
"Ternyata istri Tuan Muda Arion gemar bermain dengan tanah dan cacing ya?? Uh apa jangan-jangan bahan pangan untuk cafenya berasal dari sana juga ya? Ternyata walaupun sudah jadi istri orang kaya masih terasa miskin ya?" ejek orang itu yang hanya mendengar Karina mengatakan cabut di halaman belakang.
Karina memalingkan kepala ke belakang. Ternyata Joya berada di belakang Karina. Karina memiringkan kepalanya.
"Anda siapa ya?" tanya Karina pura-pura tidak kenal.
"Eh … ternyata selain wanita kotor kau juga pelupa ya? Aku Joya, kekasih suamimu," ucap Joya mengejek Karina dengan berkacak pinggang.
"Oh … Nona Joya? Aku Karina istri sah Arion. Salam kenal," sapa Karina tersenyum mengulurkan tangannya.
Bagaimana aku bisa lupa dengan putri dari pembunuh keluargaku dan juga sepupu tercintaku ini? tanya Karina dalam hati.
Joya hanya memandang sinis uluran tangan Karina. Karina menarik kembali tangannya memegang troli.
"Uh … ternyata kau tak mau berkenalan ya?" keluh Karina menampilkan raut sedih.
"Tinggalkan Arion!!!" ucap Joya penuh penekanan. Karina mengerutkan dahinya.
"Mengapa aku harus meninggalkan suamiku?" tanya Karina.
"Karena dia adalah kekasihku. Kami saling mencintai. Jadi aku minta kau tinggalkan Arion," jawab Joya.
"Jika aku tak mau?" seru Karina menatap santai Joya.
"Jika tidak aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya memilih mati daripada hidup," ucap Joya penuh tekanan.
"Uh … aku takut. Tapi aku lebih takut lagi kehilangan kunci peluangku. Kau tahu kan aku ini cuma pekerja cafe kecil. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Arion yang sudah menjadi suamiku?" ucap Karina santai.
"Ternyata kau juga matre. Berapapun yang kau minta akan kuberikan. Asalkan kau tinggalkan," ucap Joya sombong.
"Kau sungguh konyol, Nona Joya. Tolong minggir dari jalanku," ucap santai Karina mendorong trolinya.
"Tinggalkan Arion!" seru Joya tak mau menyingkir dari hadapan Karina.
"Huft … dasar crazy," gumam Karina berbalik dan mendorong trolinya pergi meninggalkan Joya yang berang.
"Hei … kau wanita sialan. Awas saja kau!!" teriak Joya marah.
Teriakannya mendapat teguran dari orang-orang yang terganggu mendengar teriakan Joya.
"Hei nona! Ini mall bukan hutan. Kalau mau teriak-teriak di hutan saja sana!" tegur seorang wanita muda.
Mendengar itu, Joya mendengus kesal. Dengan langkah marah ia pergi mencari ke mana Karina pergi.
***
Karina berputar-putar mencari rak buah-buahan. Ternyata rak buah berada di belakang freezer di mana Karina tadi mengambil daging. Karina segera mengambil buah apel, anggur hijau, jeruk dan juga buah naga.
"Beras sudah. Sayur, daging sama buah juga sudah. Apa lagi ya?" ucap Karina berpikir.
"Hmm … susu dan cemilan sepertinya boleh," seru Karina.
Karina mendorong troli menuju rak susu. Pilihannya jatuh pada susu full cream putih dan juga susu rasa stawberry dan juga susu coklat. Karina mengambil masing-masing dua kotak ukuran 900 ml.
Selanjutnya Karina menuju barisan di mana bagian makanan ringan berada. Karina memasukkan makanan ringan sesuai dengan seleranya.
Setelah selesai mendapatkan semua barang belanjaannya, Karina mendorong troli menuju kasir. Untung saja antrian tak terlalu panjang sehingga Karina tak terlalu lama mengantri.
Setelah tiba giliran Karina, kasir segara menghitung semua barang belanjaan Karina. Setelah selesai dihitung, Karina memasukkan kembali barang belanjaannya ke troli. Untuk pembayaran Karina menggunakan kartu gold yang pernah digunakan oleh Lila dan Raina untuk membeli kado pernikahannya.
"Terima kasih telah berbelanja di sini," ucap ramah kasir menyerahkan kembali kartu gold Karina.
