Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 143


__ADS_3

Setelah acara nostalgia singkat di mobil, kini Karina dan Arion menuju ruang pertemuan. Elina juga ikut dalam rapat ini. Li dan Gerry standbay setelah mendapat titah Karina. Rian dan Satya segera mungkin ke markas setelah mendapat kode waktu Karina melangkah keluar rumah Argantara.


Kini mereka semua duduk setengah lingkaran dan saling lirik satu sama lain kecuali Karina yang fokus ke depan.


"Sudah menghubungi para agen itu?" tanya Karina. Li, Gerry, Rian dan Satya menggeleng.


"Kami tak punya akses," jawab Gerry. Karina berdecak sebab.


Mengambil laptopnya dan membuka sistem serta menyambung ke sistem agen dunia. Karina memang punya hak khusus untuk mengakses hak itu sebab atas jasanya membantu para agen menangkap buruan mereka. Pedang Biru dan agen dunia itu bisa dibilang join dan satu jalan.


[Hai semua]


Karina menyapa para agen.


[Hai Queen]


[Hai Queen lama tak bersua dirimu, apa kabar?]


[Dari mana saja dirimu? Kami menanti lama kau online]


[Kami ada kabar baru. Tapi tak bisa tersampaikan padamu]


[Hai Queenku, kami butuh bantuan*]


[Tahanan yang menculikmu dulu kabur, tua bangka itu masih kuat saja tenaga dan otaknya]


[Hati-hati, pasti dia mengincarmu]


Karina tersenyum tipis membalasnya.


[Aku baik, maaf lama tak hadir, aku sangat oh tidak terlalu sibuk. Kabarku baik, kalian?]


Balas Karina.


[Kami baik]


Para agen menjawab bulat dua kata.


[Mengapa kalian tak melakukan pergerakan?]


Tanya Karina serius.


[Hei Queen, kami melakukan pergerakan namun rahasia agar pihak luar tak tahu dan tak akan menimbulkan keresahan dan kekhawatiran. Kami sudah menyebar memburunya secara diam]


[Kau tahu dia hilang jejak bak ditelan bumi, tiga bulan sudah kami mencari namun tak ada jejak. Kau tahu sesuatu Queen?]


Karina menghela nafas kasar. 


[Mereka terlihat seminggu yang lalu di kotaku. Mereka membuat suamiku celaka. Dia membuat suamiku buta, kita cari mereka bersama]


Karina mengetik cepat. Para bawahan Karina saling lempar pandang melihat tatapan serius pada layar laptop itu.


Cukup lama Karina saling berbalas pesan.  Karina kadang mengeryit membaca pesan balasan para agen. Lucu rasanya jika mengobrol begini. 


[Baiklah. Aku akan segera menyebar orangku]


Balas Karina yang diiyakan para agen.


***


"Li kirim tim untuk mencari dan menyelidi mereka. Pasti mereka masih berkeliaran di sekitar kota. Ingat tanda mereka bukan hanya di telinga tetapi juga di pinggung, cari dan telusuri dengan cermat dan teliti," titah Karina.


"Baik," jawab Li.


"Elina aku bisa mengerahkan orangmu untuk ikut bergabung dengan timku? Kelompok kalian adalah informan yang mumpuni," tanya Karina.


"Tentu, pasukanku adalah pasukanmu," jawab Elina mantap. 


"Rian dan Satya, sebar robor nyamuk ke penjuru kota. Lakukan hal yang sama pada kota lain di negara ini. Kerahkan juga robot yang ada di markas cabang, dalam 24 jam berikan laporannya," titah Karina. Rian dan Satya mengangguk.


"Lantas saya kerja apa?" tanya Gerry.


"Rebahan sama kucing di sel," jawab Karina.


"Serius?" tanya Gerry.


"Ya enggaklah. Kau terlalu tampan untuk main dengan mereka. Tugasmu Kak Gerry adalah bekerja bersama kak Li seperti biasa. Masa gitu saja nanyak, pikun ya? Atau nelangsa bingung mau nikah dan meluk siapa? Tuh peluk dua jomblo di sampingmu," jawab Karina.


"Kau bisa saja," malu Gerry memegang tengkuknya.

__ADS_1


Karina tersenyum lebar. Tangannya terangkat mengintruksikan segera laksanakan perintah. Li, Gerry, Rian, Satya dan Elina mengangguk dan segera keluar beraturan.


"Sayang." Barulah Arion bersuara ketika merasa semua keluar meninggalkan Karina dan dia seorang.


"Ya," jawab Arion.


"Aku lapar," ucap Arion. Karina mengerjapkan matanya. Suara dendangan perut menyapa pendengarannya. Siapa lagi kalau bukan perut lambung seribu dan perut suaminya.


