
Flashback Enji.
Tujuh hari, sebelum hari pernikahan Karina dan Arion. Enji, dengan langkah kaki pelan memasuki ruangan ber tag name Faisal. Dokter yang menangani penyakitnya. Enji mengobrol sebentar dengan Faisal, lima menit kemudian Enji segera menjatuhkan bobot tubuhnya di empuknya ranjang yang tersedia di sana.
Faisal segera melakukan kontrol mingguan pada Enji. Setelah semua pemeriksaan selesai, barulah Enji beranjak dari ranjang, duduk di kursi depan meja Faisal.
"Bagaimana kondisiku?" tanya Enji pelan, nyaris lirik tak terdengar. Faisal menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Menatap Enji yang menanti tak sabar.
Perasaan Enji tak karuan. Dari ekspresi Faisal, Enji dapat menduga kondisinya. Jauh lebih buruk dari sebelumnya. Enji menghembuskan nafas dan menarik senyum tipis.
"Katakan saja," ujar Enji tersenyum.
"Kondisimu semakin buruk Ji. Obat-obatan itu tidak berefek lagi pada penyakitmu. Ibarat kata, semilir angin menyapa namun tak menetap. Masuk tetapi tak meresap. Tapi kau tak perlu bersedih. Kami masih punya cara untuk menyembuhkanmu. Kami menyarankan saran sebelumnya yang kau tolak, untukmu agar melakukan cangkok jantung," tutur Faisal. Enji diam. Ia meremas-remas ujung bajunya.
"Saranmu sama seperti Riri," ucap Enji. Dahi Faisal mengerut.
"Riri?" tanya Faisal.
"Hmm … dokter yang juga menanganiku. Aku sering berkonsultasi dengannya. Bukannya aku tak percaya padamu, tapi tak ada salahnya kan aku bertanya pada dokter lain? Dia juga sudah seperti kakak keduaku," jelas Enji.
Faisal mengangguk. Ada sedikit rasa kecewa di hati Faisal. Dokter mana yang mau berbagi pasien? Sedangkan Enji sejak menderita penyakit jantung sudah dia yang menangani.
"Akan ku pikirkan dulu," ucap Enji, segera berdiri.
"Aku mohon ambil keputusan secepatnya. Jika tidak aku tak tahu apa yang akan terjadi," ujar Faisal dengan serius.
Enji mengangguk pelan. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Faisal dan rumah sakit tentunya.
Riri? Seperti pernah dengar nama ini. Tapi di mana? Ah, kan banyak nama Riri di dunia ini, batin Faisal, kembali melakukan tugasnya sebagai dokter.
***
Dua hari berlalu, Enji dengan seorang wanita berjas dokter masuk ke dalam ruangan Faisal. Faisal yang tengah berbincang dengan asistennya mengenai pasien menoleh ke arah Enji dan wanita itu.
Alis Faisal sedikit terangkat. Sang asisten pamit keluar sebentar setelah menerima kode dari Enji dan disetujui Faisal tentunya.
"Enji?" gumam Faisal.
"Aku sudah membuat keputusan," ujar Enji duduk di hadapan Faisal, wanita itu berdiri di samping Enji.
"Benarkah? Hmm … siapa dia?" tanya Faisal melirik wanita itu, wanita itu hanya menunjukkan wajah datarnya.
"Dia Riri, dokter yang ku ceritakan sebelumnya padamu," jawab Enji.
Wanita yang bernama Riri itu mengulurkan tangannya hendak berkenalan dengan Faisal.
"Ririana Anastasya," ucap Riri datar memperkenalkan namanya.
Ada rasa aneh di hati Faisal ketika membalas uluran tangan Riri dan saat Riri memperkenalkan diri.
"Faisal Wibowo," ucap Faisal dengan senyumnya. Riri mengernyit. Sama seperti Faisal, Riri pun merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Hm." Enji berdeham, menyadarkan kedua dokter berbeda kelamin itu yang masih menatap satu sama lain dengan serius, tangan mereka masih bertautan. Riri mengulas senyum tipis dan melepaskan tautan tangannya dari Faisal.
Lagi-lagi, ada rasa aneh, sedih seakan tak rela tangan mereka berpisah.
