Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 382


__ADS_3

*


Sore harinya, Karina sibuk di ruang kerja begitu juga dengan Arion. Amri dan Maria belum pulang, begitu juga dengan Enji. Anak- anak Karina sementara diasuh oleh Emir. Emir yang tidak paham mengasuh anak hanya bisa membuat pertunjukkan di halaman samping. 


Kemampuannya yang paling paling mendasar adalah bela diri juga seni pedang. Emir menunjukkan kemampuan berpedangnya. Didampingi oleh Osman, anak-anak Karina itu melihat kemampuan Emir. 


Brian, Bara/Basurata, dan Bahtiar menatap hal itu dengan tatapan biasa. Mereka sudah tahu dan sering melihat kemampuan Emir. Serupa tapi tak sama, Bintang, Biru, dan Bima malah menatap malas, mereka menguap kemudian sibuk memalingkan perhatian pada puzzle di atas meja. Biru mengambil puzzle tersebut, ketiganya mengelilingi puzzle.


"Ini keluaran terbaru. Katanya aku sangat sulit disusun," ucap Biru.


"Oh ya? Kalau begitu mari kita pecahkan," sahut Bintang.


"Yes! Ini baru seru!"ucap Bima. Potongan puzzle dikeluarkan, mulai menyusun satu demi satu. Osman yang sibuk mengamati penampilan Emir menoleh sekilas kepada mereka bertiga. Dahinya mengeryit tipis.


"Adik ayo sini," panggil Bintang.


"Kakak permainan apa ini?"tanya Bahtiar.


"Puzzle," jawab Biru.


"Cara mainnya?"tanya Brian.


"Tentu saja menyusun kepingan ini di papan itu, nanti akan membentuk sebuah gambar," jelas Bima.


"Terlihat muda. Apa susahnya?" Basurata bersedekap tangan.


"Ck. Kepingan ini mempunyai beragam bentuk, kepingan yang punya dua sisi lurus berarti tempatnya di sudut. Sedangkan yang hanya punya satu sisi lurus itu berada di pinggir. Kalau hanya itu tidak sulit, tapi perlu usaha ekstra untuk melengkapi kekosongan bagian dalamnya," jelas Biru.


"Bara … pelajaran pertama dari kakak tertuamu ini adalah jangan terlalu cepat menilai. Terkadang yang terlihat mudah belum tentu mudah sedangkan hal sulit bisa jadi hal mudah."


"Puzzle ini adalah permainan yang melatih motorik. Kecermatan, strategi, ketelitian, konsentrasi sangat  diperlukan. Sama halnya dengan bermain catur. Kata kak Biru ini sangat sulit, mari kita pecahkan bersama," tambah Bima.


"Aku mengerti. Tapi berapa lama yang dibutuhkan untuk menyusun ini semua?" Brian menatap rumit papan puzzle itu.


Papan puzzlenya saja berukuran 1x1 meter.


"Tergantung kemampuan kita," jawab Biru.


Dan penyusunan dimulai. Pengerjaan dimulai dari pinggir. Mereka tenggelam dalam permainan.


Di sisi lain, Emir telah selesai. 


"Hahaha hebat bukan kemampuan Pangeran ini!" Dengan mata tertutup dan kedua tangan terbentang, lengkap dengan senyum lebar dan wajah bangga, Emir menantikan tepuk tangan. Sayangnya hanya Osman yang bertepuk tangan. Emir mengeryit heran, membuka matanya cepat. 


"Hebat! Kemampuanmu meningkat, Emir!"


"A-Ayah? I-ini?" Emir tercengang, ia diabaikan?


"Mereka tumbuh di keluarga mafia. Bela diri sudah biasa bagi mereka," ucap Osman, tersenyum sembari menepuk pundak Emir.


"T-tapi apa mereka tidak kagum dengan penampilanku tadi?"


"Tanyakan saja sendiri pada mereka," jawab Osman. Emir melangkah mendekati anak-anak yang tengah sibuk menyusun puzzle. Mata Emir terbelalak karena pesonanya kalah dengan potongan plastik. 


"Anak-anak," panggil Emir, menutupi rasa gengsinya, berbicara dengan nada berwibawa.


"Ya." Dijawab tanpa berpaling.


"Apa permainan pedang Paman tidak bagus?"


"Bagus kok," jawab Bintang. 


"Lalu kenapa kalian berpaling?"


"Karena membosankan," sahut Biru.


"M-membosankan?" Ingin rasanya Emir menghukum anak-anak ini. Ucapan Biru sangat menusuk, melukai harga dirinya.


"Paman jangan tersinggung dulu. Permainan pedang Paman memang bagus. Tapi kami sudah biasa melihatnya," jelas Bintang, tetap fokus pada puzzle.


