
Makan malam pun tiba. Kakek Bram, Amri dan Maria sudah standby di meja makan. Tinggal menunggu Karina dan Arion keluar dari kamar. Tak lama kemudian Karina menuruni tangga dengan menggandeng Arion. Dengan cepat mereka mengambil tempat duduk.
"Lama banget kalian di kamar? Habis ngapain kalian hayo?" tanya kepo Maria.
Arion menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan mamanya sedangkan Karina ya setia dengan wajah datarnya.
"Habis bantuin Arion memadamkan api Ma," jawab Karina. Arion mendelik kesal ke arah Karina. Yang ditatap hanya menaikan bahunya.
"Api? Di mana ada api? Apa kamarmu kebakaran?" tanya heboh Maria.
"Bukan di situ Ma tapi di dalam tubuh Arion," jawab Karina lagi yang sukses membuat Arion menahan rasa panas di wajahnya.
"Oh ... apa? Jadi kalian habis enak-enakkan?"cucap Maria antusias.
"Ha ... ha ... hasim." Bukannya jawaban yang didapat malah jawaban bersin Arion.
"Kamu kenapa Ar?"ctanya Amri mengerutkan dahinya. Katanya abis ehm-ehm man tapi kok jadi sakit?
"Itu Pa tadi Arion mandi air dingin," jawab Arion.
"Air dingin? Astaga Ar ... kok bisa sih?" ucap Maria heran.
Ariom diam. Ia mengingat kejadian di kamar mandi tadi.
Flashback on.
Arion dan Karina telah berada di kamar mandi.
"Cepat lepas pakaianmu," ucap Karina.
"Hah?" kaget Arion.
"Cepat atau aku tak membantumu," kesal Karina.
"Ya iya," sahut Arion.
Arion melepas satu persatu pakaiannya. Sembari menunggu Arion melepas pakaiannya Karina mengisi bath up dengan air dingin.
"Aku sudah selesai," ujar Arion.
Karina berbalik menatap Arion. Arion hanya menyisahkan celana dalamnya saja. Tampak sesuatu yang membesar di balik celana dalam itu. Terlihat sedikit rona merah di pipi Karina.
Karina memandang Arion dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Glekk." Karina menelan air liurnya melihat roti sobek Arion. Merasa dipandangi Arion salah tingkah dan memeluk badannya sendiri.
"Mengapa kau diam di sana ayo kemari," ucap Karina. Arion berjalan kaki mendekati Karina dengan tetap memeluk badannya sendiri.
Tak tahan dengan keadaan Arion yang malu-malu kucing membuat Karina gemas. Dengan cepat Karina menarik tangan Arion dan ....
Cup ....
Cup ....
Cup ....
Karina berulang kali mengecup bibir Arion. Arion terbelalak kaget dengan tindakan Karina tiba-tiba. Matanya melebar dan api dalam tubuhnya semakin membara.
"Jangan begini. Kau menambah bara dalam api dalam tubuhku," ucap Arion serak.
"Hmmm," gumam Karina.
"Jadi bagaimana ini? Ayo cepat bantu aku memadamkannya tanpa memakanmu,"ucap Arion .
Bersamaan dengan itu, bath up telah terisi dengan air sepenuhnya.
"Ayo masuk ke dalam bak," ujar Karina.
"Bak?" beo Arion.
"Hmmm."
"Kok malah bak sih? Bukannya kamu bantuin aku menggunakan tangan atau ini ...,"ucap Arion menunjuk bibirnya.
"Maksudmu aku pakai tangan sama mulut gitu?" tanya Karina .
__ADS_1
Arion mengangguk.
"No," tolak Karina tegas.
"Why?" tanya Arion.
"Aku tak mau," sahut Karina
"Ayolah Karina aku mohon. Pakai tangan ya ya?" mohon Arion dengan mata puppy eyes.
"No. Kalau pakai tangan kerjakan saja sendiri," jawab Karina.
"Oke ... baiklah kalau gitu," jawab Arion cemberut.
Arion mengarahkan tangan melepas celana dalamnya dan mulai memadamkan api dalam tubuhnya dengan tangannya sendiri. Mata Karina melebar seketika. Apalagi dengan kondisi Arion yang tanpa selesai benangpun.
Dengan cepat Karina menarik Arion dan memasukkannya ke dalam bath up.
Byruuuurrr ....
"Ah ... dingin," keluh Arion merasakan air dingin menyentuh kulitnya telanjangnya.
"Nah gini baru benar. Kalau mau pakai tangan dalam air saja," ucap santai Karina.
Arion diam meringkuk di dalam bath up. Wajahnya campuran dari memelas, cemberut dan juga kesal seperti anak kecil yang dimarahi dan dihukum.
"Ini handuknya. Baju gantinya ada di ranjang. Aku keluar dulu," seru Karina keluar dari kamar mandi.
"Tunggu!" cegah Arion.
Karina berbalik menatap Arion.
"Apa?" tanya Karina.
"Kau tak mau lihat ini lagi?" tanya Arion berdiri di dalam bath up menampilkan roti sobek dan alat vitalnya.
Karina manatap datar Arion.
"Nanti ada saatnya," jawab Karina keluar dengan cepat dari kamar mandi.
Arion kembali merendam tubuhnya dalam air dingin. Perlahan tapi pasti Arion merasakan api dalam tubuhnya mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Flashback off ....