Faisal Wibowo? Mengapa aku akrab sekali dengan nama ini? Tetapi aku tak bisa mengingatnya. Hatiku juga berdebar dan ingin sekali memeluknya. Ada rasa rindu yang membuncah tapi aku tak tahu rindu kepada siapa? Akankah pada nama ini?
Riri Anastasya, nama yang mirip dengannya, namun Riri kecilku dulu murah senyum tidak sulit senyum seperti wanita itu. Pandangan mata Riri kecilku selalu lembut dan ceria, tidak tegas seperti ini. Riri? Apakah kau masih sama dengan Riri kecilku dulu ataukah sudah berubah?
Riri, satu nama yang tetap melekat indah dalam sanubari Faisal. Kekasih masa kecil yang berjanji tak akan berpisah, setia sampai dewasa, mengikat janji sehidup semati dan menua bersama.
Namun, terpisah karena suatu peristiwa yang memilukan. Saat berlibur bersama, yang mana juga kedua orang tua Riri dan orang tua Faisal adalah sahabat dan pastinya mendukung hubungan Riri dan Faisal, mobil yang dikendarai keluarga Riri oleng dan jatuh ke jurang.
Mobil mereka hanyut diseret derasnya air sungai yang berada di dasar jurang. Setelah pencarian cukup lama, hanya jenazah kedua orang tua Riri yang ditemukan, sedangkan Riri kecil, tak tahu dimana rimbanya dan keadaannya. Faisal merasa terpukul.
Namun, tak menghentikan tekad dan keyakinannya akan Riri kekasihnya masih hidup dan menunggunya di suatu tempat.
Riri, pasti aku akan menemukanmu. Tunggulah aku Riri, tekad Faisal yang masih berusia 10 tahun kala itu. Sejak itu Faisal fokus pada mencari Riri serta mengejar pendidikannya mengapai cita-cita sebagai dokter spesialis jantung.
"Faisal?" panggil Enji, mencoba menyadarkan Faisal yang tenggelam dalam lamunannnya.
"Ah ya," sahut Faisal tergagap, menatap Enji yang menunjukkan wajah kesal, dan Riri yang hanya pada wajah datar.
"Hm, jadi apa keputusanmu?" tanya Faisal serius. Wajah Enji berubah menjadi serius, Riri melirik Enji.
"Aku setuju melakukan cangkok jantung, tapi aku memiliki sebuah rencana. Aku harap kau bisa ikut serta dan membantuku," jawab Enji.
"Rencana apa itu??" tanya Faisal.
"Ide gila apa itu? Aku tak setuju!" pekik Faisal menolak ide Enji. Enji diam.
"Dokter Riri, Anda dokter bukan? Mengapa Anda bisa setuju pasien Anda dengan rancana gila itu? Apa Anda tak memikirkan perasaan keluarganya? Atau jangan-jangan Anda yang mengusulkan? Anda tahu bukan, melakukan cangkok bukan hanya kesiapan fisik tetapi juga mental. Bagaimana bisa melakukan cangkok tanpa dukungan anggota keluarga terdekat? Dukungan adalah salah satu faktor keberhasilan," kecam Faisal marah pada Riri. Riri cuek, tak terpengaruh.
"Jika pasien sudah membuat keputusan aku bisa apa? Apalagi pasien ikan kepala batu seperti dia. Makin dilarang semakin jadi. Jika berdebat dia ada seribu satu bantahan. Coba saja kalau tak percaya. Kau pasti akan luluh di akhir debat."
Riri menantang Faisal. Keduanya bertatapan. Kilatan emosi terpatri pada mata Faisal. Bongkahan es tersemat di mata Riri.
"Lagipula apa kau tahu keluarganya?"
Riri meledek Faisal. Faisal membeku. Enji memang tak pernah membahas tentang keluarganya. Yang Faisal tahu, Enji punya seorang kakak perempuan dan tinggal di luar negeri.
Sedangkan Enji adalah mahasiswa di salah satu universitas ternama di kota ini serta tinggal sendiri di apartemen.
Faisal berulang kali menanyakan tentang kakak perempuan Enji, akan tetapi Enji hanya tersenyum menanggapinya.
Apa kakakmu tidak peduli dengan penyakitmu ini?
Sederet pertanyaan dari Faisal kala itu.
