Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 58_Mengadpsi Bayu


__ADS_3

ADA SAMBUNGAN DARI ADEGAN KEKERASAN YANG KARINA LAKUKAN!!!


"Loe beg* ya? Senjata gue kan gak berfungsi," sahut Li mendelik ke arah Gerry. Mereka berdua tak menyadari kehadiran Karina.


"Oh iya, gue lupa. Kalo gitu berarti gue … tidak!!! Bukan aku yang mulai. Aku pecinta wanita bukan lelaki," histeris Gerry menutup wajahnya. Li menatap horor Gerry.


Syurr....


Karina menyiram keduanya dengan sisa wine di meja. Li dan Gerry mengalihkan pandangan mereka. Mereka terdiam melihat Karina. Satu dua tiga ....


Serentak mereka mendekati Karina memeluk kedua kakinya.


"Queen … saya bukan gay kan? Saya gak ngelakuin itu sama Li kan Queen?" tangis Gerry.


"Queen masa depan saya tertunda, masa sekarang harga diri saya gak ada sebab dinodai oleh Gerry," aduh Li.


"Lepas," ucap Karina dingin.


"Jawab dulu Queen," ujar keduanya yang membuat wajah Karina menggelap. Karina menunduk dan menatap tajam Li dan Gerry.


"Jika kalian sudah bermain aku bisa apa? Habis bermain kalian gunakan lagi baju kalian dan tidur berpelukan. Sasha …," panggil Karina.


"Ya Queen," sahut Sasha yang sedari tadi berada di depan pintu.


"Umumkan ke seluruh anggota. Akan ada pernikahan antara Li dan Gerry. Segera," perintah Karina yang membuat Li dan Gerry membelalakan mata mereka.


"Tidak!!!??" teriak mereka histeris langsung lari keluar dari ruang penyiksaan entah kemana.


"Queen apakah itu benar?" tanya Sasha. Ia belum beranjak dari pintu.


"Tentu saja tidak. Aku hanya mengerjai mereka. Sudah sana aku mau lanjut bermain," jawab Karina melambaikan tangannya menyuruh Sasha pergi. Sasha menunduk hormat dan berlalu.


"Kita lanjutkan ya Pak tua," ujar Karina kepada Albert yang masih mengiris tertahan.


"Apa lagi yang mau dicoret?" tanya Karina.


"Ah paha kamu kan masih mulus," seru Karina langsung mengarahkan pisaunya ke paha Albert.


Kembali diukir nama David dan Salim di sana. Lengkap sudah nama satu keluarga Sanjaya Karina ukir pada tubuh Albert.


"Bunuh. Bunuh saja aku," lirik Albert.


Seluruh tubuhnya kini mengeluarkan darah yang menyebabkan bau anyir yang menyengat.


"Aku masih mau bermain. Lebih baik kita main potong-potongan yuk," ajak Karina meletakkan pisau dan mengambil pedang.


Crass ....


Crass ....


"Ahhhhhggggkkk…."


Satu tangan Albert tergeletak di lantai. Darah semakin deras mengalir. Sedang tangan satu lagi menggantung pada pegangan kursi.


Cras ....


Crass ....


"Arggghhhhgggg …."


Dua kaki ikut Karina tebas. Karina tersenyum manis melihatnya.


"Oh ya sebelum kau pergi aku mau mengatakan bahwa aku tak mau jadi jala*gmu. Kehormatanku hanya untuk suamiku. Jadi kurasa adik kecilmu ikut disunat saja ya?" tanya Karina langsung menebas kejantanan Albert.


Kini lantai sudah banjir akan darah. Nafas Albert tinggal satu dua. Seluruh tubuhnya terasa sangat menyakitkan.


"Sentuhan kedua sebelum yang ketiga," seru Karina mengarahkan pedangnya ke arah leher Albert.


Cras ....


Hilang sudah nyawa Albert. Kepalanya menggelinding ke kaki Karina.


