Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 397


__ADS_3

Tiba di rumah sakit tempat Aldric dan Gerry dilarikan, Sasha langsung berlari menuju UGD. Elina dan Helian menyusul dengan berjalan cepat.


Di depan UGD sudah menunggu Li, Mira, juga Karina dan Arion. 


"Bagaimana keadaan mereka?"tanya Sasha dengan nafas tak beraturan.


"Masih ditangani oleh dokter," jawab Li.


Aldric tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk padamu. Kau harus baik-baik saja!batin Sasha, duduk lemas di bangku. Helian mengusap punggung Sasha memberi semangat.


Mira masih mondar mandir harap-harap cemas dengan kondisi suaminya. Tangannya mengepal di depan dada berdoa pada yang kuasa. 


Tatapan Karina datar, lurus ke depan. Arion tidak bisa menebak apa yang sedang Karina pikirkan. 


"Li." 


Li langsung menoleh ketika Karina memanggil.


"Selidiki dengan jelas kecelakaan ini!"ucap Karina dingin.


"Baik." 


Li meminta agar Elina menemani Mira sedangkan dirinya meninggalkan rumah sakit melakukan perintah Karina. 


"Sayang apa kau curiga kecelakaan ini tidak murni?"


"Hanya ingin memastikan. Jika memang tidak murni aku akan menghancurkan siapapun itu dengan tanganku sendiri!" Sorot mata dan senyum dingin.


"Tidak!" Mira menatap Karina. Karina menoleh dengan dahi mengeryit tipis.


"Jika memang kecelakaan ini disengaja aku sendiri yang akan menghancurkannya! Kau tak perlu turun tangan!"


"Jika begitu mari hancurkan bersama!" Elina ikut menimpali dengan sorot mata tajam.


"Kalian?!" Mira tersenyum. Elina kemudian membawa Mira untuk duduk. Mereka menunggu, menunggu dokter keluar dan kepastian kondisi Gerry dan Aldric. Beberapa saat kemudian, dokter keluar.


"Bagaimana kondisi suami saya, dokter?"


"Anda tidak perlu cemas, dokter Mira. Suami Anda baik-baik saja. Beliau hanya menderita luka ringan dan sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat," tutur dokter tersebut. Mira, Elina, Karina, Arion, dan Helian menghela nafas lega.


"Lalu bagaimana dengan tunangan saya, Aldric?" Tatapan Sasha sangat berharap apa yang terjadi pada Aldric sama dengan Gerry.


"Korban satu lagi masih ditangani. Harap bersabar," jawabnya, kembali masuk.


"Kakak … Aldric. Aldric terluka parah?" Nada bergetar dan seketika luruh ke lantai. Helian membantu agar Sasha duduk di bangku.


"Sasha, Aldric pasti baik-baik saja. Kamu jangan down dulu," ujar Karina.


"Nona?"


"Dia itu seorang pejuang. Tidak mungkin ia pergi saat tugasnya belum tunai," lanjut Karina.


Benar. Aldric belum mendapat jawaban darinya. Juga tugas sebagai bodyguard saja belum resmi Aldric emban. Aldric pasti baik-baik saja.


Tak lama kemudian, Gerry yang terbaring di brangkar dibawa menuju ruang rawat. Karina berdiri dan menatap sejenak wajau Gerry yang tampak damai dalam keadaan tak sadarkan dirinya. Sedangkan Mira langsung menggenggam jemari Gerry. 


"Cepatlah sadar." Karina berujar datar dan kembali duduk. Mira dan Elina kemudian mengikuti perawat yang membawa Gerry ke ruang rawat.


Tinggalah Karina, Arion, Sasha, dan Helian yang menunggu kepastian kondisi Aldric. 


Sepuluh menit kemudian, dokter keluar.


"Dokter bagaimana kondisi tunangan saya?" 


"Siapa yang keluarga pasien? Pasien harus segera mendapat tindakan operasi," tanya dokter.


"A-apa?" Sasha tercekat.


"Saya. Lakukan yang terbaik untuknya."