"Di markas, banyak master bela diri yang skillnya selevel bahkan di atas Paman. Tapi Paman, kami bukan anak-anak angkuh. Terima kasih atas kerja keras Paman mengasuh kami," tambah Bima, menatap Emir sekilas dengan senyum lembut. 


Emir mengembangkan senyum. 


"Paman tidak tersinggung. Ini salah Paman yang kurang pengetahuan. Benar kata ayah kalian, Paman ini katak dalam tempurung," ujar Emir.


Keenam anak itu tidak ada yang menyahut. Osman menepuk pundak Emir, mengajaknya duduk di kursi tak jauh dari anak-anak berada. 

__ADS_1


"Emir ada yang ingin Ayah tanyakan," ucap Osman pelan.


"Apa itu, Ayah?"


"Bagaimana perasaanmu terhadap Kaira?"tanya Osman. Emir tidak langsung menjawab. Menghela nafas pelan, menatap dedaunan yang diterpa angin. Osman sabar menunggu jawaban Emir.


"Usiamu tidak lagi mudah. Ayah juga semakin tua. Selain demi  klan kita, ayah juga ingin menimang cucu kandungku," ujar Osman, menutup mata merasakan angin menyapu wajahnya.


"Saat kita kembali nanti istana tidak akan seperti dulu. Tidak ada Kaira dan suara anak-anak lagi. Aku bisa melihat betapa sunyinya nanti."


"Emir sekembalinya dari sini, kau harus menikah."


Huff….


"Ayah aku sudah menemukan jawabannya," ucap Emir. 


"Jawaban?" Osman mengeryit dalam.


"Saat di pesawat, Tuan Li bertanya padaku, apakah aku benar-benar mencintai Kaira atau sekedar obsesi? Saat itu aku menjawab aku benar-benar mencintai Kaira. Tuan Li mengatakan benar atau tidaknya tanyakan pada diri sendiri."


"Namun biarpun Tuan Li tidak menyinggung masalah ini lagi, hatiku terusik dan terus bertanya-tanya. Aku mengingat pertemuan pertama dengan Kaira. Gaya pakaian dan kulit putih, banyak dijumpai di Eropa dan Asia. Melihat ketangguhan dan kekuatannya, aku menebak bahwa Kaira adalah sosok yang hebat."


Osman mendengarkan dengan serius isi hati Emir.


"Hatiku digelitik penasaran dengan siapa dia. Ternyata ia hilang ingatan dan aku memanfaatkan situasi untuk mengikatnya di sisiku. Dan benar dugaanku, ia wanita hebat dengan pengetahuan dan kemampuan luar biasa. Saat itu, timbul keinginanku untuk menikahinya secara sah, tapi itu hanya akan membuatnya curiga dan marah."


"Emir apakah kau pernah menyentuhnya?"


Emir menggeleng. 


"Tidak. Tidak sama sekali. Ayah … biarpun tindakanku salah tapi aku tidak pernah melanggar hukum keyakinan kita. Zina sangat diharamkan, bagaimana mungkin aku melakukannya?"


"Bahkan biarpun kami tidur satu kamar, kami tidaklah satu ranjang. Ayah … putramu ini tidur di lantai," ucap Emir. 


"Emir … Emir, bagaimana bisa kamu melakukan hal itu?" Osman menggeleng pelan.


"Ayah demi kejayaan klan kita, aku rela melakukannya."


"Lantas … bagaimana perasaanmu dengan Kaira?"


"Cintaku ada setelah obsesi. Tidak murni, dan perasaan itu kini mulai memudar. Terlebih setelah melihat keluarga Kaira. Lagipula klan kita sudah mencapai kejayaan yang luar biasa dengan berkerja sama dengan Pedang Biru."


"Cintaku memang tidak tulus, tapi aku pastikan kasih sayangku pada mereka benar-benar tulus. Ikatan kami telah terbentuk sejak mereka lahir, Ayah akulah yang mengazani mereka. Sampai kapanpun, aku akan menganggap mereka sebagai anak-anakku."


"Ayah mengerti."


"Jika begitu, sepulangnya dari sini Ayah akan menikahkanmu dengan …."


"Tidak Ayah. Jangan katakan itu, karena ada sesuatu disini yang mengikat hatiku."


"Emir jangan katakan kau sudah tertarik dengan salah satu wanita dari sini?"


Emir tidak menjawab, tersenyum penuh arti. Osman penasaran, siapa kiranya dia?


*


*


*


Keesokan paginya, Karina dan Arion telah siap dengan setelan kerja mereka. Tiga anak tertua  juga telah selesai dengan seragam sekolah mereka. Sedangkan tiga anak lagi telah selesai berpakaian dan kini menunggu giliran disisir dan dibedaki oleh Karina. 


Sebelum turun, Karina memberi pilihan pada tiga anak termudanya. Ingin ikut dengan dirinya, Arion, Emir pulang ke markas, atau tetap berada di rumah bersama dengan Amri dan Maria. Jawaban mereka adalah ikut dengan Karina. 