"Hehehehe… baru cantik …," tawa Karina. Wajahnya serta pakaiannya semakin kotor terkena cipratan darah.


Karina kembali menjilat darah yang menempel di tangannya.


"Hmm lebih baik dari si mata satu. Mungkin darah dua orang lagi lebih enak," gumam Karina.


Karina menatap datar potongan tubuh Albert.


"Aduh aku kelepasan. Sudah ah masa bod*h. Lebih baik ambil jantungnya saja deh sama otaknya," ucap Karina seolah baru tersadar.


Dengan bersenandung, Karina membedah dada Albert dan mengambil jantungnya. Setelah jantungnya didapat. Karina segera menyatukannya dengan jantung Berto kemudian keluar dengan meninting kepala Albert. 


***


Sedangkan Li meringkuk di tempat tidurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sama seperti Li, Gerry juga meringkuk, bedanya Gerry meringkuk di bawah tempat tidur.


Ting.


Ada notifikasi pesan pada handphone Li dan Gerry bersamaan. Pesan itu berasal dari Karina yang mengirimkan foto yang diambilnya pada saat Li dan Gerry tertidur. Mata Li dan Gerry membulat seketika.


"Ahhhhh …," teriak histeris mereka. Li langsung berdiri dan berlari menuju pintu, bersamaan juga, Gerry merangkak keluar dari kolong ranjang berlari menuju pintu. Karena kamar mereka yang berhadapan dan ketidakwaspaan ….


Brukkk.


Akhirnya mereka bertemu dan bertabrakan. Li dan Gerry jatuh bersamaan dengan posisi Gerry yang menindih Li dengan dengan satu tangan Gerry berada di dada Li dan satu tangan lagi berada di paha Li.


"Ahhh …." Dengan cepat Li mendorong Gerry dan berdiri.


"Dasar mesum loe. Belum puas loe nyentuh gue," geram Li menatap tajam Gerry.


"Enak saja loe. Gue ini normal," seru Gerry.


"Kalo loe normal kenapa kita ciuman waktu tidur hah?" tanya Li menunjukkan foto yang dikirim oleh Karina.


"Seharusnya gue yang nanyak. Loe lihat nih," kesal Gerry juga menunjukkan foto yang dikirim oleh Karina.


Li dan Gerry saling menatap horor dan langsung adu lari menuju kamar Karina.

__ADS_1


Sedangkan di kamarnya, Karina telah berganti pakaian. Baju yang terkena noda darah sudah dia bakar sampai hancur. Sedangkan kepala dan jantung yang ia bawa sudah diawetkan di laboratorium.


Karina bersiap untuk kembali ke hotel. Pakaian yang ia gunakan saat ini adalah dress berwarna putih dengan taburan bintang.


Tok.


Tok.


Tok.


Li dan Gerry mengetuk kamar Karina tak sabaran. Karina segera membuka pintu. Li dan Gerry langsung bersimpuh di kakinya.


"Ada apa?" tanya Karina datar.


"Queen. Apa benar saya dan Li sudah melakukan hal yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh sesama pria?" tanya Gerry menahan tangis.


Karina memutar bola matanya malas.


"Tidak. Itu hanya prank saja," jawab Karina melewati Li dan Gerry segera menuju garasi.


Li dam Gerry bertatapan mencerna jawaban Karina. 


"Prank?" gumam Li.


"Jadi kita normal kan?" tanya Gerry. Li mengangguk.


"Huuhh … aku normal," seru Gerry memeluk Li. Li tertegun dan langsung melepaskan pelukan Gerry lalu berdiri dan meninggalkan Gerry yang masih bersimpuh.


"Eh … gak mau dipeluk? Ya udah gak papa. Aku meluk ini saja," ujar Li berdiri dan memeluk pilar bangunan.


***


Setelah 45 menit berkendara, Karina tiba di Blue Hotel. Karina tak segera menuju kamarnya namun terlebih dahulu membeli sarapan pagi.


