Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 316


__ADS_3

Kegagalan uji coba membuat para ilmuwan Pedang Biru dan dokter di Tirta Hospital bekerja keras untuk menghilangkan efek samping obat. 


Karina sendiri menenangkan dirinya di kolam renang. Warna merah dasar kolam menciptakan suasana hening namun mencekam. Karina merasa tertekan.


Tatapan matanya fokus ke depan, menatap pepohonan yang daunnya bergerak tertiup angin. 


Ah.


Karina menghela nafas kasar. 


Untung saja Joya belum tahu mengenai semua ini. Aku harus cepat melaksanakan uji coba kedua. Aku harus lebih cepat dari waktu dan penyebaran kanker sialan Joya itu! Joya bertahanlah! Aku pasti akan menyelamatkanmu! batin Karina dengan sorot mata yang kembali bersemangat.


Setelah merasa lebih tenang, Karina meninggalkan kolam renang. Menuju kamar untuk berganti pakaian.


*


*


*


Di ruang kerjanya, Darwis menutup wajah yang tertunduk dengan kedua telapak tangan. Ia mengesah pelan. 


Beberapa saat kemudian Darwis mengangkat wajahnya menatap datar ke depan. Ada sorot mata kekecewaan di sana. 


Ia terlalu berharap tinggi akan uji coba perdana ini. Tapi hasilnya membuatnya terjatuh dalam kecewa. Tapi apa mau dikata?


Jika mengalami suatu kegagalan, prinsipnya ada kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Darwis kini berharap sewajarnya akan keberhasilan  uji coba selanjutnya.


Walaupun merasa kecewa, Darwis sedikit lega akan sesuatu. Darwis ataupun Karina tidak memberitahu Joya mengenai hal ini. Joya sama sekali tidak tahu menahu mengenai obat dan uji coba. 


Darwis mengubah raut wajahnya menjadi ceria saat Joya masuk ke dalam ruang kerjanya. Kondisi Joya juga terus menurun. Efek kanker sudah terlihat jelas. Rambut yang dulu lebat panjang kini tipis dan pendek. 


Padahal Joya sudah diminta dan ditekankan untuk istirahat total, tapi istri tercinta Darwis itu kekeh ingin beraktivitas.


Darwis memperbolehkan asal tidak membuat Joya lelah. Darwis yang mengizinkan kegiatan yang sangat dan bisa membuat Joya gembira hingga melupakan rasa sakit yang diderita.


"Ayo makan siang dulu," ajak Joya tersenyum lembut.


 Darwis mengangguk.


"Tentu, Sweetheart," sahut Darwis, bangkit dari kursinya. 


Darwis melangkah mendekati Joya, menarik Joya dalam dekapannya.


Joya merasa sedikit heran dengan sikap Darwis. Walaupun sudah menjadi rutinitas, tapi hatinya merasa ada yang berbeda.


"Ada apa? Dalam dalam masalah?"tanya Joya khawatir. 


Darwis menggeleng pelan, ia mendaratkan kecupan di rambut Joya setelah melepas dekapan.


"Tadinya begitu tapi … semuanya sirna ketika aku melihat dan memelukmu dan anak kita," tutur Darwis lembut disertai dengan mengusap lembut perut Joya. 


"Benarkah? Kalau begitu …." 


Belum sempat Joya menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Joya meringis sembari mencengkeram perutnya, menahan rasa sakit.


"Sakit … sakit sekali," rintih Joya.


"Joya, kau kenapa? Ahggk … shit!" 


Tidak perlu ditanya lagi, Darwis langsung menggendong Joya ke kamar. Darwis berteriak memanggil dokter pribadi Joya agar segera datang.


Darwis membaringkan Joya dengan lembut di ranjang. Satu tangan Joya menggenggam erat telapak tangan kanan Darwis, sedangkan satu tangan lagi mencengkeram perut. Rasanya sangat sakit.

__ADS_1


"Bertahanlah, aku mohon," pinta Darwis. 


Perasaannya campur aduk. Sedih, takut, cemas.


Joya menangis dengan mulut terus mengaduh. Darwis pun ikut menangis melihat kondisi dan mendengar rintihan Joya. Ia merasa dirinya tidak berguna, ia tidak bisa menyembuhkan ataupun mengurangi rasa sakit Joya. 


Ini bukan waktunya melahirkan. Sakit yang ia rasakan adalah sakit yang diciptakan oleh penyakit kankernya. 


