Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 87-Penjelasan Arion_


__ADS_3

Semilir angin menerpa wajah Karina. Membuat rambutnya melambai diterpa angin.


Raut wajah Didi ikut berubah. Ia merasa Karina saat ini tengah berada di fase rapuh. Entah hal apa yang terjadi pada Nyonyanya itu yang tidak ia ketahui.


Cukup lama Karina menatap hamparan pasir dan birunya pantai. Hatinya sedikit lebih tenang. Emosinya mulai teratur. 


Karina kemudin melirik Didi yang berdiri tegak di samping kanannya.  dan menaikkan pandangannya ke atas. Menatap pohon kepala yang berbuah sangat lebat. Karina menelan ludah. Ia ingin kelapa muda! 


Tapi ia bingung, kan tidak mungkin ia memanjat pohon itu bukan? 


Apa robohkan saja ya? batin Karina.


Oh tidak! Terlalu mubazir! pikir Karina lagi membantah idenya itu.


Ah kan ada Didi, seringai Karina.


"Aku mau kelapa muda," ucap Karina datar kembali menatap hamparan pasir putih.


"Kelapa muda? Baik Nyonya saya akan segera membelinya," ujar Didi mulai beranjak.


"No. Aku tak mau yang dibeli. Aku mau yang di sampingmu. Langsung dari pohon dan kau harus mengambilnya sendiri," titah Karina tegas.


Didi terlonjak. Ia menoleh ke arah pohon kelapa di sampingnya. Tinggi pohon itu kurang lebih 7-8 meter. Didi menelan ludah ragu.


"Ayo cepat panjat. Aku mau sekarang!" ucap Karina lagi. 


"Haruskan Nyonya? Apakah tak bisa yang sudah dipetik saja?" tanya Didi memastikan. Karina mengangguk. Kini tak ada alasan untuk menolak. 


Didi memantapkan hatinya. Ia kemudian berjongkok dan melepas sepatunya. Ya walaupun ia bertugas sebagai sopir, tetapi penampilannya seperti anak muda milenial yang sedang travelling.


Celana panjang SECOND MEN - Men Strech casual chinos 2 101051713 berwarna coklat susu, dipadukan dengan kaos putih polos lengan pendek plus wajah yang dapat dikatakan tampan, membuat penampilannya tak seperti sopir.


Bahkan kebayakan dari para pengunjung pantai yang berpapasan dengan mereka mengira Karina dan Didi adalah pasangan.


"Eh? Ganti dulu bajumu," seru Karina. Didi yang tengah bersiap memanjat terhenyak. Ia menatap Karina rumit.


Nyonya perhatian denganku? tanyanya dalam hati.


"Tak apa Nyonya. Saya punya banyak di rumah. Bahkan jika mau buat toko pun bisa," sahut Didi seraya tersenyum.


Karina tersenyum meledek mendengar.


"Jika iya. Mengapa kau jadi sopir? Mengapa tak buka toko pakaian saja?" tanya Karina. Didi hanya tersenyum.


Huhuhu … mengapa harus aku? Nyonya apa Anda punya dendam padaku kah? Tuan muda mengapa bukan Anda yang melakukannya. Aku yakin pasti Tuan muda tidak tahu di mana Nyonya berada. Seharusnya Anda lah yang sini! batin Didi mulai memanjat satu demi satu tangga yang dibuat pada pohon kelapa itu sendiri.


Sulit. Itulah yang dirasakan Didi. Cukup lama ia berjuang, tak jarang ia merosot turun. Sedangkan Karina menatapnya berbinar. 


"Ayo terus panjat Didi. Kamu pasti bisa!" ucap Karina penuh semangat.


Apa aku bertemu dengan seorang psikopat yang bahagia melihat penderitaan orang lain?tanya Didi dalam hati.


Setelah perjuangan panjang, akhirnya Didi berhasil memetik satu buah kelapa muda. Dan menjatuhkannya ke bawah. 


Bugh.


Suara buah kelapa muda menghantam pasir dan menggelinding beberapa meter. Didi bersiap turun namun terhenti mendengar perintah Karina.


"Lagi. Aku mau tiga lagi!" titah Karina. Didi membulatkan matanya.


Ia kembali memetik tiga buah kelapa muda ke pasir. Tak lupa ia juga mengambil satu untuknya. Setelah itu ia turun. Sesampainnya di bawah, Didi mengebas-ngebaskan bajunya yang kotor.