Jika pagi, banyak stan di depan hotel yang menjual aneka makanan. Di mana stan ini merupakan bagian dari hotel.


Pilihan Karina jatuh pada bubur ayam. Ia memesan sebanyak dua bungkus. Setelah pesanannya siap, Karina segera membayarnya dan naik menuju kamarnya.


Ceklek.


Karina membuka pintu pelan. Ia berharap Arion masih tertidur. Dan benar dugaannya, Arion masih nyenyak tertidur dan memeluk guling. Asap dupa masih ada walaupun sedikit dan perlahan menghilang.


"Huff … benarkan dia masih tidur. Dasar kalelawar," gerutu Karina. Karina masuk dan meletakkan bubur ayamnya di meja lalu membangunkan Arion.


Karina mengguncang pelan tubuh Arion namun tak ada respon. Arion malah menggumam tak jelas.


Malas berjalan mengambil air di kamar mandi untuk membangunkan Arion, Karina malas mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Arion.


Merasa ada yang menyentuh bibirnya, perlahan Arion mulai membuka mata dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah istrinya yang tersenyum manis.


"Pagi Sayang," sapa Arion mengucek matanya. Ia bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.


"Pagi suamiku. Ayo cepat bangun dan sarapan. Temani aku ke panti asuhan kemarin," ucap Karina menarik selimut yang menutupi kaki Arion.


"Hmm … cium lagi. Baru aku mandi," pinta Arion manja memajukkan bibirnya.


"Suamiku Sayang … aku sudah lapar sedari tadi menunggumu bangun. Sekarang masa aku harus menunda lagi? Kau mau aku mati kelaparan ya?" tanya kesal Karina.


"Kalo kamu lapar kan kamu bisa makan duluan Sayang," jawab Arion santai.


"Baik. Kalo gitu aku makan kamu saja," ucap Karina menyilangkan tangannya.


Mata Arion berbinar.


"Boleh. Mau berapa ronde?" tanya Arion semangat.


"Dasar mesum. Cepat mandi atau ku makan tanganmu," berang Karina mendelik ke arah Arion. Bukannya takut, Arion malah tersenyum lebar.


"Auh …," ringis Arion. Ternyata Karina tak main-main dan langsung mengigit tangan kanan Arion.


"Oke. Tungguin aku mandi dulu," ujar Arion turum dari ranjang dan langsung ngibrit ke kamar mandi. 


"Duniaku keras Arion. Lebih baik kita tak saling jatuh hati," lirik Karina mendaratkan tubuhnya di ranjang.


Rasa kantuknya kembali menyerang. Karina kembali memejamkan matanya tertidur bersandar pada kepala ranjang.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Arion keluar dengan berbalut handuk. Tetesan air jatuh dari tubuhnya. Arion segera mengambil dan memakai pakaiannya.


Wajahnya mengukir senyum melihat Karina yang tertidur lelap.


"Sayang … Karina bangun loh," ucap Arion menepuk-nepuk pipi Karina. Perlahan Karina membuka matanya.


"Kamu kok tidur lagi?" tanya Arion memegang tangan Karina.


"Ngantuk," jawab Karina singkat.


"Memang kamu gak bisa tidur? Aku saja sampai kesiangan bangunnya," ujar Arion.


"Hmm …," jawab Karina malas berdebat.


Ya jelas ngantuklah, gue begadang semalam. Tidur saja baru dua jam, ketus Karina dalam hati.


"Eh aku lupa. Sudah ayo sarapan," ajak Karina langsung berdiri dan duduk di sofa. Arion mengikut. Karina mengambil satu kotak bubur ayam dan memberikannya pada Arion.


"Ini," ujar Karina. Arion hanya menatapnya diam tak berniat menerima.


"Kenapa? Cepat ambil," ucap Karina.


"Suapi. Satu kotak berdua," ucap Arion.


"Kamu kok jadi manja sih? Punya tangan kan? Makan sendiri," heran Karina menatap malas Arion.


