Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 337


__ADS_3

Setibanya di kastil, Rian segera menuju kamar. Sedangkan Abraxas menjalankan tugasnya sebagai ketua kartel narkoba dengan diawasi ketat oleh sang ibu.


Ibunya Abraxas bukannya langsung percaya dengan penjelasan Abraxas mengenai identitas Rian. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu mengirim bawahannya untuk memeriksa identitas Rian.


Pernyataan Rian mengenai pekerjaannya yaitu sebagai pemilik sebuah restoran memang benar adanya. Karena hobi kuliner Rian, Rian mendirikan secara pribadi sebuah restoran yang memuat aneka kuliner berbagai negara.


Untuk identitasnya sebagai anggota mafia dan salah satu tuan muda dari kasino Heart of Queen tentu saja ditutupi dengan rapat.


Di dalam kamarnya, Rian segera menuju kamar mandi. Rian mengisi bath up kemudian menambahkan wewangian. Sembari menunggu bath up penuh, Rian mencuci wajah dan kedua tangannya. 


Setelah membilas wajah dan tangannya, Rian menatap wajahnya di cermin. 


Tenanglah Rian. Hanya tinggal satu hari lagi semua akan selesai. 


Rian lagi-lagi menyakinkan dirinya untuk kuat dan menahan amarahnya. Ia harus tetap berakting. 


Bath up sudah penuh, Rian mematikan keran. Melepas satu persatu kain yang melekat pada tubuhnya kecuali ****** ********. 


Rian kini menatap sejenak tubuhnya dari cermin. 


Tubuhku sangat seksi, gumam Rian kemudian berendam.


Rian menaikkan lengan kanannya, menyentuh jam tangannya untuk menampilkan layar hologram jam tangan, mengirim pesan pada bawahannya untuk bergerak nanti malam. 


Dalam misi, Rian tidak menggunakan handphonenya untuk berkomunikasi. Jam tangan canggih yang sudah dimodifikasi inilah alat komunikasinya. Hal ini juga berlaku untuk semua anggota yang mengambil misi tingkat A dan S, serta misi khusus dari badan keamanan dunia.


*


*


*


Malam pun tiba. Setelah makan malam dan menghabiskan waktu berdua dengan Abraxas, hanya berbincang dan minum, Rian masuk ke dalam kamarnya. Membuka jendela membiarkan angin masuk.


Rian menatap langit dengan kedua lengan bertumpu pada bingkai bahwa jendela. Ia tidak minum banyak jadi tidak mabuk. Rian punya toleransi alkohol yang tinggi sama dengan Karina. 


Rian tersenyum lebar saat bawahannya mengirim pesan bahwa mereka telah berada di dalam kastil, menyamar sebagai pekerja.


Rian melihat waktu, sudah pukul 23.00 lewat. Rian memutuskan untuk tidur. Menutup jendela dan melangkah menuju koper di sudut kamar. Rian mengambil satu set piyama dari dalam koper. Rian kemudian menuju kamar mandi untuk bertukar pakaian.


Baru saja Rian hendak membaringkan tubuhnya di ranjang, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Rian berdecak sebal. Siapa yang mengganggu dirinya?


Dengan langkah malas, Rian membuka pintu. Tampaklah Abraxas yang berdiri gontai dengan wajah mabuk yang sangat jelas.


"Mengapa kau di sini? Kau seharusnya berada di kamarmu," ucap Rian. 


Hatinya berbisik bahwa ia dalam masalah.


"Aku ingin tidur denganmu," jawab Abraxas dengan mata menatap Rian penuh nafsu. 


Rian tertegun. 


What? Tidur?pekik Rian dalam hati.


Abraxas langsung menerobos masuk ke dalam kamar, menarik tangan Rian yang masing linglung.


Dengan kasar Abraxas melempar Rian ke atas ranjang. Rian masih menelaah apa yang terjadi. 


"Axas apa yang kau lakukan?"tanya Rian dengan nada takut dan bingung. 


Abraxas tidak menjawab, malah menaiki tubuh Rian dengan raut wajah yang tidak sabaran.


Abraxas dengan kasar menahan kedua tangan Rian di atas kepala Rian ketika Rian memberontak.


"Luca, jadilah milikku seutuhnya," ucap Abraxas serak, mendekatkan wajahnya pada wajah Rian.


Rian melebarkan matanya. Ia tidak bisa berakting lagi kini. Ia tidak mungkin mengorbankan ***********.


"Turun!"


Rian memberontak dengan menggunakan tenaga yang lebih besar.


Sayangnya ternyata Abraxas punya tenaga yang cukup besar. Rian menggeliat saat merasakan sesuatu membesar di atas tubuhnya.


