
Mira dan Riska bersiap ke bandara menjemputnya Tuan dan Nyonya Adiguna. Dengan pakaian kasual, mereka memasuki mobil tipe alphard itu. Mobil meluncur bebas di jalan menuju bandara. 45 menit kemudian, mereka tiba di bandara.
Riska dan Mira menunggu sembari memainkan gawai canggih mereka. Mira, tatapannya pada gawai di tangan, akan tetapi pikirannya melayang terbang meninggalkan raganya. Mira melamun. Sedangkan Riska, mengatasi kebosanan dengan membuka aplikasi instagram dan berselancar ria di aplikasi itu.
Percayalah, menunggu memang sesuatu yang membosankan. Sudah seperempat jam mereka menunggu. Riska yang bosan, melihat jam tangannya lalu mendengus. Pandangannya kemudian menatap Mira yang menatap lekat ke depan.
Riska kemudian melambaikan tangannya di depan wajah Mira. Mira tidak bereaksi, matanya tidak bergerak dengan gerakan tangan di depannya.
"Kak," panggil Riska dengan suara pelan. Mira tetap melamun.
Riska kemudian menyenggol lengan Mira sembari tetap memanggil. Nadanya naik satu oktaf. Setelah tiga kali memanggil tetap tidak ada respon, seakan nyawa Mira belum kembali. Riska mendengus sebal.
"Kak Mira!" sentak Riska dengan suara keras dan cemprengnya. Membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh sesaat dengan mimik wajah bervariasi, kebanyakan sih heran. Riska tidak peduli, yang penting pikiran kakak iparnya ini kembali. Mira yang langsung tersadar, tersentak pelan dan menatap Riska polos dengan kerjapan matanya.
"Ya?" sahut Mira cepat. Kekesalan Riska berkurang. Ia lalu menghela nafas pelan. Mira kemudian mengedarkan pandangannya, beberapa orang melihati mereka dengan tersenyum.
"Kakak melamun," ujar Riska melipat tangannya di dada, Mira kembali menatap Riska.
"Benarkah? Apa karena itu mereka memandangi kita dengan senyum aneh?" tanya Mira to the point. Riska mengangguk mengiyakan.
"Apa yang Kakak lamunkan?" tanya Riska penasaran.
"Entahlah Ris, lamunanku tidak bertema. Ku rasa efek gugup sebentar lagi akan bertemu Mama dan Papa," jawab Mira dengan senyuman manisnya. Riska mengeryit, tak lama ia menghela nafas lagi.
"Kakak, memikirkan reaksi Papa nanti?" terka Riska. Terdiam sejenak, Mira kemudian mengangguk.
"Em, Kakak ke toilet dulu ya," ujar Mira berdiri.
"Hm," gumam Riska. Mira melangkah menuju toilet. Di sana ia membasuh wajahnya berulang kali. Sejenak, ia pandangi wajahnya yang masih berair.
Rasa gugupnya berkurang sedikit. Mira lalu mengambil tisu dan mengelap wajahnya dengan kasar. Menarik nafas sekali lalu segera melangkah kembali ke tempat Riska berada.
Langkah Mira terhenti di dinding pembatas. Dari tempatnya, ia melihat Riska tengah berpelukan dengan pria dan wanita yang ia kenali sebagai mertuanya. Tuan Adiguna dan Nyonya Intan Adiguna. Keduanya tampak melepas rindu, ck padahal hanya berpisah beberapa hari saja. Mira masih stay di tempatnya, pandangannya menatap lekat kedua orang itu. Mira bergulat sendiri dengan batinnya.
"Lama sekali Mama dan Papa mendarat, singgah di mana dulu?" Riska mengeluarkan kekesalannya.
"Tahukah Mama dan Papa, berapa lama kami menunggu kalian? Jenuh, aku tidak menunggu," lanjut Riska lagi. Nyonya Intan mengusap rambut putri bungsunya itu.
"Ada keterlambatan pemberangkatan Sayang, maafkan kami ya anak manis, Mama janji deh buatin kamu makanan kesukaan kamu, okey?" bujuk Intan melihat bibir Riska yang cemberut.
"Janji?" Wajah Riska langsung cerah. Binar harapan memenuhi netranya. Intan mengangguk.
"Enggak bohong kan? Nanti janji palsu?" Riska memberikan tatapan tajamnya. Intan mengulum senyumnya dan menepuk pundak Riska. Kesibukan sebagai sosialita juga tokoh publik, membuat Intan tidak punya banyak waktu untuk menemani Mira.
