Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 136


__ADS_3

***


Karina dengan hati gundah gulanah memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju jalan Aksara. Dua puluh menit kemudian Karina menghentikan mobilnya. Belum sampai tujuan, jalan mobilnya terhalang macet. Kecelakaan menyebabkan macet lumayan panjang, sekitar satu kilometeran. 


Karina memukul kemudi mobil kesal. Dengan cepat Karina membawa menyambar handphonenya dan keluar dari mobil. Karina menatap kemacetan di depannya. Mobil saling berhimpit ingin melaju di tengah jarak yang cuma sejengkal. Para pesepeda motor pun tak mau kalah, ada cela sedikit saja langsung bablas.


"Nona, kita gunakan saja Miu," teriak Pak Anton ngos-ngosan. Ia juga terjebak macet. Keluar dari mobil menyusul Karina. Miu tentu saja ikut keluar. 


Pak Anton mendesah nafas kasar. Pasti Karina juga terjebak macet. Miu Pak Anton gunakan  sebagai pembuka jalan, para sepeda motor yang menghalangi jalan memberi rongga untuk Pak Anton. 


Karina tanpa ragu mengangguk. Miu segera menunjukkan aksinya. Membuka jalan dengan mengeram. Orang-orang yang melihat itu sontak minggir serta ketakutan. Rasa kesal akibat macet menjadi ngeri melihat Miu. 


"Kyai, hewan buas dari mana ini?"pekik seseorang dari mereka.


"Jika tak mau celaka, maka menyingkirlah," ucap Karina datar.


"Hei Nona, bukan kau saja yang mau cepat, tetapi caramu unik juga ya, dia milikmu?"sahut pria berusia sekitar 35 tahunan, mengendarai motor matic keluaran terbaru. Menatap sinis Karina. 


"Bukan urusanmu, minggir kau!"ketus Karina. Miu mengambil ancang-ancang hendak menyerang. Pria itu akhirnya mengalah, kalah dengan tatapan dingin Karina dan Miu.


Karina langsung lari, Miu semakin gencar membuka jalan.


"Pa, Ma, itu kan kakaknya Bayu," ujar Lia pada orang tuanya. Mereka juga terjebak macet. Lestari dan Erick mengikuti arah pandang Lia. Karina berlari dengan wajah gelisah. 


"Iya Pa, benar itu Nyonya Karina,"  ujar Lestari.


"Tapi mengapa lari terburu-buru menerjang macet? Biasanya wajahnya datar dan dingin. Ini kok gelisah gitu," heran Erick.


"Iya Pa, atau jangan-jangan kecelakaan ini ada hubungannya dengan Nyonya Karina," tutur Lestari.


"Semoga saja bukan seperti yang kita pikirkan," ucap Erick.


Lestari dan Lia mengangguk menyetujui. Mereka menunggu kemacetan mereda dan mereka bisa melaju.


***


Karina membeku melihat mobil pribadi bermerk BMW itu ringsek parah di pinggir jalan. Garis polisi memegarinya. Tak jauh dari mobil itu, sebuah truck beroda sepuluh terguling dengan barang bawaan yang berserakan. 


Ternyata truck itu membawa gelas dan makanan ringan. Posisinya tepat di tengah persimpangan. Memblokir jalan masuk dan keluar. Mobil derek dan alat yang membantu untuk menyingkirkan truck agar lalu lintas kembali lancar mulai bekerja. 


 


Pihak yang berwajib melakukan penyelidikan bagaimana kronologi kecelakaan. Miu menerobos masuk. 


"Ada hewan buas," pekik salah seorang polisi menyiagakan pistolnya.


Polisi lainnya menoleh ke arah sumber suara dan melihat Miu yang menyusuri keseluruhan mobil minibus itu.


"Jangan tembak, dia milikku," ucap Karina  Karina mendekati mobil itu untuk memastikan. 


Para polisi itu mengeryit. 


"Dilarang masuk. Lebih baik Anda menjauh. Hewan buas ini harus segera dibereskan," pekik dari mereka yang Karina nilai adalah pimpinannya. Karina tersenyum miring.


"Kau tak bisa melarangku," sahut Karina tetap melangkah. 


"Mohon jangan ditahan, beliau ingin memastikan siapa yang kecelakaan," ujar Pak Anton yang menjelaskan dengan nafas tersenggal. Kalah cepat dengan Karina dalam urusan lari.


"Yang kecelakaan adalah CEO dari Jaya Company," sahut pimpinan polisi itu.


"Apa?" teriak Karina yang mendengarnya.


"Katakan sekali lagi," titah Karina. Pimpinan itu mengeryit, berani sekali wanita di hadapannya ini memerintahnya.


"Nona, bersabarlah," tutur Pak Anton yang masih kaget dengan siapa yang terkena musibah. 


Jantung Karina berdebar kencang. Air matanya luruh, bersamaan dengan itu rintik air langit mulai menyapa bumi lagi. Pikiran negatif menghampirinya, kondisi mobil rusak parah, bagaimana dengan kondisi korban? 