Kakakku sangat peduli padaku, akan tetapi aku tak pernah memberitahukan akan penyakitku padanya.
Enji menjawab dengan santai, setelah diam sejenak, kala itu.
__ADS_1
Faisal menghembuskan nafas kesal dan menatap Enji meminta bantuan. Enji mengangkat bahunya acuh.
"Jika Anda tidak tahu, jangan banyak tanya," ucap ketus Riri.
"Enji, apa kakakmu sudah kau beritahu?" Faisal mengacuhkan ucapan Riri dan menatap Enji serius. Mimik wajah Enji menjadi kesal.
"Kalau dia tahu, untuk apa ku buat rencana ini?" Enji bertanya balik. Faisal tersenyum simpul.
"Kakakku itu orangnya dingin. Tetapi aku tahu di balik kedinginannya itu tersimpan sebuah senyum dan tangisan. Aku ingin melihat itu di hari pernikahannya dan tangis kala aku tiada," ujar Enji lagi.
"Kau keterlaluan. Demi melihat itu kau harus menghilangkan status hidupmu dari dunia ini? Kau tahukan, orang dingin itu bisa selembek kue nagasari, kau tega membuatnya seperti itu?" desis Faisal geram.
"Ya aku keterlaluan. Tapi andainya ia ku beritahu, aku tak mau hatinya bersedih. Cukup sekali ia menangis, selebihnya biarkan dia menjadi bahagia. Setelah itu jika operasiku berhasil maka aku akan kembali padanya setelah aku dinyatakan sembuh dan sehat wal'afiat, jika tidak, aku tak akan membuatnya menangis bukan?" jelas Enji.
Faisal mendengus. Riri masih dengan wajah datarnya, mencoba mengingat. Enji dengan tatapan penuh harapnya. Enji kekeh dengan pendirian dan rencananya.
"Ayolah, kau tak akan dituntut jika rencana ini gagal," bujuk Riri dengan nada datar.
"Ku mohon," pinta Enji memelas. Faisal menghela nafas.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Faisal.
Riri dan Enji berpandangan, menerbitkan senyum lebar.
"Kau akan tahu kapan kau beraksi," jawab Enji.
***
Tiga hari berlalu, selama tiga hari itu Enji tak meminum obatnya. Dan pada malamnya ia menerima tugas dari Karina. Sebab tugas inilah Enji kembali meminum obatnya di luar dosis.
Hingga setelah tugasnya selesai, Enji jatuh pingsan dalam kegelapan. Tengah malamlah setelah Karina selesai mengadakan resepsi, kala hatinya risau tak tenang.
Sakit namun tak berdarah. Karina khawatir akan Enji. Handphone Enji dihubungi, namun satu kalimat yang didapat, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Karina lantas melacak Enji, setelah dapat Karina langsung menuju lokasi. Kamar Enji, mendobraknya sendiri, tak menghiraukan kata-kata mertua dan lelaki yang barusan menikah dengannya.
Karina mengecek denyut nadi Enji yang terbaring pucat di ranjang, dengan segera Karina menggendong Enji, resah, gelisah, khawatir dan sedih bercampur menjadi satu, mengalahkan lelah yang ia rasakan.
Tak lupa Karina menghubungi dua tangan kanan utamanya, menyiapkan mobil di depan lobby hotel.
Meluncur kencang, sekencang kecepatan tertinggi mobil yang dikemudikan oleh Li. Jalanan sepi, satu dua kendaraan saja yang lewat. Tak butuh waktu lama, Enji sudah berada di ruang UGD.
Karina menunggu resah di luar bersama suami serta keluarga dan Li, Gerry tentunya.
Di dalam ruang UGD, Faisal secepat mungkin menangani Enji. Tak berapa lama, Enji menggerakkan dan membuka matanya pelan. Senyum ia sunggingkan.
Faisal menghela nafas lega. Hampir saja nyawa Enji melayang betulan, telat sebentar saja mungkin kain putih tipis menutup jasad yang terbujur kaku di pembaringan.
"Lakukan rencananya," titah Enji lirik.
"Kau yakin Ji? Apa kau tak tahu bagaimana wajah para keluargamu di luar? Terutama wanita muda berpakaian lelaki itu, sangat kacau," ujar Faisal, mencoba membujuk Enji membatalkan rencananya.
__ADS_1