Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 291


__ADS_3

Setibanya di kamar, Karina duduk di pinggir ranjang. Ia memijat dahi seraya melihat jam dinding. 


Ku kira tubuh mereka istimewa, ternyata sama saja, batin Karina yang masih kesal dengan hasil lab ketiga pria tadi.


 Karina berhenti memijat dahi digantikan dengan merenggangkan lehernya sejenak. Karina lalu berdiri dan menuju kamar mandi.


Tak lama kemudian, Karina keluar dengan wajah rambut, lengan dan telapak kaki yang basah.


Sesuai melaksanakan salat Ashar, Karina merebahkan tubuhnya di ranjang. Menyentuh perut yang semakin membuncit dengan lembut, bibirnya tertarik, tersenyum tipis. 


"Terima kasih kalian tidak rewel di dalam sana," gumam Karina.


Rasa lelah dan suasana kamar yang tenang, membuat mata Karina mengantuk dan akhirnya tertidur. Walaupun ia tahu bahwa tidur di waktu sore seperti ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan, tapi rasa lelah membuat Karina acuh.


Pimpinan perusahaan besar itu tertidur, memulihkan tenaga untuk kembali mengurus perusahaan dan sektor usaha lainnya.


*


*


*


*


Hari ini Arion pulang kantor lebih cepat. Semua pekerjaan hari ini telah usai. Arion diikuti langsung menuju mobil yang sudah menunggu dirinya di lobby.


Ferry jelas tidak ikut masuk ke mobil Arion, setelah Arion meninggalkan area perusahaan, Ferry bergegas menuju cafe tempat Siska bekerja.


Pria itu tersenyum lebar mendapati Siska tengah sibuk melayani pembeli. Hari ini jadwal Siska adalah dari siang sampai pukul 20.00. 


Siska melambaikan tangan pada sang suami yang menatapnya dari salah atau meja yang lokasinya sangat cocok untk saling melihat.


Ferry membalas lambaian tangan Siska. Siska mengisyaratkan agar Ferry mendekat, tapi Ferry tidak ingin mengganggu Siska yang tengah sibuk.


Aku di sini saja.


Ferry membalas dengan gerakan tangan yang dibalas OK oleh Siska. Ferry menopang dagu dengan tangan kanan, menatap Siska dari tempatnya.


Pikiran Ferry, tiba-tiba saja tertuju pada Arion dan Karina. Sebagai seorang asisten sekaligus sekretaris Arion, Ferry tentu dapat melihat jelas perubahan Arion.


Ia mendapati bahwa kadar cinta dan sayang Arion pada Karina semakin besar setelah Karina hamil. Ikatan kedua semakin tidak bisa dipisahkan. 


Ia juga penasaran bagaimana rasanya memenuhi ngidam seorang ibu hamil. Tak dapat ia pungkiri, di usia yang hampir menginjak 28 tahun, Ferry menginginkan keturunan.


Selama menikah, memang Siska tidak pernah protes ataupun mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan kehamilan, semisal tidak ingin hamil dalam jangka waktu tertentu. 


Sepertinya aku harus memberi tahu keinginanku pada Siska, pikir Ferry.


Jika ia menginginkan hal yang sama denganku, libur kali ini aku akan mengajaknya bulan madu, lanjut Ferry, membuatnya senyum - senyum sendiri.


Ia baru sadar dari lamunan saat ada pukulan pelan di pundaknya. Ferry menoleh, Siska tersenyum lebar dan langsung menyambar tangan kanan Ferry.


"Hayo lagi ngelamunin apa? Sampai senyumnya lebar begitu?"tanya Siska, duduk di depan Ferry. 


"Menurut kamu?"


Ferry meminta Siska menebak. Siska menaikkan alis dengan wajah berpikir.


Tak lama ia tersenyum cerah.


"Pasti mikirin aku kan? Bener kan?"


"Hmm … bisa jadi sih."


"Bisa jadi? Mikirin apa sih? Jangan buat aku penasaran dong."


"Hahaha kasih tahu enggak ya?"


Siska mencembikkan bibirnya.


"Tidur di luar!"ancam Siska dengan nada ketus. 


"Eh? Enggak bisa gitu dong!"protes Ferry cepat.


"Makanya jangan main rahasia segala!"


Ferry menyerah. Berdebat dengan wanita baginya sangat menyebalkan.

__ADS_1


Tapi hanya pada beberapa wanita saja, terlebih Siska dan Karina. Ferry menghela nafas dan mencoba meraih tangan Siska yang masih berada di atas meja. Siska tidak menolak walaupun wajahnya masih kecut.


