Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 240


__ADS_3

"Tentu saja tidak, kalau begitu ayo kita kembali," sahut Lila cepat. Sam tersenyum dan mengajak Lila untuk pulang. Lila menurut. Saat membuka pintu, Sam dan Lila dikejutkan dengan sesuatu.


Bugh!


Sam mendapat bogem mentah dari Gerry. Sam menunduk sembari memegang wajahnya yang kembali sakit. Lila membulatkan matanya dan segera menahan Gerry saat melihat Gerry hendak kembali melayangkan pukulan.


"Apa-apa ini? Gerry, apa yang kau lakukan? Enak sekali kamu memukul suamiku?" tanya datar Lila, menatap tajam Gerry. Gerry menahan pukulannya di udara dan menatap Lila, matanya mengisyarakan agar Lila menyingkir. Lila menggeleng. 


"Minggir, biar ku beri pelajaran pria tidak sopan ini!" pinta Gerry dengan suara datar, matanya menatap marah Sam. Lila mengeryit. Tidak paham maksud Gerry. Lila lalu menatap Sam bertanya.


"Sam, apa yang telah kamu lakukan sampai membuat Gerry marah?" tanya Lila.


Sam tidak menjawab dan menatap tajam Gerry. Di luar dugaan, Sam yang baru saja mengusap bibirnya membalas pukulan di wajahnya.


Gerry mundur selangkah merasa pipinya sakit. 


"Sudah salah, tidak mau mengaku. Malah menambah masalah!" geram Gerry kembali menyerang Sam.


Sam menarik Lila agar mundur dan berada di belakangnya. Sam meladeni Gerry yang kesal dengan bertarung.


Lila yang panik melihat kakak dan suaminya saling pukul, segera bergegas mencari Li. Hanya Li yang bisa menghentikannya. 


Gerry menyerang Sam melampiaskan kekeselannya. Sam mencoba menangkis dan turut membalas pukulan Gerry. Mereka adu bogem mentah, tendangan, sikutan hingga tatapan mata.


Tak lama, Li dan Elina bersama Lila datang. Li langsung saja melerai keduanya. Ternyata bukan hal mudah memisahkan Gerry dan Sam. Terpaksa, Elina turun tangan. Kebetulan Elina menangani Sam, sekalian saja Elina memberi hadiah.


Plak!


Satu tamparan pedas ketua Elina mendarat. Lila menatap itu tidak percaya. 


"Berkelahi dalam markas di luar latihan tanpa izin? Kalian kira ini tempat adu jotos hah? Kalian kan termasuk petinggi, mengapa harus berkelahi, apa tidak bisa pakai cara aman. Lihatlah wajah kalian itu, jelek sekali. Sudah jelek, sakit lagi. Gerry, apa masalahmu dengan Sam?"


Li menoleh ke arah Gerry. Gerry mengusap bekas pukulan Sam padanya.


"Dia kurang ajar, berani sekali masuk ke kamarku tanpa izin. Yang membuatku marah, dia mengambil foto Mira dan meninggalkan frame kosong. Kedua, dia memotretku di saat wajahku tidak dalam kondisi yang tepat," ucap Gerry dengan nada kesalnya menunjuk Sam.


"Aku … aku kan tidak sengaja. Sudah ku katakan, aku membuka dan melihat penghuni kamar dari kamar pertama, aku mencari Lila, tapi aku tidak tahu di mana letakknya, makanya aku periksa satu persatu. Masalah foto dan potret, untuk apa aku mengambilnya, kurang kerjaaan!" Sam membela dirinya cepat.


"Siapa juga yang mau menyimpan foto wanita lain. Bisa-bisa aku yang hanya tinggal foto. Terus, aku kan pria buat apa memotret pria yang tidurnya abstrak, maskeran coklat lagi," lanjut Sam, sukses membuat Lila dan Elina membelakakan mata mereka tidak percaya dengan ucapan terakhir Sam.


Tidak dengan Li, Li hanya menggelengkan kepalanya sebab ia sudah tahu kebiasaan Gerry kalau sudah tidur.


