Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 200


__ADS_3

Karina dan Arion baru saja tiba di mansion seusai bersepeda mengelilingi kompleks perumahan. Waktu menunjukkan pukul 07.30. 


Karina dan Arion memarkirkan sepeda mereka di depan garasi. Arion mengambil handuk dan air minum untuk Karina. Dengan telaten Arion mengelap keringat yang keluar membasahi wajah Karina.


Namun, seusai keringatnya dilap, Karina malah menyiramkan air minum tersebut ke wajahnya.


"Segarnya," ucap Karina, seraya mengusap wajahnya.


Karina melihat wajah Arion yang menatapnya heran. Ide jahil tersirat dan ….


Byurr!


Karina menyiramkan sisa air di botol ke wajah Arion. 


"Yak ah, Karina?!" kesal Arion, mengusap kasar wajahnya.


Karina malah tertawa dan berlari kecil masuk ke dalam mansion.


"Eh, jangan lari, awas jatuh!" seru Arion, mengejar Karina dengan perasaan was-was.


"Hahaha," tawa Karina, menggema di ruangan tengah.


Karina menjulurkan lidahnya meledek Arion.


Arion berusaha menangkap Karina, layaknya kucing dan tikus. 


"Sayang stop! Kamu bisa terjatuh!" pinta Arion.


"Nggak sebelum kamu menangkapku," sahut Karina, terus menghindari jangkauan tangan Arion.


Arion mendengus dan lebih serius lagi agar ini cepat selesai.


"Hei?! Apa-apaan ini? Karina, Arion? Sadar sudah dewasa loh," tegur Amri yang berada di pertengahan anak tangga.


"Iya nih, Karina kamu lagi hamil loh," tambah Maria seraya menggelengkan kepalanya.


Karina dan Arion otomatis berhenti bermain dan melihat ke arah sumber suara. Keduanya lantas terkekeh dan menggaruk kepala mereka yang gatal.


"Kalau nanti kamu jatuh gimana? Kamu juga Ar, malah dituruti!" omel Maria. 


"Maaf Ma," ucap Arion, disusul oleh kata maaf dari Karina.


Amri dan Maria menghela nafas dan tersenyum.


"Ya sudah, lain kali jangan diulangi. Sudah cepat sana bersiap. Kita sarapan setelah itu ke rumah alm. Kakek," ujar Amri, tegas. 


Karina dan Arion mengangguk dan bersamaan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.


"Gara-gara kamu sih, kena omel kan kita," sungut Arion.


Karina menaikkan satu alisnya.


"Ya kenapa kamu juga turuti ajakan aku?" sahut Karina ketus.


"Ya kalau nggak aku ikuti kamu bisa ngambek, mood kamu jadi jelek nanti, bisa gawat diriku ini," jawab Arion.


"Hm, terserah deh, aku mandi duluan," ucap Karina, melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi saat tiba di kamar.


Belum sempat Karina mengunci pintu, Arion menahannya dengan satu tangan.


"Apa?" tanya Karina, menunjukkan kepalanya saja.


"Mandi bareng," jawab Arion.


"Malas, nanti kamu aneh-aneh lagi," sahut Karina, menunjukkan wajah curiganya.


"Nggak akan, sebelum kita konsultasi sama dokter Mira," ucap Arion, meyakinkan.


Karina berpikir sejenak dan melihat tatapan memelas dari Arion.

__ADS_1


"Tetap tidak, nanti kalau adik kamu bangun kamu pasti minta aku tanggung jawab!" tegas Karina, menggunakan tenaganya dan menutup dan mengunci pintu.


Arion berdecak sebal sebab gagal lagi.


Huft, harus segera kembali ke rumah setelah urusan di sini selesai. Semoga saja dokter Mira bilang iya, ehm, atau aku kerja sama saja sama dokter Mira? Ah gak perlu lah, aku yakin pasti boleh, pikir Arion, menuju lemari dan memilih pakaian untuk dirinya dan Karina. 


Selepas Karina selesai mandi, Arion langsung otw mandi. Selesai berpakaian, Karina meraih handphonenya dan mencari nomor kontak Darwis. Karina melangkah menuju balkon kamar dan menikmati keindahan taman depan mansion.


