
Selepas makan siang Karina, Arion, Amri, Maria, Bayu, dan Enji serta Alia segera menuju kembali ke bandara. Sejalan menuju bandara mereka singgah dulu di perusahaan kakek Bram untuk mengumumkan pemindahan kekuasaan sementara waktu. Diantar oleh Amir dan beberapa anggota Oaska.
Keempat mobil itu berhenti berurut di depan lobi perusahaan kakek Bram. Para karyawan yang lalu lalang di lobi mencuri pandang saat keluarga Wijaya melangkahkan kaki mereka masuk dan menuju lift.
Tak perlu tanya lagi pada resepsionis sebab notaris kepercayaan kakek Bram ikut serta.
Mereka naik menuju lantai ruang meeting. Di ruang meeting sudah menunggu petinggi perusahaan termasuk wakil presdir, para manager dan pemegang saham.
Namun, tetap saja saham terbesar adalah milik kakek Bram yang kini dilimpahkan semuanya kepada Jaya Company.
Dengan membawa berkas yang diperlukan, Amri dan Arion melangkahkan kaki mereka tegas memasuki ruang meeting diikuti oleh notaris dan Amir. Sedangkan Karina, Maria, Enji dan Bayu diantar ke ruang presdir.
Maria tertegun melihat banyak foto kebersamaan Amri, kakek Bram dan ibu mertuanya. Ada juga yang bersama dirinya.
Astaga! Maria tambah tertegun melihat foto pernikahannya dengan Amri dan foto bersama mereka Arion saat Arion baru lahir, terpajang rapi di dinding ruangan. Maria termenung dan tampak sadar meneteskan air mata.
"Ternyata dia memang kurus dari lahir. Pantas sajavmakan banyak pun tak tambah gendut, ckck," komentar Karina sembari menyentuh foto bayi Arion.
Wajar saja Arion tak pernah menunjukkan foto masa kecilnya dan masa bayinya pada Karina. Malu dan akan habis dibully nanti.
"Mama juga heran Nak. Tapi memang sudah begitu kodratnya. Walaupun kurus begitu, butuh waktu lama untuk menghadirkannya," tutur Maria menghapus air matanya.
"Foto pernikahan kakek Bram dan Nita sederhana sekali. Sepertinya mereka menikah hanya ijab qabul tanpa resepsi," ucap Enji memegang frame foto pernikahan di kakek Bram dan Nita di atas meja kerja kakek Bram.
"Namanya juga kawin lari, eh, tak apalah, yang pentingkan kesahannya dan kehalalannya."
Maria menutup mulutnya saat kelepasan ngomong. Karina terkekeh dan mendaratkan tubuhnya di kursi CEO.
Ia mengeryit heran mendapati meja yang terdapat satupun alat elektonik seperti laptop atau komputer untuk bekerja.
"Begitulah Ayah, Karina. Dia lebih suka tulis tangan daripada mengetik saat mengerjakan pekerjaannya. Tulisan tangan kakek sangatlah rapi. Mama saja sering minder jika tulisan Mama disandingkan dengan tulisan kakek," ujar Maria, menjawab keheranan Karina.
Karina hanya mengangguk samar.
Sementara di ruang meeting, suasana tegang dan panas terjadi sebab ada beberapa orang yang tak setuju dengan pemindahan kekuasaan sementara.
Arion dan Amri hanya saling lirik dan tetap tenang. Agaknya sifat Karina yang kepala dingin menurun pada mereka.
"Lalu siapa yang mau menjadi CEO di sini? Dari nilai saham atas nama kakek saya telah diberikan pada kedua anaknya dan kedua anaknya menyerahkannya pada saya. Dari nilai besarnya perusahaan, Jaya Company lebih mumpuni daripada BWJ Company. Jika saya berikan pada kalian, apa kalian bisa menarik perusahaan ini dari jurang kehancuran. Secara saham perusahaan menurun. Kalian mau untung apa rugi?" tanya Arion pada para pemegang saham yang merasa diri mereka lebih baik dan pantas menjabat sebagai CEO, dengan nada santainya.
"Lagipula saham kalian hanya sekitar 10% ke bawah, mau menuntut apa?" timpal Amri.
Mengeluarkan senyun smirknya. Para pemegang saham yang kontra saling tatap satu sama lain dan saling berdiskusi sebab duduk mereka berderet bukan berhadapan.
"Bagaimana? Tak ada masalah bukan?"
Arion menaikkan alisnya. Tangannya meraih gelas berisi air minum dan menegaknya sekali.
"Baiklah, kami setuju," jawab mereka serempak setelah selesai berdiskusi.
Arion tersenyum lebar, begitupun dengan Amri.
Setelah itu mereka menandatangi surat persetujuan. Notaris kembali mengumpulkan surat dan menyimpannya rapi.
