Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 375


__ADS_3

Karina terbangun sekitar pukul 02.00 dinihari. Karina mengerjap, menghilangkan rasa pusingkan. Setelah penglihatannya jelas dan kesadarannya terkumpul, Karina mengedarkan pandangan. Ketiga putra kembarnya tidur nyenyak di kedua sisinya. Tersenyum lembut, mengusap bergantian pipi ketiga anaknya. 


Akhirnya … kita akan segera berkumpul.


Kyuruk!


Karina menahan tawa mendengar suara perutnya yang lapar. Segera Karina turun dari ranjang, kemudian merapikan selimut menyelimuti ketiga anaknya. 


Keluar dari kamar, mengedarkan pandangan. Mendapati Aldric dan Rayan yang tidur nyenyak. 


"Ya begitu tenang," gumam Karina, melewati keduanya menuju bagian dapur. 


"Eh Nona?" Pramugari tampak terkejut melihat kehadiran Karina.


"Kau tidak istirahat?" Karina mengeryit, ini tengah malam.


"Itu … saya lapar, Nona," jawabnya malu.


"Oh lapar. Kebetulan … buatkan aku coklat panas, juga roti," ujar Karina tersenyum.


"Baik. Baik Nona, akan segera saya siapkan," jawabnya penuh hormat. Karina mengangguk, berbalik dan melangkah keluar dapur.


Karina mengambil tempat duduk dekat jendela, menatap langit malam yang sepanjang mata memandang hanya ada kegelapan. 


"Karina kau bangun?" Li yang mengenakan celana ponggol dan kaos hitam mendekat, duduk di depan Karina. 


"Aku lapar. Kau sendiri?"


"Aku terbangun … juga sedikit lapar," jawab Li, tersenyum malu.


"Hahaha … sebentar lagi kita mendarat, haruskah aku ke markas atau langsung ke rumahku?" 


"Tentu saja ke markas!"jawab Li cepat. Karina mengeryit tipis. Bibirnya melengkung tipis.


"Apa yang kau sembunyikan Li?"  Li tercekat. Mengerjap pelan kemudian berdehem.


"Serummu ada di laboratorium markas. Jika kau pulang ke rumah dengan kondidi seperti bukankah akan membuat Arion, Enji, Bintang, Biru, dan Bima cemas?"jelas Li.


"Benar juga. Tapi aku tak masalah. Lebih baik mereka tahu. Lagipula di rumah ada serumku. Alasanmu memang benar tapi tidak menutupi ada sesuatu yang kau sembunyikan. Katakan ada apa Li? Aku tahu jelas sifarmu. Kau akan terbangun jika kau gelisah. Masalah mengenai apa?"


Li diam sejenak. Ingin berkilah tapi tatapan Karina menusuk jantungnya, mengancam untuk tidak berbohong. Li tampak ragu dan tertekan. Ia kemudian mendengus dan menghela nafas kasar. Karina menanti, perasaannya ikut sedikit gelisah. 


"Silahkan, Nona." Pramugari datang dengan membawa secangkir coklat hangat dan roti dengan isian coklat dan srikaya. Karina hanya mengangguk, menyuruhnya pergi.


"Ini tentang suamimu," ucap Li, pelan. 


"Arion? Kenapa rupanya?" Karina meletakkan cangkir setelah sekali seruputan.


Li membisikkan sesuatu pada Karina. Mata Karina tampak terkejut, kemudian menatap dingin ke depan.  Bibirnya tersenyum dingin. Li merinding, merasakan emosi Karina yang dingin, hawa membunuh Karina bangkit. Ditambah kini Karina tersenyum devil, Li seakan susah bernafas. 


"K-Karina … nafasku sesak," aduh Li, memegang dadanya.


"Kurang ajar!"desis Karina, tak menggubris keluhan Li. 


"Ka-Karina kau tenang saja. Yang lain tidak-tidak mungkin tinggal diam. Mertuamu juga tidak setuju. Elina sudah mengatur semuanya," papar Li. 


"Hmph!" Karina menarik aura membunuhnya, Li bisa bernafas lega. 


"Baik! Aku akan menantikan penampilan mereka!" Karina menghabiskan sisa coklat yang mulai dingin dalam sekali minum. Karina kemudian menyantap roti, cara makanya yang disertai dengan emosi membuat Li seakan melihat bahwa yang sedang Karina gigit dan kunyah adalah yang membuatnya emosi. 


"Huh. Sepertinya aku membuat keputusan yang tepat. Aku akan melihat kemampuan anak-anakku! Li sekarang jelaskan tentang markas selama aku pergi!"tegas Karina.


"Sekarang? Karina lebih baik kau istirahat lagi," tawar Li. Bukan takut tentang laporan tapi cemas dengan kondisi Karina.


