
Para anggota kelompok Cinnamon segera mengambil tempat, mengisi dan menduduki kursi terdepan secara berderet. Li dan lainnya mengambil tempat di sisi kanan deretan kursi yang diduduki kelompok Cinnamon.
"Bisa kita bicara sebentar, Elina?" tanya Karina mendekati Elina yang berbincang dengan Marlena.
Elina mengangguk dan segera mengikuti langkah Karina untuk bicara empat mata.
"Ada apa?" tanya Elina penasaran.
"Seandainya jika ku katakan Enji masih hidup apakah kau tetap menikah dengan Li? Secara syaratmu untuk bergabung denganku itu bukan?" tanya Karina serius. Elina mengeryit.
Tak paham arah pembicaraan Karina. Bukankah Enji telah tiada dan dia telah menziarahi makamnya seminggu yang lalu. Dan sekarang Karina bertanya apa yang akan dia lakukan, seandainya Enji masih hidup.
Tunggu, seandainya bukan? Bukan sebenarnya, batin Elina.
"Enji masih hidup, tetapi aku tak tahu di mana rimbanya sekarang. Apa kau masih mencintainya? Jawab dengan jujur Elina. Aku tak mau salah langkah, mengakibatkan rasa sakit pada bawahanku. Aku ingin semua bahagia," ujar Karina. Elina membulatkan matanya.
Ia mundur selangkah dan menatap tak percaya Karina. Cinta pertamanya masih hidup? Enji masih ada di dunia ini. Hanya tak tahu saja di mana kini ia berada.
Air mata Elina turun tanpa diminta. Elina memegang dadanya yang sesak akan kebahagiannya. Di sana juga terselip kebimbangan. Li, bagaimana dengan Li? Apa dia harus membunuh bunga cintanya dengan Li? Demi mengejar cinta Enji?
Apakah dia harus mengorbankan cahaya di depan mata, atau harus mencari jarum di tumpukan jerami? Elina menarik nafasnya.
Karina menatap Elina serius dan meminta jawaban.
"Bagaimana Elina? Kau masih mencintai Enji? Apa kau bimbang?"tanya Karina.
"Aku memang mencintai Enji," jawab Elina. Karina menghembuskan nafas pelan. Sepertinya akan ada yang tersakiti. Benar saja, sepasang mata menatap kecewa Elina dari balik pilar koridor markas.
Dia Li, penasaran dengan apa yang akan dibahas Karina dan Elina membuatnya menguping. Tak disangka menguping memang tidak boleh, dan itu mengakibatkan hatinya luka. Hancur sudah harapan pernikahan esok. Hatinya hancur mendengar Elina mengatakan bahwa ia masih mencintai Enji.
Dengan mengusap air matanya, Li berbalik dan melangkah entah kemana. Li melupakan satu peringatan Karina. Jangan pergi atau berbalik sebelum semuanya jelas.
Jika kau mendengar sepenggal mungkin itu sakit, namun jika kau sudah mendengar semuanya. Maka kau bisa putuskan pergi atau menetap. Jangan hanya pemikiran sendiri yang dibawa.
"Jadi apa keputusanmu? Lanjut atau berhenti?" tanya Karina menanti jawaban lanjutan Elina.
"Tapi itu dulu, sekarang hati, cinta serta jiwa ragaku hanya untuk Li. Kau tahu sendiri bukan? Cintaku dengan Enji bisa dikatakan bertepuk sebelah tangan. Tak mungkin kan aku mencari dan mengejarnya lagi? Sedangkan kau sendiri tak tahu dia di mana. Apalagi aku. Aku tetap setia pada Li. Tak ada yang bisa merubah itu, siapapun dia," tegas Elina mengusap air matanya. Karina mengulas senyum puas.
"Jika begitu cepat susul Li, dia menangis kala kau mengatakan perasaanmu sama Enji. Dia ceroboh melupakan ucapanku," tutur Karina. Elina membelalakan matanya. Li menguping? Dengan segera Elina berbalik dan mencari Li. Karina tersenyum tipis.
"Carilah di kamarnya. Li punya kebiasaan mengurung diri jika dilanda sedih dan sakit hati," teriak Karina. Elina menoleh dan mengangguk. Untung saja waktu menginap minggu lalu, Li menunjukkan kamarnya. Kamarnya ada di lantai dua nomor 125.
Dan Karina segera melangkahkan kakinya kembali bergabung masuk ke auditorium.
***
Kini di sinilah Li duduk dengan pandangan kosong dan sebotol minuman beralkohol di tangannya. Duduk di samping ranjang di kamarnya. Dengan mata memerah akibat menangis. Wajah Li kusut sekusut-kusutnya baju belum disetrika.
Kakinya ia selonjorkan bebas di di atas permadani. Rambutnya acak-acakan.
"Elina … tidakkan kau tahu besarnya cintaku padamu? Mengapa kau masih mencintainya?"gumam Li.
Li kembali menenggak minumannya.
Phay.
Setelah minum botol itu ia lemparkan ke lantai, membuat kaca dan isinya berhambur. Noda minuman merembes ke dalam permadani merah darah itu.
