Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 281


__ADS_3

Pukul 20.00, Enji baru tiba di apartemennya. Pria itu heran mendapati lampu apartemen yang tidak menyala. Biasanya, saat ia pulang, lampu sudah menyala terang benderang.


Tak jarang, Bayu juga menyiapkan segelas minuman hangat untuknya. Atau setidaknya Bayu berada di ruang tengah menyambut dirinya. 


Anak itu lupa waktu kah? pikir Enji. 


Setelah menyalakan lampu, Enji memanggil Bayu. Akan tetapi, tidak ada panggilannya yang dijawab oleh Bayu. Enji bergegas menuju kamar Bayu. 


Ternyata kamar Bayu juga gelap. Tidak ada seorangpun di kamar ini. Enji merasa cemas seketika. Ia segera memeriksa seluruh ruangan apartemennya ini sembari terus memanggil Bayu. 


Bayu tidak ada di apartemen!


Enji segera meraih handphonenya. Ia menghubungi Bayu. Nyambung, tetapi tidak kunjung diangkat.


Enji mondar mandir di depan kamar Bayu. Rasa cemas dan takut menyelimuti dirinya. 


Ia mengesah kasar dan mengakhiri panggilan. Enji bergegas ke ruang tengah. Membuka laptop dan melacak keberadaan Bayu. Dahinya mengeryit mendapati ponsel Bayu berada di sebuah taman. 


Jam tangan! batin Enji.


Segera melacak Bayu lagi melalui sinyal jam tangan yang tidak lepas dari pergelangan tangan Bayu. Enji menampik bahwa Bayu diculik.


Anaknya itu punya persiapan dan kemampuan untuk melawan penculik. Jikapun diculik, Bayu pasti punya cara untuk menghubungi orang terdekatnya. 


Tempat yang sama? Apa yang terjadi pada Bayu? Agrh! Sial! geram Enji. 


Enji masih bergeming pada laptopnya. Memeriksa rekaman CCTV. Bayu memang keluar, sekitar pukul 17.00 tadi. Akan tetapi, tidak kembali sesudah itu. Enji penasaran apa yang membuat Bayu pergi keluar. 


Enji kemudian memeriksa CCTV luar, ternyata Bayu menuju market di depan area apartemen. Seusai itu, Bayu terlihat berjalan ke arah kanan, arah menuju taman, tidak kembali ke apartemen. 


"Taman! Aku harus ke sana!"


Enji mengambil kunci motornya dan segera menuju garasi apartemen. Dilajukan dengan kecepatan tinggi menuju taman.


Setibanya di taman, Enji langsung mencari keberadaan ponsel dan jam tangan Bayu. 


Setelah beberapa waktu mencari, Enji menemukan kedua benda itu di bawah tanaman pagar, tepat di belakang kursi taman. 


Bayu menelepon Kakak? Apa yang mereka bicarakan?


Enji mendadak curiga dengan Karina. Tidak banyak yang tahu bahwa ia punya seorang anak lelaki, selain keluarga dan Jessica.


Saingan bisnis, juga tidak banyak, serta Enji menutup rapat informasi tentang Bayu. Publik hanya tahu bahwa Bayu adalah adik angkat Karina. 


Enji duduk di kursi taman dengan kepala tertunduk, berpikir. Dahinya mengeryit dengan tatapan mata menerawang.


Tapi … untuk apa Kakak menculik Bayu? Bukankah bisa langsung mengajaknya? Lagipula Kakak berada di luar negeri urusan pekerjaan, bukankah akan sangat merepotkan jika menjemput Bayu? 


Tapi jika bukan Kakak, siapa yang menculik Bayu? Di jam sore, taman ini sangat ramai. Terlebih tempat ini, bagaimana mungkin penculikan dilakukan di keramaian? Alat komunikasi Bayu juga dilepas semua. Hanya ada satu kemungkinan, Bayu sukarela ikut dengan orang itu. Tapi apa alasannya? Anak itu tidak mengatakan apapun padaku, seandainya ia punya rencana? Astaga, anak ini membuatku bingung!


Enji lalu menilik area taman tempatnya berada. Suasana yang hanya diterangi beberapa lampu taman, agak menyeramkan bagi yang tidak terbiasa.


Angin malam berhembus menyapa Enji. Kulitnya yang tidak yang tertutup kain terasa dingin. 


Enji lalu meraih handphone di saku celananya. 


"Cari keberadaan putraku! Lokasi terakhir taman depan apartemenku! Laporkan secepatnya!" suruh Enji pada bawahannya.


Ia lalu mengacak rambutnya. 


Lebih baik jika tadi aku mengajaknya ke kantor, sesal Enji.


Enji lalu berdiri dan melangkah keluar taman. Sebelum memutar gas motornya, Enji kembali menilik sekitarnya. Ia kemudian tersenyum tipis dan bergegas kembali ke apartemen.


*


*

__ADS_1


*


"Cukup cerdas juga anak ini," gumam Karina. 


"Ayah curiga aku hilang tidak diculik ya, Kak?"terka Bayu duduk di samping Karina dengan mangkuk cemilan di tangan. 