"Siska Sayang, jangan ngambek dong. Aku bercanda. Aku kasih tahu deh. Tapi sebelumnya kamu kok bisa kemari?"


"Hmhp! Ada yang gantiin aku lima belas menit!"jawab Siska ketus.


Ferry tersenyum.


"Mikirin apa?"


Siska menagih.


Ferry kembali menghela nafas. Wajahnya berubah serius, begitu juga tatapan matanya.


Siska sadar, ia juga ikut menjadi serius. Hatinya berbisik sangat penasaran dan tidak sabar menunjukkan untaian jawaban dari Ferry.


"Aku … aku ingin …."


"Ingin?"


"Aku ingin menjadi seorang ayah. Aku ingin memiliki anak, aku ingin menjadi orang tua, dan aku ingin kamu hamil," ucap Ferry lancar dengan wajah serius.


Siska tertegun. Wajahnya berubah menjadi bingung. Ferry sedikit kecewa dengan reaksi Siska. Ia kira Siska akan langsung mengangguk setuju. 


Ferry ingin aku hamil?


Siska masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Suasana canggung seketika. Untung saja rekan yang mengganti Siska tadi segera memanggil.


"Kita bahas ini nanti, kamu tunggu aku ya."


Siska melepas pegangan tangan Ferry dan bergegas kembali ke meja kerjanya.


Ferry menjadi gundah. 


Apa itu termasuk bentuk penolakan?


Apa ini terlalu cepat atau bagaimana? Mengapa reaksinya begitu?


Ferry kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.


*


*


*


Arion paham, Karina pasti akan sangat lelah jika ia mengajaknya untuk menjenguk Calvin lagi. Lagipula bagi Karina, kalau sudah dilihat yang sudah. 


Kini ketiga pria yang semua sudah berstatus suami itu berkumpul di kamar Calvin. 


Hanya mereka bertiga, Raina tidak ikut. Istri Calvin itu kini tengah berada di ruang kerja Calvin, mengerjakan tugas yang dikirim oleh Aleza.


Keadaan Calvin sudah jauh lebih baik dari beberapa hari lalu. Wajahnya sudah mulai berseri kembali. Hanya saja, ia mengeluh tubuhnya kaku.


Wajar bagi seseorang yang sangat aktif, tidak nyaman rasanya jika harus terus berbaring tanpa bisa melakukan apapun. 


"Lama sekali kau sembuhnya ? Perasaan imun tubuhmu kebal?"heran Arion menatap Calvin.


Calvin yang duduk bersandar pada kepala ranjang berdecak sebal. 


"Kau kira aku mau begini? Sangat tidak nyaman. Badanku kaku, makan bawaannya mau muntah, obatnya pahit semua, untung saja Kakak ipar membawa jambu merah untukku," ujar Calvin, mencurahkan apa yang ia alami.


Arion mengangguk menyetujui. Ia sudah pernah merasakan sakit, bedanya yang kalau Calvin yang diserang adalah kekebalan tubuh sedangkan Arion adalah fisik yakni patah tulang rusuk dan kehilangan penglihatan, tapi dulu.


"Sampai-sampai urineku bau obat, aihhh ternyata sehat itu sangat berharga," lanjut Calvin.


"Heh? Bukannya seharusnya kau senang," ledek Sam.


Pria itu sangat santai, kedua kaki berada di atas meja dengan tangan memegang sebuah apel yang sudah terdapat bekas gigitan.


"Mengapa aku harus senang? Kau tuli ya?" Calvin kesal.


"Kau sudah bisa meledak berarti kau sudah sembuh," ledek Arion. 


"Sam benar, seharusnya kau senang," tambah Arion.


"Kau juga? Senang dari segi mana? Sakit kok senang?"

__ADS_1


Calvin kesal dan heran dengan pemikiran kedua sahabatnya ini.


"Kau benar Ar. Dia sudah sembuh. Tapi bertingkat seolah belum sembuh," cibir Sam, menatap Calvin dengan tatapan meledek.


"Kalian berdua!"


Calvin terbakar kekesalan, pria itu bergerak, menargetkan Arion yang duduk di dekatnya. Arion yang tertawa meledek Calvin, tidak sempat mengelak dari tendangan kaki Calvin.


Alhasil, Arion terjerembab ke lantai. Sam terkejut, tapi bukannya membantu Arion, Sam malah tertawa mengejek Arion. Calvin menyunggikkan senyum puas melihat Arion yang berdiri menatapnya kesal sembari mengusap pinggang.


"Huuu, dasar!"ketus Arion, berjalan duduk di samping Sam. 


"Diam kau!" Sam yang masih terkikik, seketika memalingkan wajah menatap Calvin. 