Li menatap datar serpihan kaca. Li beranjak mendekatinya.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
"Li, apa kau di dalam? Aku mohon buka pintunya." Suara Elina membuat perhatian Li pada serpihan kaca itu buyar.
"Elina? Untuk apa dia kemari?"gumam Li.
"Li, kau salah paham. Kau ceroboh hanya mendengarkan separuh. Kalau mau nguping dengarkan sampai habis," teriak Elina, semakin gencar menggedor pintu.
"Li, ku mohon keluar. Dengarkan aku. Jangan bertindak gegabah kau di dalam sana. Buka dan keluar atau ku dobrak dan aku masuk memukulmu," pekik Elina kesal. Li berdiri. Ia berjalan menuju pintu dengan tatapan rumit.
Ceklek.
Li membuka pintu kamarnya. Elina dengan wajah resah langsung memeluk Li. Li dapat mendengar isak tangis Elina.
Mengapa dia yang menangis? Seharusnya akulah yang kecewa dan menangis, batin Li.
"Apa ini pelukan perpisahan?"tanya Li datar melepaskan pelukan Elina. Elina mengeryit.
"Kau masih mencintainya dan kau mau mengejar dan mengucapkan perpisahan padaku, bukan?" Li mengutarakan pemikirannya.
"Pergilah, aku rela. Aku akan kembali menunggu jodohku," tambah Li dengan suara datarnya. Elina melongo. Ia mengusap air matanya dan berganti dengan tatapan kesal pada Li.
"Kau tuli ya?"desis Elina.
Gantian Li yang mengeryit. Li merasa pendengarannya masih oke-oke saja. Jika tidak dengar mungkin saja kotoran dalam lubang telinga menumpuk dan ia lupa membersihkannya.
"Aku memang mencintai Enji. Tetapi itu dulu. Sekarang kau adalah satu-satunya cintaku, Li besok kita menikah. Aku akan mengatakan semua isi hatiku agar tak ada salah paham di kemudian hari, kau mau mendengarnya kan? Atau kau mau mengorek kupingmu dulu?"tanya Elina yang membuat Li mendengus dan mengerucutkan bibirnya.
Elina segera menceritakan apa yang ia bahas dengan Karina sejujur-jujurnya. Tak lupa mengatakan isi hati yang sejujurnya. Li awalnya mendengarkan dengan wajah datar. Namun setelah mendengar keseluruhan cerita Elina, Li langsung memeluk Elina erat. Elina sontak memekik kaget. Tak lama hatinya menghangat dan membalas pelukan Li.
"Hm," sahut Elina.
"Ayo kembali ke sana, Karina pasti sudah menunggu," ujar Elina. Li mengangguk. Dengan langkah beriringan dan tangan yang bergandengan Li dan Elina melangkahkan kaki mereka menuju auditorium.
***
Di auditorium, di meja panjang sudah terdapat lima orang pemuka agama yang siap untuk mengislamkan kelompok Cinnamon. Wajah mereka berseri akibat air wudhu.
Kelima orang itu adalah guru Karina selama mengenal agama Islam lebih jauh. Kelimanya sudah tahu bahwa Karina adalah mafia sejak Karina belajar dari mereka. Awalnya ada rasa ngeri mengingat cerita orang tentang pimpinan Karina.
"Anda terlalu memuji," ujar salah seorang dari mereka.
"Tidak guru, memang benar adanya kok," ucap Karina.
"Hm, apa acara sudah bisa dimulai? Kami ada acara lain di jam 10.00," ujarnya lagi.
"Tentu, kita tinggal menunggu ketua dari kelompok ini," jelas Karina.
Tak lama, Li dan Elina segera memasuki auditorium. Elina dan Li segera mengambil tempat masing-masing.
Acara segera dimulai, yang pastinya adalah pengucapan dua kalimat syahadat oleh para anggota Cinnamon yang dituntun oleh
kelima pemuka agama tersebut.
Elina dan Marlena mengambil tempat lebih dulu. Mereka segera dibimbing untuk mengucapkan lafaz dua kalimar syahadat.
"Silahkan ikuti kata-kata saya," tutur pemuka agama yang berada di depan Elina. Elina mengangguk. Hatinya penuh dengan debaran.
"Asyhadu an la ilaha illallah Wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah," ucap pemuka agama itu.
__ADS_1
"Asy … hadu an la ilaha … illallah … wa asy … hadu anna … muhammdar rasullullah." ada desiran aneh kala Elina mengucapkan itu. Dadanya penuh, isakan kembali ia tumpahkan.
"Asyhadu an la ilaha illallah Wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah," ucap pemuka agama itu lagi, menuntut Elina agar mengucapkannya lagi.
"Asyhadu an la ilaha illallah Wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah." Elina berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan utuh dan lancar.
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah," ujar pemuka itu lagi, membimbing Elina yang menangis.
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah." Elina menghembuskan nafas lega kala dirinya sudah menjadi mualaf. Kebahagian tak terhingga ia rasakan.
