
Karina mengumpat saat ia dipaksa berlutut dengan kedua dipegangi oleh dua orang. Kondisi tubuh pasca melahirkan yang masih lemah ditambah luka tembak di lengan membuat Karina sedikit tidak berdaya.
"Nyalakan lampunya, anak nakal!"
Kacamata Karina dilepas paksa. Tatapan Karina berkilat tajam. Nafasnya menderu.
"Cih! Dalam mimpumu, Pak Tua!"sahut Karina dengan nada meremehkan.
Plak!
"Beraninya kau melawanku?!"
Karina menunduk, terdiam sesaat merasakan pipinya panas.
"Hentikan! Jangan sakiti anakku!"pekik Maria berontak, dihadiahi sebuah goresan di lengan.
Maria meringis, darah segar ke luar, jatuh membentur lantai. Mata Karina melebar.
"Hidupkan!"
Dengan satu perintah, seluruh lampu lantai lima menyala. Maria dapat melihat jelas pipi Karina yang lebar serta lengan yang berdarah. Pria tua itu terkekeh puas.
"Jangan sakiti keluargaku!"ucap Karina dingin.
"Jika kau mau keluargamu selamat, maka serahkan anakmu padaku!"sahutnya seraya menepuk-nepuk pipi Karina.
"Menyerahkan anakku? Hehehe …. Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan anakku kepada orang lain! Terutama pada manusia keji sepertimu!"
Karina terkekeh setelah meludah tepat di wajah pria itu.
"Kurang ajar! Dasar murid durhaka!"pekik pria itu, kembali melayangkan tamparan pada Karina.
"Tidak! Aku mohon hentikan. Jangan memukul anakku lagi!"teriak Maria histeris.
Karina memejamkan matanya, kepalanya terasa pusing, ketika membuka mata tatapannya menjadi kabur.
Karina menatap Maria dengan wajah yang lebam, berusaha tersenyum.
"Mama tenang saja. Hari ini bukan hari dukaku!"
"Karina …."
Karina mengangguk kecil meyakinkan Maria. Karina mendongak, menatap pria tua itu yang menetap geram Karina.
"Murid durhaka? Sejak kapan aku menjadi muridmu? Pak Tua, hari ini jangan berharap kabur karena ini adalah hari kematianmu!"
"Kau mengancamku dengan kondisi seperti ini? Ingat Karina … semua yang telah kau kembangkan adalah hasil penelitianku! Atau aku bunuh saja kau dan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Pria itu mengambil sebuah pisau.
"Kau kira setelah aku mati di tangamu semua akan menjadi milikmu? Kau bermimpi terlalu tinggi! Ah …."
Karina mengeluh sakit saat lengannya ditusuk dengan pisau. Perih.
"Tak ada gunanya kau membunuhku. Kau hanya memancing amarah singa yang tertidur!"ucap Karina, tertawa.
"Dasar wanita gila!"
Lagi-lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Karina. Darah keluar dari sudut bibirnya.
"Kau bisa membunuhku asalkan kau lepaskan dulu Ibuku!"
"Wah sepertinya kau sangat siap untuk mati?!"
"Aku selaku siap mati kapanpun. Lepaskan ibuku kau bisa menbunuhku!"
"Begitulah? Tapi kini aku berubah pikiran. Bawa wanita itu keluar!"
Maria menatap Karina tidak rela. Menggeleng keras saat diseret keluar.
"Sekarang bunuhlah aku!"ucap Karina, menutup mata.
"Anak ingusan sudah ku katakan aku berubah pikiran. Membunuhmu sangat tidak menguntungkan untukku. Lebih baik mendapatkan seorang pewaris lagi dari dirimu!"ucap pria itu, membelai pipi Karina.
Mata Karina melebar.
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi!"
Karina memberontak keras dengan kedua tangan yang terluka. Kekuatan Karina seakan kembali dan berkali-kali lipat. Mengambil pistol yang tergeletak di lantai kemudian menodongkannya kepada pria tua itu.
Pria tua itu mundur, mengangkat kedua lengan. Matanya berubah kesal.
"Dasar jal*ang!"desisnya dingin.
Karina maju, mendesak pria itu ke dinding.
"Sudah ku katakan sebelumnya hari ini bukan hari kematianku melainkan hari kematianmu!"
"Pak Tua bersiaplah untuk mati!"
Karina bersiap menarik pelatuk tapi sayang ia kalah cepat dengan sebuah peluru yang menuju ke kakinya.
__ADS_1
Karina terkejut dan terjatuh, membuat paha kanannya yang berdarah lengkap dengan bekas tembakan.
"Keadaan berbalik!"ucap Pria tua itu, menunduk dan mencengkeram dagu Karina.
"Saatnya kita pergi," ucapnya pada orang-orangnya.
"B*doh!"ejek Karina, menatap remeh pria itu.
"Apa maksudmu?"tanyanya marah.
Karina yang kini berdiri dengan dipapah oleh dua bawahan pria tua itu terkekeh seraya melihat lubang yang terbentuk akibat ledakan.