Miu yang telah selesai menggeledah mobil itu keluar dengan sebucket mawar putih yang sudah tak berbentuk lagi, kelopaknya banyak yang berlepasan, ada noda darah di atas kelopak yang masih melekat. Karina menerimanya dengan perasaan semakin gelisah.

__ADS_1


Tenang Karina, bukan saatnya menangis, batin Karina menyeka air matanya.


"Di mana mereka sekarang?" tanya Karina, dengan nada bergetar memegang erat bucket mawar putih itu.


"Mereka kami kirim ke Tirta Hospital. Mungkin sekarang dalam penanganan dokter," jelas pimpinan itu. Para anggotanya bubar melanjutkan tugas kembali di tengah hujan ringan.


Pimpinan itu baru mengenali Karina kala Pak Anton menjelaskan siapa Karina. 


"Turut berduka cita, Nyonya," tuturnya melepas topi kebanggaannya dan menundukkan kepalanya tanda turut bersedih.


Karina menatap tajam pimpinan itu. 


"Karina kita menyusul ke rumah sakit saja," ucap seseorang memayungi Karina. Karina menoleh ke arah orang itu. Itu adalah Li dan Gerry. 


Karina mengangguk. Li dan Gerry membawa Karina menuju helikopter yang mereka gunakan tadi. Li dan Gerry yang kaget melihat berita kecelakaan langsung menuju lokasi kejadian, dan perkiraan mereka benar.


Helikopter segera lepas landas. Hal itu juga menimbulkan kehebohan. Para polisi yang bertugas secepat mungkin membersihkan jalanan.


***


Tatapan mata Karina kosong. Dia duduk di bangku rumah sakit. Li dan Gerry duduk agak menjauh dari Karina. Amri dan Maria pun sudah tiba di sana. Amri mondar-mandir di depan ruang operasi, wajahnya cemas tak terhingga. Sedangkan Maria duduk di samping Karina dan merangkulnya.


"Ma …," panggil Karina lirik nyaris tak terdengar.


"Hm," gumam Maria memejamkan matanya. Betapa kagetnya ia mendengar berita anaknya kecelakaan. Terbayang lagi kejadian waktu Arion dulu, semoga saja putranya tidak koma seperti dulu.


"Tenanglah Sayang, Arion pasti baik-baik saja," ujar Maria berusaha memberikan rasa tenang, walaupun hatinya tak tenang.


Karina mengangguk dan mengelus perut datarnya. Karina melirik bucket mawar yang ia letakkan di sampingnya. 


Kau harus selamat dan melewati semuanya. Rio, kau harus bisa, demi aku, anak kita dan orang-orang yang menyayangimu, batin Karina menatap lekat pintu ruangan operasi. Lampu merah menyala menandakan operasi masih berlangsung.  Sudah lebih satu jam mereka menunggu. Kabar tak kunjung datang. 


"Bagaimana keadaan Arion?"tanya Sam dan Calvin yang baru tiba, mereka baru saja kembali dari negara A setelah berlibur dari hari Sabtu sampai Minggu. Di belakang mereka dan istri mereka yang menunjukkan raut cemas. Cemas akan Arion dan Karina. Rencananya mereka memang kembali hari ini, di saat turun dari pesawat bukannya sambutan bahagia atas kembalinya mereka dari honeymoon, malah kabar duka dari sahabat mereka.


"Arion masih di dalam," jawab Amri. Sam dan Calvin memberikan pelukan penyemangat. Lila dan Raina menghampiri Karina. 


"Kakak, jangan sedih," ujar Lila, berusaha sekuat tenaga menahan laju air mata melihat Karina yang kacau. 


Karina mengangguk. Karina diikuti Maria dan Amri serta Lila dan Raina menuju masjid rumah sakit. Berjalan dengan langkah penuh harap. Sam dan Calvin tinggal, menunggu di depan pintu operasi.


"Vin, seperti ada yang kurang," ucap Sam.


"Iya sih, tapi apa ya?"sahut Calvin.


"Arion kan pergi sama Ferry, otomatis pulang juga sama Ferry, Arion kecelakaan, Ferry juga dong," ujar Sam mengingat.


"Astaga! Ferry!"pekik Sam dan Calvin. Sam mengacak-acak rambutnya.


"Tuan, bagaimana keadaan tuan Arion dan Ferry?" tanya seorang wanita dengan raut wajah tak kalah cemas dari Sam dan Lila tadi.


"Siska?" kaget Sam.


"Hm, Arion berada di dalam sedangkan Ferry, kami belum tahu di ruangan mana dia sekarang," jelas Calvin dengan nada bersalah. Siska mendengus kesal.


"Bodoh!" desis Siska.


"Apa kau kata?" tanya Sam kesal.


"Tak ada!" jawab Siska. 


"Ah, sus, korban kecelakaan yang di jalan Aksara di ruangan mana ya?" tanya Siska pada suster yang lewat.