Gerry, wajahnya merah padam, antara malu dan emosi. Gerry mengepalkan tangannya, Li menahan pundaknya. Li, jujur ia juga kesal dengan Sam. Ia bahkan iri dengan Elina yang berhasil melampiaskan kekesalan.


"Pantas saja wajahku mulus, Ger. Maskeran toh, bagi-bagi dong," celetuk Elina, berpindah tempat menjadi di samping kiri Gerry.


"Ah, tidak ada. Aku membuatnya sendiri!" tolak Gerry, melihat Sam yang sedang mengadu pada Lila.


"Ck, di mana harga dirimu Sam? Mengadu hanya luka kecil? Cih!" kecam Gerry.


"Apa salahnya? Dia istriku, wajarkan aku bermanja. Memangnya dirimu yang masih dalam perjuangan. Berjuang kok di mimpi, di alam nyata Bro, wek," balas Sam dengan santainya.


Gerry mengeraskan rahangnya, berusaha meredam emosi. Akhirnya Gerry menghela nafas panjang lalu menjulurkan tangannya kepada Sam.


"Kembalikan foto Mira dan berikan handphone-mu!" tegas Gerry.


"Aku tidak melakukannya," ucap Sam, kembali berkilah.

__ADS_1


Alhasil, suasana yang sudah tenang kembali panas.


"Sudah-sudah! Jangan bertengkar lagi! Sam berikan. Itu bukan hak kamu," lerai Lila yang jengah. Sam menatap Lila meyakinkan bahwa ia tidak mengambilnya.


"Kalau Gerry bilang kamu mengambil, maka itulah yang terjadi. Cepat kembalikan. Kita harus segera pulang. Mama dan Papa akan tiba di bandara sebentar lagi!" tukas Lila tegas. 


"Ada buktinya?" Sam masih tidak mau kalah. 


"Bukti? Kalau ku tunjukkan buktinya kamu akan mendapat hukuman, kau siap?" Gerry tersenyum smirk seraya mengambil handphone-nya dari kantong celana. Sam menelan ludah kasar. Sorot matanya ada sedikit rasa takut.


 Li dan Elina saling tatap dan kompak mengendikkan bahu mereka. Mengikut saja kemana jalannya. Mereka terkekeh melihat wajah pucat Sam yang ketahui berbohong. Gerry tersenyum puas. Dengan rasa malu yang menempel, Sam merogoh celananya dan mengembalikan foto Mira.


Gerry tersenyum puas dan mencium sekilas foto Mira sebelum ia simpan. Sam kemudian memberikan handphonenya. Segera masuk ke galeri dan menghapus fotonya. 


Astaga, ini benar-benar memalukan, runtuk Gerry melihat foto tidurnya sendiri.


Setelah dihapus, Gerry mengembalikan handphone kepada pemiliknya. Sam dan Lila kemudian izin pamit. Namun, baru saja berbalik dan berjalan satu langkah, Gerry menghentikan mereka.


 "Kau lupa ucapanku tadi Samuel Anggara? Kau harus dihukum!"


Nada dingin Gerry membuat Sam membeku. Lila menghela nafas. Terjadi perdebatan sesaat dengan akhir Sam harus lari 20 putaran mengelilingi lapangan. Satu putaran berjarak 400 meter. Jadi jarak yang harus ditempuh Sam adalah 8000 meter atau 8 kilometer. Lila, Gerry, Li, dan juga Elina melihat Sam yang berlari menjalankan hukuman dari balkon lantai 2. Elina tampak tersenyum puas dengan itu. Lila menatap kasihan suaminya sedangkan Li dan Gerry tersenyum acuh.


"Mengapa kamu menambah jumlah hukumannya?" tanya Lila pada Gerry.