Serta lengannya yang tergurat kasarnya permukaan batang pohon kelapa. Selepas itu, ia mengumpulkan kepala muda yang ia petik di dekat Karina. Lalu memakai kembali sepatunya.


"Cari golok atau apalah itu untuk membukanya," ujar Karina.

__ADS_1


Menatap kelapa muda dengan mata berbinar. Didi mengangguk. Ia beranjak menuju mobil mengambil sebilah golok.


Tak lama ia kembali dengan golok di tangannya. Sigap mengupas kelapa muda untuk Nyonyanya.


Mengikis bagian bawah kelapa sampai terlihat tempurungnya lalu melubungi kecil tempurung agar airnya bisa diminum oleh Nyonyanya.


"Silahkan Nyonya," ujar Didi memberikan kelapa muda yang siap minum.


Karina menerimanya dengan kedua tangannya. Menenggaknya langsung hingga tandas. Tak perlu sedotan atau gelas.


**Glek ….


Glek** ….


Suara air yang menerobos masuk kerongkongan Karina. Setelah air kelapa muda habis, Karina memberikannya kembali pada Didi untuk dibelah dan dinikmati dagingnya.


Karina menyeka sudut bibirnya. Kemudian kembali menikmati daging kelapa muda. Didi ikut menikmati kelapa yang ia petik untuk dirinya. Satu jam berlalu. Waktu menunjukkan pukul 18.00, Karina menghabiskan 2 kelapa muda. 


Senja menghiasi langit. Karina memutuskan pulang. Tak ingin menikmati senja yang indah. Pukul 20.00, mobil yang dikemudikan Didi tiba di kediaman Wijaya bersamaan dengan keluarnya Arion dari mobil. Ya. Arion baru pulang dari kantor.


Mata Arion menatap rumit Karina yang sudah duduk di kursi roda. Bersiap masuk ke dalam rumah. Arion segera menghampiri Karina.


"Sayang … kamu dari mana saja? Mengapa baru kembali?" tanya Arion khawatir. Karina diam tak menjawab.


Emosinya kembali ketika melihat Arion. Ia malah mengintruksikan Didi mendorong kursi rodanya meninggalkan Arion dengan sejuta tanda tanya.


Aih … dia masih marah. Kuatkan hatimu Arion. Kau akan jujur padanya. Aku tak sanggup lagi dia mengacuhkanku, tekad Arion dalam hati menyusul Karina. 


Didi bingung bagaimana caranya mendorong kursi roda Karina menaiki tangga. Sebab selama ini, Tuan mudanya lah yang menggendong Nyonya ini  naik-turun tangga.


Amri, Maria dan Bayu tak menampakkan batang hidungnya sebab liburan ke negara M. Ya mumpung Bayu hari ini libur sekolah sampai hari senin.


"Tundukkan badanmu. Gendong aku ke atas," titah Karina. Didi membeku. Arion yang baru  tiba di ruang keluarga membulat mendengar itu.


Whaattt? Apa-apain ini? pekiknya dalam hati. Dengan cepat ia menghampiri Karina dan Didi yang berada di anak tangga.


"Saya tidak berani Nyonya," ujar Didi.


"Ck …."


Karina berdecak sebal. Tak lama ia memekik kaget saat tubuhnya diangkat. Refleks ia mengalungkan kedua tangannya ke leher orang yang mengangkatnya.


"Beraninya kau meminta pria lain mengendongmu sedangkan aku ada di sisimu," bisik Arion di telinga Karina sembari menaiki satu demi satu anak tangga menuju kamar mereka.


"Beraninya kau bercinta dengan wanita lain saat aku pergi!" balas Karina. Arion diam tak menjawab. Ia fokus menaiki tangga. Namun, pikirannya melayang.


Darimana ia tahu? Apa dari dua teman kerjanya itu? Apa dari Lila dan Raina? ratap Arion berkecamuk.


Didi hanya bisa melongo. 


Aduh. Tuan, Nyonya, jangan bermesraan di depan jomblo legend ini, ratap Didi meninggalkan tangga entah kemana.


Sesampainya di kamar, Arion mendudukkan Karina di pinggir ranjang. Lalu duduk di samping Karina. Karina masih menunjukkan wajah dinginnya.


