Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
BALAS DENDAM I


__ADS_3

"Ih ... Papa masih siang loh Pa," seru Maria malu. Tanpa aba-aba Amri langsung menggendong Maria ala bydal stell menuju kamar kosong di sebelah kamar mereka.


Maria hanya bisa mengalungkan tangannya ke lehar Amri. Itulah kebiasaannya, Amri akan menuntaskan emosinya pada Maria. Semakin besar emosinya maka akan semakin lama ia bermain.


Suara desahan memenuhi ruangan. Sudah lebih dari satu jam Mereka bermain, namun tak ada wajah lelah pada Amri. Maria yang kewalahan pun memutuskan untuk memejamkan matanya sebab tubuhnya sudah lemah tak bertenaga. 


Hosh ....


Hosh ....


Suara nafas Amri yang memburu ketika hendak mencapai puncak. Tak lama, Amri mencapai puncaknya dan mencium kening Maria yang sudah tertidur.


"Terima kasih, istriku. Tapi maaf, Papa gak bisa merestui hubungan Ayah dan pelayan itu," lirik Amri ikut membaringkan tubuhnya dan tertidur dengan posisi memeluk Maria.


***


Ceklek ....


Suara pintu kamar terbuka. Karina mengedarkan pandangannya mencari Arion. Ia lupa bahwa Arion sedang meeting. Di meja dekat sofa ia menemukan dua piring berisi makanan. 


"Astaga …."


Karina menepuk dahinya mengingat kejadian sebelum ia pergi. Lantas Karina berjalan dan duduk di sofa. Tangannya terulur mengambil salah satu piring.


"Sudah dingin?" gumam Karina. Tentu saja sudah dingin, makanan itu Arion masak satu jam yang lalu. Bahkan, Arion sendiri belum makan siang sedikitpun. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya.


Krucuk.


Krucuk.


Suara perut Karina berbunyi minta diisi. Dengan cueknya Karina langsung menyantap makanan buatan suaminya yang telah dingin.


Tanpa terasa dua piring makanan yang tadinya di meja kini sudah masuk ke lambung.


Ya memang, lambung Karina bisa dikatakan memiliki banyak toko alias cabang. Asalkan ada waktu luang, Karina pasti menghabiskan waktunya untuk food hunting sekaligus mencari refesensi untuk menu baru di cafenya.


Padahal, walaupun kuat makan, Karina juga menderita penyakit maag. Sebab dulu pada masa remaja, Karina sangat fokus mengembangkan perusahaannya sampai lupa atau telat makan.


"Egh …." Karina bersendawa kecil sebagai penutup dari makan siangnya. 


"Hmm … sepertinya dia belum makan ya?" tanya Karina pada dirinya sendiri. Akhirnya untuk membebaskan dirinya dari rasa bersalah, Karina memutuskan untuk ke dapur hotel membuat makan siang untuk Arion.


***


Di salah satu ruang meeting Blue Hotel. Arion masih mempresentasikan proposalnya. Wajahnya nampak serius. Lila dan Raina mendengarkan dengan teliti dan seksama penjelasan Arion.


Mereka harus teliti agar tidak terjadi masalah kedepannya yang dapat membuat nona mereka murka. Waktu menunjukkan pukul 14.30. Artinya meeting sudah berjalan selama satu jam setengah. 


"Demikian persentasi saya. Semoga Anda sekalian puas dengan penjelasan saya," ucap Arion tegas mengakhiri presentasinya.


Prok ....


Prok ....


Prok ....


Suara tepuk tangan Lila dan Raina yang puas akan itu. Arion dan Ferry pun tersenyum puas karena respon itu. Lila dan Raina segera berdiri dan bergantian menjabat tangan Arion.


"Selamat. Pengajuan kerja sama Jaya Company diterima. Selanjutnya, sekembalinya dari sini, kami akan segera mengirimkan kontrak kerja sama ke Jaya Company," ucap Raina tegas.


"Terima kasih. Kami akan berusaha semaksimal mungkin  mensukseskan kerja sama ini," balas Arion.


"Kalau begitu kami permisi dulu," ujar Lila membereskan berkas bawaannya, kemudian keluar diikuti Raina.


