
Kembali kepada Andika. Kira-kira apa yang dilakukan para bodyguard Karina tadi ya?
Flashback on
Selepas kepergian Karina, dua dari lima bodyguard Karina langsung memegang tangan Andika.
.
"Hei lepaskan!!! Apa yang kalian lakukan? Lancang kalian," teriak Andika.
Sedang dua orang lagi berjaga di depan pintu dan menghapus rekaman CCTV dengan mudah sebab hotel ini adalah bagian dari usaha Pedang Biru Mafia yang legal.
"Mengapa kami harus melepasmu? Sedang Nona kami menyuruh kami menghajarmu. Bahkan jika nyawamu lewat Nona tidak akan marah pada kami," ujar salah seorang bodyguard Karina mengepalkan tangannya siap meninju.
"Apa alasannya hah? Kalian tahu siapa aku?" tanya Andika meronta berusaha lari.
"Hohoho alasan? Kau ini sudah pikun ya? Kau sudah merendahkan Nonanya kami dengan menyamakannya seperti wanita j*langmu yang segudang itu," jawab bodyguard yang memegang tangan kanan Andika.
Bugh ....
Satu tinju mendarat di wajah tampan Andika.
"Sial*n!" umpat Andika.
Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Bodyguard yang meninjunya langsung mencekam dagu Andika.
"Kau hanya sampah dari keluarga Alcantara. Bahkan jika kau mati, keluarga itu tak akan masalah," ejeknya. Wajah Andika merah padam seketika.
"Sampah harus dibersihkan so kami melakukan kebaikan. Lagipula sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri?" tanya sinisnya menghadiahkan satu tendangan di perut Andika. Andika berlutut seketika.
"Uhuk-uhuk …."
Andika terbatuk darah akibatnya. Ia tak bisa meronta maupun bergerak sebab tubuhnya seperti dikunci.
"Nona kami sangat suci. Kau tak pantas walaupun hanya menyentuh tangannya. Oh ya tadi kau menyentuh Nonaku dengan tanganmu ini kan? Aku ingin sekali memotongnya," bisiknya di telinga Andika. Andika merinding seketika.
"Jangan. Jangan potong tanganku. Aku akan berubah. Aku mohon," pinta Andika.
Namun, orang-orang Karina bukan orang yang bisa diajak negosiasi dalam hal membalas dendam.
"Berubah? Jadi apa? Jadi pangeran kodok atau ultraman atau power rangers?" tanyanya tertawa terbahak.
"Aku mohon. Aku akan memberikan apapun yang kalian mau jika kalian melepaskan aku," nego Andika memelas.
"Hahahaha kau cukup lucu. Namun, kami sudah mendapatkan semuanya dari Nona Kami. So akan kami akhiri acara ini," ujarnya menunjukkan wajah garang dan mengeluarkan satu botol pil.
***Bugh ....
Bugh ....
Bugh*** ....
Bodyguard itu langsung menghajar Andika lagi sebelum memasukkan beberapa pil ke mulut Andika dan memaksa Andika menelannya.
Kemudian dua orang yang memegang Andika melepaskannya dan segera keluar dari kamar Andika. Andika memegang tenggorokannya berusaha memuntahkan pil tadi.
"Sial*n! Apa yang kalian berikan padaku??" umpat Andika. Namun diacuhkan oleh mereka. Tak lama Andika pingsan sambil memegang kepalanya.
"Bagaimana?" tanya salah seorang bodyguard Karina.
"Beres. Besok pagi akan ada berita tentangnya," jawab orang yang meminumkan pil pada Andika.
Selepas itu mereka langsung pergi untuk melindungi Nona mereka dari jauh.
Flashback Off.
***
Pukul 04.00 pagi, Bayu menggeliat pelan kemudian membuka matanya. Bayu melirik jam tangannya.
"Seperti biasa," gumamnya. Bayu lantas menyingkirkan tangan Arion yang berada di perut kecilnya.
"Berat banget sih tangan Kak Arion," gerutu Bayu. Setelah berusaha keras, akhirnya Bayu berhasil menyingkirkan tangan Arion.
Bayu segera bangkit dan merangkak turun dari ranjang. Ia mengambil kacamatanya yang diletakkan Karina di atas nakas.
Memang sudah jadi kebiasaannya bangun pukul empat pagi. Entah apa alasannya, tapi yang pasti sehabis mandi, Bayu langsung memainkan laptopnya sampai pukul 06.00 pagi dan biasanya jika di panti, Bayu lah yang jadi alarm berjalan membangunkan anak-anak panti lainnya.