"Aku sudah tidur lebih dari enam jam. Tenagaku sudah full. Pesawat take off dua jam lagi, waktu yang cukup untuk mendengar penjelasanmu? Atau kau jelaskan sekalian kita adu otak? Kita main catur?"


Li mengangguk menyetujui. Jika ditolak, pasti hasilnya tetap sama dengan kegiatan yang lebih dari satu.


Li mengambil kotak permainan catur, mengeluarkan semua bidaknya dan menyusunnya di atas papan catur. Li yang hitam sedangkan Karina putih. Li mulai duluan, Karina mulai mengajukan pertanyaan. Laporan lisan Li mulai. Dari semua laporan Li, Karina simpulkan bahwa organisasinya tetap berjalan dengan baik bahkan kekuasaan yang semakin melebar dengan kekuatan yang meningkat dari waktu ke waktu. 


Karina benar-benar bangga dengan seluruh anggota Pedang Biru, tetap setia dan memegang teguh janji dan sumpah mereka walaupun Karina dinyatakan hilang, tak tahu kondisinya hidup atau mati. 


"Aku sangat bangga dengan kalian."


"Aku mewujudkan ucapan itu. Ketika kau pulang kau akan tersenyum bangga pada kami. Karina sejujurnya sangat berat berjalan tanpa cahaya. Kami seakan meraba dan begitu waspada untuk bergerak sekecil apapun. Tapi … tapi semua itu berhasil kami lewati. Didikanmu untuk bisa bertindak, tidak selalu bergantung pada Pimpinan, berhasil dilaksanakan oleh para bawahan ini. Sekarang … sekarang semuanya terasa begitu indah, cahaya kami kembali dan kami berhasil melewati kesulitan. Sungguh rencana yang benar-benar luar biasa. Skenario Tuhan memang yang paling baik," tutur Li dengan mata berkaca-kaca. Karina tersenyum teduh, menatap lembut Li. 


"Ya kalian luar biasa," puji Karina. 


"Lantas bagaimana dengan rencana kerjasama dengan kelompok Anfa?"tanya Karina.


"Senjata dan peternakan …." Li menjelaskan hasil kesepakatan dengan kelompok Anfa. 


"Aku setuju. Juga aku tak salah pilih orang. Li, Aldric akan menjadi salah satu bodyguard anak-anakku!"ucap Karina.


"Ku akui ia punya kemampuan, akan tetapi untuk menjadi bodyguard mereka harus melalui ujian. Biarpun itu orang yang kau pilih sendiri," sahut Li.

__ADS_1


"Ya peraturan tetaplah peraturan. Lakukan sesuai tata caranya," balas Karina.


"Karina, boleh aku tanya satu hal?"tanya Li ragu.


"Tanyakan saja."


"Apa kau punya perasaan dengan Emir?"tanya Li serius.


"Tentu saja tidak. Biarpun kami sempat terikat hubungan suami istri, itu palsu. Biarpun aku hilang ingatan, tak sedikitpun hatiku tergerak padanya. Hatiku seakan telah terkunci untuk satu orang. Terlebih aku ragu jika aku benar-benar istrinya, setelah anak-anakku lahir, tidak ada satupun yang mirip dengan Emir, begitu juga dengan sifat mereka. Hubungan kami hanya sekedar saling menguntungkan," jelas Karina. 


"Hanya kamu yang begitu. Emir, dia mengaku mencintai dirimu," ujar Li.


"Aku tahu. Tapi ia tidak berani jujur. Bukan salahku bukan?"


"Lantas bagaimana jika ia benar-benar jujur dan kalian benar-benar menikah?"


"Mungkin aku akan punya dua suami," jawab Karina santai. 


Uhukk!


Li tersedak. 


"Sudahlah. Jangan bahas yang tidak akan terjadi. Lebih baik bangunkan mereka, kita akan take off. Aku akan membangunkan anak-anakku," ujar Karina, berdiri dan meninggalkan Li yang masih mencerna ucapan Karina.


"Jika memungkinkan seorang wanita bersuami banyak, berapa banyak suami yang akan kau miliki Karina? Mungkin aku juga salah satunya. Sayangnya dalam keyakinan itu dilarang, dalam hukum negara juga rasanya mustahil," gumam Li, tersenyum tipis.


*


*


*


Di sebuah ruangan yang luas dengan dekorasi yang cantik khas pernikahan, di mana bangku-bangku yang kosong terisi oleh para tamu. Di tengah ruangan, tempat akad akan dilakukan, sudah duduk dua mempelai yang disatukan dengan kain putih di kepala mereka. 