Karina segera menggandeng lengan kiri Arion dan beranjak menuju lantai pribadinya.


Sebenarnya bukan lapar yang mau Arion katakan, akan tetapi hakikat perut tak berisi minta diisi membuat apa yang ada di kepala hilang, maka kata laparlah yang terucap.


Lapar pangkal emosi, kenyang waktunya rebahan. Hmm … lapar, otak membagi jalan, antara berfikir dan rasa perut melilit minta diisi, membuat emosi naik seketika ketika ada yang mengganggu. Akhirnya rasa laparlah yang menang, isi dulu perutnya baru lanjut lagi aktivitasnya. Setelah itu barulah perut kenyang, hati senang kerjaan lancar, eits, lancar apa rebahan?


***


Aneka sajian terhidang di depan Karina dn Arion. Arion hanya bisa mencium aroma kenikmatan hidangan yang menggugah selerahnya.


Karina dengan telaten menyuapi Arion, sekaligus menyuapi dirinya sendiri. 


"Sayang aku mau jenguk Ferry," akhirnya ucapan sebenarnya terucapkan.


"Hm, habis ini?" tanya Karina.


"Ya," jawab Arion.


"Oke, kita ke rumah sakit," ujar Karina.


Mereka beranjak, memasuki lift dan turun ke lantai bawah, memasuki mobil dan melaju bebas di jalanan.


***


"Darwis, sudah ya, kita mau resepsi. Belum mau bersiap lagi, banyak keluar keringat nih aku," pinta Joya memelas kala Darwis masih menjalankan kewajiban suami secara batin.


"Bentar," sahut Darwis. Joya mendengus kesal. Seharusnya ia tak cemburu tadi. Karina lepas, dia yang diajak perang.


Lima belas menit kemudian, Darwis mengakhiri kegiatannya. Beranjak dan mengecup kening Joya. 


"Aku mandi duluan," ujar Darwis.


"Hm," gumam Joya mengumpulkan tenaga sembari menunggu Darwis selesai mandi.


Suara ketukan pintu membuat Darwis menatap pintu. Seraya mengancingkan kancing kemejanya ia berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Tuan, apa Nona sudah bersiap? Kami akan membantunya kembali berhias," ucap salah seorang dari penata rias yang mereka sewa.


"Ya dia sedang mandi mungkin sebentar lagi selesai," jawab Darwis datar. Penata rias yang berjumlah tiga orang itu mengangguk.


"Jika begitu kami akan membantu Tuan lebih dulu," ujar penata yang memakai kacamata.


"Oke," sahut Darwis datar, singkat tak banyak mulut.


Penata rias itu masuk mengikuti Darwis. Darwis duduk pada meja rias, penata rias membantunya tampil menawan untuk resepsi. Jas senada dengan gaun putih Joya ia kenakan, dasi kupu-kupu melekat di leher menyatu dengan kemeja. Satu tangkai bunga mawar segar berada di dalam saku jasnya. Jam tangan mewah hadiah ulang tahunnya sebulan lalu dari Karina melekat indah di tangan.


Joya  keluar dengan handuk kimononya. Para penata menatapnya dengan senyum dan membuat Joya mengeryit. Terlihat Darwis sudah tampil menawan.


"Wis?" panggil Joya.


"Ya?" sahut Darwis.


"Enggak papa," jawab Joya linglung.


"Aku keluar dulu ya, gabung sama Papa," ujar Darwis.


"Oke," sahut Joya. Darwis melangkahkan kakinya keluar menuju lantai bawah menemui mertuanya. Terlihat tamu mulai berdatangan.


Darwis menghampiri ayah mertuanya dan berbincang. Tentu saja Reza dengan hati senang dan bangga memperkenalkan Darwis sebagai menantunya.


Tunggu saja hadiah setelah malam ini, ayah mertuaku tercinta, batin sinis Darwis.


***


Sore yang indah, langit cerah tak berawan. Suara nyanyian burung di pepohonan menambah suasana nyaman bagi Karina. 


"Karina kamu sedang apa?" tanya Arion. Ia dibantu Miu dan tongkat berada di daun pintu samping rumah yang menghadap ke kebun buah musiman. Karina duduk di bangku di bawah buah yang sedang lebat berbuah, mulai dari mangga, rambutan, manggis dan lainnya. 


Karina yang tengah menikmati rujak buah untuk menghilangkan rasa pahit di lidahnya menoleh.


"Ngerujak," jawab Karina. Arion melangkah dengan hati-hati. Karina menghampiri Arion dan membimbingnya.

__ADS_1


"Kamu ngidam?" Raut wajah Arion sedih. Di saat istrinya ingin sesuatu, dirinya tak dapat memenuhi. 


Haih, pendonorku di mana kah kau berada, cepatlah muncul, batin Arion.


