
Tahun baru biasanya diawali dengan berbagai harapan yang ingin diwujudkan di tahun yang baru ini. Malam tahun baru identik dengan kembang api juga suara meriah terompet. Berkumpul di alun-alun atau tempat yang memang ditujukan untuk melihat pergantian tahun.
Biasanya banyak orang mengekspresikan rencana mereka di media sosial. Menposting caption yang berisikan harapan.
Biasanya merenungi apa saja yang sudah dilakukan di tahun sebelumnya. Ribuan rencana sudah terpikir, ini dan itu.
I wish ….
I hope ….
Sudah biasa terdengar jika sudah dekat dengan tahun baru.
Akan tetapi hal semacam itu tidak berlaku bagi Karina serta seluruh jajarannya, keluarga Wijaya, Alantas, dan Anggara.
Bagi mereka, untuk merenungi ataupun melihat hal-hal yang berhasil mereka capai sebelumnya tidak perlu menunggu waktu untuk mengkoreksi.
Di situ dicapai, di situlah dikoreksi.
Untuk membuat rencana, tidak perlu menunggu waktu. Yang perlu menunggu itu prosesnya.
Ya biarpun begitu manusia tetaplah manusia. Istirahat sudah menjadi bagian dari kehidupan.
Pagi menjelang siang rumah Karina sudah ramai. Ketiga keluarga berpengaruh berkumpul di rumah Queen Pedang Biru ini.
Karina dan Arion sebagai tuan rumah duduk mengamati Sam, Calvin, Gerry, dan Li yang sibuk mondar-mandir. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sam dan Calvin membuat barbeque. Gerry membakar jagung, serta Li yang memanggang ikan.
Maria dibantu Lila dan Raina sibuk menyiapkan hidangan pelengkap sedangkan Elina sendiri duduk menemani Li.
Gerry tersenyum kecut dalam diam melihat dia sendiri yang tidak bersama dengan istri.
Ah … ayolah ini bukan masalah. Mira … bagaimana kabarmu, Sayang?batin Gerry.
"Oi dibalik jangan ngelamun!"seru Li.
Gerry menatap jagung kemudian menatap datar Li, tangannya membalik jagung.
"O iya kemana Bayu dan Syaka tadi?"tanya Amri mengedarkan pandangan mencari kedua pemuda cilik itu. Pria tertua itu bertugas menjaga Alia, menemani Alia bermain dengan beberapa kelinci peliharaan Karina.
"Palingan main game di dalam, Pa," jawab Karina, mengalihkan pandangan ke rumah.
"Mereka sudah mirip saudara ketimbang teman. Papa kira tidak ada yang sanggup berteman dengan gunung api di kutub itu," tutur Amri yang sebelumnya memperhatikan Bayu dan Syaka.
"Gunung api di kutub?"tanya Sam mengeryit.
"Ya anak itu punya wajah ketus, kusut, dingin tapi temperamen yang meledak. Kalian tidak akan tahan satu rumah dengannya. Lidahnya sangat tajam," sahut Arion menatap Karina.
Karina tersenyum tipis. Memang benar, untuk apa dia marah?
"Sepertinya anak Enji itu mengerikan tapi menarik. Dia juga terlihat anak yang cerdas," ucap Calvin.
"Ya, jika yang tidak mengenalnya dengan baik pasti akan beranggapan begitu. Jangan menilai dengan satu aspek."
Karina angkat bicara sekaligus memberi peringatan.
"Kami paham. Itu sama sepertimu bukan, Karina?"
Sam tertawa kecil dengan menunjuk Karina. Karina hanya mengangkat jempol memberi persetujuan.
"Hm, mengenai Enji, bagaimana kabarnya? Kemarin katanya masih koma. Oh ya anak itu nggak dengar kan kita membicarakannya?"
Calvin mendadak takut jika ucapan mereka terdengar oleh Bayu. Anak yang temperamen mengusik ketenangan Calvin.
Arion dan Karina saling tatap, mereka tertawa melihat wajah takut Calvin. Bukan hanya mereka, semua yang ada di tempat tertawa.
"Anak itu memakai alat bantu dengar, tapi sepertinya tidak. Dia kan sibuk dengan game," ujar Arion menenangkan Calvin.
Calvin menghela nafas lega.
"Kondisi orang koma, stabil saja sudah aman," ucap Karina menjawab pertanyaan Calvin.
"Pantas saja beberapa perusahaan heboh dengan berita pimpinan sementara perusahaan Enji," celetuk Sam sembari membalik daging.
"Aku tahu dan aku tekankan pada kalian untuk menutup rapat mulut kalian mengenai kondisi Enji. Jika tersebar kalian lah yang akan aku cari duluan!"ancam Karina dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Apalagi selain mengangguk.