Kesadaran Joya mulai hilang tatkala dokter memberikan obat pereda rasa sakit. Joya tak sadarkan diri dalam pelukan Darwis.


"Apakah semakin parah?"tanya Darwis menatap dokter dengan mata yang memerah.


"Tuan, sel-sel kanker dalam tubuh Nyonya semakin berkembang dan hampir menggerogoti semua organnya. Kami khawatir Nyonya tidak akan bertahan sampai melahirkan," ujar Dokter.


"Maksudmu anak kami harus lahir sebelum waktunya begitu?"tanya Darwis dengan nada bergetar. 


Dokter mengangguk pelan, takut dengan sorot mata Darwis yang seketika berubah.


"Apakah kalian gila hah?! Bagaimana bisa isteriku melahirkan sebelum waktunya?! Kalian mau isteriku mati?!"hardik Darwis. 


Satu dokter dan dua perawat itu menunduk dalam melihat amarah Darwis.


"Bukan, bukan begitu maksudnya, Tuan," jawab Dokter terbata.


"Tidak! Isteriku akan melahirkan sesuai dengan waktunya. Anak dan isteriku pasti selamat. Aku tidak akan kehilangan salah satu dari mereka!"tegas Darwis memeluk erat Joya.


Sweetheart bertahanlah sebentar lagi. Aku dan Karina masih berjuang untukmu, harap Darwis.


"Tuan, kondisi Nyonya semakin memburuk. Kami takut tidak bisa menyelamatkan salah satu dari mereka jika kondisi Nyonya semakin memburuk. Tuan harus mengambil keputusan. Tuan sudah tahu apa konsekuensi mempertahankan seorang anak ketika sang ibu menderita kanker otak! Tuan kami mohon, ini adalah yang terbaik," jelas dokter dengan nada takut tapi harus berani mengungkapkannya. 


Mereka saja tidak bisa memastikan apakah bisa menyelamatkan salah satu antara Joya dan bayinya, apalagi memastikan akan menyelamatkan keduanya? 


Yang bisa mereka lakukan hanya berusaha semaksimal mungkin serta berdoa kepada Yang Maha Kuasa.


"Diam!!! Keluar kalian, br*ngsek!"teriak Darwis penuh amarah, telunjuknya menunjuk ke arah pintu. 


"Joya, apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan, mengapa bukan aku yang menderita? Mengapa harus isteriku? Bisakah Kau membagi rasa sakitnya denganku juga? Hatiku teramat sakit melihat kesakitannya," lirik Darwis menunduk lemah.


Darwis mencium punggung tangan Joya. Ia berperang batin. Ucapan dokter, keputusannya di saat mengetahui Joya divonis kanker, harapan dan keyakinannya, semua datang memenuhi batin Darwis. 


Darwis bingung harus membuat keputusan apa. Apakah Joya akan terima jika Darwis memutuskan untuk menyelamatkan anak mereka lebih dulu ketimbang dirinya?


Apapun itu, aku akan memutuskannya setelah Joya sadar!tekad Darwis.


*


*


*


Hari Senin pun tiba. Ini adalah hari pertama kegiatan dimulai setelah libur natal dan tahun baru. Hari ini juga hari keberangkatan Bayu dan Syaka. Pagi buta sebelum Subuh, kedua anak itu sudah bangun dan bersiap untuk berangkat. Mereka akan mereka pukul 07.00.


Karina dan Arion bermalam di markas tadi malam. Karina akan ikut mengantar Bayu dan Syaka beserta beberapa anak lain yang terpilih.


Setelah Subuh, semua anak yang akan berangkat berkumpul di aula markas untuk menerima beberapa hal serta mendengarkan sambutan Karina. 


Karina hanya menegaskan bahwa ini adalah pembelajaran nomaden. Waktu yang dibutuhkan untuk lulus, kemampuanlah yang menentukan. 


Untuk pulang ke markas pusat pun tidak bisa ditentukan kapan. Ini adalah pembelajaran bebas. 


Setelah menyelesaikan sambutannya, Karina langsung menuju ruang makan untuk sarapan. Arion masih berada di kamar. Hari ini ada meeting penting mengenai mega proyek tol bawah laut. Jadi Arion harus memeriksa persiapan lagi.


"Kakak, jika Ayah sadar nanti, tolong berikan ini padanya," ujar Bayu menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru pada Karina.