"Satu pasien di ruangan ini, dan satu lagi di ruangan sebelahnya," jawabnya ramah.


"Terima kasih," ujar Siska segera menuju ruangan yang disebutkan suster tersebut.


Suster itu mengangguk dan segera berlalu. 


Aih, masih operasi, batin Siska. Siska duduk di bangku tunggu dengan menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Berdoa dan berharap operasi segera berakhir dan selamat.

__ADS_1


***


Di dalam ruang operasi, Arion hampir selesai ditangani oleh dokter, kondisi tak separah Ferry. Hanya cedera di beberapa bagian. Namun, yang parah adalah bagian matanya. Serpihan kaca masuk ke kedua netranya. Tak berapa lama kemudian, dokter dan perawat yang terlibat menghembuskan nafas lega. 


Dokter segera keluar. Masih lengkap dengan baju operasinya.


"Bagaimana keadaan anak kami?"tanya Amri langsung bangkit dari duduknya. Sang dokter membuka maskernya.


"Operasinya berhasil, tuan Arion akan dipindahkan ke ruang rawat. Kami akan terus memantau kondisi beliau," jelas sang dokter. 


Tulang rusuk patah, tangan kanan juga patah ditambah cedera mata, itulah yang Arion alami. Semuanya bernafas lega. Tak ada kata koma dari dokter, berarti dalam waktu dekat Arion akan sadar.


***


Satu jam kemudian, lampu operasi Ferry berubah menjadi hijau. Siska yang sudah ditemani Lila dan Raina berdiri dan mendekati pintu.


"Keluarga pasien?" tanya dokter yang menangani  Ferry.


"Saya kekasihnya dok," jawab Siska.


"Kekasih? Bagaimana dengan keluar pasien?" tanya dokter.


"Keluarga Ferry tinggal di luar negeri dong, kemungkinan besok baru tiba," jelas Siska.


Dokter itu mengangguk. 


"Bagaimana kondisinya?" tanya Lila.


"Tuan Ferry mengalami benturan yang keras di bagian kepala, selain itu ada serpihan kaca yang masuk ke dadanya. Tenang kami sudah mengambilnya. Dan terakhir kaki kanan beliau patah," jelas dokter.


"Jadi?" tanya Raina tak sabar. Sedangkan Siska sudah lemas kaki, bersandar pada Lila. 


"Beliau koma," jawab dokter sedih melepas topi operasinya.


"Koma? Astaga," pekik Lila sedih.


Dokter mengangguk. Raina, Lila dan Siska menyingkir kala brangkar yang membawa Ferry yang sudah selesai operasi menuju ruang rawat. Kepala diperban adalah hal yang paling jelas. Jarum infus dan oksigen melekat pada Ferry.


"Ferry," panggil Siska tertahan.


"Kak, dia koma," ucap Siska.


"Sabar Sis, dia koma bukan tiada, masih ada harapan," ujar Raina memeluk Siska. 


Raina, Lila dan Siska kemudian mengikuti kemana Ferry akan dirawat. Ferry dimasukkan ke ruangan VVIP atas perintah Karina. 


***


Li dan Gerry sudah pulang saat kedatangan Sam dan lainnya. Merasa Karina sudah banyak yang menemani, mereka memutuskan pulang untuk melanjutkan pekerjaan, terutama Li yang akan menikah besok. Sepertinya besok hanya nikah saja di KUA, tak ada resepsi setelah. Jika ada pun, itu setelah Arion sembuh total. Barulah resepsi sederhana di markas digelar.


"Ma, Pa Karina melihat Ferry dulu ya," ujar Karina menoleh pada Maria dan Amri yang duduk di sofa. Karina duduk di samping brangkar Arion yang sudah pindah ruang rawat. Pastinya ya ruang VVIP. 


Arion masih belum sadar, perban menempel menutupi luka di dahinya, sedangkan bagian tangan kanan diberi pen. 


"Ya sudah," jawab Amri.


Karina mengecup tangan kanan Arion sebelum berdiri. Sam dan Calvin ikut Karina. Ruangan Ferry bersebelahan dengan ruangan Arion. 


Karina membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk. Siska, Lila dan Raina menoleh. 


Siska tanpa ragu menghembur ke pelukan Karina. 


"Kakak," tangis Siska. Usia Siska baru menginjak 21 tahun, wajar saja memanggil Karina dan lainnya kakak. Siska memeluk Karina erat menumpahkan kesedihannya. Karina dengan lembut mengusap punggung Siska.


"Sabar Sis," ujar Karina. 


"Dia koma?" terka Karina menatap Lila dan Raina yang sudah berada dalam rangkulan suami mereka.


"Ya," jawab Raina.

__ADS_1


"Minumlah dulu, jangan air mata saja yang kau keluarkan, mana anggotaku yang tegar bak terumbu karang?" tanya Karina. Siska melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Berhenti menangis tetapi masih senggugukan. Siska menerima air dalam botol yang Karina berikan. Meminumnya hingga tandas.


__ADS_2