
***
Setibanya di cafe, Karina langsung disambut oleh Siska dan kawan-kawan.
"Laporan cafe bawa ke ruanganku," perintah Karina. Mereka mengangguk paham. Tak lama Arion masuk ke dalam Cafe.
Mereka terbenggong saat Arion juga ikut. Tak biasanya Bos mereka membawa orang lain ke cafe.
"Kenapa kalian bengong?" tanya datar Arion. Karina sudah duluan menuju ruangannya.
"Ah maaf Tuan, kami hanya tak terbiasa," jawab Siska santai.
Sebenarnya Arion masih sedikit takut dengan siska dan kawan-kawannya mengingat insiden lalu. Ia takut kembali dihajar. Namun, Arion segera menepis kekhawatirannya dan menyusul Karina.
Siska, Laila, dan Rena segera mengambil laporan mereka dan bergantian masuk ke dalam ruangan Karina. Sebab jika mereka masuk langsung bertiga mereka akan mengabaikan pelanggan. Sedangkan Emi yang tak memegang tanggung jawab apapun karena baru tiga bulan ia dipindahtugaskan oleh Karina.
Keahliannya adalah memasak. Jadi tiga bulan lalu ia menjadi chef di kapar pesiar Pedang Biru Mafia. Ya Mafia yang dipimpin Karina memiliki usaha legal dan ilegal.
Urutan pertama yang pasti adalah Siska. Siska segera menyerahkan laporannya dan menjelaskannya secara lisan. Arion yang duduk di sofa yang ada di ruangan Karina ikut mendengarkan.
"Jadi Bos semua bahan menu cafe yang berasal dari kolam, peternakan dan kebun untuk keseluruhan cafe di kota ini adalah sebagai berikut. Untuk keseluruhan sayuran kita menghabiskan lima petak ukuran 10 kali dua puluh. Sedangkan untuk daging kita menghabiskan tiga ekor sapi, dua ekor kambing …." Belum selesai Siska menjelaskan Karina sudah menyelanya.
"Cukup. Semuanya sesuai target bulan kemarin. Saya mau bulan ini, penggunaan bahan menu cafe ditingkatkan 10%," tegas Karina segera menandatangani laporan Siska.
Siska membungkuk hormat dan segera keluar dari ruangan Karina dengan membawa kembali laporannya. Selanjutnya Laila segera masuk. Ia melaporkan tentang berapa banyak jumlah pelanggan.
Menurut orang lain mungkin ini tak penting, namun menurut Karina ini sangat penting, di samping untuk mengetahui seberapa jauh kepopuleran cafenya juga untuk mencari tahu kepuasan para pelanggan.
"Baik. Tapi saya lihat jumlah pengunjung berkurang 1 % dari bulan Agustus. Saya mau cari tahu alasannya dan naikkan jumlah pelanggan sebanyak 5 % untuk bulan ini," tegas Karina.
Laila menunduk hormat dan segera keluar. Yang terakhir adalah Rena. Ia melaporkan jumlah keuntungan cafe. Tak ada masalah akan hal ini.
"Naik 5% untuk bulan ini. Saya mau itu," ucap Karina sebelum Rena keluar dari ruangannya.
Selesai sudah acara laporan bulanan. Arion mendekati Karina.
"Tak heran jika kau kaya raya," ujar Karina.
"Hmm …," tegas Karina masih fokus mengetik pada laptopnya.
"Kamu ini cerdas juga ya? Menggunakan bahan-bahan yang diproduksi sendiri kecuali yang berasal dari laut untuk bahan menu cafemu," lanjut Arion memegang pundak Karina. Karina menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah Arion.
"Kamu salah. Aku juga memelihara ikan di laut," ralat Karina.
"Maksudnya kamu buat keramba gitu?" tanya Arion memastikan. Karina mengangguk dan kembali mengetik. Arion membaca sekilas ketikan Karina.
"Kamu mau buat cabang baru? Dekat kantor aku?" tanya Arion.
"Hmm …," jawab Karina.
Mendengar jawaban acuh Karina membuat Arion mengerucutkan bibirnya. Dengan kesal ia kembali duduk di sofa menanti Karina selesai dengan laptopnya itu.
Ingin rasanya Arion membanting laptop Karina namun ia urungkan takut Karina mengamuk.
Sudah lebih dari dua jam, Karina bergelut dengan laptopnya. Arion sudah berkali-kali menguap bosan.