Awalnya semua berjalan lancar, tapi akad yang tak kunjung dilakukan, membuat para tamu serta keluarga mempelai wanita gelisah. Sedangkan mempelai pria tampak acuh dan menatap datar sekitar. Penyebabnya adalah keluarga mempelai pria yang tak kunjung hadir. Wali mempelai pria tidak di tempat, jenuh rasanya menunggu. Terlebih penghulu yang sudah bertanya berkali-kali. Penghulu juga orang sibuk, sibuk menikahkan orang.


"Tuan Arion, apa maksud dari keluarga Anda?" Ayah dari mempelai wanita menatap tajam Arion. 


"Mungkin mereka terjebak macet," sahut Arion, datar.


"Macet? Baikkah. Kita tunggu sepuluh menit lagi!"


"Oke."


"Sayang, apakah mereka masih tidak setuju? Apa kamu gagal menyakinkan mereka bahwa kita benar-benar saling mencintai?" Mempelai wanita memegang lengan Arion. Arion melirik sinis, menarik lengannya, melihat jam tangan. 


"Jaga bicara Anda, Tuan!"geram ayah mempelai wanita.


"Ck!"kesal Arion, membiarkan wanita itu bergelayut di lengannya. 


Percuma jika Papa tidak datang. Aku tak bisa menghindari pernikahan sial ini! Dasar wanita ular!batin Arion. 


Sepuluh menit berlalu. Keluarga Arion tak kunjung datang. Bahkan Calvin, Sam, dan Ferry saja yang selalu setia di sampingnya tidak ada. Arion benar-benar sendirian di sini. 


"Ini penghinaan bagi kami! Anda sudah mencoreng nama baik keluarga saya dua kali berturut-turut! Pernikahan ini …."


"Papa! Jika pernikahan dibatalkan, bagaimana nasib anak ini?" Wanita itu mengusap perutnya.


Mana ku tahu! Arion melirik sebal.


"Bukankah tanpa wali seorang pria tetap bisa menikah secara sah? Papa, Sintia yakin bisa mendapatkan hati mertua Sintia, juga tiga anak Sintia nanti." Nada yang lemah lembut, wajah polos meminta persetujuan sang Ayah. Ayahnya menghela nafas pelan, kembali duduk. 


Heh? 


"Aku tidak akan menikah tanpa restu orang tua dan anak-anakku! Pernikahan ini bisa ditunda sampai mereka setuju!"tegas Arion.


"Saya tidak setuju, Tuan Arion! Sampai kapan? Sampai anak saya melahirkan? Pernikahan akan dilangsungkan hari ini. Anda harus melakukannya sekarang atau saya tidak akan menarik tuntutan saja di pengadilan!"


Arion diam tidak menjawab. Batinnya berkecamuk, geram, emosi, marah, juga merasa bersalah. 


Kau kira aku selemah itu? Jika bukan karena … aku pasti sudah menghancurkan kalian! Sayang sekali, kasih sayang tulus dibalas dengan air tuba. Baiklah … mari lakukan. Papa pasti akan segera datang!


"Baiklah. Mari lakukan!" Arion menatap datar penghulu, mengulurkan tangannya. Penghulu menjabat tangan Arion.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Arion Wijaya bin Amri Wijaya dengan Sintia …."


"Tunggu dulu!" Ucapan penghulu terpotong, pintu masuk ruangan terbuka lebar. Semua tatapan tertuju ke pintu masuk. Amri dan Maria berdiri paling depan. Tatapan tajam mereka membuat para tamu merinding. 


"Arion Wijaya apa kau benar-benar akan menikahi wanita itu?" Amri menatap lekat Arion. Arion mendengus.


Permainan dimulai.


"Dia mencintaiku, juga mengandung anakku, tidak ada alasan untuk tidak menikahinya," sahut Arion.


"Baiklah. Tapi kami sebagai orang tuamu, tidak akan pernah merestui dan menyetujui pernikahan ini!"ucap Amri.

__ADS_1


"Aku juga tidak setuju Papa menikah dengan nenek sihir itu!" Bintang keluar dari belakang Maria menunjuk Sintia dengan tatapan dingin.


Mempelai wanita itu, Sintia tersenyum dengan wajah yang terlihat kesal. Tangannya mengepal.


Dasar anak tengik!batin Sintia.


"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan! Kau melanggar janjimu! Jika kau tetap menikahi wanita itu, maka kita bukan keluarga lagi! Kau bukan lagi pewaris dari Wijaya Group!"ucap Maria lantang , menatap dingin Arion. Arion terkejut, begitu juga dengan Sintia dan Ayahnya.


Apa harus seserius ini?


"Tuan Amri, apa putri saya serendah itu di mata keluarga Anda?!"seru ayah Sintia, tak terima anaknya direndahkan. 


"Rendah! Sangat-sangat rendah! Tak pantas menjadi bagian dari keluarga Wijaya!"jawab Maria.