"Tuan?" panggil Ferry.


"Ya?" jawab Arion menoleh ke arah Ferry.


"Anda belum makan siang?" tanya Ferry yang mendengar perut Arion berbunyi selepas kepergian Lila dan Raina. Pertanyaan Ferry membuat Arion langsung teringat pada Karina. 


"Aku duluan. Kamu bereskan sisanya," seru Arion langsung keluar dari ruangan dan berjalan cepat menuju kamarnya.


Ferry kembali menggerutu kesal.


"Main tinggal saja. Untung ini meeting terakhir jadi aku bebas pergi kemana saja setelah ini," gumam Ferry.


***


Brak.

__ADS_1


Arion membuka pintu dengan kasar dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar berharap Karina sudah kembali. Sayang, Karina masih berada di dapur hotel. Matanya mencari piring makanan yang ia tinggalkan tadi.


"Kok gak ada? Siapa yang makan? Apa Karina ya?" tanya Arion heran. Perutnya kembali berbunyi malah semakin keras. Dengan cepat, Arion keluar untuk mencari makanan. Saat membuka pintu, di hadapannya Karina berdiri dengan kedua tangan yang membawa nampan berisi makan siang.


"Karina?" seru Arion langsung memegang pundak Karina.


"Hmm …," singkat Karina langsung masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa. Nampannya ia letakkan di meja.  Arion mengekor dan ikut duduk di sofa. 


"Ini untukmu," ucap Karina menunjuk nampan di meja.


"Untukku? Artinya kamu yang habiskan makanan yang aku masak tadi?" tanya Arion.


"Hmm …."


"Sudah cepat makan. Perutmu sudah bernyanyi dari tadi," ucap Karina lagi.


"Suapi," pinta manja Arion. Karina memutar bola matanya malas mendengar permintaan Arion.


"Nih," ucap Karina menyodorkan makanan ke mulut Arion dengan sendok. Arion tersenyum puas. Dengan cepat ia melahapnya. 


Lima belas menit kemudian, makanan yang Karina bawa sudah ludes habis tak tersisa. Arion mengambil tisu mengelap bibirnya. Karina menatap Arion dalam diam. 


"Kenapa?" tanya Arion heran. Karina langsung memalingkan wajahnya dan beranjak pergi untuk mengembalikan alat makan ke dapur. 


"Tunggu dulu. Biar pelayan saja yang mengambilnya nanti. Kamu pasti lelah," cegah Arion menghentikan Karina.


"Oke," jawab  Karina meletakkan kembali nampan di meja.


"Kamu dari mana?" tanya Arion memegang tangan Karina.


"Luar," jawab cuek Karina.


"Sama siapa?" tanya Arion lagi mulai ngelantur dan cemburu.


"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Karina tersenyum menggoda. Arion mengangguk jujur.


"Sendiri," jawab Karina menggigit bibirnya.


"Shit. Karina kamu sangat menggoda tapi tak mudah disentuh," desis Arion menahan hasrat birahinya.


Karina terkekeh pelan sembari memegang dada Arion yang masih terbalut jas dan tuxedo kerjanya. Perlahan, Karina mendekatkan bibirnya menuju bibir Arion. Dan ya, Karina mencium Arion duluan. Arion memejamkam matanya terperajat.


Kali ini, Karina yang berinisiatif sama seperti waktu kencan pertama kali. Perlahan, Arion mulai membalas ciuman Karina.


Sekitar lima menit kemudian, Karina melepaskan ciumannya.


"Permintaan maafku sebab tadi aku pergi tanpa pamit langsung," ujar Karina.


Nada bicara sudah kembali menjadi datar. Arion menatap kecewa Karina. Bayangan penolakan Karina saat ia menyatakan perasaannya terlintas di benaknya.


"Apa kamu belum ada rasa sama aku?" lirik Arion.


"Jika aku bilang sudah apa yang akan kamu lakukan? Melepaskan Joya atau mengambil keperawananku?" tanya Karina menatap Arion datar. 


"Jangan sebut nama Joya ketika kita sedang berdua," ketus Arion. Entah mengapa ia tak suka Karina menyebut nama Joya. 