"Apa yang ingin kau sampaikan kemarin Wis?" tanya Karina datar. Ia baru ingat tadi saat di kamar mandi. Karina meruntuk kesal sebab mengaktifkan mode diam pada handphonenya.


"Aku ingin curhat. Joya, dia ditimpa musibah," jawab Darwis, dengan nada lirik.


"Oh, musibah apa?" tanya Karina datar, seolah masalah biasa.


"Tumor ganas, Glioma cerebri. Joya tervonis mengidap penyakit tersebut. Aku khawatir sekali dengannya dan anak kami. Terlebih Joya memutuskan tetap mempertahankan anak kami. Padahal itu akan semakin membuatnya lebih rentan," jelas Darwis.


Tak bisa lagi menahan tangisnya. Darwis terdengar terisak.


Karina mengeryit. Ia pun turut merasakan kesedihan Darwis dan prihatin dengan kondisi sepupunya. Karina kira setelah masalahnya dan Joya selesai, Joya akan bahagia dan baik-baik saja.


Akan tetapi tidak ada yang bisa menebak takdir apa yang akan terjadi esok. Karina menghela nafas panjang.


"Dengarkan aku Darwis, percayalah pada Joya. Cinta Joya padamu benar-benar tulus. Dia sudah tahu semua konsekuensi dari tindakannya. Kau tak akan pernah tahu kekuatan seorang ibu demi sang anak. Seorang ibu dan wanita bisa melakukan apapun demi kebahagian dan keselamatan orang yang ia cinta dan kasihi. Kalian harus tetap optimis bahwa Joya pasti sembuh walaupun belum ada cara menyembuhkannya. Tetapi kuasa Allah tidak ada yang bisa menolak dan menandinginya. Dukung terus Joya. Jangan pernah membahas atau mengatakan hal buruk padanya. Antara anak dan istri memang pilihan sulit. Dan bagi ibu, anaknya selamat adalah pilihannya," terang Karina panjang lebar.


"Baiklah aku paham," ucap Darwis setelah diam sesaat mencerna kata-kata Karina.


"Sayang," panggil Arion.


Karina melihat ke belakang dan melihat Arion mendekatinya dengan hanya memakai handuk biru sebatas pinggang.


"Baiklah, aku tutup dulu," ujar Karina.


Darwis mengiyakan. Arion memeluk Karina dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak Karina, seraya mencium aroma leher Karina.


"Ih geli Ar," ujar Karina merasakan hembusan nafas di lehernya.


"Habis telponan sama siapa? Hem?" tanya Arion, menyelidi dan mencium pipi Karina.


"Masalah apa?" tanya Arion lagi, penasaran.


"Nanti saja aku jelasin, kamu lekas gih berpakaian, kita harus segera menyelesaikan urusan kita di sini," ujar Karina. 


"Hm, morning kiss dulu," pinta Arion.


"Berpakaian atau adikmu itu ku tendang?" ketus Karina, membalikkan badannya menghadap Arion.


Wajahnya menatap dingin Arion. Arion memutar bola matanya. Lagi-lagi diancam.


Arion berbalik dan mengiyakan.


"Kalau kamu tendang dan berakibat fatal. Kita gak bisa punya keturunan lagi dong, katanya mau punya anak 5," celetuk Arion, sembari mengenakan pakaiannya.


"Kan kamu yang eggak bisa. Akukan masih bisa?" ejek Karina.


Arion mendelik kesal pada Karina. Tapi Karina sudah kabur duluan ke luar kamar.


Ck, dasar istri terlalu, terlalu apa ya? pikir Arion.


***


Darwis sedikit mendapat kelegaan setelah berbicara dengan Karina. Ia kini sedang berada di ruang tunggu. Menunggu Joya selesai kontrol perdananya. Selagi menunggu Darwis mengecek email dan mencari seputar dengan Glioma cerebri.


***


"Wah, makanan kesukaan kita semua," ucap Bayu berbinar melihat aneka sajian tertata rapi di atas meja makan.


Karina tersenyum dan segera mengajak mereka untuk sarapan.


Karina menyajikan sarapan untuk Arion. begitupun dengan Maria, mengambilkan sarapan untuk Amri. Sedangkan Bayu, Enjilah yang mengambilnya.