Sabar-sabar Sintia. Masih ada KS Tirta Group. 


"Paman, Bibi, apa yang bisa saya lakukan agar kalian setuju?" Sungai bertanya dengan nada lemah lembut, wajah polos.


"Ah sampai kapanpun kami tidak akan setuju. Menantu kami hanyalah Ibu dari cucu-cucuku seorang!" Amri menatap lembut Bintang.


"Papa jika kau tetap menikah, aku juga akan memutuskan hubungan denganmu!"ancam Bintang.


Aku terjebak. Ini juga rencana kalian. Sialan aku yang paling menderita! 


"Putriku Sayang, Papa harus menikah demi keselamatannya nama baik keluarga dan perusahaan, juga nama baik Papa sendiri. Jika Bintang memutuskan hubungan dengan Papa, bagaimana cara Papa menghadapi Mama?"


"Pikirkan sendiri! Berani berbuat berani bertanggung jawab!"sahut Bintang. 


"ARION WIJAYA!"  Ada yang datang lagi. Mata Arion membulat melihat siapa yang datang. 


Sepertinya aku harus ke rumah sakit setelah ini.


"Siapa lagi ini?"gumam kesal Sintia. 


"Dasar Bajing*an! Beraninya kau menghianati adikku!" Gerry berteriak marah pada Arion. Gerry berdiri di samping Amri, Elina berdiri di samping Maria.


"Berdasarkan mandat, jika Anda berkhianat Anda tidak ada hak atas KS Tirta Group! Anda bukan lagi suami dari adikku!"ucap Elina lantang. 


Aku memang tidak ada hak, sahut Arion dalam hati.


WTF? Apa-apaan ini? Jika aku tetap menikah artinya aku menikah dengan pria miskin dong?!


Tenang. Tenang Sintia, masih ada aset pribadi.


"ARION!"


Ada lagi. Sam dan Calvin bersama dengan istri mereka masuk.


"Jika kau tetap menikah, kau bukan lagi Ketua dari organisasi kita. Kau dipecat!"ucap Calvin. 


Ini akting atau serius? Mengapa sebanyak ini ancamannya??


"Tidak masalah. Yang terpenting kehormatan keluarga tetap terjaga." Arion menanggapi santai.


"Benar. Dia akan menjadi pengganti diriku," imbuh Ayah Sintia.


"Kehormatan matamu! Pria keledai sepertimu mana punya kehormatan!"


Mampus sudah. Tamatlah Riwayatku. 


Darwis, Rian, Satya, dan Joya masuk ke dalam ruangan. Amri dan Maria berpandangan bingung. 


"Kau pria bod*h, mengapa bisa terjebak berkali-kali?" Joya berkata sinis. 


"Dasar penghianat! Adikku memang tidak cocok dengan pria lemah sepertimu!"kecam Darwis.


Sangat menusuk. 


"Ck. Masih mending kau dapat yang setengah dari Karina, ini bahkan minus tak hingga. Ar-Ar bagaimana caranya kamu bisa dijebak oleh wanita j*lang ini?" Satya menggeleng pelan, menatap marah Arion.


Sintia merasa sangat terhina. Ayahnya apalagi.


"Huhuhuhu ... aku hanya meminta tanggung jawab Arion, apa itu salah? Mengapa kalian semua menyudutkanku?"tangis Sintia.


Air mata buaya! Tidak salah, hanya saja salah tempat.


"Siapa? Siapa kalian memangnya hah? Apa hak kalian menilai putriku? Aku hanya meminta tanggung jawabnya pada putriku? Mengapa kalian merendahkan putriku? Apa karena kalian dari keluarga terpandang? Keluarga kaya dan berkuasa? Mengapa semua menyerang putriku? Kalian tidak berhak menilai putriku! Aku hanya meminta tanggung jawab bukan ingin menghancurkan hubungan kalian! Baiklah. Tidak masalah. Aku mampu menghidupi anak dan cucuku. Pernikahan ini batal, bersiaplah untuk bertemu di pengadilan! Kalian akan hancur di tanganku!"


Ayah Sintia menarik Sintia berdiri, bersiap untuk meninggalkan ruangan ini.


"Oh rupanya ayah baik anak jahat. Benar-benar polos mematikan," gumam Rian, tersenyum sinis.


"Tunggu dulu!" Biru dan Bima berdiri selangkah di depan Amri dan Maria.


"Tak perlu ke pengadilan untuk menyelesaikan masalah ini." Enji masuk dan berdiri di samping Bima.

__ADS_1


"Kami berbaik hati karena merahasiakan kejadian hari ini dari publik. Mohon Anda berkerja sama jika tidak apa yang akan terjadi selanjutnya adalah kehancuran keluarga Anda!"ancam Enji.


__ADS_2