Terlebih sang ayah, maka jadilah Intan anak kesepian di rumah, hanya berteman para pelayan. Sebagai anak seorang petinggi militer, Riska pun harus pandai menjaga sikap, terlebih saat berada di luar, serta lengkap dikawal dengan bodyguard memastikan keselamatannya.
"Mama janji," ucap tegas Intan.
"Tadi katamu, kami. Dengan siapa kamu menjemput kami berdua, Ris?" Suara Tuan Adiguna membuat Riska menatap wajah sang ayah.
"Hm, coba tebak dengan siapa?" tanya Riska.
"Papa tidak ada waktu bermain teka-teki Riska," ujar tegas Adiguna.
__ADS_1
Kapan sih punya waktu bermain denganku? Riska mencibir dalam hati. Riska kemudian mengedarkan pandangannya mencari Mira.
"Sebentar ya," ucap Riska, membuat rasa penasaran Intan dan Adiguna naik.
"Dengan pacarmu kah?"
Riska terbatuk, seenak lidah saja ibunya menerka, bisa dihukum ia ketahuan pacaran oleh sang ayah. Lihat saja, mata ayahnya sudah menatap dirinya tajam, seakan ia adalah mangsa empuk.
Mira memantapkan langkahnya, ia berjalan menghampiri mereka.
"Pa, Ma," sapa Mira lembut. Tatapan Intan dan Adiguna mencari suara itu, tatapan mereka terkunci pada Mira yang berdiri kaku di sebelah Riska.
"Nah ini dia, kak Mira," seru Riska kemudian.
"Mira?" beo keduanya, meneliti Mira. Agaknya kedua orang itu lupa dengan wajah Mira karena lama tidak bertemu.
"Kok bengong, ini kak Mira loh," heran Riska.
"Mira? Menantu Mama? Istrinya Eko?" tanya Intan dengan dahi mengeryit.
"Iya Ma, Mama apa kabar, maaf Mira tidak memberi kabar akan pulang ke rumah," ujar Mira memberikan pelukan pada Intan.
Intan yang masih terkejut, antara sedih dan senang langsung mempererat pelukannya. Adiguna tampak termenung sesaat. Panggilan Mira menyadarkannya.
"Papa sehat kan? Masih sibuk saja seperti dulu," tanya Mira memeluk Papa mertuanya itu.
Adiguna tersenyum.
"Tentu saja aku sehat," sahutnya bangga.
Deg.
Pertanyaan yang ada jawabannya namun sulit untuk dijawab keluar dari mulut Adiguna. Riska dan Intan tersenyum kecut, sedangkan Mira, lidahnya keluh mau menjawab apa.
"Apa dia menunggu di rumah? Aku tidak sabar bertemu dengannya. Seperti apa wajahnya sekarang? Apa masih menyebalkan seperti dulu. Kau tahu Mira, dia tidak pernah menghubungiku barang sekali, sekali mengirim, ia malah mengirim surat. Kau tahu isinya, dia hanya mengatakan dia baik-baik saja di sana. Aku diminta jangan mengkhawatirkannya, mana bisa begitu. Setiap saat aku memikirkan bagaimana keadaannya di sana. Pasukan perdamaian, adalah misi yang membanggakan juga membahayakannya."
Begitulah Tuan Adiguna, akan banyak bicara jika menyangkut Eko dan Mira. Tuan Adiguna belum bisa menerima kepergian Eko, terlebih mayatnya Eko tidak ada di depan matanya. Hanya kabar, nama dan foto yang dikirim pulang. Hal itu membuatnya yakin dan optimis, bahwa putra tunggalnya masih hidup dan masih bertugas. Ia menerima kenyataan Eko tidak pernah menghubunginya sejak tiga tahun lalu sebab tugas dan misi Eko sangat rahasia dan berbahaya, bahkan anggota keluarga tidak boleh tahu di mana keberadaan dan kondisinya.
Keluarganya, hanya bisa menghela nafas, kondisi Adiguna yang drop sewaktu mendengar kabar itu, membuat keluarga hanya mendiamkan atau menanggapi sejenak saat Adiguna membahas tentang Eko dan Mira. Mereka tidak berani mengatakan bahwa Eko telah tiada, mereka takut Adiguna akan kembali drop.
Tuan Adiguna juga akan marah besar dan tak segan menghajar siapapun yang menyinggung tentang kematian Eko, baik di belakang maupun di depannya.
Para rekan kerja dan bawahan Adiguna, juga bungkam dan tidak berani membahas. Mereka takut Tuan Adiguna marah besar dan berakibat fatal bagi mereka sendiri. Tuan Adiguna adalah militer sejati, ia sangat dihormati dan disanjung. Publik menyayangkan kematian Eko.