"Sayang …," panggil Arion memegang tangan kanan Karina.


Karina melirik Arion sekilas lalu menatap langit-langit kamar.


"Jangan abaikan aku," pinta Arion memelas.


"Aku tak mengabaikanmu," ketus Karina. 


"Tapi kau sudah melakukannya," ucap Arion.


Karina diam. Ia memejamkan matanya.

__ADS_1


"Hanya diriku satu kasih yang kau cinta. Tapi cuma sekedar ucapan," ucap Karina datar. Air mata mulai turun. Arion meringsut dan bersimpuh di hadapan Karina.


"Itu bukan sekedar ucapan," tegas Arion.


"Heh? Bukan? Bukankah kau bercinta dengan Joya di hari ketiga aku pergi?" kekeh Karina dingin.


Arion menunduk. Kemudian mendongak menatap manik mata Karina.


"Maaf," ucap Arion penuh penyesalan.


Karina tersenyum sinis.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Karina.


"Maaf. Aku menghianatimu. Tapi aku bersumpah bahwa itu di luar kesadaranku. Aku merasa ada dorongan lain yang membuatku ingin melakukan hal itu," jawab Arion.


"Kau masih ingat kata-kataku bukan? Oh ya apa kata maaf cukup? Apa itu bisa menghapus lukaku? Satu lagi. Jika seandainya aku yang berada di posisimu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menerima maafku?" tanya Karina berturut dengan nada tinggi. Arion diam. 


Apa yang akan ku lakukan? batin Arion.


"Untunglah aku bukan wanita picik. Aku tak akan semudah itu hancur. Aku tak akan lari dari masalah sebesar apapun masalah itu. Aku mau kejujuranmu. Aku mau itu!" tegas Karina.


Arion memejamkan matanya. Ia mulai buka suara dan menceritakan apa yang ia alami. Karina mendengarkannya.


Diam-diam ia bersyukur sebab Arion jujur padanya. Pernyataan yang Arion sampainya sama dengan yang ia lihat.


"Kau percaya padaku?" tanya Arion seduh.


"Sulit. Tapi akan ku coba," jawab Karina.


Aku percaya padamu. Tapi tidak dengan akibatnya, batin Karina.


"Mengapa?" tanya Arion lagi.


"Kita tunggu saja dua sampai empat minggu ini apa yang akan terjadi," ujar Karina.


"Kau pasti bisa menebaknya bukan? Jika kau tak ingin mahligai rumah tangga kita hancur maka lakukan sesuatu untuk mencegahnya," tambah Karina lagi.


Arion mengangguk paham. Lantas apakah Karina semudah itu memaafkan Arion hanya berlandaskan kejujuran? Tentu saja tidak! Di balik itu semua ada sebuah rencana besar yang telah Karina persiapkan untuk Arion dan Joya.


Joya kau sungguh wanita ular. Aku menyesal telah jatuh hati padamu sebelumnya. Akan ku buat perhitungan denganmu, seringai Arion dalam hati. 


"Hmmm … Ar?" panggil Karina pelan.


"Ya …," sahut Arion menatap Karina.


"Aku … sampai kapan kau bersimpuh di bawah?" tanya Karina.


"Oh … aku lupa," ujar Arion tertawa kecil dan kembali duduk di samping Karina.


Mata menoleh ke arah Arion. Menatap Arion dari atas sampai bawah. Matanya menyipit melihat sesuatu yang menyembul di balik celana Arion. 


"Sejak kapan?" tanya Karina datar.


"Apanya?" tanya Arion pura-pura tak tahu sebab menahan malu.


"Adikmu mengembang," jawab Karina.


"Oh …," ucap Arion dengan rona merah di pipinya.


"Di tangga. Sewaktu kamu minta gendong sama Didi," tambah Arion.


"Sayang. Ayo main," pinta Arion. Dengan cepat Karina menolak. 


Enak saja!! Sudah bermain dengan wanita lain mau sama aku pula!

__ADS_1


Arion merayu dan membujuk Karina. Karina dengan tegas menolak. Terjadi perdebatan. Satu jam kemudian, perdebatan masih berlangsung dan berakhir dengan senyum kemenangan Arion dan gerutuan Karina. Terjadi lagi permainan panas di atas ranjang. 


Hmmm … aku tak sabar menunggu hari itu tiba! batin Karina tersenyum licik. 


__ADS_2