"Semua yang ku kembangkan awalnya memang darimu, tapi hanya sebagian kecil. Bagaimana aku hebat bukan?"
Sempat-sempatnya Karina meminta pujian. Pria tua itu melihat ke arah lubang di mana helikopter sudah menunggu. Ada sinar merah. Sinar laser menghalangi jalan keluar.
"Sial! Cepat matikan itu!"
"Matikan? Mari mati bersama!"kekeh Karina.
"Kau!"
Belum sempat tangan itu memukul Karina, pria tua itu seakan membeku dengan mata terbelalak. Karina membuka matanya, tertegun melihat dahi pria itu yang berlubang dan berdarah. Disusul dengan pegangan pada kedua tangannya yang mengendur. Karina terduduk dengan perasaan sedikit lega.
Meringis merasakan sakit pada tubuhnya. Luka tembak pada paha kanan, lengan kanan, dan luka tusuk pada lengan kirinya sakit secara bersamaan.
"Queen!"
Karina menoleh ke belakang seraya memegang lengannya yang terkena tusukan.
"Kalian?"
Karina kaget melihat Li dan Gerry yang baru menurunkan pistol, berlari menghampiri Karina.
"Mengapa kalian kemari?"tanya dingin Karina.
"Anda tenang saja. Kedua anak Anda berada di tempat yang aman," ujar Li.
Li menyandarkan Karina pada dinding. Gerry mencari kotak obat.
Gerry mengurus luka tusuk sedangkan Li mengurus luka tembak di lengan. Karina kembali meringis.
"Kalian harus dihukum karena melanggar perintahku!"ucap Karina.
"Kami akan menerimanya. Sekarang lebih penting menghentikan pendarahan ini!"jawab Li.
"Apakah kalian merubah tempat?"tanya Karina.
"Bagaimana dengan yang lain?"tanya Karina, cemas dengan keadaan Arion, Amri, dan Maria.
"Mereka terluka tapi baik-baik saja. Sama sepertimu. Untung saja Tuan Sam dan Calvin datang dengan cepat, jadi semua cepat berakhir," ujar Li.
Karina menghela nafas lega.
"Miringkan tubuh Anda, Queen," ujar Gerry.
Karina sedikit memiringkan tubuhnya. Li dan Gerry kini bekerja sama untuk mengeluarkan peluru dan menghentikan pendarahan akibat luka tembak.
Setelah membalut luka Karina, Li menggendong Karina keluar dari kamar diikuti oleh Gerry. Di luar, Karina melihat anggota Pedang Biru membereskan tubuh-tubuh yang bernyawa yang berserakan di lorong lantai lima.
Li menghentikan langkah di tempat di mana Arion, Amri, dan Maria berada bersama dengan Calvin dan Sam yang membantu mereka mengobati luka walau hanya sekedar menghentikan pendarahan.
"Kakak Ipar! Kau tampak buruk!"seru Sam yang melihat pipi Karina lebam dan membengkak.
Arion yang mendengar itu membuka mata. Ia sendiri terkena tusukan di perut.
"Sayang," panggil lirik Arion.
"Tak apa," ujar Karina.
Maria dan Amri sendiri tak sadarkan diri.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, setelah pendarahan Arion berhasil ditangani, Li segera menginstruksikan mereka untuk mengikutinya.
Sam memapah Arion, Gerry memapah Amri sedangkan Calvin menggendong Maria.
Setibanya di rooftop, Li menurunkan Karina di kursi helikopter, berdampingan dengan Arion sedangkan Amri dan Maria berada pada helikopter satu lagi.
"Maaf harus menyusahkan istri kalian besok. Untuk sementara kami harus menenangkan diri. Lila dan Raina akan menangani kejadian hari ini di publik!"ucap Karina.
"Kami akan membantu sebisa mungkin!"jawab Sam dan Calvin bersamaan.
"Kami pergi," pamit Karina.
Sam dan Calvin mengangguk, menjauh saat baling-baling helikopter berputar dengan kencang dan perlahan terbang meninggalkan rooftop.
"Ayo," ajak Sam setelah kedua helikopter tersebut menjauh.
"Kita lupa bertanya mereka akan kemana," ujar Calvin.
"Karina akan menghubungi istri kita segera," sahut Sam.
__ADS_1
*
*
*
Sekitar dua jam kemudian, kedua helikopter tersebut mendarat di depan sebuah rumah yang tampak satu lantai, sederhana namun berkelas.
Karina yang masih terjaga menoleh ke arah Arion yang tertidur. Menurunkan pandangan melihat baju putih Arion yang masih ternoda oleh darah.
Li membuka pintu helikopter, menggendong dan membawa Karina lebih dulu.
Gerry mendekati helikopter di mana Arion masih di dalam, membantu Arion berdiri kemudian memapahnya masuk menyusul Li. Arion membuka mata saat telah berada di dalam rumah.
"Di mana ini?"tanya Arion, memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Rumah orangtuaku di kota S," jawab Karina.
"Anak-anak kita?"
Arion mengedarkan pandangan. Matanya menyiratkan rasa khawatir yang besar.