"Nona?" Dokter yang termasuk dokter senior itu langsung mengenali Karina.


"Tapi Nona, pasien kekurangan darah sedangkan stok darah O- kita tidak ada. Di bank darah juga kosong."


"Darah O-?"tanya Arion memastikan.


"Benar, Tuan."


"Kebetulan darahku O-. Ambillah darahku untuknya," ucap Arion.


"Ar?"


"Pemimpin juga harus berkorban untuk bawahan, bukan?" 


"Baiklah."


"Baik, Tuan. Silahkan ikut dengan saya." Arion mengikuti langkah dokter tersebut.


"Nona?"


"Tapi Nona bukankah di markas ada stock darah O-?"


"Benar. Tapi Aldric butuh tindakan cepat. Hanya kehilangan sedikit darah tidak akan membuat Arion celaka. Aku juga harus menghargai keputusannya," tukas Karina, kembali duduk dan memejamkan mata menunggu Arion selesai mendonorkan darahnya.


Setelah selesai mendonorkan darahnya, Arion istirahat di lantai tertinggi rumah kasih. Tentu saja lantai pribadi Karina.


Ketiga orang itu kini menunggu di depan ruang operasi. Sasha diam, berdoa pada yang kuasa agar operasi Aldric sukses. Helian tetap merangkul Sasha. Karina sendiri kembali memejamkan mata dengan kedua tangan menyilang di dada.


Waktu terasa berjalan sangat lambat. Dua jam berlalu seakan menunggu sekian tahun. Karina bahkan sampai tertidur beneran. Setengah jam kemudian, lampu operasi mati bertanda operasi selesai. Sasha yang masih terjaga langsung menghampiri dokter yang baru keluar. Helian yang terbangun karena gerakan spontan Sasha langsung berdiri dan ikut menghampiri dokter.


"Syukurlah. Operasi berjalan lancar. Pendarahan pasien juga sudah berhenti." Sasha mengucap syukur dan tersenyum lega. Helian ikut melakukan hal yang sama.


"Akan tetapi …."


Ucapan yang dijeda itu membuat hati Sasha yang cemas.


"Akan tetapi apa dokter?"


"Pasien masih dalam keadaan kritis. Malam ini adalah malam yang sangat menentukan. Jika dalam dua hari ia sudah sadar, maka ia akan baik-baik saja."


"Kritis?"


"Itu hal yang normal. Tidak perlu sekhawatir itu." Karina membuka matanya, menoleh ke arah Sasha.


"Nona." Dokter kembali menyapa Karina. Karina mengangguk pelan. 


"Pindahkan saja ke ruang rawat. Sasha kau yang menunggunya," ucap Karina, berdiri.


"Baik, Nona." Dokter tersebut kembali masuk dan tak berselang lama keluar bersama dengan Aldric yang tak sadarkan diri. Selang oksigen dan infus menempel padanya. Perban di kepala membuat hati Sasha menjerit sakit.


"Aldric …." Sasha memegang jemari Aldric, membawanya memegang pipinya. 


"Cepatlah sadar." Sasha ikut mendorong brankar menuju kamar rawat. 


Helian mengikut. Karina mendengus sebal. Meninggalkan ruang operasi menuju lantai pribadinya. Malam ini tidur di rumah sakit saja, lagipula besok hari minggu. 


*


*


*


Semalaman suntuk Sasha berdoa agar Aldric cepat sadar. Helian yang pada dasarnya sudah ngantuk berat, tidur di sofa. Lelah menunggu Aldric sadar dan melewati masa kritisnya akhirnya tertidur. 


Sasha kembali membuka mata saat mendengar azan subuh berkumandang. Sasha mengerjap pelan kemudian menatap wajah Aldric yang masih tak sadarkan diri. 


Sasha yang sedikit mengerti medis langsung melihat layar detak jantung. Ia sedikit bernafas lega karena kondisi Aldric yang mulai stabil. 

__ADS_1


"Kakak." Sasha membangunkan Helian. Helian menggeliat pelan sebelum akhirnya bangun.


"Hm?"