"Kamu sih, bukannya dihapus dulu rekaman CCTV bagian kamu tadi. Nyari tempat pun di situ, riwayat panggilan juga tidak kamu hapus. Meletakkan barang di satu tempat, bagaimana Ayahmu tidak curiga? Dasar anak kecil, pasti aku yang akan tertuduh. Hanya saja ia tidak berani menuduhku langsung. Untuk belum ada yang tahu kepulanganku!" omel Karina kesal dengan Bayu.


"Ye … aku kan cuma mau Ayah sadar, aku enggak mau Ayah hanya fokus pada PDKT-nya dengan nona Jessica. Soal itu, aku kan enggak mau ribet," sahut Bayu membela dirinya sendiri. Karina berdecak sebal.


"Kau yang menjodohkan mereka. Kau pula yang kesal," cibir Karina.


Bayu terdiam canggung, ia mengunyah cemilan dengan sangat pelan. Matanya mencuri pandang pada Karina. Karina menutup laptop dan menyala televisi.


"Kak," panggil Bayu pelan.


"Hm,"


"Besok aku ikut ke kantor Kakak ya," pinta Bayu dengan mata memelas. Karina melirik. 


"Boleh," jawab Karina.


Bayu berseru senang. Ia meletakkan mangkuk di meja dan memeluk Karina dari samping. Karina menunduk, seraya tersenyum teduh dan mengusap rambut Bayu. 


"Aku memang tertarik dengan nona Jessica. Saat pertama kali melihatnya, aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Ada perasaan yang tidak terlukiskan Kak. Bukankah Kakak tahu bahwa sejak lahir, aku tidak pernah melihat Ibuku. Ada rasa nyaman padanya Kak. Melihat masalah keluarga yang ia alami, membuatku simpatik padanya. Tidak dapat dipungkiri, aku menginginkan sosok seorang Ibu, dan itu aku dapatkan padanya. Aku rindu keluarga yang lengkap Kak. Ayah memang menyayangi diriku, tapi tetap saja aku ingin kasih sayang seorang Ibu. Tapi … saat Ayah sudah menerima, aku malah tidak rela. Kak, aku salah kah?"tutur Bayu, dengan suara serak di bagian akhir. 


Tak lama, terdengar isakan tangis Bayu. Mata anak itu memerah, memegang erat baju Karina. Karina menghela nafas.


Tatapan matanya masih tertuju pada layar televisi. Ada setitik rasa sakit di matanya mendengar Bayu menangis. 


Setidaknya kamu tidak harus mengalami apa yang Kakak alami Yu. Kamu hidup tenang dan bebas melepas kesesakan dalam dirimu di panti. Sedangkan aku, harus belajar banyak hal untuk melindungi diri dan orang - orang yang ku sayangi. Penderitaan yang ku alami di usiamu, bahkan efek nya masih sampai sekarang. Hehehe … siapa yang sangka, aku sanggup membunuh orang dengan senjata apapun. Pedang setajam apapun, hal biasa bagiku. Tapi jarum sekecil semut itu bisa membuatku ketakutan setengah mati, ujar Karina dalam hati.


Ia lalu tersenyum kecut. Suasana sedih sangat terasa, terlebih adegan televisi beserta sound yang ikut mendukung. 


Arion yang baru keluar dari ruang kerjanya, heran dengan suasana tidak nyaman saat hampir tiba di ruang tengah.


"Astaga! Kalian sangat menghayati film ini. Ayolah ini hanya film, untuk apa menangis? Kalian membuang air mata berharga kalian demi kucing mati?!"ledek Arion yang tidak tahu menahu.


Bayu melepas pelukannya lalu menatap Karina seraya meraih tisu menghapus air matanya.


Karina hanya melirik serta mendatarkan wajahnya. Arion mendekat lalu duduk di samping Karina.


Dengan santai,  Arion meraih mangkuk cemilan Bayu. Tidak menyadari tatapan kesal Bayu.


"Siapa yang menangisi kucing mati itu?"tanya ketus Bayu, suara terdengar aneh karena habis menangis. 


"Lalu? Memangnya kalian membahas hal sedih apa? Tentang Enji kah?"


Arion menjawab santai tapi tepat sasaran. Bayu berdeham membenarkan.


"Oh."


"Kamu tidak salah Bayu. Hanya Ayahmu saja yang merasa kamu dapat mengerti perbuatannya. Ayahmu menganggap kamu sudah dewasa lewat pikiran. Terlebih dia tumbuh di bawah asuhanku, jika benar serius, maka lakukan dengan serius. Ayahmu sudah sangat serius ingin menjalin hubungan dengan Jesicca. Tenanglah, Ayahmu akan segera sadar," ucap Karina.


"Tapi dia tidak harus menganggap aku bisa mengerti semuanya dong Kak. Biar bagaimanapun, aku hanyalah anak berusia delapan tahun. Masih ada jiwa anak kecil dalam diriku. Dia Ayah yang tidak peka!"gerutu Bayu.