__ADS_1


Tak terlewat juga, Arion menyuapi Karina dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ya, apalagi kalau bukan saling suap. Yang tua?


Nggak mau kalah. Sedangkan Bayu dan Enji saling lirik seraya memasukkan suap demi suap makanan ke mulut mereka.


Selesai sarapan Karina menenggak habis susunya dan Bayu menghabiskan susu coklatnya.


"Kamu dan Bayu ikut gak?" tanya Arion pada Enji saat mereka hendak berangkat ke rumah kakek Bram.


Enji menggeleng. Bayu mengikut saja dengan sang ayah.


"Aku dan Bayu di rumah saja Kak. Aku masih rindu dengan suasana rumah ini pada dua pengasuhku itu," ucap Enji.


"Ya baiklah, kalau begitu kami berangkat," ucap Karina.


Di garasi Amri dan Arion saling pandang melihat kendaraan yang terdapat di sana. 


"Ribet bawa mobil Pa. Orang lokasinya dekat kok, naik motor saja ya," ujar Arion, melangkah mendekati motor Ninja H2R yang pernah Karina sekitar satu tahun dulu.


"Baiklah, Papa bawa motor matic ini saja."


Amri mengambil kunci motor ditempat yang tersedia. Tak lupa juga mengambilkan kunci motor Arion serta dua helm untuk mereka kenakan.


Maria dan Karina saling pandang mendengar suara deru motor dari arah garasi. Tak lama, keluarlah Arion dan Amri dengan mengendarai motor masing-masing.


"Ish? Kok naik motor sih? Kan Mama bawa Alia," gerutu Maria, tak senang.


"Mau nostalgia kali Ma," ucap Karina sekenanya.


Dua motor tersebut berhenti di hadapan mereka. Karina langsung naik dan memeluk pinggang Arion dari belakang.


"Ayo Ma," ajak Amri, percaya diri.


Maria dengan terpaksa naik ke motor. Ia duduk menyamping. Satu tangan memegang baju Amri dan satu tangan lagi diletakkan di bawah tubuh Alia yang digendongnya menggunakan kain panjang.


"Peluk ya erat, Yang," ucap Arion, memasukkan gigi motor dan memutar gas motor. 


"Ck, modus kamu," cibir Karina.


Arion hanya tertawa renyah.


Pintu gerbang terbuka lebar. Kedua motor tersebut segera melesat menuju kediaman kakek Bram.


"Bang, motormu dipakai oleh mertua Nona," ujar penjaga gerbang kepada seorang pria yang baru datang setelah menyelesaikan tugasnya di pagi hari.


"Sudah biasa, Nggak heran lagi," sahut pria itu.


Masuk ke dalam pos dan mengambil gelas lalu meraih toples berisi gula dan ditambah dengan bubuk kopi. Disatukan di gelas ditambah dengan air panas dari termos.


"Ck buatkan aku juga. Aku juga belum ngopi," pinta penjaga gerbang.


"Manja kamu, buat sendiri. Aku mau baca koran," sahut pria itu, cuek dan mengambil koran terbaru.


"Hei-hei," sungut pria itu, membuat kopi bergambar hewan pemakan kopi untuk dirinya sendiri.


***


Tak sampai lima menit mengendara, Karina, Arion, Maria, Amri dan Alia telah tiba di depan gerbang kediaman kakek Bram.


Awalnya penjaga gerbang itu tak mengenali Amri sebagai anak dari kakek Bram sebab termasuk penjaga gerbang baru. 


Untung saja keempat pengawal kakek Bram yang lebih dulu kembali dan mengabarkan tentang kepergian majikan mereka datang dan membuka gerbang selebar mungkin.


Amri dan Arion melajukan motor mereka masuk dan parkir.


Setelah masuk mereka langsung menuju ruang kerja kakek Bram di mana di sana sudah menunggu notaris kepercayaan kakek Bram. 


Selama perjalanan menuju ruang kerja kakek Bram, Karina dan Arion mengamati orang-orang dan setiap sudut bagian yang mereka lewati.


Karina dan Arion saling lempar pandang, memastikan apa yang ada di pikiran mereka lewat telepati, asek, telepati konon? Ya mereka dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


Di meja terlihat beberapa berkas yang diyakini sebagai surat kuasa atau apalah itu. 


__ADS_2