"Aku mau salat subuh dulu. Kakak jaga Aldric dulu," ujar Sasha. Helian mengangguk.


"Pergilah, salatlah yang khusyuk," ucap Helian. 


Sasha mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan. 


Dan ya mereka memang beda agama.


*


*


*


Di ruang rawat Gerry, Mira tersenyum lega melihat Gerry yang sudah sadar. Segera ia memanggil dokter. Setelah melakukan serangkai pemeriksaan, dokter menyatakan Gerry sudah baik-baik saja dan tinggal menjalani pemulihan pasca kecelakaan. 


"Maaf membuatmu khawatir," ucap Gerry, masih dengan nada lemah. 


"Syukurlah semua baik-baik saja. Dan jangan salahkan dirimu sendiri. Ini sudah takdir," ucap Mira, mengusap kepala Gerry.


"Kamu sendirian?"


"Iya. Saat tahu kamu kecelakaan, Laith sudah tidur. Aku tak tega membangunkan dan membuatnya sedih," jelas Mira.


"Kamu melakukan hal yang benar." Gerry tersenyum.


"Tapi aku yakin sebentar lagi Laith pasti datang."


"Benar juga. Haruskah aku menjahilinya lebih dulu?" Senyum jahil terbit pada Gerry. Mira berdecak sebal. Dengan kesal memukul keras lengan Gerry.


"Ah auh sakit Mira!"pekik Gerry kesakitan.


"Rasain! Makanya jangan macam-macam!"ketus Mira.


"Ah aduh sakit. Mir darahnya naik. Aduh sakit!" Gerry terus mengadu sakit. Mira yang awalnya memalingkan wajahnya melihat Gerry. Mata Mira terbelalak melihat darah yang naik ke selang infus. Dengan pengetahuannya sebagai seorang dokter, Mira segera menangani hal tersebut.


"Kau mau mencelakaiku? Huh?" Wajah Gerry sangat kesal. Masih meringis sakit. 


"Ya maaf. Lagian kau membuatku kesal!"sahut Mira dengan tatapan kesal.


"Ya jangan dibawa serius. Lihat akibatnya!"balas Gerry.


"Hmph!" Keduanya saling membuang muka.


"Aduh kalian pagi - pagi sudah bertengkar. Seperti tidak habis kecelakaan saja," goda Li yang masuk dengan wajah heran, disusul oleh Elina.


"Salahnya sendiri. Sudah sadar mau pura-pura masih pingsan. Mau buat Laith histeris ya!"papar Mira dengan wajah cemberut.


"Aku salah. Aku salah. Jangan diperpanjang. Lagian aku sudah kena hukuman darimu!"sahut Gerry.


"Dasar!"gerutu Mira.


"Duh memang romantis ya," ucap Elina.


"Oh iya, apa Laith tidak ikut denganmu?"tanya Gerry.


"Aku belum pulang ke markas. Semalaman menyelidik penyebab kecelakaan," ucap Li.


"Jadi apa hasilnya?" Belum sempat Gerry bertanya, Karina masuk dan memotong Gerry. 


"Real. Murni kecelakaan," jawab Li.


"Baguslah." 


Karina tersenyum tipis. 


"Benar. Jadi kami tidak perlu bolak balik menjengukmu!"timpal Li.


Gerry berdecak sebal.


"Lantas bagaimana dengan Aldric? Aku yakin kondisinya lebih parah dariku. Saat itu ia melindungiku," tanya Gerry serius.


"Kondisinya mulai stabil tapi masih kritis. Kau tak perlu merasa bersalah," jawab Karina.


"Jangan lupa ucapkan terima kasih padanya. Ia sampai harus menjalani operasi dan sempat kekurangan darah!"pesan Arion. 


"Operasi?" Gerry membulatkan mata. Rasa bersalah tentu saja ada padanya, terlebih ketika mengingat Sasha. 


"Aku ingin bertemu dengannya," ucap Gerry.


"Aku sudah mengatur kepulangannya ke markas. Aku juga sudah mengurus kepulanganmu. Setelah pemeriksaan sekali lagi, kita pulang ke markas!"ucap Karina.