"Gak papa Ma cuma tadi gerah saja," ujar Arion.
"Ohhh."
"Sudah ayo makan dari tadi kalian ngobrol saja," ucap Kakek Bram yang dari tadi menyimak. Ucapan kakek Bram diangguki keempatnya.
Mereka makan dengan lahap. Apalagi menu yang disajikan salah satunya adalah menu kesukaan Arion, ayam kecap.
Kakek Bram memonopoli semua ikan nila bakar yang disajikan. Mereka makan dengan tenang tanpa suara.
Selesai makan, Bik Mirna langsung mengambil piring kotor dari meja makan untuk dibawa ke dapur dan dicuci. Sedangkan Nita dengan sigap menyajikan makanan penutup. Puding mangga.
"Puding mangga?" tanya Arion mendapati makanan yang paling ia sukai.
"Dari mana kau tahu aku suka dengan ini?" tanya Arion pada Karina.
"Dari Mama. Waktu di ruang rias sebelum pernikahan," jawab Karina.
"Benarkah Ma?" tanya Arion menatap Maria.
Maria bingung harus jawab apa sebab dia tak pernah memberitahu Karina. Namun melihat tatapan Karina membuatnya mengangguk mengiyakan.
"Iya. Mengapa kau sangat menyukainya Ar?" tanya Maria pura-pura tak tahu.
"Entahlah Ma ... aku menyukainya karena ini pertama kali diberikan oleh Gadis kecil waktu aku ke rumah Kakek. Sejak itu aku menyukainya," jawab Arion tersenyum mengingat masa lalu.
"Hmm ... jadi maksudnya ini kue kenangan dari kekasih masa kecilmu gitu Ar?" tanya Amri ikut nimbrung.
"Eh ... enggak Pa …," elak Arion.
"Jadi?" timpal Kakek Bram.
__ADS_1
"Jangan gitulah ... nanti istriku cemburu," ujar Arion melirik Karina.
"Kau tak cemburu kan, Sayang?" tanya Maria pada Karina.
"Untuk apa aku cemburu?" tanya balik Karina.
"Kau tak cemburu?" tanya Arion.
"Coba kau ingat kata-kataku di kamar tadi," bisik Karina.
Arion mengingat-ingat perkataan Karina.
Kalau kau macam-macam dengan wanita lain akan ku cincang adik kecilmu itu.
Arion bergidik ngeri mengingat itu.
"Enggak kok Ma," jawab Arion.
Malam malam pun berakhir. Mereka menuju kamar masing-masing. Waktu menunjukan pukul 22.00 malam. Di kamar Karina segera menidurkan tubuhnya di ranjang. Arion ikut tidur di sampingnya.
Arion dengan ragu memeluk Karina. Karina diam saja tak berontak. Malah mendekatkan wajahnya ke dada Arion dan memejamkan matanya. Arion mencium kening istrinya dan ikut memejamkan matanya.
***
Keesokan paginya. Arion bangun lebih awal dari Karina. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah istrinya yang tengah nyenyak tertidur. Arion tersenyum. Ia ingin setiap membuka matanya hal pertama yang ia lihat adalah istrinya.
Arion mengulurkan tangannya merapikan rambut di wajah Karina. Ia mengelus wajah Karina dan ....
Cup ....
Satu kecupan mendarat di kening Karina. Karina menggeliat pelan. Tak lama Karina mulai membuka matanya setengah.
"Aih .. aku membangunkanmu ya," sesal Arion.
Karina diam tak menanggapi. Karina bangun dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Arion ikut melakukan hal yang sama. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Karina namun ditahan oleh tangan Karina.
"Mau apa kau?" tanya Karina dengan suara serak khas bangun tidur.
"Memberi kecupan selamat pagi," jawab Arion.
"Hah? Ikan cup*ng?" tanya Karina yang tak mendengar jelas ucapan Arion karena rasa ngantuk yang masih mendera.
"Bukan ikan cup*ang tapi kecupan!" jelas Arion.
"Kau mau makan ikan cup*ng? Ya sudah suruh Bibi mengambilnya di kolam," ucap Karina.
Arion frustasi karena itu.
"Bukan itu loh Karina tapi ini," ujar Arion menarik cepat Karina dan mengecup bibirnya agak lama.
Mata Karina melebar. Kesadarannya terkumpul seketika. Ia dengan cepat melepaskan diri dari Arion.
"Apa-apaan ini?" kesal Karina.
"Kecupan selamat pagi Istriku kecilku yang dingin," awab Arion tersenyum manis.
"Mengapa tiba-tiba?" tanya Karina ketus.
"Ya kau saja yang tak sadar. Dari tadi aku bilang kecupan selamat pagi tapi kau malah bilang ikan cup*ng apalah itu."
"Ya tetap saja."
"Ya sudah aku minta maaf. Lagian kecupan untuk istri sendiri gak boleh kah?" tanya Arion santai.
"Hmmm."
"Ya sudah aku mau mandi."
"Aku ikut," ujar Arion.
"Mau ngapain?" tanya Karina menaikan salah satu alisnya.
"Mandi bareng," jawab Arion nyengir kuda.
__ADS_1
"Gak!" tolak Karina dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan Arion yang masih duduk di ranjang. Arion mendengus kesal.
Ia menghela nafas dan berjalan menuju balkon kamar. Menikmati suasana pagi yang indah dengan kicauan burung dan juga hijaunya pepohonan memanjakan mata.