"Sudah selesai belum?" tanya Arion menatap Karina dengan mata setengah terbuka.
"Sebentar lagi. Jika dihitung kau sudah sepuluh kali bertanya pertanyaan yang sama," jawab Karina.
Lima menit kemudian Karina selesai mengetik, ia membuat proposal dan segala keperluan untuk pembangunan cafe barunya.
"Sudah selesai. Tapi aku lapar," ucap Arion memegang perutnya. Perut Karina pun ikut berbunyi, dengan segera ia memanggil Siska untuk mengantarkan makan siang ke ruangannya.
Tak menunggu lama, berbagai menu makanan yang dalam porsi yang ideal sudah tersaji di meja ruangan Karina. Karina segera menyantap makan siangnya, dan jangan lupakan tingkah Arion yang bersikap manja dengan meminta Karina menyuapinya. Karina ya mendengus kesal tapi tetap menyuapi suaminya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, Karina dan Arion sudah berada di mobil bersiap untuk pulang. Di tengah jalan, Karina mengajak Arion ke pantai melihat matahari terbenam.
__ADS_1
Sudah lama ia tak menikmati suasana pantai yang menenangkan. Arion menyetujuinya. Peluang untuk lebih dekat dengan istrinya, apalagi ini Karina yang berinisiatif.
"Bagaimana dengan Bayu? Nanti dia kecarian?" tanya Arion.
Karina melirik Arion sekilas.
"Dia sedang asyik dengan laptopnya," jawab Karina enteng.
***
Kediaman Wijaya. Bayu terbangun pada saat waktu menunjukkan pukul 15.00. Perutnya lapar minta diisi. Ia mengedarkan pandangannya mencari Karina dan Arion, namun tak menemukannya.
Bayu segera bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya, kemudian ia keluar dari kamar mencari Karina dan Arion kembali.
Ia menuruni tangga, Bayu masih asing dengan lingkungan barunya ini. Bayu mengedarkan pandangannya. Ia hanya melihat beberapa pelayan yang sibuk memasak dan membersihkan rumah.
"Eh, Bayu kamu sudah bangun?" tanya Maria yang baru masuk ke dalam rumah dengan Amri di sampingnya.
Wajah Amri sudah bersemangat, agaknya ia sudah melepaskan beban di hati dan pikirannya. Bayu mengangguk.
"Hai Boy, kamu pasti belum tahu nama kami berdua kan?" tanya Amri ramah. Bayu menggeleng.
"Kenalin nama om, Amri Wijaya kamu bisa panggil om Amri. Nah wanita cantik di sisi om ini adalah istri om namanya princess Maria Wijaya," ujar Amri.
Maria menyenggol suaminya kesal sebab Amri merayunya di depan Bayu. Bayu hanya menatap datar mereka berdua.
Anak sama bapak sama aja, batin Bayu.
"Kenalin nama aku Bayu Tirta Sanjaya. Maaf meralat sedikit. Bukankah seharusnya saya memanggil Anda ayah dan ibu sebab walau bagaimana pun saya adik dari kak Karina dan Anda berdua adalah mertua dari kakak saya," ralat Bayu yang membuat Amri dan Maria bertatapan heran tak lama mereka tertawa kencang.
"Walaupun adik angkat sifatnya sangat mirip," tawa Amri. Maria sepekat dengan itu.
Krucuk.
Krucuk.
Bayu kesal sekaligus malu. Ia mengusap tengkuknya dengan cengiran khasnya.
Orang tua gak ada akhlak. Anak kelaparan malah diketawai! gerutu Bayu dalam hati.
"Hahahaha … anak ini lucu juga. Ayo sini ikut mama kita ke meja makan," ajak Maria memegang tangan Bayu.
Amri tidak ikut dengan mereka, ia segera naik menuju kamarnya.
Selesai makan, Bayu langsung pamit kembali ke kamar Arion. Dan ya benar tebakan Karina, Bayu kini bergulat dengan laptopnya.
***
Semilir angin sore ditambah desiran ombak menambah suasana syahdu di pantai. Sepasang sejoli menyusuri bibir pantai tanpa alas kaki.
Terukir senyum bahagia di wajah mereka no, hanya di wajah sang pria. Sedangkan sang wanita menunjukkan wajah datar tanpa senyum.
Rona-rona jingga mulai bertebaran di langit. Tak lama mereka duduk di hamparan pasir putih.