"Maka kamu harus bertindak sebagai orang dewasa pada tempatnya. Lain dari itu, berperilaku lah sebagaimana anak berusia delapan tahun. Belajar memang penting, tapi agar lebih efektif, selingilah dengan bermain. Porsi yang sesuai, akan menghasilkan yang terbaik," saran Arion, menatap Bayu dengan senyum manis.


"Itu bukan gayaku," sahut Bayu cepat. 


"Jika begitu, kamu akan tua di usia muda," balas Arion.


"Berarti Kakak sudah tua dong?"tanya Bayu. Arion membulatkan matanya.


"Enak saja! Wajah, otak, dan tubuhku masih setara dengan remaja. Andai aku aktor, memerankan anak SMA pun masih layak!"bantah Arion kesal.


Karina memutar bola matanya malas mendengar ucapan merak Arion. Bayu menggeleng.

__ADS_1


"Bukan Anda, tapi em."


Bayu mengkode Karina dengan matanya. Arion kembali membelalakan matanya. Ia mencuri pandang takut akan Karina yang akan meledak. Lihat saja, telinga Karina sudah merah.


"Oh … aku sudah tua kah?"


Karina menoleh ke arah Bayu dengan wajah marahnya. Bayu nyengir, dan mengangguk takut.


Tak!


Satu jitakan mendarat di kepala Bayu. Bayu refleks mengaduh sakit. Belum reda rasa sakitnya, Bayu meringis merasakan cubitan cap kepiting di pinggang. Ia menggeliat, rasanya sakit, Karina beneran marah.


"Ahh … aduh … Kak sakit … aduduh ampun Kak. Kak lepas dong, putus pinggang aku nanti. Kak ampun … Kakak masih cantik auw … muda … ah … kaya … masih cocok jadi anak ABG," rengek Bayu, merayu Karina dengan mulut manisnya. 


Bayu melihat pinggangnya saat Karina sudah melepas capit kepitingnya. Ada ruam merah di sana. Bayu langsung menatap protes Karina.


"Apa? Mau lagi?"ancam Karina. 


"Enggak!"sahut Bayu takut.


Karina lalu menoleh ke arah Arion. Pria itu malah pura - pura tidur. Karina mendengus dan langsung menjewer telinga Arion. Arion langsung membuka mata dan memegang tangan Karina yang menjewer telinganya.


"Aduuhhh … apa salahku Yang?"tanya Arion.


"Iya kamu masih cocok jadi anak SMA! Peranmu jadi penunggu sekolah yang enggak lulus tujuh turunan! Seangkatan dan adik kelasmu sudah sukses, kamu masih berkutat dengan matriks!"ketus Karina lalu melepas jewerannya lalu menyilangkan kedua tangan di dada.


Arion menatap Karina tidak terima sembari mengusap telinga.


"Ya enggak separah itu juga dong! Aku enggak sebodoh itu. Peranku lebih cocok kepada pria populer dengan peringkat satu, bukan penunggu sekolah. Huh," protes Arion mencembikkan bibirnya.


"Nomor satu dari belakang iya," sahut Karina. 


"Ck, terserah deh!"


Bayu tersenyum geli melihat pertengkaran Karina dan Arion. 


"Berarti nanti kalau Kak Arion debut jadi aktor, judul film pertamanya, 'Aku Lulus Ketika Cinderella Hadir'. Kak Karina yang jadi Cinderella, Kak Arion yang jadi murid tujuh turunannya, pasti keren," ucap Bayu, terkekeh geli sendiri saat membayangkan jika itu benar terjadi.


"Ogah!"ucap Arion dan Karina bersamaan.


"Arion saja, aku tidak minat jadi aktris!"tolak Karina tegas.


"Daripada bermain peran menjadi orang lain mending menaikkan peran diri sendiri dengan baik. Ingatlah lagu ini, dunia itu panggung sandiwara. Acting itu sandiwara. Jadi semua manusia adalah aktor dan aktris walaupun kita tidak debut dan tampil di dunia hiburan!"tegas Arion.


Karina dan Bayu saling pandang, lalu mengulas senyum lebar.


"Good!"


Keduanya mengacungkan jempol untuk Arion. Arion tersenyum, melipat tangan dengan penuh rasa bangga. 


"BTW kok film nya lain lagi? Kemarin drama korea, lalu drama china sekarang India. Besok apalagi? Drama Thailand? Jepang? Atau Box Office?"cerca Arion penasaran.


"Bisa jadi," jawab Karina.


"Asal kamu ketahui, sebelum mengenal drama itu, aku lebih dulu jatuh hati pada film India. SRK, Salman Khan, Hrithik Roshan, Kareena Kapoor, Kajol, mereka lebih dulu menghiburku. My Name Is Khan, Happy New Year, Bajrangi Bhaijaan, Bang Bang, mereka favoritku," papar Karina.


"Ah jangan lupakan Don 1 dan 2. Dhoom 1, 2, 3 juga seru," timpal Bayu.


"Benar kan? Kalau begitu Ek Tha Tiger dan Tiger Zinda Hai juga masuk dong?"sambung Arion.


"Hem tentu. Kamu pernah menonton itu?"tanya Karina.


"Pernah. Hanya dua itu hanya ku ingat," jawab Arion tersenyum bangga. 


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2