"Oke. Arion hati manusia berubah-ubah. Mungkin saat ini kamu tertantang untuk mendapatkan hatiku. Awalnya kita menikah karena alasan yang terselubung. Tak lama kamu mengatakan jika kamu suka denganku. Seperti yang aku katakan padamu. Buktikan jika kamu mencintaiku. Aku perlu bukti bukan sekedar janji atau ucapan belaka. Aku paling benci dengan pembohong atau penghianat. Jika kau memang mencintaiku, kosongkan hatimu hanya untukku," ujar Karina panjang lebar.


Arion masih diam mencerna ucapan Karina. Lidahnya seolah keluh untuk menanggapi ucapan Karina. Keheningan melanda. Suara jarum jam lah yang menemani.


***


Malam haripun tiba. Hujan deras melanda kota A. Bagi Karina ini adalah pertanda. Pertanda bahwa ia pasti akan berhasil membalas dendam pada Berto. Arion yang awalnya mengajak Karina menonton pun tidak jadi pergi. Sebab bioskop yang akan mereka kunjungi adalah tipe outdoor. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Arion sudah mulai terlelap. Sedangkan Karina duduk bersandar di kepala ranjang.


Tangannya terulur membuka laci dan mengambil satu batang dupa. Dupa ini memang sengaja ia ambil dari markas agar memudahkannya pergi tanpa ketahuan oleh Arion. 


Karina segera menyalakan dupa dan menaruhnya pada asbak yang tersedia kemudian ia letakkan di atas nakas. Selepas itu, Karina langsung berdiri dari ranjang dengan hati-hati agar Arion tak terbangun.


Karina langsung keluar dari kamar dengan menggunakan masker agar tak menghirup asap dupa yang mengandung obat tidur.


Dupa yang ia bakar adalah dupa yang ia buat sendiri, gunanya untuk membuat musuh tertidur, namun karena dibuat dari bahan herbal so ternyata dupa ini juga berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Arion yang sudah terlelap semakin terlelap dan tak ingin bangun setelah menghirup asap dupa.


***


 Hujan deras disertai petir yang menggelegar tak menyurutkan niat balas dendam Karina. Jalanan sangat sepi, sebab orang-orang lebih memilih diam di rumah masing-masing. Lampu jalanan tampak bias dan redup kalah dengan kilat petir di langit.


Karina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Empat  puluh menit kemudian, Karina tiba di markas Pedang Biru. Karina memasukkan mobilnya ke garasi dan segera memuju ruangannya.


"Semua sudah siap?" tanya Karina datar pada Li dan Gerry serta Sasha. Ketiganya mengangguk. Karina tersenyum puas.

__ADS_1


"Kita berangkat," perintah Karina keluar dari ruangannya.


Sebelum pergi, Karina mengganti pakaian menjadi serba hitam tak lupa topeng khas leader Pedang Biru melekat di wajah cantik dan dinginnya.


"Silahkan masuk Queen," ujar Gerry membukakan pintu mobil untuk Karina masuk. Karina hanya pergi bersama Li, Gerry serta sepuluh pasukan elitnya.


Setelah menutup pintu untuk Queennya, Gerry segara mengambil posisi mengemudi dengan Li di sampingnya.


Sasha tidak ikut membalas dendam namun ia berperan penting  memantau seluk-beluk kota dan melaporkannya pada Karina melalui aerphone.


Satu persatu mobil mulai meninggalkan markas Pedang Biru. Mobil Karina berada di tengah dengan masing-masing dua mobil di belakang dan di depan. 


"Persiapkan dirimu Gerry!" perintah Karina. Gerry mengangguk paham. Dendam yang selama ini tersimpan di hati akan segera ia lampiaskan.


Hujan turun semakin deras. Petir semakin menggelegar memekakkan telinga. Kini mereka sudah tiba di depan bar. Yap bar di mana Berto bersembunyi. 


Suasana bar sudah sepi bahkan kosong pengunjung sebab pemerintah kota melarang bar buka di atas jam dua belas malam. Sedangkan sekarang sudah pukul 00.30.


Seorang anggota pasukan elit turun dari mobil dan mengetuk kaca mobil Karina.


Karina menurunkan kaca mobil. Air hujan membasahi wajahnya.