"Ayo jelaskan!"ucap Calvin.


"Baiklah."


"Mengapa aku mengatakan seharusnya kau senang? Coba kalian tanggapi apa yang aku ucapkan ini benar atau tidak? Waktu yang kita habiskan bersama istri kita hanya di pagi dan malam hari kecuali hari libur, itupun belum tentu. Masih mending bagiku dan Calvin bisa didatangi oleh istri kami sepulang kerja tapi kau Ar? Ku rasa kau tahu sendiri. Terlebih mereka sedang mengandung anak kita. Nah … selama kau sakit kan Raina cuti, kau juga cuti jadi kalian menghabiskan waktu full bersama selama kau sakit sampai hari ini, harusnya kau senang kan?"jelas Sam dengan gaya presdirnya.


Arion yang masih kesal menyetujui diam-diam. 


Calvin terkesiap sejenak, tak lama ia menggeleng.


"Kau memang benar Sam. Tapi aku lebih senang jika kami bersama dalam keadaan sehat. Kami memang bersama, Raina memang fokus menjaga dan merawat diriku, tetapi ia harus bekerja keras dua kali lipat. Setelah aku tertidur, Raina tenggelam dalam pekerjaannya. Walaupun ia cuti tidak ke kantor, pekerjaan tetap ia kerjakan. Aku merasa kasihan padanya. Terlebih saat mengingat wajah paniknya saat mengetahui aku sakit, rasanya sangat tidak tega. Aku berharap tidak pernah sakit lagi," ujar Calvin sendu. 


"Ia juga sedang hamil, beban yang ia tanggung bertambah besar saat aku sakit," tambah Calvin lagi.


Sam tersenyum, ia tadi hanya menggoda Calvin, siapa sangka Calvin mengerti maksud di balik godaannya.


"Beban yang ditanggung sekretaris dan asisten saja sudah sebesar itu, bagaimana dengan beban yang ditanggung dengan Karina?"


Arion membayangkan betapa besarnya beban Karina. Walaupun ia sudah tahu, tetap saja ia sangat penasaran.


"Wanita … memang sangat hebat. Mereka bisa melakukan banyak pekerjaan tanpa mengeluh. Mereka bisa menangani sesuatu yang kadang kala pria tidak bisa menanganinya," timpal Sam.


"Aku tidak akan pernah menyakiti hati isteriku. Betapa kejamnya jika sampai itu terjadi. Jikapun ia menangis, hanya air mata bahagia yang akan ia turunkan. Aku akan membuatnya selalu tersenyum, sampai akhir waktu," ucap Calvin, berjanji dengan sepenuh hati.


"Bukan hanya kau Vin. Kamipun sama!"ucap Arion, kekesalannya sudah mereda.


"Kalian bahagia dengan pernikahan kalian?" Entah apa yang ada di otak Sam sehingga menanyakan hal tersebut.


Tentu saja, itulah jawaban keduanya.


"Sejak aku jatuh cinta pada Karina, aku tidak pernah berpikir bahwa Karina akan membuatku bahagia. Aku selalu berpikir dan berusaha bagaimana caranya agar Karina bahagia menikah denganku, bahagia bersama denganku hingga membuatnya tidak pernah berpikir untuk pergi dariku, bagaimana caranya agar aku bisa membuat kenangan indah dan berharga bersama dengannya. Jadi, selama Karina bahagia menikah denganku aku juga bahagia," papar Arion tersenyum lembut mengingat Karina.


"Aku sependapat dan sehati denganmu Ar. Bagaimana denganmu Sam?"


"Kalian sudah menjawab, terlebih bukannya sudah tugas kita membahagiakan wanita yang kita cinta?"


Lagi-lagi Sam menjawab dengan santai.


"Hm dari pembicaraan kita … seharusnya kau sudah sembuh kan Vin?"


"Ya aku pikir besok sudah sembuh," jawab Calvin.


"Apa kau sudah bisa berdiri? Sudah azan, aku salat di sini saja," tanya Arion.


Calvin menggeleng. 


"Lututku masih terasa lemas, aku salat duduk saja. Siapa di antara kalian yang imam?"sahut Calvin.


"Siapa lagi kalau bukan dia."


Sam menunjuk Arion. 


"Lalu Raina?"


Belum dijawab, Raina masuk.


"Kalian salat saja di sini, aku akan salat bersama Mama dan Papa," ujar Raina.


"Ah baiklah," jawab Calvin.


Raina kemudian keluar. Arion dan Sam langsung gantian berwudhu. Calvin sendiri dibantu oleh Arion sesudah Arion berwuhdu.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2