Hmmm …," sahut Karina.
"Aku boleh gak nabur benih lagi?"ctanya Arion pelan. Karina menaikan satu alisnya.
"Tapi Ar … kaki aku kan sakit," ujar Karina.
"Gak papa. Kamu diam saja biar aku yang gerak. Aku akan lakuin pelan-pelan. Ya mau ya …," bujuk Arion memelas.
"Bagaimana bisa? Apa gak bisa besok atau lusa saja ya …," ucap Karina berusaha menghindar.
"Tapi aku maunya sekarang. Dosa tahu nolak ajakan suami," ucap Arion.
"Tapi kamu pasti minta nambah nanti," ucap Karina.
"Enggak. Satu kali saja," ujar Arion.
"Janji?" tanya Karina. Arion tak menjawab dan langsung membungkam Karina dengan ciuman.
Arion langsung melancarkan aksinya. Melakukan hubungan intim dengan Karina. Karina mendengus kesal pada Arion.
Memang Karina tak bergerak terlalu banyak. Arion melakukannya lebih lembut daripada yang pertama kalinya. Tapi ini sudah babak kedua. Arion tak menepati janjinya.
"Kamu bohong," ketus Karina.
"Sayang … tadikan aku gak jawab. Kamu seperti candu bagiku. Lagian juga kan agar rahim kamu cepat berisi," ujar Arion.
"Humpp … bilang aja kamu kurang," dengus Karina kesal.
Lelah akan perjalanan dan ajakan Arion, Karina memejamkan matanya tertidur dengan kondisi Arion masih bergerak. Arion tersenyum manis melihat itu.
"Maaf ya Sayang. Sebentar aku aku selesai kok," ucap Arion mencium kening Karina.
Satu jam kemudian, Arion menghentikan aksinya dan berbaring di samping Karina. Menutupi tubuh polosnya dan Karina dengan selimut kemudian ikut tidur dengan memeluk pinggang Karina.
__ADS_1