Bayu memang rutin mandi di waktu subuh, sebab ada artikel kesehatan yang ia baca di internet bahwa jika rutin mandi pagi ada kemungkinan akan terhindar dari berbagai penyakit dan yang paling Bayu sukai adalah tentang awet muda. (Yak, Bayu dirimu masih 6 tahun? Masih muda banget!).
Bayu langsung menuju kamar mandi. Tak lama ia keluar dengan handuk yang melilit tubuh kecilnya. Bayu segera mengambil pakaiannya. Ia memilih celana pendek serta baju kaos. Selepas berpakaian, Bayu langsung mengambil laptop barunya dan mempelajari isinya. Ia duduk di sofa depan ranjang.
"Ini lebih efesien dibandingkan yang lama. But yang lama itu sangat berarti," gumam Bayu meletakkan laptop barunya dan beranjak mengambil tas berisi laptop lamanya.
Ia mengambil flashdisk dan mengcopy semua data dan file yang selama ini ia kumpulkan dan pelajari. Setelah selesai, Bayu mentrasfer data dan file ke laptop barunya. Sekarang Bayu sibuk dan fokus mempelajari bahasa pemograman dan hacker. Agaknya memang mustahil, tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini. Selain gen keturunan, Bayu juga punya kegemaran di bidang ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. Bayu menutup laptopnya mengakhiri pelajarannya. Matanya melirik Karina dan Arion yang masih tidur.
Malah sekarang Arion memeluk Karina seperti bantal guling. Bayu menyimpan laptopnya dan menatap Arion tersenyum jahil. Bayu mendekati meja rias dan menarik salah satu laci yang berisi peralatan Karina. Ia berniat memake up Arion. Dengan hati-hati, Bayu naik ke atas ranjang dengan membawa make up Karina.
Saat hendak mengoleskan listip ke bibir Arion, mata Karina mulia terbuka perlahan. Matanya membulat seketika saat melihat Bayu hendak merias Arion.
Bayu tak menyadari bahwa Karina sudah bangun. Dengan cepat ia menyingkirkan tangan Arion dari tubuhnya dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Emmm …." gumam Arion memalingkan tubuhnya menghadap ke langit-langir kamar.
__ADS_1
"Bayu?" panggil Karina datar.
Bayu tersadar dan menatap Karina canggung, ia langsung menyembunyikan alat make up Karina.
"Selamat pagi Kakak," ucap Bayu tersenyum kaku.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Karina. Bayu nyengir. Dan perlahan menunjukkan alat make up Karina.
"Kau mau merias kakak priamu ini?" tanya Karina pura-pura mendelik kesal.
"Hehehe Kakak … maklum kebiasaan lama," jawab Bayu turun dari ranjang dan mengembalikkan make up kembali ke asalnya.
Karina hanya geleng-geleng kepala. Ia tak heran akan kebiasaan Bayu yang bangun sangat pagi sebab Marisa sudah memberitahunya. Bayu kembali mendudukkan tubuhnya di sofa dan memutuskan menonton televisi.
Karina mengalihkan perhatiannya pada Arion. Ada sedikit listip di bibirnya.
"Dasar kebo," gerutu Karina.
Karina mengguncang pelan tubuh Arion.
"Emm… apaan?" tanya Arion menggeliat pelan.
"Pulang," ucap Karina. Dengan mata setengah terbuka, Arion melihat jam tangannya.
Dengan samar, Arion mengira angka enam itu sembilan.
"Jam sembilan lewat lima belas," gumam Arion.
Mata Arion melebar dan segera terduduk. Ia menatap Karina heran dan langsung menyingkap selimut yang menutupi bagian pinggang ke bawah. Arion langsung ngibrit ke kamar mandi. Karina menyatuhkan alisnya.
"Perasaan baru jam 06.16 deh," ucap Karina pelan.
Karina segera berdiri dan membereskan tempat tidur, kemudian mengemas barang bawaan dan serta perhiasan dengan teliti di koper.
Rencana mereka akan take off pukul 08.00 kembali ke negara dan kota mereka menggunakan kembali pesawat pribadi keluarga Wijaya.
"Bayu cepat berkemas kita pulang sekarang," ujar Karina setelah selesai mempacking semua barang, di mana koper Arion untuk pakaian kotor nanti dan koper Karina untuk pakaian bersih. Karina sudah menyiapkan pakaian yang akan Arion dan dirinya pakai di atas ranjang.
Ceklek!
Suara pintu kamar mandi terbuka. Ia jadi frustasi sendiri. Nyatanya ia heboh sendiri sebab mengira sudah pukul sembilan lewat. Ia menatap Karina kesal. Agaknya ia lupa dengan Bayu sebab Arion keluar dengan handuk pendek dengan rambut yang masih basah.
"Mengapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah?" tanya Karina menatap datar Arion.
"Mengapa tak kau bilang masih jam 06.30?" tanya Arion kesal.