__ADS_1


 Karina menerima dan melihat isinya.


"Tentu saja," jawab Karina menutup kembali kotak.


"Kau sudah berpamitan pada Ayahmu?"tanya Karina. 


Bayu menggeleng pelan.


"Aku tidak akan berpamitan padanya. Jika aku melihatnya sebelum pergi, aku ragu hatiku akan meleleh dan membatalkan keputusanku. Kakak kau saja ya yang menyampaikan pamitanku padanya," tutur Bayu menunduk.


"Jadilah anak yang kuat dan cerdas. Saat kamu kembali nanti, pasti kan kamu memiliki tubuh tinggi sixpack dan wajah tampan. Rambutmu nanti lebih cocok sedikit panjang. Dan satu lagi, kemampuanmu harus berkali-kali lipat dari sekarang. Understand?"


Karina dengan lembut mengusap rambut Bayu. Bayu mengangguk mantap. 


"Tersenyumlah. Ingatlah ini, tetaplah tersenyum sekalipun kau berada di posisi paling terendah. Tersenyumlah hingga menbuat musuhmu mundur sendiri. Aku harap kau dan lainnya kembali dengan sukses."


"Aku berjanji padamu, My Sister and My Queen!"ikrar mantap Bayu.


*


*


*


"Sayang maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu mengantar mereka," sesal Arion dengan wajah bersalah.


"Tidak apa. Berangkatlah. Ini meeting yang sangat penting, bukan?"sahut Karina.


"Sungguh aku merasa bersalah."


"Tidak. Ini bukan salahmu. Tapi sebelum berangkat, katakan sesuatu pada mereka." 


Karina menoleh ke arah barisan para anak yang bersiap masuk ke dalam mobil.


"Ah benar. Aku hampir kelupaan." 


Arion tertawa pelan yang disambut tatapan aneh dari para anak.


"Em. Maafkan aku." 


Arion mengubah sikapnya, menjadi serius dan berwibawa. Karina terkekeh tanpa suara. 


"Kalian semua akan menjadi pilar-pilar Pedang Biru. Kalian akan menjadi anak-anak yang berpengaruh. Kesuksesan diraih dengan kerja keras. Selama di luar, kalian akan merasakan berbagai kondisi kehidupan. Aku harap kalian mampu bertahan dan kembali dengan bendera kemenangan. Di luar saja kalian akan melihat hal-hal yang belum pernah kalian lihat dan rasakan. Jadi, jaga diri kalian serta kesetiaan dan tekad kalian. Ingatlah satu hal ini, yang paling penting dari kehidupan ini bukanlah harta atau tahta, melainkan hati nurani. Kalian tetaplah berlian sekalipun berada di dalam lumpur jika hati nurani bersama dengan kalian. Akan tetapi ingat juga hal ini, berhati baiklah kepada yang pantas sedangkan yang tidak pantas, kalian bisa menjadi mimpi terburuk untuk mereka!"ucap Arion lantang.


Karina mendengus senyum. Bayu, Syaka dan lainnya mengangguk paham.


Gerry dan Li yang menunggu di dalam mobil tersenyum mendengar ucapan Arion.


"Jaga dirinya kalian. Selamat berjuang!" 


"Yes, King!"jawab serentak para anak.


"Sayang, aku berangkat duluan ya." 


Sikap Arion berubah menjadi lembut pada Karina. Karina mengangguk kemudian mencium punggung tangan kanan Arion.


"Hati-hati," pesan Karina. 


Setelah mencium dahi Karina, Arion masuk ke dalam mobil. Arion berangkat menuju perusahaan. Setelah mobil Arion hilang dari pandangan Karina, Karina langsung mendekati mobil putihnya.


"Kau?"


"Saya adalah sopir sementara Anda, Nyonya."

__ADS_1


Karina terkejut dengan sopir yang Arion tugaskan. Pak Anton masih proses pemulihan setelah mengalami luka tembak. Rencananya memang Karina tidak ingin menggunakan sopir lain selain Pak Anton. Terlebih mobil ini dilengkapi dengan voice control.


Karina juga tidak tahu mengenai hal ini. Arion tidak mengatakan apapun mengenai hal ini. Entah karena lupa atau memang sengaja, Karina tidak tahu pasti. Tapi Karina tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh orang suruhan ini Arion sudah pernah berkerja untuknya.


__ADS_2