Turun ke lantai bawah untuk sarapan, Enji dan yang lain sudah menunggu. Sarapan berlangsung cepat. Enji berangkat lebih dulu. Osman dan Emir berangkat setelah Karina dan Arion serta anak- anak berangkat. 


Sebelum ke perusahaan, Karina dan Arion lebih dulu mengantar Bintang, Biru, dan Bima ke sekolah. Arion mengemudi, anak- anak bernyanyi riang dengan Karina sebagai pemandu. Di belakang mobil mereka, mobil Arion yang dikemudikan oleh sopir serta Pak Anton yang ikut di dalamnya mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Arion.


Setibanya di depan gerbang, ketiga anak itu turun setelah mencium tangan Arion dan Karina. Posisi perusahaan Arion yang sejalan dengan perusahaan Karina, yang mana perusahaan Arionlah yang lebih dulu didapat.


Arion kembali mengemudikan mobil, menuju perusahaannya. Tak sampai dua puluh menit, mobil berbelok memasuki area Wijaya Group, menuju basement khusus CEO. 


Ketiga anak itu terkagum dengan bangunan megah Wijaya Group. Karina dan Arion turun.


"Jadwalku hari ini cukup padat, kemungkinan aku lembur," ujar Arion.


"Aku mengerti," jawab Karina.

__ADS_1


"Ayah ini perusahaan Ayah?" Brian menatap Arion, kagum.


"Tentu. Kelak Brian lah yang akan menggantikan Ayah memimpin perusahaan ini," jelas Arion.


"Aku?" Brian menunjuk dirinya sendiri.


"Iya," jawab Arion.


Brian menatap dua saudaranya. 


"Hebat!"ucap keduanya.


"Baik."


"Anak pintar."


"Baiklah. Aku juga harus pergi."


"Hati-hati di jalan."


Karina mengangguk. Anak-anak turun untuk berpamitan pada Arion lalu kembali masuk.


"Aku berangkat. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Dah Ayah." Ketiga anak itu melambaikan tangan pada Arion.


Pak Anton yang kini berada di kursi kemudi, melajukan mobil keluar basement menuju KS Tirta Group.


*


*


*


Lila, Sasha, Aleza, dan Raina menyambut Karina di depan ruangan Karina. Karina hanya mengangguk singkat, masuk ke dalam ruangan yang telah lama ia tinggalkan. Selama bekerja, anak-anak itu sibuk belajar bahasa yang diselingi dengan bermain. Laporan keempat sekretaris Karina itu selesai bertepatan dengan jam makan siang.


"Nona Anda ingin makan siang di sini atau di kantin?"tanya Aleza. 


"Pernahkah aku makan siang di kantin?" Karina menjawab tanpa menoleh pada Aleza, masih sibuk pada laptop.


"Eh … maaf Nona, saya lupa." Aleza menunduk dengan suara takut.


"Tak apa. Bawakan saja aku makan siang seperti biasa, kau mengerti kan?" Karina melirik anak-anaknya yang kini melihat pemandangan dari jendela.


"T-tentu Nona." Aleza segera keluar. 


Hah. 


Karina menghentikan kegiatannya sejenak. Menatap lembut ketiga anak itu.


"Ini sudah jalannya. Anak-anakku sudah memiliki tanggung jawab di usia dini. Tapi … biarpun masa depan mereka telah direncanakan, aku tidak akan melarang mereka mengejar impian. Menggantikan ku dan Arion adalah keharusan tapi bukan berarti menuntut mereka mengubur mimpi," gumam Karina.


"Aku juga tidak akan membuat mereka kehilangan golden age karena tanggung jawab ini."


Karina menghela nafas pelan. Karina beranjak menuju sofa ketiga Aleza dan Sasha masuk membawa makan siang. Karina memanggil ketiga anak itu, menyuruh mereka mencuci tangan lebih dulu sebelum makan.


"Leza, sampaikan pada direksi, kita akan meeting setelah makan siang," ucap Karina. 


"Baik, Nona."


"Sasha katamu tadi Buana Corp mencari masalah dengan kita. Aku mau kau mengakuisisi perusahaan itu dan ganti nama atas nama Bima."


"Atas nama Tuan Muda Bima?"


"Perusahaan itu adalah miliknya."


"Baik, Nona."


Sasha dan Aleza keluar, Karina dan ketiga anaknya mulai makan. Baru sebentar saja mereka maka, pintu terbuka.


"MAMA!" Tiga anak tertua masuk dan mendekati Karina. 


"Kalian langsung kemari?"


"Iya."

__ADS_1


"Baikkah, cuci tangan, wajah, dan kaki kalian, kita makan sama-sama."


"Oke."


__ADS_2