Abraxas dengan perlahan mengarahkan bibirnya ke ceruk Rian. Rian membeku saat lehernya disentuh oleh Abraxas.


"Tidak!"seru Rian, menggunakan seluruh tenaganya.


Rian berhasil mengubah posisinya. Kini ia yang berada di atas tubuh Abraxas. Abraxas menatap sayu dirinya.


"Luca, kau menolakku?"tanya sendu Abraxas, kecewa.


"Aku belum siap, Axas."


Rian memutuskan untuk kembali berakting.


"Kau mabuk. Aku tidak ingin disentuh saat kau mabuk," imbuh Rian.


"Aku tidak mabuk, Luca. Aku sadar. Aku menginginkan dirimu," ucap Abraxas menyakinkan.


"Kau ingin tubuhku apa hatiku?"tanya Rian memberi pilihan.


"Aku …."


Abraxas diam.


Rian mengira Abraxas akan sadar. Akan tetapi Abraxas malah semakin menjadi. Rian yang sedikit lengan kembali di posisi bawah, Abraxas dengan cepat menarik piyama atas Rian. Dada bidang Rian terekspos.


"Aku ingin keduanya!"jawab Abraxas, dengan cepat menyentuh dada Rian, dengan lidah dan tangannya.


Rian memejamkan mata menahan emosi.


Plak!


Dengan sekali pukulan keras pada tengkuk Abraxas, pria itu sudah tak sadarkan diri. Jatuh lemas menimpa tubuh Rian yang nafasnya kini memburu. Tadinya Rian tidak ingin menggunakan kekerasan tapi sikap Abraxas tidak bisa ia toleransi lagi.


Rian menyingkirkan tubuh Abraxas ke sisi ranjang yang kosong. Rian mengambil baju piyamannya yang sobek.

__ADS_1


"Ah sudahlah. Mari berpura-pura lagi," gumam Rian, meletakan kembali baju tersebut di lantai. 


Rian kemudian dengan tatapan jijik membuka baju yang dikenakan Abraxas. Mengambil ludahnya kemudian dioleskan pada leher dan dada Abraxas.


Rian kemudian mengambil kopernya. Membuat cairan kental putih kemudian disiramkan ke atas ranjang dan sprei.


Rian mengembuskan nafas kasar, menengadah ke atas.


Ampunilah dosa hambamu ini ya Tuhan, batin Rian.


Aku tidak pernah menyangka aku akan melakukan hal ini, imbuh Rian lagi di dalam hati.


Rian tidak bisa tenang setelah hal tadi. Rian kembali membuka koper, mengambil sebatang rokok. Menyulut rokok tersebut, Rian mengisap dalam rokok tersebut kemudian menghembuskan asapnya perlahan.


Rian yang kini duduk di kursi menatap Abraxas dengan tatapan membunuh yang kental. Jika bukan karena misi membawa ketuanya hidup-hidup, maka saat ini juga Abraxas hanya tinggal nama. 


Rian meletakkan puntung rokok di asbak kemudian melangkah menuju ranjang. Mengambil tempat di samping Abraxas, tentu saja paling pinggir. Rian menghela nafas panjang sebelum akhirnya menutup mata.


Ini memang gila!


*


*


*


Matahari sudah meninggi. Cahayanya menembus, menerobos masuk ke dalam kamar Rian. Rian terbangun karena silau cahaya tersebut. Merenggangkan tubuh kemudian menoleh ke samping.


Rian terlonjak kaget menemukan Abraxas yang tidur di sampingnya. Rian terkekeh pelan saat mengingat kejadian tadi malam. 


Rian segera beranjak dari ranjang, ia ingin membersihkan diri. 


Dua puluh menit kemudian Rian keluar dengan pakaian kasual, mengusap rambut yang masih basah.


Rian mendapati Abraxas yang baru bangun, merenggangkan tubuh.


Dahi Rian mengeryit tipis, kemudian tersenyum.


"Kau sudah bangun?"tanya Rian.


Abraxas menoleh.


"Luca? Mengapa kau di kamarku?"tanya Abraxas, lupa dengan apa yang ia lakukan tadi malam.


"Kamarmu? Ini kamarku. Jangan katakan kau lupa dengan apa yang kita lakukan tadi malam?"sentak Rian dengan wajah kesal.


"Kamarmu? Tadi malam?"


Abraxas mengedarkan pandangan. Melihat tubuhnya, meraba dan terasa lengket. Melihat sprei yang terdapat bercak-bercak putih. 


Abraxas paham apa yang Rian maksud.