"Jadi Aldric sudah pulang?"


"Yap baru saja, sama Sasha dan Helian," sahut Arion.


Setelah obrolan ringan, dokter kembali masuk dan memeriksa kondisi Gerry. Izin pulang sudah di tangan, setelah sarapan dan minum obat Gerry bersiap untuk pulang.


Li mendorong kursi roda Gerry keluar dari ruang rawat menuju mobil. Mereka berpisah di parkiran. Karina dan Arion pulang ke rumah sedangkan empat orang itu pulang ke markas.


*


*


*


"Papa!" Laith yang sudah menunggu di lobby langsung memeluk Gerry. 


"Papa nggak papa kan?" 


"Kamu lihat saja sendiri, Nak. Papa sudah sembuh. Hanya saja masih harus pakai kursi roda," jawab Gerry, melirik Mira.


"Papa nggak usah sok kuat. Papa memang sudah sembuh tapi belum pulih total. Kalau nggak mana mungkin Mama nyuruh Papa pakai kursi roda." Gerry tersenyum simpul. Punya anak yang cerdas memang manis-manis jambu. Sulit untuk dikadali yang ada ia yang dikadali.


"Benar itu Laith. Apa kau tahu? Tadi Papamu ini ngotot nggak mau pakai kursi roda," ucap Mira.


"Wah apa Papa mau kakinya dipotong?" Mata Laith membulat tidak percaya.


"Sembarangan! Nggak sampai ke situ juga kali!"seru Gerry.


Hahaha 


Koor tawa terjadi pada Mira, Laith, Li, dan Elina melihat Gerry yang cemberut.


"Kalau begini terus yang ada aku mati karena naik darah!"ketus Gerry.


"Makanya darahnya jangan tinggi-tinggi, nanti malah kebablasan ke langit," tawa Li.


"Kalian!" Gerry benar-benar kesal menjadi bahan tertawaan. 


"Huh menyebalkan!" Gerry mendorong sendiri kurus rodanya meninggalkan anak, istri, dan sahabatnya yang masih tertawa.


"Eh-eh malah ngambek." Mira mendengus senyum, segera mengejar Gerry disusul oleh Laith.


"Kalau begitu ceritanya, kecelakaan tadi malam itu bukanlah hal besar," ucap Elina.


"Tidak, Eli. Bagi Gerry memang bukan hal besar tapi untuk Sasha itu sangat berat. Lebih baik kita lihat mereka dulu," ralat Li.


"Ah aku lupa. Maaf, Li." Elina tampak menyesal.


"Sudahlah, ayo."


Baru saja melangkah, keduanya terhenti kala melihat anak tunggal mereka berlari mendekati mereka.

__ADS_1


"Mama! Papa!"


"Auh!"


"Ali!"seru keduanya panik melihat Ali yang terjatuh.


"Ali mana yang sakit?"tanya Elina panik.


"Nggak sakit kok Ma, cuma perih," ucap Ali, menatap lututnya yang berdarah yang kini ditiupi oleh Li.


"Tetap saja, Ali."


"Lain kali jangan lari-lari. Ayo kita ke klinik sekalian lihat Aldric," ucap Li, menggendong Ali.


"Paman Aldric dirawat di markas?"


"Apa kau tidak tahu?"


Ali menggeleng.


"Kondisi Paman Gerry gimana?"


"Sudah sembuh tapi sedang naik darah."


"Naik darah? Hipertensi?"


"Ya begitulah."


"Padahal terlihat anteng ternyata suka marah-marah." Li dan Elina tersenyum mendengar ucapan Aku.


*


*


*


Sasha masih setia menunggu Aldric sadar. Helian masuk dengan membawa nampan berisi sarapan.


"Aku tidak lapar, Kakak."


"Mulutmu yang enggan makan atau cacing di perutmu? Makanlah barang sesuap. Menunggu Aldric bangun juga butuh energi. Jangan sampai kau juga ikut sakit," ucap Helian.


Sasha tetap menolak.


"Sha jangan keras kepala!"