"Alhamdullilah," seru Karina dan lainnya. Li menitikkan air mata. Kini ia dan Elina sudah sehaluan. Ada terpisah lagi oleh agama dan adat.
Marlena apalagi, rasa haru, tangis bahagia ia rasakan. Setelah sekian lama ia tidak mengakui adanya Tuhan, kini ia akan kembali menjadi mualaf. Marlena memeluk Elina yang sudah beranjak dari kursi. Memeluk dan mencium pipi Elina.
"Maafkan Ibu, Eli," ujar Marlena. Karena dendamnya dan rasa sakit hatinya, ia tak mengajarkan anaknya mengenal Tuhan, Sang Pencipta alam semesta.
"Sudahlah Ibu. Yang penting sekarang kita kembali ke jalan yang benar," jawab Elina menghapus air mata sang ibu.
"Hmm? Madam, kita lanjutkan?"tanya Karina membuat anak dan ibu itu mengangguk bersamaan. Marlena segera maju dan menempati kursi yang Elina duduki tadi.
Setelah Elina dan Marlena mengucapkan syahadat dengan lancar, maka mereka telah menjadi muslimah. Setelah ketuanya, barulah giliran para bawahan mereka. Suasana yang hening menambah kehikmadtan acara ini.
Tepat pukul 10.00, acara selesai. Semuanya mengucapkan syukur. Para pemuka itu segera pamit pada Karina dan lainnya. Ada tugas di lain tempat lagi mereka.
"Selamat, akhirnya kita resmi bergabung," ujar Karina merentangkan tangannya. Senyum bahagia terpatri padanya. Elina memeluk Karina. Tak lupa melirik Li yang tersenyum penuh arti.
"Thanks Karina. Kau membawa kami dari kegelapan," ujar Elina.
"Haha, sudah kewajibanku." Karina tertawa renyah. Elina mengangguk.
"Hm, kapan kalian menikah?"tanya Karina menarik Li melalui isyarat mata untuk mendekat. Li mendekat. Karina memegang tangan Li dan Elina. Menyatukan tangan keduanya membentuk sebuah ikatan.
"Kapan? Hm?"tanya Karina menggoda Li dan Elina yang tersipu malu.
"Secepatnya lebih baik, Karina. Agar mereka nanti tak keceplosan sebelum halal. Jika sudah halal mau keceplosanpun bodo' amat." Bukannya Elina atau Li yang menjawab, malah Marlena yang tersenyum menggoda putrinya.
"Ibu," rengek Elina mengerucutkan bibirnya.
"Iya benar apa kata pemangku adat Queen, Ketua sudah terlalu lama sendiri. Takutnya jika kelamaan di sahkan bisa buncit duluan Ketua kami," para anggota Elina ikut mendukung peresmian hubungan Elina dan Li dengan cepat.
Elina menatap tajam para anggotanya, bukannya takut anggotanya malah tersenyum menggoda dirinya. Li senyum-senyum sendiri. Merancang ide.
"Li?"tanya Karina.
"Hm," Li gugup bukan ragu.
"Sudahlah Li, katakan saja hari ini. Kau sudah lama puasa, takutnya benar nanti kata mereka. Kau mau selamanya tak bisa berhubungan jika tak segera dihalalkan?" Gerry memberi semangat. Li menatap kesal Gerry. Darwis yang sudah mendapat informasi dari Satya dan Rian ikut mendukungnya. Ia merasa bersalah, terlalu fokus pada Joya hingga melupakan saudaranya sendiri. Bahkan acara penting ini saja ia tak tahu jika Rian tak memanggilnya dari kamar.
"Hm, oke. Bagaimana jika besok, tak perlu pesta. Cukup di KUA saja. Yang penting halal di mata negara dan agama," ujar Li meminta persetujuan Elina.
Elina mengangguk menyetujui. Lagian data-data yang dibutuhkan untuk menikah sudah tersedia di dalam tasnya.
"Aku sarankan kita membuat pesta, aku tak mau dicap pelit nanti. Lila dan Raina mendapat pernikahan yang mewah. Kau dan Elina juga akan mendapatkannya. Silahkan saja menikah di KUA, tetapi resepsinya akan kita langsungkan di aula markas. Bagaimana?" Tanya Karina meminta pendapat Li dan Elina. Li dan Elina bertatapan ragu tak percaya.
"Aku setuju dengan Karina. Elina, pernikahan hanya sekali seumur hidup. Oleh sebab itu harus meninggalkan kesan dan kenangan yang mendalam. Ya ibu tahu, yang penting kehidupan setelah pernikahan bukan seberapa mewahnya pernikahan itu, sebab kemewahan belum tentu menjamin kebahagian," timpal Marlena.
"Jika begitu, berarti pesta sederhana yang membekas dalam ingatan, begitukah Madam?"tanya Satya. Marlena mengangguk.
"Oke. Nikah di KUA, resepsi sederhana di markas, begitu Li? Elina?"tanya Karina.
"Benar," sahut Elina dan Li bersamaaan.
__ADS_1