"Ya supaya kita lebih dekat. Lagian wajarkan?" tanya balik Arion.


"Terserah. Nih …," ujar Karina mulai menyuapi Arion. Dengan senang hati, Arion langsung menerima.


"Gantian," ujar Arion merebut sendok dan menyuapi Karina. Karina menerima dengan canggung namun tetap menunjukkan wajah datarnya.


Begitulah seterusnya, mereka saling menyuapi satu sama lain hingga dua kotak bubur ayam habis tak tersisa.

__ADS_1


Lima belas menit setelah sarapan, Arion tiduran di sofa dengan paha Karina sebagai bantal. Wajahnya menatap wajah Karina yang dingin. Karina mengacak-acak rambut Arion kesal.


"Duh jangan dong. Kamu ngapain sih? Rambut sudah rapi diacak-acak," keluh Arion melindungi rambutnya.


"Nyari kutu. Siapa tahu saja kamu kutuan," jawab enteng Karina. Arion langsung terduduk.


"Kutu apa? Kutu rambut apa kutu buku?" tanya Arion ngeri.


"Kutu rambutlah," jawab Karina berdiri dan mengambil tasnya.


"Eh kepalaku kok gatal ya?" tanya Arion menggaruk kepalanya. 


"Ayo," ajak Karina.


"Kemana?" tanya Arion.


"Panti asuhan," jawab Karina.


"Oh … ayo," ucap Arion berdiri dan mengambil kunci mobilnya.


***


Sesampainya di panti asuhan, Karina dan Arion disambut dengan senyuman anak-anak panti. Marisa berdiri dan menjabat tangan Karina. Arion kembali bermain dengan anak-anak panti.


"Jangan sampai suami saya tahu bahwa saya CEO KS Tirta Grub," bisik Karina memberi peringatan.


"Pasti Nona. Mari kita bicara di ruangan saya saja Nona," ajak Marisa.


Karina mengangguk. Sesampainya di ruangan Marisa, Karina langsung menyampaikan tujuannya.


"Jadi sekarang tanah ini sudah sah menjadi milik panti. Selain itu perusahaan saya akan jadi donatur tetap di panti ini. Selanjutnya ini adalah cek sebesar 200 juta rupiah untuk renovasi panti. Satu lagi, saya akan menanggung semua biaya pendidikan anak-anak panti sampai mereka lulus sekolah ataupun perguruan tinggi. Apabila mereka berprestasi maka akan saya akan merekrut dan bekerja di perusahaan saya," ujar Karina menyerahkan cek pada Marisa. Marisa memejamkan matanya menahan haru. 


"Terima kasih Nona. Anda sungguh malaikat penolong. Kami beruntung bisa bertemu dengan Anda," ujar Marisa menahan tangis.


Malaikat penolong sekaligus malaikat maut kah? batin Karina.


"Bukan masalah. Ini juga ada hubungannya denganku. Jadi saya harap Anda mengolah panti ini dengan baik. Dan jangan pernah main-main dengan saya," ucap Karina penuh tekanan memberi peringatan.


"Kakak aku ingin ikut denganmu," seru Bayu yang sedari tadi menguping pembicaraan Karina dan Marisa.


"Anak ini lagi?" tanya Karina menatap tajam Marisa. Marisa menghela nafas dan menyuruh Bayu masuk ke dalam.


Bayu menurut. Karina memperhatikan dengan jelas wajah Bayu. Dahi Karina mengerut. Ia seakan familiar dengan wajah Bayu.


"Kemarilah Bayu. Duduk di pangkuanku," ujar Karina. Bayu dengan senang segara duduk di pangkuan Karina.


Marisa menahan nafasnya, agar nanti ia tak terkejut dengan apa yang akan Karina lakukan pada Bayu.


"Benarkah yang kau katakan tadi? Kau ingin ikut denganku?" tanya Karina mengelus kepala Bayu.