Eko, memang tidak pulang raga, hanya pulang nama dan foto. Posisinya sebagai pilot pesawat tempur kala itu. Pertempuran yang berada di atas laut, membuat setiap yang jatuh ke laut tidak akan diselamatkan, ataupun ditolong. Apalagi yang sudah tertembak, dibiarkan saja tenggelam di laut. Begitu juga yang terjadi pada Eko, nyawanya melayang saat pesawat tempur yang ia terbangnya dihadiahi rudal dan meledak. Serpihan pesawat beserta penerbangnya jatuh dan tenggelam di laut lepas.
Mira menghela nafas panjang kemudian tersenyum manis, matanya mencuri pandang wajah Riska dan Intan sesaat. Wajah keduanya tampak menegang.
"Mas Eko, dia juga mengatakan itu padaku Pa," ujar Mira.
"Benarkah? Apa anak itu kira ini zaman abad 18? Sudah canggih masih pakai surat," heran Adiguna.
"Namanya juga tugas rahasia Pa, mana bisa asal menelpon. Kalau musuh tahu, kan bisa gawat," ujar Riska. Adiguna kemudian tertawa.
__ADS_1
"Aku tahu, aku hanya kesal. Ayo kita kembali. Senja sudah datang," ujar Adiguna yang diangguki ketiga wanita itu.
*
*
*
Tiba di rumah, Adiguna mengedarkan pandangannya dan menajamkan pendengarannya. Mira, Intan dan Riska mengeryit heran. Bahu kokoh itu memutar tubuhnya menatap Mira.
"Kamu benar-benar pulang sendiri?" Mira menatap heran Adiguna. Intan tahu arah pembicaraan suaminya namun tetap diam.
"Ya sendirilah Pa. Kan kakak masih tugas." Riska menjawab dengan entang, membuat Adiguna menatap tajam Riska. Riska bersembunyi di belakang tubuh Intan.
"Jaga sopan santunmu. Aku bertanya dengan siapa rupanya? Apa aku bertanya padamu?" ketus Adiguna.
"Pa," ujar Intan mengingatkan suaminya.
"Maksud Papa apa ya?" tanya Mira bingung.
"Maksud Papa, mana kalian? Seharusnya kalian kan sudah punya anak, aku sangat ingin bermain dengan cucu dari kalian. Sebentar lagi aku akan pensiun, aku ingin menghabiskan masa tuaku bersama cucu-cucuku," ujar Adiguna dengan wajah sumringah.
"Ah, kami belum punya momongan Pa, maaf," ucap sesal Mira. Membuat wajah Adiguna berubah menjadi kecewa.
"Mungkin kami belum diberikan kepercayaan untuk menimang anak," lanjut Mira.
Adiguna mencoba menerimanya. Ia mengangguk pelan kemudian melangkah menuju lantai dua diikuti sang istri. Riska menepuk pundak Mira.
"Kalau kakak pulang bawa anak, akan menjadi sebuah pertanyaan besar," ucap Riska. Mira menoleh, Riska tersenyum lalu melangkah menuju kamarnya. Mira terdiam sesaat, tak lama ia menarik senyum kecut.
"Kau benar Ris," gumam Mira. Melangkahkan kakinya menuju kamar.
*
*
*
Seusai magrib, Karina, Arion, Enji dan Bayu bergerak bersama menuju apartemen Riri dan Faisal. Mereka bermaksud menjenguk Riri. Arion dan Karina menaiki marcedes benz milik Karina sedangkan Enji dan Bayu mengendarai mobil Arion.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di parkiran apartemen. Enji memimpin jalan, sebab dia yang tahu di mana letak apartemen Riri dan Faisal.
Ting.
Denting lift berbunyi jelas, mereka keluar di lantai 5. Enji berjalan dengan Bayu di sampingnya. Karina dan Arion berjalan agak lama. Enji menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu lalu menekan belnya.
Tak butuh waktu lama, pintu dibuka. Faisal tampak terkejut dengan kedatangan keempat orang itu. Ia terbengong.
"Paman, kamu tidak mengizinkan kami masuk?" tanya Bayu ketus.
Faisal tersadar dan langsung meminta maaf. Ia menyampingkan tubuhnya dan mempersilahkan mereka masuk.
Karina mengedarkan pandangan meneliti ruang tengah apartemen ini. Simple dan elegan. Warna sofa yang coklat susu dipadukan dengan warna biru muda dinding.
__ADS_1
"Em, selamat datang di rumah kami yang kecil ini. Silahkan diminum," ujar Faisal sembari meletakkan nampan berisi minuman di atas meja.
"Thanks," ucap Enji. Bayu langsung minum. Karina dan Arion menatap Faisal. Faisal meremang melihat tatapan Karina dan Arion.