__ADS_1
"Ah mari bahas mengenai hal lain. Rasanya waktu terlalu cepat berjalan. Kemarin aku merasa bahwa kalian masih balita. Kini sebentar lagi kalian yang akan mempunyai bayi. Kemarin aku merasa kami masih menjadi orang tua baru, kini kalian lah yang menjadi orang tua baru. Waktu memang berputar dan siklus kehidupan terus terjadi. Selamat untuk kalian semua," tutur Amri menatap satu-satu pria dan wanita yang sebentar lagi memiliki bayi.
Elina dan Li saling tatap. Mata Li kemudian turun menatap perut Elina yang membuncit.
"Ya, itu benar. Aku bahwa merasa ini mimpi. Kehidupan keras yang kami jalani dari kecil, membuat kami tidak berani untuk berkeluarga, bahkan bermimpi pun tidak. Setiap hari bertaruh nyawa, kami takut membahayakan nyawa mereka seandainya kami berkeluarga. Tapi sekarang, semua itu terpatahkan. Memiliki keluarga membuat aku lebih semangat bekerja. Jika bertugas dan terancam aku selalu mengingat bahwa ada yang menungguku di rumah. Aku menyadari sekejam, sedingin, setidak punya hatinya seseorang pasti menyimpan cinta yang hangat di hati. Arion, terima kasih telah membuat hati Karina menghangat. Semua perubahan yang kami rasakan, kau lah sumbernya," papar Li menatap Arion dengan mata berterima kasih.
Arion tertegun. Ia menatap Karina meminta tanggapan.
Karina tersenyum, membenarkan ucapan Li.
"Aku tidak menyangka. Tapi sejujurnya kita sama. Kau dan aku sama-sama saling berubah menjadi yang terbaik, satu sama lain," tukas Arion, mendaratkan kecupan mesra di dahi Karina.
"Aiya kalian berbicara keluarga bahagia. Kalian sedang meledekku ya?"sungut Gerry dengan wajah jeruk purut.
"Meledekmu? Kau kan belum menikah," sahut Sam yang memang tidak tahu bahwa Gerry sudah menikah. Begitu juga dengan Calvin.
"Enak saja. Kau tahu apa rupanya? Aku sudah menikah. Sekitar 10 hari yang lalu aku sudah resmi jadi suami," tegas Gerry.
"Benarkah? Siapa gerangan yang menaklukan kakakku ini?"
Rupanya Lila juga belum tahu. Pertanyaan itu diangguki oleh Raina.
"Kalian tahu orangnya. Mira Rahmawati, dokter kandungan di Tirta Hospital. Putri angkat sekaligus mantan menantu jadi jenderal besar negara K, Jenderal Adiguna!"ujar Gerry lantang memperkenalkan istri tercintanya.
"Mantan menantu? Kau menikahi janda?"pekik Raina tidak mengerti dengan Gerry.
"Kenapa rupanya kalau janda?"sambar Gerry cepat.
"Ya gak papa sih. Aku kan hanya kaget. Lagian mau dengan siapa kau menikah tidak masalah asalkan baik serta berjenis kelamin wanita," balas Raina, berubah menjadi acuh.
"Eh?"
"Yap benar sekali. Kalau kau jatuh cinta dengan nenek-nenek pun kami tidak masalah. Asal jangan menyimpang," timpal Lila.
"Huh kalian mengejutkanku," gerutu Gerry sembari mengelus dada.
"Wah-wah kalian menikah diam-diam ya? By the way istrimu mana?"
Gerry terdiam dengan mata melirik Karina. Karina membalas lirikan Gerry.
Huff
Pintu terbuka. Sepasang kaki turun dari mobil. Gerry terbelalak melihat Mira yang tersenyum padanya sembari merapikan anak rambut.
"Mira?"gumam Gerry, menoleh ke arah Karina.
Karina mengedipkan mata, tersenyum menggoda Gerry.
Gerry langsung berlari untuk memeluk Mira. Kedua orang itu berpelukan melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Sayang?"
Arion, Elina, dan Li juga heran dengan Karina, sedang yang lain menatap minta penjelasan.
"Suasana hati dan jalan pikirnya sulit ditebak," bisik Elina.
"Setidaknya Gerry tidak tersiksa sekarang," sahut Li berbisik pula.
"Why? Mira kan dokter di rumah sakitku. Dia baru pulang dari kunjungan luar kotanya. Mengapa kalian menatapku seperti itu?"
Karina mengambil handphone dan langsung sibuk memeriksa laporan. Yang lain menatap tidak percaya.
Gerry dan Mira segera bergabung. Mira menunduk hormat melapor terlebih dahulu pada Karina. Karina hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Thank you, my Queen," ucap Gerry serius.
"No problem," sahut Karina.
*
*
*
"Lukamu masih sakit?"tanya Arion seraya memeriksa leher Karina. Karina menggeleng pelan.
__ADS_1
"Sudah sembuh," jawab Karina. Arion ber-oh-ria. Sudah menduga.
Selesai makan, mereka mengobrol ria. Membicarakan banyak hal. Masa lalu, masa kini serta rencana di masa depan. Mereka menyatu dalam satu ikatan, kekeluargaan.