Bayu mengangguk mantap. Satu malam penuh ia berpikir dan merenung akan keinginannya itu. Marisa menghembuskan nafas pelan setelah melihat respon Karina.


"Apa alasannya?" tanya Karina penasaran. Memang sudah banyak yang ikut dengannya secara sukarela. Namun, untuk anak berusia 6 tahun belum ada yang berani.


"Kau sangat hebat Kakak. Dalam satu hari kau bisa membebaskan kami dari para penjahat itu. Aku sudah mendengar pembicaraan kalian tadi. Kau dapat dengan mudahnya menyerahkan uang sebanyak itu serta akan bertanggung jawab penuh akan pendidikan kami," jelas Bayu.


"Auh …," ringis Bayu karena keningnya disentil oleh Karina.


"Kau sudah jadi penguntit ya?" tanya Karina datar.


"Hehehehehe kakak keahlianku bukan menguntit melainkan peretas," ralat Bayu. Karina tertegun.


Bahkan punya bakat yang sama dengannya, batin Karina.


No. Mana mungkin dia memiliki anak. Jika benar berarti dia berhubungan pada usia 16 tahun, ucap Karina dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepala.


"Kakak kenapa? Kakak gak mau aku ikut kakak ya?" tanya Bayu sedih.


"No. Boy. Kakak menyukaimu. But dunia kakak keras. Kau hanya melihatku dari depan. Padahal banyak sekali halangan dan musuh di belakangku yang siap menerkam kapan saja," jelas Karina.


Bayu melihat ke belakang Karina, dengan polosnya ia berkata ….


"Tapi tidak ada apapun di belakang Kakak? Kakak bohong ya?" tanya Bayu polos.


"Kamu masih terlalu polos untuk ikut denganku. Tapi tak masalah. Siapkan dirimu serta perlengkapanmu. Kau ikut denganku," putus Karina.


Bayu langsung memeluk Karina erat. Lalu turun dari pangkuan Karina dan berlari menuju kamarnya.


"Siapa orang tua anak itu?" tanya Karina dingin pada Marisa.


"Saya kurang tahu Nona. Saya menemukannya 6 tahun lalu di depan pintu panti asuhan ini," jelas Marisa.


"Apa tidak ada pertanda atau pertinggal dari orang taunya?" tanya Karina lagi. Marisa berusaha mengingat. Dahinya mengerut cukup lama.


"Sepertinya ada Nona. Ada liontin perak di lehernya sewaktu saya menemukannya," jawab Marisa.


"Sekarang di mana liontin itu?" tanya Karina lagi.


Marisa segera beranjak dan mengacak-acak lemari di belakangnya. Cukup lama ia mencari. Sesekali ia memijat pelipisnya. 


"Kemana liontin itu?" gumam Marisa.


Ia kembali mencari di laci mejanya. Ada sebuah kotak kecil di bagian paling bawah laci. Marisa mengambil kotak kecil itu dan membukanya.


"Ah ini dia, silahkan Nona," seru Marisa memberikan kotak kecil itu pada Karina. Karina mengambil dan melihatnya.


"Astaga …," gumam Karina menutup mulutnya.


Ini kan liontin yang aku berikan padanya?batin Karina melihat liontin berbentuk bulat sabit dan batu permata yang tengahnya itu.


"Apa hobinya di komputer?" tanya Karina.


"Iya Nona. Bayu bisa bertahan satu harian di depan komputer. Entah apa yang ia lakukan. Saya pernah melihatnya sekilas, ternyata ia belajar cara pemograman," terang Marisa. 


"Dia akan ikut aku. Ada kemungkinan aku tahu siapa orang tua kandungnya. Siapkan segala berkasnya," perintah Karina.


"Baik Nona. Tapi Bayu akan menjadi siapa anda? Anak atau Adik?" tanya Marisa memastikan.


"Adik. Sekarang namanya adalah Bayu Tirta Sanjaya," tegas Karina.

__ADS_1


__ADS_2