"Karena dia tidak hanya memiliki satu kesalahan saja. Pertama dia membuat keributan di gerbang. Kedua dia berani masuk kamar tanpa izin. Yang ketiga dia berbohong. Yang keempat dia mengganggu kesenanganku  dan Elina. Jelas? Jadi jangan protes dengan hukuman dia. Itu belum seberapa jikalau Karina yang berada di sini. Pasti akan lebih berat lagi hukumannya," papar Li. Lila mengulum senyumnya dan mengangguk kecil. 


*


*


*


 Lila datang dengan membawa sebotol air mineral juga handuk. Sam duduk lalu menenggak habis air minum yang disodorkan oleh Lila. Lila dengan perhatian menghapus keringat Sam dengan handuk.


"Kau bisa berjalan?" tanya Lila khawatir.


Sama menghela nafas dan menggeleng. Mau berdiri saja rasanya limbung apalagi berjalan. Belakangan ini, semenjak Lila pisah atap dengannya, kondisi badannya kurang fit. Lila segera memanggil bagian kesehatan untuk membawa tandu. Akhirnya Sam ditandu ke klinik markas. Di sana dokter Rey segera memberi penanganan untuk Sam.


Akhirnya luka lebam dan juga rasa sakit di beberapa bagian sedikit berkurang. Tenaga Samjuga sudah pulih karena sarapan yang masuk ke lambungnya. 


Sam dan Lila segera izin pamit kembali ke kediaman Anggara. Memakai mobil Lila sebab mobil Sam kan hancur kemarin malam. Dengan segera Sam tancap gas menuju kediaman aanggara.


Ternyata setelah sampai di kediaman Anggara, mama dan papanya belum kembali. Sam menghela napas lega dan segera menarik tangan Lila menuju kamar mereka. Keduanya segera mandi dan berpakaian.


Karena sudah sarapan di markas jadi mereka sekarang menunggu manis di ruang tengah. Sekitar 15 menit kemudian terdengar suara mobil berikut disusul dengan langkah kaki yang bergerak masuk dengan langkah cepat. Hamdan dan Rasti masuk dengan wajah yang berbeda, Hamdan dengan wajah geram dan Rasti dengan wajah panik. 


Sam dan Lila berdiri dengan memberi salam. Tatapan Hamdan yang terkunci pada Sam. 


Sialan! runtuk Sam dalam hati wajahnya kembali makan bogem mentah. Sam bahkan sampai tersungkur. Lila segera membantu suaminya dan memberinya pelukan.


Rasti menahan tangan Hamdan. 


"Anak sialan ini! Ayo berdiri dan lawan aku! Kau anak ingusan berani menyakiti hati wanita. Lila itu ibu dari calon anakmu. Punya apa sih kamu hingga selingkuh dan mau menikah lagi? Aku malu dan geram sekali punya anak tidak setia sepertimu!" hardik Hamdan emosi.


"Pa, Ma. Ini semua salah paham. Aku bisa menjelaskannya," ujar Sam memberikan pembelaan terhadap dirinya.


"Apa? Sudah jelas beritanya kau akan menikah! Di mana kau sembunyikan wanita itu? Jawab!" geram Hamdan. Lila membantu Sam berdiri.

__ADS_1


"Ini hanya berita sepihak Papa. Pihak medusa itu yang mengklaim akan menikah dengan Sam. Bukan Sam. Menantu juga mohon maaf kerena turut memperkeruh suasanan," ujar Lila. Hamdam tampak terkesiap. Ia menatap Lila dengan tatapan tak mengerti.


"Maksud kamu, Sam enggak bersalah begitu?" Rasti menyuarakan tatapan sang suami. Lila mengangguk.


"Lagian apa Mama dan Papa meragukan didikan kalian sendiri?" tambah Sam mencibir. 


Hamdan dan Rasti menghela nafas lega. Mereka lantas mendudukkan tubuh mereka di sofa. Lila dan Sam langsung menjelaskan semua masalah sejelas-jelasnya. 


Hamdan tertawa senang mendengar penuturan Sam dan Lila.


"Kau memang anak kami! Papa bangga padamu, Sam. Oh ya, maafkan tangan geram Papa tadi ya," ujar Hamdan menepuk keras pundak Sam.