"Salahku kah? Kan aku membangunkanmu dengan cara aman, malah kau langsung ngibrit ke kamar mandi tanpa bertanya dulu," ucap Karina tak mau disalahkan.
"Tetap saja," ucap Arion mendekati Karina yang kini duduk di ranjang.
"Mau apa?" tanya Karina waspada.
"No," tolak Karina.
"Why?" tanya Arion.
"Di sini ada Bayu. Adegan dewasa berbahaya bagi anak di bawah umur," tegas Karina melirik Bayu yang masih asyik menonton acara televisi.
Arion tersenyum canggung. Sesaat ia lupa dengan Bayu yang tidur satu kamar dengan mereka.
"Lupa," jawab Arion melepas pegangan tangannya dan menyambar pakaian di atas ranjang dan masuk lagi ke kamar mandi.
Sekitar lima menit kemudian, Arion keluar dengan celana jeans dan baju kaos. Karina segera gantian masuk ke kamar mandi. Arion menghampiri Bayu dan ikut duduk di sofa.
Bayu asyik dengan siaran acara film tentang seorang anak yang berjuang dan berpetualangan mencari orang tua kandungnya dan jati dirinya.
"Kau bangun jam berapa?" tanya Arion yang mencium pipi Bayu.
"Jam empat. Kakak aku tak suka dicium," jawab Bayu. Arion segera mendudukkan tegak tubuhnya.
"Jam empat?" beo Arion. Sekitar lima belas menit kemudian, Karina keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti pakaian.
"Sudah ayo segera check out," ujar Karina.
Arion mengangguk, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, perjalanan ke bandara membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
"Ayo Noy. Kita kembali ke negara Kakak," ujar Arion.
Bayu mengangguk dan segera berdiri menggendong tasnya. Karina segera memasukkan pakaian kotor ke koper Arion dan menyilangkan tas selempangnya.
"Hubungi Ferry. Kita akan segera ke bandara," ucap Karina mengingatkan.
Arion segera mengambil handphonenya dari saku celana dan menghubungi Ferry. Wajahnya Arion kesal, panggilannya masuk namun tak dijawab. Berulang kali, Arion menghubungi Ferry namun tetap saja tak diangkat.
Arion memutuskan untuk ke kamar Ferry yang berjarak sepuluh kamar dari kamarnya.
"Aku ke kamarnya dulu. Sepertinya ia kelupaan jadwal," ujar Arion segera keluar kamar.
"Oke," jawab Karina santai.
Sesampainya di depan pintu kamar Ferry, Arion langsung mengedor keras pintu Kamar seraya berteriak.
"Woy Ferry bangun loe," teriak Arion.
Di dalam kamar, Ferry masih menjelajahi dunia mimpinya. Ditambah lagi dengan efek mabuk membuat Ferry semakin terlelap. Sangking serunya ia tak mendengar dering handphone yang ribut beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Dirinya sedikit terganggu mendengar gedoran dan teriakan Arion namun mengabaikannya dan menggapai guling untuk dipeluk.
Di dalam tidurnya, Ferry bermimpi bahwa ia sudah menikah dengan seorang wanita cantik, sederhana dan perhatian. Dan juga sudah memiliki anak kembar yang menggemaskan.
Dilanjutkan dengan ia dan istrinya menua dan dikaruniai cucu yang banyak. Dan berakhir dengan menutup mata dengan anak dan cucu yang menemani saat terakhirnya.
Sungguh mimpi yang indah. Namun, gambaran itu segera menghilang digantikan dengan gambaran Arion yang berkacak pinggang dan menatapnya kesal.
"Bangun loe. Jangan mimpi saja. Atau gue tinggal loe pulang sekarang juga. Woi Ferry bangun loe. Loe mau jalan kaki pulang ke negara Y?" ketus Arion. Mata Ferry terbuka.
"Tidak Tuan Muda," teriak Ferry terduduk.
"Huff cuma mimpi ternyata. Jam berapa ya?" tanya Ferry melihat waktu di handphonenya.
"What? Jam 7 lewat lima belas?" seru Ferry membulatkan matanya. Matanya kembali semakin bulat melihat pemberitahuan panggilan sebanyak sepuluh kali dari Arion.
"Woi Ferry!! Bangun loe. Jangan ngebo saja loe. Cepet buka pintunya atau gue tinggal loe sakarang juga!! Ferry bangun … anak bini gue sudah nungguin loe dari tadi!!" teriak Arion menggedor-gedor pintu kamar Ferry.
"Ditinggal? Anak bini? Sejak kapan Tuan Muda punya anak?" gumam Ferry.