"Apa kita melakukan "itu"?tanya Abraxas memastikan.


"Hm."


"Ya begitulah. Kau mabuk," sahut Rian.


"Sudahlah. Itu sudah terjadi. Sebaiknya kau lekas kembali ke kamarmu," ujar Rian, mengusir halus Abraxas.


"Baiklah. Terima kasih."


Abraxas tersenyum lebar, memungut baju yang tergeletak di lantai kemudian melangkah keluar dengan hati yang berbunga-bunga.


Rian berdecak sebal, menarik sprei, membuangnya ke tong sampah. 


Cih. Senang sekali kau, gerutu Rian.


*


*


*


Kastil begitu bersemangat melakukan persiapan pesta ulang tahun ibunya Abraxas nanti malam. Rian mengamati aktivitas kastil dari jendela kamarnya. Duduk di kursi, menyangga dagu mengikuti pergerakan para pelayan yang hilir mudik. Rian tertawa dalam hati.


Berapa semangatnya mereka.


Abraxas pria itu tidak memunculkan batang hidungnya setelah keluar dari kamarnya tadi pagi. Mungkin sibuk membuat persiapan. 


Rian bosan melihat para pelayan yang berkerja. Rian berdiri, membuka koper. Memilih pakaian yang akan ia gunakan dalam pesta nanti. Setelan jas putih pun menjadi pilihannya. 


*


*


*


Menjelang malam, para tamu undangan yang diundang untuk menghadiri perasaan ulang tahun ibunya Abraxas mulai  berdatangan. Rian yang berada di samping Abraxas tersenyum samar. Abraxas membawa Rian di sisinya, menjaga Rian dari mata-mata nakal.


Rian mengamati ruangan pesta. Para penjahat relasi bisnis keluarga ini berkumpul dan bercengkrama.


Ibunya Abraxas tampil menahan dengan gaun menyapu lantai berwarna putih dengan belahan dada yang rendah. Tiara berwarna silver dengan hiasan berlian bertengger manis di kepala. Bersiap meniup kue ulang tahunnya.


Tepuk tangan meriah bergema. Abraxas yang berada di samping sang Ibu memberikan hadiah yang dibelinya bersama dengan Rian kemarin. 


Rian tersenyum lebar, mengulurkan tangan memberi ucapan selamat pada ibunya Abraxas. 


Rian dapat melihat dengan jelas bahwa Abraxas memanglah ketua palsu. Lihat saja, tidak ada satupun relasi bisnis yang menyapa dirinya. Ia diabaikan. Semua hanya terfokus pada sang ibu.


Rian tersenyum samar melihat kedua tangan Abraxas yang mengepal erat, antara malu dan kesal. Rian berinisiatif menyentuh lengan Abraxas, tersenyum memberinya semangat.


Abraxas membalas senyum tersebut, merasa beruntung memiliki Rian di sampingnya.


Saat acara makan, Rian menjaga Abraxas agar tidak makan hidangan apapun kecuali buah. Abraxas menurut, ia sudah berjanji untuk menuruti setiap ucapan Rian.


Mereka berdua kini berdiri di sudut ruangan, melihat para tamu yang lahap menyantap hidangan. 

__ADS_1


Rian melihat jamnya, menekan tombol merah.


Pertunjukkan dimulai.


Rian menunjukan senyum smirk yang membuat Abraxas merinding.


"Telan ini," ujar Rian memberikan sebuah pil yang mirip permen berbentuk bulat, berwarna merah.


"Permen?"


"Hm."


Tanpa bertanya lebih jauh lagi, Abraxas langsung menelan pil bulat tersebut.


"Pakai ini," ujar Rian lagi, memberikan masker.


Abraxas menurut.


Rian bersandar pada dinding, maskernya belum pakai, hanya ia gantung di daun telinga.


Abraxas menunjukan raut wajah bingung dan panik melihat satu persatu tamu tumbang dan tergeletak tak sadarkan diri di lantai. 


Para tamu yang masih sadar langsung buyar dan berniat keluar dari ruangan ini. Sayangnya semua pintu keluar dikunci. Ibunya Abraxas juga tampak panik melihat pestanya kacau balau. 


Abraxas ingin menghampiri sang ibu ketika melihat ibunya pucat, muntah darah kemudian tak sadarkan diri. Selingkuhan sang ibu juga mengalami hal yang sama.


Kini semua orang di ruangan ini kecuali Rian dan Abraxas jatuh tak sadarkan diri. Mereka terbaring bak laron-laron yang mati berserakan.


"Luca, apa yang terjadi? Mengapa kita tidak pingsan?"