Syaka dan Bayu yang kelelahan juga kekenyangan memilih tidur di ruang tamu. Karina tidak masalah, hari ini bebas.
Gerry dan Mira saling bergenggaman tangan ketika memasuki topik mengenai anak. Mereka sadar, usia pernikahan mereka baru 10 hari. Lucu rasanya mereka merasa minder.
Mereka berdua tersenyum lebar saat masing-masing pasangan memberitahu nama untuk bayi mereka nanti.
Karina dan Arion tidak pernah mengubah atau membicarakan lagi nama untuk anak kembar mereka, Star Blue, Bintang dan Biru. Kedua nama itu cocok untuk digunakan pada bayi laki-laki maupun perempuan.
"Jenis kelamin anakku laki-laki. Kami sepakat akan memberinya nama Ali. Diambil dari huruf terakhir nama Elina dan nama depanku, Li. Aku berharap anak kami kelak menjadi orang yang seperti namanya, mulia, baik, dan pemenang. Kelak dia akan menjadi pilar utama Pedang Biru serta penjaga utama untuk para pewaris," ucap Li mantap seraya mengusap perut Elina.
"Benar. Ali, nama yang indah bukan?" Elina menaruh telapak tangannya di tangan Li yang sibuk mengusap perutnya.
"Nama yang indah lagi mulia. Kalian pintar memilih nama anak," puji Amri.
Amri dan Maria mendengarkan dengan seksama pembicaraan anak-anak mereka.
"Hei-hei aku tidak setuju denganmu, Li. Anakku kelak baik dia wanita ataupun pria, akan sama kedudukannya dengan anakmu. Sama-sama pilar utama! Posisi kita sama, maka posisi anak kita juga sama," seru Gerry.
"Ya itu benar!"timpal Mira.
Karina mengernyit tipis dengan ucapan Mira. Sepertinya beberapa hari sangat berarti bagi Mira.
"Kalian sangat setia," ungkap Karina tersenyum.
Kedua pasangan itu tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan kalian?"tanya Arion kepada dua sahabatnya.
"Tentu saja. Aku sudah mempersiapkan nama untuk anak kami. Jenis kelaminnya perempuan, akan kami beri nama Lisa," ujar Sam. Tak perlu ditanya dari mana nama tersebut. Lisa adalah nama penggalan dari nama Lila dan Sam.
"Arti nama Lisa sendiri adalah membaktikan diri terhadap Tuhan. Jika sudah berbakti terhadap Tuhan, pasti ia akan berbakti kepada orang tua, kepada kakek dan nenek, berguna bagi sekitar serta akan selalu berada di jalan yang telah ditentukan. Dia akan menjadi anak yang mempunyai sifat-sifat yang disukai oleh Tuhan," tambah Lila.
Sam mencium dahi Lila.
"Bagus. Tapi sepertinya kalian harus mendidiknya dengan benar. Apa kalian berniat memasukkan anak kalian ke pesantren?"
Karina menanggapi.
"Ya," jawab Lila dan Sam serentak.
"Kalian sudah membuat rencana besar. Ikuti saja cara Rasulullah dalam mendidik anak, kalian pasti akan menjadi orang tua yang berhasil, begitu juga dengan anak kalian. Dan insya allah, dunia dan akhirat kelak," saran Amri.
Ia sudah membaca banyak buku bernuansa islami. Masa mudanya dulu hanya sibuk mengejar dunia, berpikir bagaimana caranya agar sukses tanpa ada waktu untuk anak.
"Kami mengerti," jawab mereka serentak kecuali Maria dan Alia.
"Ah giliran kami. Anak kami berjenis kelamin laki-laki. Akan kami beri nama Ravi yang berarti matahari," ujar Calvin.
"Jangan katakan itu nama dari penggalan nama kalian berdua."
Arion mendengus senyum ketika Calvin dan Raina mengangguk.
"Bukankah lebih bagus nama Rafi?"tanya Karina memberi saran.
"Kedua nama itu sama-sama bagus dan bermakna mendalam. Tapi itu terserah pada kalian," ujar Arion.
"Keduanya terdengar sama tapi berbeda. Tapi kami sudah memilih nama Ravi," tegas Calvin.
"Benarkah, Ra?"
Pada akhirnya meminta persetujuan Raina. Raina mendengus senyum tapi tetap mengangguk.
"Lantas bagaimana dengan kalian berdua?"
Maria menatap Gerry dan Mira.
"Ah kami? Kami belum memikirkannya," jawab Gerry sembari menggaruk kepala.
"Coba pikirkan sejenak, mana tahu ada," saran Maria. Keduanya saling tatap, sepertinya berbicara lewat mata dan hati.
Setelah beberapa saat, keduanya tersenyum.
__ADS_1
"Jika laki-kali akan bernama Laith, yang berarti singa," ujar Gerry.
"Jika perempuan akan bernama Azizah, yang berarti terhormat," sambung Mira.