"Lakukan tugas kalian. Sisakan tua bangka itu untukku!" perintah Karina dingin.


"Baik Queen," jawabnya tegas.


Anggota pasukan elit itu langsung mengomandoi kesembilan rekannya untuk segera masuk ke dalam bar tanpa suara. Bar yang sudah tutup mereka bobol tanpa meninggalkan jejak kerusakan. 


Jederrr.


Blas.


Listrik kota padam seketika. Bukan ulah Karina namun ulah petir yang menyambar jaringan transmisi listrik.


Kesepuluh pasukan tak merasa gentar. Sebab mereka memakai kacamata khusus dan dapat melihat di kegelapan. 


"Terbangkan temuan baruku," perintah Karina pada Li. Li mengangguk dan segera menekan tombol di pintu untuk membuka bagasi.


Tak lama keluarlah robot kecil berwujud burung kolibri yang dirancang anti air dan dapat melihat jelas di tengah derasnya hujan dan kegelapan. Robot itu memiliki kamera pengintai di kedua matanya. Li mulai menggerakkannya masuk ke dalam bar dengan remote control.


Seorang anggota pasukan elit keluar tak lama setelah robot burung masuk.


"Ada apa?" tanya Karina dingin.


"Queen, di dalam kosong. Kami sudah menyusuri semua sudut bar dari depan hingga ke belakang. Tak ada satu orang pun yang terlihat," lapornya. Karina tersenyum sinis mendengarnya. Anggota itu mengigil ketakutan.


"Apa kita salah informasi?" tanya Gerry pada Li. Li menggeleng tak tahu. Karina menyalakan aerphone-nya menghubungi Sasha, namun karena jaringan yang lemah membuat sambungan terasa sangat lama.


"Saya Queen," sahut Sasha setelah sekitar tiga menit Karina menghubunginya.


"Periksa kamera pengawas. Apakah Tua bangka itu meninggalkan bar?" perintah Karina. Sasha segera mengecek kamera pengawas di waktu sebelumnya dibantu tiga orang anggota.


"Bagaimana?" tanya Karina tak sabar.


"Maaf Queen. Tua bangka tidak pernah melangkahkah kakinya keluar dari bar dari kemarin sore," jawab Sasha.


"Oke," ucap Karina tak mematikan sambungan aerphone.


"Dia ada di dalam. Kalian saja yang kurang teliti. Bagaimana mungkin begitu mudah menangkap buronan dari hampir dua puluh negara?" jelas Karina memainkan jarinya.


"Kemarikan remote control-nya,"seru Karina pada Li.


Li segera memberikannya. Karina melihat kamera pengintai yang memperlihatkan setiap sudut bar.


Mata untuk robotnya ia rancang seperti mata lalat yaitu mata majemuk yang dapat melihat segela arah. Dibandingkan dengan mata biasa, mata majemuk dapat menangkap gambar dalam sudut yang sangat lebar, dan dapat mendeteksi gerakan cepat, dan dalam beberapa kasus dapat melihat polarisasi cahaya.


"Dapat," seru Karina tertawa.


"Memang dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Bahkan kalian pun tertipu," ujar Karina. 


Li dan Gerry berpandangan tak paham. Mereka merasa sangat kecil jika beradu kejelian dengan Karina.


"Kita masuk," perintah pada Li dan Gerry. Anggota pasukan elit itu langsung membukakan pintu mobil untuk Queennya turun. Li dan Gerry segera mengikut.


Hujan langsung menyiram tubuh mereka. Mereka segera masuk mengikuti Karina. Karina masuk ke salah satu ruangan VVIP di lantai bawah di mana robot burungnya berada.


"Panggil semua rekanmu kemari. Siapkan juga granat asap serta laser pemotong," perintah Karina pada anggota pasukan elitnya. 


"Si Queen," jawabnya.

__ADS_1


Karina mendekati dinding lalu meraba serta mengetuk-ngetuk dinding itu.


"Lakukan seperti ini. Cek dan ketuk seluruh dinding di ruangannya ini. Jika suaranya berat maka tinggalkan. Pasti ada satu bagian yang berbunyi nyaring," perintah Karina kemudian duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.


__ADS_2