"Baiklah. Terima kasih untuk kerjasama Anda semua. Saya berharap ke depannya perusahaan ini dapat menjadi perusahaan tambang berpengaruh di pasar global. Untuk itu saya minta dan himbau agar Anda bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan loyaritas! Sekian meeting perdana ini, terima kasih!" ucap tegas Arion yang disambut tepukan tangan peserta meeting.
"Kalian beruntung bukan menantu saya yang memimpin meeting," ucap Amri, dengan nada santainya.
Para peserta meeting paham. Akan lebih runyam dan bahaya lagi bagi mereka jika CEO wanita yang terkenal dingin, sadis, dan tak pandang bulu itu memimpin jalannya meeting.
Selepas itu, Arion dan Amri membereskan berkas mereka dan melangkahkan kaki keluar luar meeting menuju ruang presdir.
Sebelum peserta meeting bubar, Notaris menyampaikan beberapa nama yang disuruh ke ruang presdir untuk berbicara langsung dengan Arion.
Mereka di antaranya adalah wakil presdir dan manager keuangan. Dengan wajah keheranan mereka melangkahkan kaki menuju ruang presdir.
__ADS_1
Wakil presdir bermana Ardi dan manager keuangan bernama Yogi. Baru saja beberapa langkah mereka masuk, malah disambut dengan lemparan map, menghantam wajah mereka.
"Mau dihukum dengan cara apa?"
Suara dingin Karina menyapa pendengaran mereka saat mereka menunduk dan mengambil berkas itu.
"Tapi apa kesalahan kami?" tanya Yogi, bingung atau pura-pura gak tahu.
"Kalian pasti sudah tahu sendiri kesalahan kalian. Ck, kakek terlalu percaya pada bawahannya, hingga bawahannya bermain curang pun tidak tahu," cibir Arion, meletakkan kedua tangannya bertumpu pada meja.
Karina, Amri, dan Amri menatap Ardi dan Yogi dengan tatapan menusuk.
Akhirnya Yogi dan Ardi membaca isi map yang berada di tangan mereka kini. Wajah mereka berubah pucat dan pias setelah membacanya.
"Mau mengelak? Sayangnya aku sendiri yang menyelidikinya," sergah Karina melihat Ardi yang ingin membela diri.
"Sudahlah, tak perlu basa basi Yang. Langsung saja. Terserah mau kau apakan, yang penting mereka aman," tukas Arion, malah berhadapan dengan para pengkhianatan.
Penggelapan dana, memberikan dan menjual informasi kepada perusahaan lawan, laporan keuangan yang tak sesuai satu bulan ini, dan setelah diperiksa lebih jauh sudah sering terjadi.
Itulah sederet kejahatan mereka berdua. Mereka hanya bisa bungkam saat Amir dan anggota Oaska menyeret mereka keluar.
Memohon dan meratap pun gak ada artinya, tidak akan digubris dan ditanggapi.
Lima belas menit kemudian, Amir kembali dengan dua anggota. Sedangkan dua anggota lagi disuruh membawa tersangka ke markas Pedang Biru.
"Panggil pria ini kemari," ujar Amri, menunjukkan foto seorang pria yang ditaksir berusia kepala empat.
"Saya Tuan, Nyonya," ucap pria bernama Udin itu seraya menundukkan wajahnya.
"Kau atas jasa dan pengabdianmu pada perusahaan serta kau juga bersih dari sandungan. Kinerjamu juga di atas rata-rata. Oleh sebab itu, kau dihadiahi tanggung jawab sebagai perwakilanku mengawasi dan menjalankan perusahaan ini," ujar tegas Arion.
Udin terperangah dan tak menyangka. Sebelumnya kedudukannya hanyalah manager pemasaran. Ia mengangguk mantap dan menerima tanggung jawabnya dengan sepenuh hati.
"Baik Tuan. Saya akan menjalankan tanggung jawab ini dengan sepenuh hati!" jawab mantap Udin.
"Selamat," ucap Amri dan Karina.
Selepas semua selesai di perusahaan, Karina dan keluarga kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara.
Waktu yang ditempuh menuju bandara hanyalah sekitar 30 menit dengan kecepatan sedang.
"Jaga markas dengan baik. Berlatih dan lakukan misi dengan sepenuh hati. Jangan pernah mencoba untuk berkhianat! Jika tidak, kalian akan merasakan lebih baik mati daripada hidup," pesan Karina pada Amir seraya menepuk bahu Amir.
Amir mengangguk mantap. Diikuti anggukan kepala anggota yang ikut dengannya.
"Selamat jalan Queen and family of Wijaya," ucap mereka melambaikan tangan saat Karina dan keluarga menaiki tangga pesawat.
Karina dan keluarga membalas lambaian tangan tersebut. Pintu pesawat tertutup dan segera lepas landas menuju negara K.
Di dalam pesawat Karina dan Arion kompak bekerja. Dengan laptop di depan mata mereka dengan serius mengerjakan pekerjaan mereka.