"Ferry …," panggil Arion lagi. Teriakannya mendapat teguran dari penghuni kamar lain yang membuat dan mengganggu aktivitas mereka. Tapi ya Arion cuek. Ia lebih takut akan amarah Karina jika kesal.
Ferry kembali tersadar dan langsung berdiri untuk membuka pintu.
"Saya Tuan Muda," jawab Ferry.
"Hmmph … dasar kebo. Ayo kita ke bandara sekarang," tegas Arion.
"Baik Tuan Muda. Saya akan segera bersiap," jawab Ferry.
"Kelamaan! Cepetan ambil barang-barang loe. Kita check out sekarang juga. Pesawat 40 menit lagi take off," tolak Arion.
Ferry membelalakan matanya. What? Langsung pulang? Tanpa mandi dan bersiap?
"Cepetan!" ulang Arion lagi.
"Tapi Tuan saya belum mandi," ujar Ferry.
"Di pesawat kan ada kamar mandi," jawab Arion berkacak pinggang tak mau dibantah.
Ferry mendesah pelan. Ini juga salahnya. Dengan cepat Ferry masuk kamar mandi membasuh wajah dan menggosok gigi secepat kilat. Setelah selesai, Ferry langsung menarik kopernya yang sudah ia isi tadi malam sebelum tidur.
"Mari Tuan Muda," ucap Ferry.
Arion mengangguk dan segera memanggil Karina untuk segera cheak out. Di lobby setelah selesai cheak out, mereka berpapasan dengan keluarga Graham dan Juga Joya yang sama-sama mau keluar meninggalkan hotel kembali ke negara masing-masing.
Lestari tersenyum pada Karina. Karina membalasnya tipis. Lia malah menatap Bayu kesal. Keluarga Graham segera berlalu memasuki mobil mereka. Tinggallah Joya yang menatap Karina kesal.
"Ayo cepat," bisik Karina. Mereka segera menuju mobil dan melajukannya menuju bandara.
Reza menatap sinis kepergian mereka. Tak lama ada berita heboh tentang Tuan Muda kedua dari Alcantara Company, yaitu Andika menjadi idiot setelah bangun dari pingsannya.
Rumor mengatakan bahwa itu karma, ditambah lagi dengan Andika yang hanya memakai boxer, tertidur di lantai serta babak belur.
Reza dan Joya hanya saling menatap satu sama lain dan segera meninggalkan hotel. Di dalam mobil, Joya murung. Reza berkerut dahi.
"Kamu kenapa? Kesal akan jauh dari kekasihmu selama enam bulan?" tanya Reza. Joya menggeleng pelan.
"Bukan Pa," jawab Joya .
"Lantas?" tanya Reza.
"Joya kepikiran tentang misi Joya kali ini," jawab Joya memalingkan wajahnya ke jendela menatap bangunan-bangunan yang menjulang tinggi
"Papa yakin kamu berhasil. Kamu belum pernah gagal sekalipun. Papa tahu misi ini sulit untukmu yang mana kau harus mencari data dan menyelidiki wajah asli Leader Pedang Biru. Tapi ini semua untuk kebahagiaan kamu, Papa dan kita semua," ujar Reza mengelus rambut panjang Joya.
"Ini sudah kewajibanku sebagai pewaris Papa," ucap Joya.
"Sesulit apapun itu aku pasti akan melewatikan supaya mafia dan perusahaan kita semakin maju," tambah Joya.
"Anak pintar," puji Reza.
Reza dan Joya segera masuk ke dalam mobil menuju bandara untuk mengantarkan Joya menjalankan misinya.
Tujuan negara pertama adalah negara Y, ya negara mereka sendiri. Selepas Joya take off, Reza segera kembali ke hotel.
Ia berniat menemui teman lamanya yang tak lain adalah Berto dan Albelt. Reza belum mengetahuin apa yang terjadi pada dua teman lamanya itu.
Drttt ... drttt ....
Suara dering handphonenya berbunyi, ternyata ada yang menelponnya.
"Ya?" jawab Reza.
"Gawat Tuan! Berto dan Albert ...," ucap panik orang yang menghubunginya.
"Mereka kenapa?" tanya Reza.
"Mereka tewas Tuan. Dan sekarang jasadnya dikirim terpisah ke setiap negara yang mengincar mereka," jawabnya.
"APA!!? Kurang ajar siapa yang melakukan itu?" geram Reza.
"Mereka sangat misterius Tuan, kami kesulitan menemukan pelakunya," ujarnya.
"Selidiki. Aku mau pelakunya!!" perintah Reza langsung mematikan sambungan dan melemparkan handphonenya hingga hancur berantakan.
__ADS_1
"Siapa yang membunuh mereka? Dimutilasi? Arggghhhh mengapa aku jadi ketakutan? Sia*an!" umpat Reza.