"You are welcome," balas Karina ramah.
Karina keluar dari mall menuju mobilnya dan memasukkan semua belanjaannya ke bagasi. Setelah semua masuk, Karina mengembalikan troli di tempat yang telah disediakan di parkiran.
__ADS_1
Setelah itu,Karina masuk ke mobilnya. Namun, sebuah tangan menahan pintu mobil tertutup. Karina melihat siapa yang menahan pintu mobilnya. Ternyata itu Joya.
"Pantas saja kau tak mau meninggalkan Arion. Ternyata Arion memberimu kartu gold dan juga mobil mewah ini," ucap Joya.
Joya mengira bahwa Arionlah yang memberikan kartu serta mobil yang Karina gunakan.
"Huft … kau lagi Mona Joya. Apa kau tak lelah mengejar dan mengancamku? Aku saja lelah mendengar ancamanmu," ketus Karina.
"Tidak! Sampai kau meninggalkan Arion," balas Joya kekeh dengan pendiriannya.
"Huh … singkirkan tanganmu jika tak mau jari-jarimu itu hilang," ucap Karina bersiap menutup paksa mobil.
Mendengar itu, Joya refleks menarik tangannya. Karina tersenyum dan menutup pintu mobilnya. Karina membuka kaca mobil.
"Lebih baik kau saja yang tinggalkan Arion. Dia sudah jadi suami orang,"saran Karina dan melajukan mobilnya keluar dari parkiran mall.
Joya mengeram kesal. Ia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Aku ada tugas untuk kalian. Ikuti mobil Marcedes Benz warna putih dengan plat nomor KS 1908 TS. Dia baru saja keluar dari parkiran," perintah Joya.
"Baik," jawab orang itu.
Joya memandang sinis mobil Karina yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Ku harap kau selamat Karina. Agar kita bisa bertemu dan bermain lagi. Upss … salah deh aku harap kau mati hari ini," ucap Joya tertawa.
***
Karina sudah keluar dan sampai di jalan raya. Ia melirik kaca spion mobil. Ada dua mobil yang mencurigakan.
Alis Karina menyatu. Karina menurunkan kecepatannya sedikit lalu berbelok ke kiri saat lampu merah. Ternyata kedua mobil itu juga mengikut. Karina berdecak sebal.
Ia berharap kedua mobil itu memang searah dengannya bukan mengikutinya.
Karina mencoba menguji. Ia memperlambat lagi laju mobilnya.
Satu tembakan dilesatkan pada kaca bagasi mobil Karina oleh salah satu mobil namun pelurunya malah terpental ke udara.
Suara tembakan itu membuat orang-orang di sekitar jalanan menjadi takut dan berlarian. Karina menahan emosinya. Ingin bersantai malah diburu.
"Huft … ternyata Joya sudah tidak sabar. Padahal aku tidak mau mengambil nyawa tapi dia sendiri yang menghantarkan nyawa," gerutu Karina.
" Baiklah aku akan melayani kalian. Ayo kita mulai tapi jangan di sini," gumam Karina melihat banyak orang yang sudah lari ketakutan gara-gara satu tembakan.
Karina menambah kecepatannya menuju pegunungan di selatan kota. Kedua mobil itu tentu saja mengikut sambil terus menembaki mobil Karina namun tetap saja selalu memantul.
Mobil yang di bawa oleh Karina ini adalah salah satu mobil yang sudah ia modifikasi. Bodynya adalah anti peluru dan juga bom.
"Sial. Mobil apa yang dipakainya itu. Satu peluru pun tidak kena," gerutu seorang pria yang mengejar mobil Karina.
Sekarang mereka mulai menaiki jalanan pegunungan. Karina menganti mode mengemudi dari manual menjadi remote control dan suara. Kemudian menekan tombol di pintu kanan mobil membuka atap mobil.
**Dor...
Dor...
Dor**…
Tiga tembakan kembali diarahkan pada ban mobil Karina. Sayang ban mobilnya ternyata sudah dimodifikasi menjadi anti peluru.
Karina berdiri menghadap kedua mobil yang sedang mengejarnya. Kedua tangannya memegang pistol. Mata Karina yang setajam elang menatap kejam mereka.
**Dor...
Dor…
__ADS_1
Syutt**….
Dua tembakan Karina lepaskan pada salah satu mobil dan menembus kaca depan mobil tersebut.