"Enggak," jawab Karina mendudukan Arion di bangku di hadapannya. Karina kembali duduk di bangkunya tadi. Mencocol mangga muda dengan bumbu rujak dan menyuapkannya ke Arion. Arion menyantapnya dengan perlahan. Rasa asam langsung menyeruak memenuhi rongga mulutnya. Matanya terpejam menikmati sensasi mangga muda tersebut.


"Gimana? Enak?" tanya Karina penasaran. Untuk dia sih enak, inilah salah satu cara Karina saat lidahnya pahit atau merasa gelisah dan stress, merangsang mood kembali melalui asamnya mangga muda.


"Asam, pedas, enak juga. Lebih enak dari belimbing wuluh yang dulu," jawab Arion.


"Hehehe … kamu mau nyoba lagi belimbing wuluhnya? Kalau mau biar ku ambil," tanya Karina. Arion sontak menggeleng.


"Mangga saja," pinta Arion. Karina kembali mencocol irisan mangga muda dengan sambalnya dan menyuapkan kepada Arion.


"Grmm …," geraman Miu membuat Karina melihat ke bawah. Miu duduk dengan mata menatap Karina, serta lidah yang menjulur keluar.


"Kau mau?" tanya Karina. Goyangan ekor sebagai jawaban iya.


Miu mengambil piring plastik kecil berwarna pink untuk sekali pakai, meletakkan beberapa iris mangga muda disiram bumbunya dan meletakkannya di depan Miu. Miu menunduk dan mengendusnya. Menjulurkan lidahnya mengecap rasa. 


Lama-lama kok enak? Coba ah, batin Miu mulai melahap seiris mangga muda.


Mengguyah dengan giginya dan langsung telan setelah terpotong beberapa bagian.


Miu menatap kesal Karina dan Arion. Karina terkekeh. Arion tersenyum mendengar kekehan Karina. Dari nadanya, nada senang. Pasti habis menjahili Miu.


Busyet, asam kayak empedu gitu dibilang enak? Malah pedas level berapa tuh? Enakkan juga tulang rusa untuk aku celimin. Lidah dan selera manusia memang aneh, kesal Miu.


Rasa empedu asamnya? Sepertinya pahit. Miu lidahmu bermasalah ya?


"Sudah jangan kesal. Minta sana sama Naina ikan untukmu. Kalau mau tangkap sendir masuk sana ke kolam piranha," suruh Karina. Miu semakin menunjukkan wajah kesalnya.


Ya ada aku yang dimakan, majikan ku memang aneh, nyari Naina saja lah, ikan goreng aku datang, batin Miu berbalik dan pergi.


"Sayang kamu sudah mengirim hadiahnya?"tanya Arion.


"Hm, sudah langsung ke kamar lagi," jawab Karina.


"Ke kamar? Bagaimana caranya?"heran Arion.


"Rahasia," jawab Karina. Arion mengerucutkan bibirnya. Hadiah yang Karina kirimkan adalah sebuah lukisan namun mampu membuat pecah dan gempar keluarga Argantara.


"Ferry cepatlah sadar. Kasihan Siska," gumam Arion mengingat dan mendengar kondisi Ferry kala mereka ke rumah sakit tadi. Kondisi masih sama tak ada kenaikan maupun penurunan.


"Bersabar saja," ujar Karina.


"Andainya aku koma kamu akan lakuin hal sama seperti Siska?"tanya Arion tiba-tiba.


Karina mengeryit. 


"Mungkin," jawab Karina. Arion menghela nafas. Mungkin, jawaban yang ambigu. 


Karina menangkap wajah sedih Arion. Moodnya telah kembali. Karina memegang tangan Arion.


"Bercanda. Pasti aku akan lakukan hal yang sama dan bisa lebih gila lagi dari Siska," ujar Karina. 


"Kau membullyku lagi," keluh Arion.


"Habisnya kau sangat mudah ku bully," jawab Karina santai.


"Hanya padamu, Sayangku," balas Arion.


"Ya jika orang lain, ia akan ku bully puluhan kali lebih sadis," sahut Karina. Arion tersenyum lebar.


Tring.


Dering notifikasi handphone Karina. Karina membukanya dan membaca pesan tersebut.


Mereka ada di utara, tetapi hanya singgah, apa kami lancarkan serangan?


Tidak! Temukan tempat mereka yang sesungguhnya. Jika mau serangan harus semua dan seinduknya. Jangan hanya sebagian.


Baik.


"Ar, masuk yuk bentar lagi Magrib," ajak Karina.


"Oke." Arion berdiri dan berjalan dibantu Karina. Memasuki rumah dan bersiap melaksanakan kewajiban.


***

__ADS_1


__ADS_2