"Kakak aku benar-benar tidak lapar!"tegas Sasha.


"Ck!"


"Excuse me, spada, ada orang?" Ali memasukkan kepalanya ke dalam kamar rawat Aldric.


"Ali?" Helian dan Sasha menoleh.


"Kelihatannya ada yang nggak doyan makan nih." Ali melangkah masuk, dan melihat menu sarapan di atas meja. 


"Bubur tawar?" Ali mengernyit setelah mencicipi sarapan itu.


"Paman mana mungkin orang sehat selera makan dengan menu ini? Aku rasa di sini yang sakit itu Paman. Lidah Paman bermasalah ya?"


Helian tersedak dengan ucapan Ali. Sasha sendiri menatap heran Helian.


"Kakak kau ini terlalu panik atau bersemangat?"heran Sasha.


"Hehehe, maafkan kakak, Sha. Kakak salah ambil sarapan," tawa malu Helian. Sasha menggeleng pelan. Helian kemudian bergegas keluar untuk mengambil sarapan baru. Tentu saja bubur tawar itu ia bawa.


"Paman Aldric kuat juga ya? Lihat bulu matanya sudah bergerak. Pasti mau sadar," ucap Ali yang melihat jelas Aldric setelah berdiri di atas kursi. 


Memang benar, kelopak mata Aldric mulai bergerak dan beberapa saat kemudian terbuka. Gerakan matanya masih lemah, mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. 


"A-Aldric?!" Sasha langsung memanggil dokter.


"Di mana ini?" Nafa lemah menoleh ke kiri di mana Ali berada.


"Markas."


"Markas?"


"Paman kau tidak hilang ingatan kan?" Ali tampak penasaran.


"Sasha … Gerry?"


"Oh baik-baik saja rupanya. Paman Gerry baik-baik saja, Paman. Kak Sasha keluar panggil dokter Rey."


"Ali?"


"Paman apa kepalamu sakit?"


Aldric mengangguk pelan. 


"Ya jelas sakit, kan habis operasi."


"Operasi? Tapi golongan darahku langka." Saat memutuskan melindungi Gerry, Aldric sudah memikirkan akibatnya. 


"Tuan Arion yang mendonorkan darah untuk Paman," ujar Ali memberitahu.


"Tuan Arion?"


"Benar."


Ali turun dari kursi saat dokter Rey masuk dan langsung memeriksa kondisi Aldric. Sasha dan Helian menunggu dengan cemas. Li dan Elina juga ikut menunggu hasil pemeriksaan. 


Dokter Rey berdecak kagum pada Aldric.


"Memang pantas direkrut oleh Queen."


"Jadi?" Sasha meminta kepastian.


"Apalagi? Dia sudah sadar artinya masa bahayanya sudah lewat. Ingatannya juga tidak terganggu hanya tinggal pemulihan saja. Prediksiku dalam tiga bulan ia sudah pulih total," papar dokter Rey.


"Syukurlah." Ucapan syukur saling bersahutan.


"Sasha …." Memanggil lirik. 


"Ah mereka butuh waktu berdua. Ayo-ayo keluar," ucap Li. Selain Sasha yang lain keluar.


Kini tinggal mereka berdua.  Sasha langsung memeluk Aldric dan menumpahkan air mata di pelukan Aldric.


"Aldric kau membuatku ketakutan setengah mati!"ucap Sasha.


"Maaf. Maaf Sha. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih."


"Tapi kau sudah melakukannya!"


"Aldric ku mohon, jangan celaka lagi. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kau terluka."


"Sasha artinya itu …."


"Aku bersedia menikah denganmu. Aku bersedia. Maaf membuatmu kecewa karena keraguanku. Aku bodoh, ku mohon maafkan aku."


"Kau bersedia?"


"Iya!"


"Satu kalimat itu membuatku sangat bahagia hingga rasa kecewa yang sempat aku rasakan sirna. Sasha terima kasih. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia."


"Ya. Aku percaya padamu. Terima kasih telah kuat. Kau benar-benar pria yang hebat!"

__ADS_1


__ADS_2