Prang ….
Kaca mobil pecah seketika. Serpihan kaca masuk yang terbawa angin masuk ke dalam mata pengemudi dan satu orang di sampingnya. Mobil itu oleng dan menabrak pembatas jalan lalu terbalik. Untung saja tidak masuk ke dalam jurang.
Kanan-kiri jalanan adalah jurang yang sangat dalam dan gelap kerena cahaya matahari yang baru di halangi oleh rimbunnya pepohonan. Seketika mobil berhenti. Tinggallah satu mobil yang masih saja keras kepala mengejar Karina. Karina terus menambah kecepatan dengan mode suara.
Dengan cepat Karina melepas dua tembakan membidik ban depan mobil.
*Dor…
Dor…
Shut*….
Peluru yang ditembakan dengan kecepatan 1900 kaki per detik menembus kedua ban mobil. Mobil kehilangan kendali dan berguling-guling menuruni jalanan. Dan akhirnya melewati pembatas jalan dan jatuh ke dalam jurang.
*Bomm ….
Bomm ….
Bomm* …
Terdengar beberapa kali ledakan menandakan mobil meledak. Sangking kerasnya ledakan menciptakan percikan api di ranting-ranting pohon.
"Stop!" seru Karina pada mobilnya. Jarak antara Karina dan mobil meledak sekitar 50 meter.
Sedangkan dengan satu lagi sekitar 100 meter. Mobil berhenti perlahan. Karina kembali duduk di kursi kemudi dan mengembalikan mobil menjadi mode manual.
Karina memutar balik mobilnya mendekati mobil yang terletak di dekat pembatas jalan. Sekitar 20 meter dari sana Karina memberhentikan mobilnya dan keluar.
Ia berjalan mendekati mobil yang terbalik itu. Karina hanya menatap datar itu. Tak lama ia menghubungi seseorang.
"Gerry segera datang ke pegunungan selatan. Aku ada tugas untukmu," perintah Karina.
"Si Queen," jawab Gerry.
Selepas itu, Karina kembali ke mobilnya dan duduk di kepala mobil. Tangan kanannya memegang sebuah apel merah yang entah kapan diambilnya dari bagasi.
Dengan santainya Karina menggigit apel di temani semilir angin sepoi-sepoi dan nyanyian burung.
Lima belas menit kemudian, dua mobil berhenti depan mobil Karina. Pintu mobil terbuka, keluarlah Li dan Gerry serta dua anggota Pedang Biru.
Li dan Gerry mengerutkan dahi mereka. Pecahan kaca berserakan di jalan, daun dan ranting pohon yang lalu serta satu mobil terbalik.
Gerry menajamkan matanya melihat mobil terbalik itu. Tampaklah dua orang yang duduk di mobil dengan posisi terbalik serta kedua mata yang mengeluarkan darah. Jika didengar lebih dekat akan terdengar suara rintihan kesakitan.
"Hmm … sudah datang ya?" tanya Karina membuat sisa gigitan apelnya. Li dan Gerry geleng-geleng kepala melihat kelakuan Queen mereka ini.
"Si Queen. Apa yang dapat kami lakukan?" tanya Gerry.
"Kalian bawa dua orang itu untuk jadi cemilan kucing-kucing kesayanganku. Ingat potong kecil-kecil agar mereka tak kesulitan makan. Serta sisakan kepala mereka untuk kalian kirimkan ke alamat Joya Argantara," perintah Karina yang membuat Lia dan Gerry serta dua lainnya menggigil takut.
Kucing yang dimaksud Karina adalah macam kumbang seperti Miu. Namun, bedanya Miu adalah kucing yang sengaja dilatih untuk menjadi gig*lo.
"Baik Queen. Apa ada yang lain?" tanya Gerry.
"Untuk saat ini tidak. Kalau begitu aku pulang dulu," ujar Karina turun dari kepala mobil dan masuk ke dalam mobil.
"Oh ya aku lupa! Bagaimana penyelidikanmu mengenai Berto, Gerry?" tanya Karina pada Gerry.
"Aman Queen. Saya menemukan lokasi terakhir Berto adalah di negara A. Namun saya belum tahu pasti di kota mana ia berada," jawab Gerry mantap.
__ADS_1
"Hmm … oke. Cari tahu segera," ujar Karina melajukan mobilnya kencang menuruni pegunungan.