Sam tersenyum masam. Sudah mau hancur rasanya ini wajah. Sudah berapa pukulan yang dia terima hari ini? Sepertinya Sam harus ke rumah sakit untuk memeriksa wajahnya.


Lila tersenyum simpul. 


"Kalau begitu, di mana kamu sembunyikan Dayana, Sam?" tanya Rasti serius. Sam tersenyum smirk.


"Di ruang rahasia," jawab Sam. Hamdan dan Rasti membulatkan mata mereka sejenak kemudian tertawa lepas.


"Jadi, kamu sudah membereskan Dayana?" tanya Lila.


"Menurutmu?" tanya balik Sam. Lila kemudian menyeringai. Kedua mertuanya tertegun melihat wajah Lila.


Sam kemudian mengajak Lila untuk ke ruang rahasia. Ruangan itu berada di lantai satu dengan pintu masuk berada di samping kulkas. Sam membuka kuncinya, tak lama terdengar suara pintu terbuka diikuti dengan suara berisik. Setelah pintupintu terbuka lebar dan lampu menyala berurutan terdapat tangga dengan sekitar 10 anak tangga ke bawah. 


Lila menilai dan mengamati ruang bawah tanah ini. Tiba di bawah terdapat beberapa ruangan, Sam mengajak Lila ke salah satu ruangan. Di dalamnya terdapat 4 orang yang dijaga oleh dua orang bersenjata lengkap 4 orang itu duduk di kursi dengan kondisi kaki dan tangan terikat mata tertutup secarik kain hitam dan mulut yang di lakban.


Sam menjentikan jarinya. Salah seorang penjaga bergerak dan membuka penutup mata daya Dayana. Dayana mengerjakan matanya karena silaunya cahaya yang masuk ke nertanya. Dayana kemudian membulatkan matanya melihat tatapan mata Sam dan Lila yang seakan hendak memakannya hidup-hidup. Tatapan mata d


Dayana berubah menjadi ketakutan. Tubuhnya bergetar sendiri mulutnya yang tak bisa dibuka membuatnya harus berbicara melalui syarat mata yakni ketakutan.


Lila kemudian mensejajarkan wajahnya dengan wajah Dayana.


 


"Bagaimana harimu? Menyenangkan berada di sini?" tanya Lila dengan nada ledekan.


"Em, em, em!!" Dayana menggumam tidak jelas. 


"Sayang, apakah kamu mau langsung menyiksanya?" tanya Sam. Dayana menggeleng keras.


"Hei, kamu kenapa? Senang dan bahagia mendapat hadiah dariku? Tenang saja, tidak perlu merasa tidak nyaman, aku ikhlas kok," ujar Lila. 


Lila mengusap wajah Dayana. Mata Dayana melihat ke bawah. Mengikuti pergerakan tangan Lila. Terdengar suara berisik akibat ketiga tahahan lain yang memberontak. Sam yang kesal langsung menyuruh penjaga membuat mereka diam.


"Beberapa hari yang lalu kamu sangat berani, hari ini di mana keberanianmu, Nona? Kami sudah tahu kebenarannya. Kira-kira kau mau hadiah apa untuk menipulasi yang kamu lakukan, terutama menyebar berita yang hampir membuat keluarga kami pecah?" Nada Lila santai namun membunuh keberanian Dayana.


"Yang," ujar Sam menyerahkan sebilah pisau kecil pada Lila. Lila menerimanya.


"Kau siap?" tanya Lila pada Dayana. Tentu saja jawabannya gelengan kepala. Lila menempelkan ujung pisau di pipi Dayana.


"Jangan bergerak, tenangnya ini tidak akan sakit," ujar Lila. Sam menanti Lila menggores. Namun, ia mengeryit melihat Lila yang menarik kembali pisaunya.


"Ada apa?" tanya Sam penasaran.


"Aku tidak bisa melukainya, dia masih harus melakukan sesuatu," jawab Lila menatap Dayana dengan penuh maksud. Dayana meremang.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Sam.


"Dia harus melakukan …."


__ADS_2