"Kamu senyum dong. Senja yang indah tak lengkap jika tanpa senyummu," ujar sang pria menangkupkan kedua tangannya di pipi sang wanita.
"Hmmm …," respon wanita itu.
"Ayolah Karina tersenyumlah. Lepaskan bebanmu bersamaan dengan matahati yang tenggelam," bujuk sang pria yang tak lain adalah Arion. Karina tersenyum kecil mendengarnya.
"Hmm … kau benar. Aku mengajakmu kemari untuk melepaskan semua bebanku. Beban yang selalu aku tutupi. Aku lelah," ucap pelan Karina menyandarkan tubuhnya di bahu Arion.
"Senja itu indah. Ia mengajarkan pada kita bahwa semua kejadian yang terjadi hari ini, seburuk apapun itu pasti akan berakhir indah. Mau terik dan hujan sederas apapun senja selalu menghangatkan," ujar Karina merangkul pundak Karina dan menciumi pucuk rambutnya.
"Mengapa senja hari terjadi sekali dalam sehari? Padahal keindahannya selalu dinanti. Mengapa setelah keindahan akan datang kehampaan? Mengapa setelah siang akan datang malam?" Pertanyaan keluar dari bibir chery Karina.
Matanya menatap lurus melihat matahari yang mulai terbenam di ujung pantai.
"Mengapa senja hanya sekali dalam sehari? Itu mengajarkan kita untuk mensyukuri apa yang kita dapatkan hari ini. Seperti pepatah suasana seperti ini mungkin tak akan terulang lagi besok. Mengapa setelah keindahan muncul kehampaan? Mungkin itu mengisyaratkan bahwa hidup ini pasti berakhir seperti matahari, ada saatnya ia terbenam walaupun sinarnya dapat membakar kulit namun tetap saja ia tak bisa melawan takdir di mana ia ada saatnya untuk terbenam," jawab Arion ikut menatap ke depan.
__ADS_1
"Dan terakhir … mengapa setelah siang harus malam? Mungkin itu sudah ketetapan. Bumi ini selalu berputar. Roda kehidupan pun berputar. Seperti saat ini kita sedang berada di atas, mungkin ada saatnya kita berada di bawah. Tapi aku berharap dan berdoa itu tak pernah terjadi. Waktu siang adalah untuk matahari menyinari dan menghangatkan dunia ini. Malam hari tiba, namun bukan berarti sinar dan kehangatan matahari sirna, bulan dan bintang adalah penerang kita. Sedangkan keluarga adalah penghangat di kalah dingin melanda," lanjut Arion.
"Mungkin jawabanmu benar," ucap Karina menatap Arion sendu.
Tak biasanya dia langsung luluh, batin Arion.
Perlahan Karina mendekatkan wajahnya pada Arion.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Arion. Tak lama kehilangan kesempatan, Arion meraih tengkuk Karina dan menciumnya kembali. Mata Karina membulat.
Awalnya ia hanya ingin mengucapkan terima kasih dalam bentuk Karina. Namun, perlahan Karina mulai membalas ciuman Arion. Karina malah mengalungkan tangannya pada leher Arion. Cukup lama mereka berciuman di bawah langit senja yang mulai menggelap.
Lima menit kemudian, Arion melepaskan ciumannya dan mengajak Karina pulang, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 19.00.
Selama perjalanan pulang mereka diam dalam keheningan. Karina mengambil handphonenya dan mengirim pesan kepada seseorang.
Siapkan pesawat. Malam ini aku akan terbang ke negara K tepat jam 23.00.
Tulis Karina. Tak lama ada pesan balasan yang akan segera melaksanakan perintah Karina.
"Chat dengan siapa?" tanya Arion melirik Karina.
"Li," jawab Karina menyimpan kembali handphonenya. Arion ber-oh-ria saja. Sekitar 40 menit kemudian mereka tiba di kediaman Wijaya.
Bayu langsung menghampiri mereka kerena sedari tadi setelah selesai bermain laptop, Bayu langsung menuju teras depan menunggu kepulangan Karina. Berulang kali juga, Maria menyuruhnya menunggu di dalam namun Bayu kekeh dengan keputusannya.
"Kakak dari mana? Bayu udah nungguin dari tadi," ujar Bayu sedih.
"Kamu nungguin kakak? Maaf ya tadi kakak ada urusan penting."sesal Karina menepuk pundak Bayu.