Amri lebih memilih membaca buku yang disajikan sembari menemani Maria yang bermain dengan Alia.
Bayu mengecek tugas sekolahnya yang sudah menumpuk karena kelamaan cuti sendiri.
Enji menemani Bayu belajar dan menyambi dengan mengerjakan tugasnya yang berprofesi sebagai CEO dari perusahaan yang dirintisnya sejak lima tahun silam.
***
Setelah satu jam setengah perjalanan mereka mendarat kembali di negara K. Langsung saja mereka menuju kediaman Darwis, Rian, dan Satya.
Sesampainya di depan kediaman Trio Tampan, Karina menunjukkan wajahnya pada penjaga gerbang. Sontak saja gerbang langsung terbuka lebar. Rumah berlantai dua dengan gaya modern terpampang di depan mata.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu, hanya memasukan sandi dilayar sebelah kanan pintu. Karina dan keluarga masuk. Karina melenggang santai dan menuju dapur.
Sedangkan keluarganya duduk di ruang tengah. Bayu dengan santai meraih kue kering yang diletakkan di toples dan memakannya.
Di dapur ada beberapa pelayan yang sedang mengistirahatkan tubuh mereka.
"Eh? Ada siapa?" tanya waspada salah seorang dari mereka.
"Mana Darwis, Satya, Rian, dan Joya?" tanya Karina dingin seraya membuka kulkas dan mencari minuman dingin.
Mata para pelayan tersebut meneliti Karina dan mencari siapa Karina sebenarnya.
"Aih, maafkan kami Nona. Kami tak mengenali Nona," ujar mereka, berlutut di samping Karina dengan serentak.
Karina hanya mengangguk santai. Tangannya memegang kaleng minuman dingin.
"Di mana mereka?"
Karina mengulang pertanyaannya.
"Kalau Tuan Darwis dan Nyonya Joya berada di kamar. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit sekitar dua jam lalu. Sedangkan Tuan Satya dan Tuan Rian sedang dinas luar negeri, Nona," terang salah seorang pelayan.
"Hm, apa Joya suka makan es krim? Banyak sekali es krim di lemari ini," tanya Karina penasaran dan mengambil satu yang berbentuk cone rasa choco melt.
"Iya. Nyonya Joya suka sekali dengan es krim. Dia akan ngambek jika stok es krim di frezer habis," jawab pelayan.
Karina mengangguk.
"Baiklah. Sana layani suami dan keluargaku," ucap Karina memerintah dan melenggang menuju anak tangga seraya menjilati es krimnya.
"Mau ke mana, Yang?" tanya Arion, melihat Karina yang menaiki anak tangga.
Karina berbalik sambil terus menikmati es krimnya.
"Ke atas, lihat Joya dan Darwis," jawab Karina.
"Baiklah."
Arion berkata dengan menatap lekat es krim Karina. Entah mengapa ia merasa gerah dengan itu. Ada yang membara dalam tubuhnya.
Wajahnya bersemu merah. Membuat Maria dan Amri mengeryit khawatir. Karina melanjutkan langkahnya yang tertunda. Sedangkan Arion membuka bajunya dan menyisahkan single putih.
"Ar, kamu demam apa kepanasan?" tanya Maria khawatir dan memeriksa dahi Arion.
Arion diam saja tak menjawab dan mencoba menghentikan pikiran liarnya.
"Kepanasan? Orang full AC begini. Yang ada dia kepanasan lihat Karina makan es krim."
Amri akhirnya paham maksud Arion. Arion meliriknya dan mencari remote AC untuk menambah hawa dingin.
"Jangan tambah lagi. Sana cari kamar mandi, mandi atau apa. Ckckck ... kasihan kamu, Nak," suruh Maria.
"Ehm, baiklah," sahut Arion, bergegas mencari kamar mandi.
Namun pusing muter-muter dan kini ia berada di tepi kolam renang. Terlihat Bayu dan Enji tiduran santai di kursi santai yang berada di sisi berlainan dari posisi Arion
Dengan cepat Arion melemparkan baju yang ia sampirkan di bahu dan melepaskan celana panjangnya menyisahkan celana pendeknya di atas lurut. Dan byur.
Arion terjun bebas berenang di kolam renang. Bayu dan Enji kaget dan sangking kagetnya mereka ikut nyebur ke dalam kolam. Menyelam beberapa detik, Arion muncul di permukaan air.
"Kakak! Kau membuat kamu basah kuyup!" pekik kesal Bayu, berenang dan naik.
Sedangkan Enji, dia mah berenang santuy, kepalang tanggung sudah basah kuyup.
"Bodo' amat!" sahut Arion, lanjut berenang.
__ADS_1
Wahai pikiran liar dan hasrat yang belum tersalurkan, tenanglah dulu. Belum ada lampu hijau, masih lampu merah. Uh, mengapa juga aku harus berpikir ke arah sana melihat Karina makan es krim, runtuk Arion dalam hati.