"Bintang dan Biru ada di kamar bersama yang lain. Aku akan memanggil Sasha dan Aleza untuk membantumu berganti pakaian," jawab Li yang masuk dengan memapah Amri disusul dengan Gerry yang menggendong Maria.
"Syukurlah. Aku lega semua sudah berakhir. Sayang bagaimana keadaanmu? Apakah sangat sakit?"
Li dan Gerry membawa Amri dan Maria ke kamar untuk istirahat, menunggu mereka sadar. Li juga tidak lupa menghubungi dokter markas cabang untuk ke rumah ini.
Mata Arion menatap sedih Karina, melihat tiga perban yang terdapat noda darah. Karina tersenyum samar. Sulit baginya tersenyum lebar karena bibir dan pipinya masih sakit juga bengkak.
"Dokter akan segera tiba. Aku akan membantumu berganti pakaian," ujar Gerry, duduk menghela nafas panjang di kursi tunggal.
"Baiklah. Terima kasih untuk semuanya," ucap Arion, memejamkan mata saat lukanya terasa perih.
"Sudah tugas kami. Tidak perlu terima kasih. Ayo," ajak Gerry.
Gerry berdiri, membantu Arion berdiri dan kembali memapahnya menuju kamar untuk berganti pakaian.
Sasha dan Aleza menghampiri Karina dengan wajah cemas. Li langsung memerintahkan mereka untuk membantu Karina mengompres pipi serta berganti pakaian.
*
*
*
Tak berselang lama, dokter yang dihubungi Li datang dengan dua dokter lainnya, salah satunya wanita. Li langsung membawa mereka ke kamar Amri dan Maria untuk diperiksa dan dirawat lebih lanjut.
Amri tidak menderita luka tusuk ataupun tembak akan tetapi beberapa tulang rusuknya patah dan pelipis yang koyak. Beberapa jahitan pun diberikan di sana.
Sedangkan dokter wanita tersebut membuka perban luka sayat Maria. Menyiapkan antibiotik dan alat jahit. Luka sayatan cukup dalam dan lebar.
Li menunggu dengan tak sabar di sudur kamar.
"Syukurlah, Tuan. Kondisi mereka berdua stabil. Besok pagi mereka akan sadar," ujar dokter setelah menyimpulkan hasil pemeriksaan.
"Syukurlah. Sekarang kalian rawat Queen dan suaminya. Pada Queen jangan gunakan jarum apapun. Kalian membawa apa yang aku suruh kan?"
Ketiga dokter tersebut mengangguk.
Karina dan Arion yang sudah berganti pakaian. Arion berbaring sedangkan Karina bersandar pada kepala ranjang, sama-sama meringis sakit. Karena buru-buru, Karina lupa membawa kotak obat pribadinya. Tertinggal di mobil.
Aleza dengan hati-hati mengompres pipi Karina dengan es batu. Karina diam merasakan dinginnya es batu pada pipinya. Rada sakitnya perlahan menghilang.
Arion memejamkan mata dengan perasaan tentram ketika mendengar suara tangis Bintang dan Biru yang dibawa masuk oleh Elina dan Mira. Karina menatap kedua anaknya dengan perasaan lega.
"Syukurlah kalian selamat," ucap lega Elina.
"Mengapa kalian merubah perintahku?"tanya Karina meminta penjelasan yang belum ia dapat dari Li.
"Cafe cukup dekat dengan rumah sakit. Li memutuskan mengubah tujuan kemari. Setelah menerbangkan kami, mereka berdua bergegas ke rumah sakit," jelas Elina.
"Apakah mereka haus?"tanya Karina.
"Tidak. Mereka baru saja minum. Mereka menangis karena ikatan batin dengan kalian. Bayi sangat sensitif terhadap perasaan dan keadaaan orang tuanya," jelas Mira.
"Kalian menjalankan misi dengan sangat baik," puji Arion tanpa membuka mata.
"Sudah tugas kami menjalankan misi dengan seluruh kemampuan," jawab Elina.
"Bintang, Biru berhentilah menangis. Mama dan Papa hanya terluka kecil. Terima kasih telah mengkhawatirkan kami," ucap Karina.
Seakan mengerti, kedua anak itu perlahan diam dan tertidur. Elina dan Mira undur diri ketika para dokter, Li, dan Gerry masuk.
Dua dokter pria menangani Arion. Luka tusuk yang cukup dalam, menyebabkan Arion kehilangan cukup darah dan harus melakukan transfusi. Untung saja semua sudah dipersiapkan.
Sedangkan Karina, hanya meminum beberapa pil dan dioleskan krim obat pada lukanya, tidak perlu dijahit.
Tak lupa pipi Karina juga diberi krim obat mempercepat penyembuhan.
Setelah semua selesai, Karina dan Arion disuruh untuk beristirahat. Ketiga dokter stay di rumah. Aleza, Sasha, Elina, dan Mira tidur satu ruangan dengan Bintang dan Biru, menjaga kedua pewaris itu. Sedangkan Li dan Gerry tetap terjaga di ruang tengah.
__ADS_1