"Sudah ayo masuk. Gak baik ngobrol di depan pintu."ajak Arion masuk. Karina dan Bayu mengangguk dan segera masuk mengekor pada Arion.
Seusai mandi, Karina dan Arion langsung menuju meja makan. Di sana Amri, Maria dan Bayu sudah menunggu. Mereka segera makan malam dalam keheningan. Seusai makan malam, Karina langsung pamit menuju kamar. Bayu pun ikut pamit menuju kamarnya. Sedangkan Arion masih bercengkrama dengan orang tuanya.
"Wajah kamu bahagia banget Ar? Habis dari mana kalian? Pulang sampai jam segitu tadi?"tanya Maria kepo.
"Dari pantai ma."jawab singkat Karina.
"Ngapain?"tanya Amri ikut kepo.
"Rahasia."jawab Arion langsung berdiri dan menyusul Karina ke kamar. Ia tak mau Maria dan Amri bertanya lebih jauh lagi. Amri dan Maria terkekeh pelan.
Sesampainya di kamar, Arion mendapati Karina sudah tertidur berbalut selimut. Arion mendesah pelan. Namun mengingat kejadian senja tadi, membuat Arion menarik senyuman. Ia kemudian menbaringkan tubuhnya, tangannya menyibak rambut yang menutupi wajah Karina. Arion mengecup singkat kening dan dahi Karina sebelum ikut tertidur menuju alam mimpi dengan memeluk Karina. Karina membuka matanya sedikit. "Gak tega aku mau ngasih obat tidur ke semua orang, tapi sama kamu pun aku gak tega. Haih … sepertinya kali ini aku turun tembok deh."batin Karina. Ia ikut memejamkan matanya menunggu jam 22.00.
***
Tepat jam 22.00, Karina membuka matanya lebar dan melirik Arion. Dengan perlahan Karina menyingkirkan tangan Arion dari pinggangnya dan segera bangkit perlahan dari ranjang agar Arion tak terbangun. "Hufff … akhirnya bebas juga."gumam Karina setelah berhasil bebas dari ranjang.
Karina segera mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam agar memudahkannya menyatu dengan kegelapan saat menyelinap keluar nanti. Setelah selesai, Karina membuka jendela kamar perlahan. Karina menatap datar tanah di bawahnya, Ia berniat melompat turun dari balkon yang berjarak sekitar 5 meter dari tanah.
Bruk
Karina mendarat mulus dan segera menuju tembok pagar. "Si*l gara-gara kakek tua dan Nita aku jadi seperti pencuri."gerutu Karina kesal. Ia tak dari pintu gerbang sebab sudah pasti ketahuan oleh penjaga. Karina memajat tembok setinggi tiga meter itu dengan mudah . Ia loncat dan mendarat dengan mulus. Sebuah mobil bermerk BMW i8 sudah menunggu. Karina segera masuk mobil. Perlahan mobil meninggalkan area kediaman Wijaya menuju bandara.
Setibanya di bandara, Karina langsung masuk ke dalam pesawat pribadinya dan segera take off menuju negara B. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah. Karina memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk melanjutkan tidurnya di kamar yang tersedia di pesawat.
Satu jam setengah kemudian, pesawat landing di bandara negara B. Karina segera turun dan menuju mobil yang sudah menjemputnya untuk ke markas Pedang Biru di negara B.
Tiga puluh menit kemudian, Karina tiba di markas Pedang Biru. Ia di sambut oleh Aleza, penanggung jawab markas di negara B. "Selamat datang kembali Queen."sambut Aleza. Karina mengangguk sekilas. "Di mana dia?"tanya Karina dingin.
"Dia ada di kamar tawanan Queen."jawab Aleza.
"Bawa aku ke sana."titah Karina. Aleza segera menunjukkan di mana Nita di kurung. Di dalam kamar tawanan, Nita tak dapat melihat apapun sebab matanya di tutup kain hitam. Tangannya terikat kuat pada ranjang. Ingin berteriak namun tak bisa sebab mulut di lakban.
Ceklek….
Suara pintu yang di buka oleh Aleza. Karina segera masuk dan duduk menatap kesal Nita yang masih terdiam. "Buka penutup mulutnya!"perintah Karina pada Aleza. Aleza segera membuka lakban yang menutup mulut Nita. Nita meringis tertahan.
__ADS_1