Abraxas menyuarakan kebingungannya.


"Tentu saja karena kita sudah memakan penawarnya," jawab Rian, malah merenggangkan tubuhnya kemudian mengajak Abraxas keluar.


"Axas, mulai saat ini kau sudah lepas dari sini. Kau bukan lagi ketua kartel narkoba. Aku sudah melepas tali kekangmu," ujar Rian ketika berada di depan pintu ruangan tersebut.


"Tapi ibuku?"


Abraxas menatap nanar pintu ruangan.


"Axas, ini belum selesai," ujar Rian menepuk pundak Abraxas.


Rian mengeluarkan sebuah korek api. 


Mata Abraxas melebar.


"Apa … apa yang akan kau lakukan sekarang?"tanya Abraxas takut juga panik melihat Rian yang menunjukan wajah penuh nafsu membunuh, sorot mata tajam serta seringai yang tidak pernah Abracas lihat.


"Tentu saja membunuh mereka sekaligus," jawab Rian, membuka pintu sedikit, menyalakan korek tersebut.


"Ayo," ajak Rian, berlari meninggalkan pintu ruangan tersebut.


Abraxas yang masih bimbang harus memilih siapa, berdiam diri sejenak.


Abraxas mengepalkan kedua tangan, menghela nafas panjang kemudian lari mengejar Rian yang hampir mencapai gerbang kastil. Abraxas telah memilih Rian.


 Kini mereka sudah berada di luar kastil, duduk di dalam mobil yang dikemudikan oleh salah seorang bawahan Rian.


Boom.


Boom.


Boom.


Abraxas terkejut melihat kastil tempat ia tinggal meledak dan terbakar. Sumber ledakan dimulai dari ruangan pesta. Abraxas menyentuh jendela mobil, menatap tidak percaya apa yang terjadi.


"Luca … apakah ibuku akan benar-benar tewas?"tanya Abraxas lirik. 


Bagaimanapun ia tetaplah anak dari wanita yang menjadikan dirinya boneka. Rasa peduli terhadap ibunya masihlah ada walaupun setitik.


"Bahkan jika aku tidak membakar rumahmu, mereka akan tetap mati," jawab Rian santai. Menatap datar api yang menyala hebat melahap bangunan mewah nan klasik tersebut. Malam yang gelap dan dingin menjadi hangat dan terang karena besarnya api. Jago merah mengamuk, menyambar bangunan lainnya.


"Bukankah kita hanya berencana menggulingkan ibuku? Mengapa kau membunuhnya?"


"Dalam kamusku menggulingkan berarti menghancurkan. Sama saja dengan menyelesaikan masalah sampai akarnya. Menghancurkan musuh haruslah menghabisi mereka sampai mereka tidak akan pernah berdiri lagi. Aku malas berurusan dengan mereka di lain hari jika aku melepaskan mereka. Jadi lebih baik aku bunuh saja," jawab Rian santai.


"Ternyata kau sangat kejam."


Abraxas baru menyadarinya. 


"Tidurlah. Saat kau bangun, semua akan berubah," ujar Rian.


"Luca mengapa tidak ada pemadam kebakaran yang datang?"


Abraxas tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Matanya terasa berat dan tanpa ia sadari ia tertidur.


"Kerja bagus!"puji Rian pada sopirnya.


"Terima kasih, Tuan."


Rian mengalihkan tatapannya pada kastil yang tengah dilahap sang jago merah. Mengingat rencananya.


Tiga orangnya, ikut serta dalam memasak hidangan dan kue ulang tahun. Semua hidangan kecuali buah-buahan diberi racun yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan sulit untuk dideteksi.


Selain itu, AC yang seharusnya berfungsi sebagai pendingin dan penghangat ruangan telah diubah menjadi pengantar racun berbentuk bubuk bercampur dengan udara. 


Selama pesta, pintu ruangan dikunci oleh orang-orang Rian. Baru dibuka saat Rian menyuruh membuka pintu.


Jadi walaupun Rian tidak membakar kastil, tetap saja semua yang berada di dalam kecuali ia dan Abraxas akan tewas. 


Untuk pemadam kebakaran sendiri memang sudah Rian perhitungkan. Lokasi kastil yang jauh dari pemukiman, serta jalan menuju kastil yang diubah menjadi tempat festival musim gugur.


Jikapun pemadam kebakaran datang, kemungkinan kastil sudah berubah menjadi abu. Tinggal puing-puingnya saja.


"Ayo kita pergi!"


Rian dengan perasaan lega karena misinya hampir selesai menyuruh sopir menjalankan mobil meninggalkan tempat. 

__ADS_1


__ADS_2