
Karina menerima kabar dari Arion bahwa besok lusa akan diadakan acara peletakan batu pertama pembangunan panti asuhan yang akan diberi nama Bintang Biru sebagai bentuk syukur untuk kedua anaknya yang masih berada dalam kandungan. Karina yang sedang berada di ruangannya pun menghela nafas panjang kemudian tersenyum lega.
Sasha dan Aleza lalu datang bersamaan menghadap Karina. Mereka menjelaskan agenda Karina untuk akhir tahun. Karina mendengarkannya dengan seksama.
"Meeting akhir tahun, aku yang akan memimpinnya. Untuk awal tahun, aku mau ada beberapa investor baru yang menanamkan modal di bidang properti dan transportasi. Oh ya, sebutkan jumlah pemegang saham yang terakhir. Aku lupa memantaunya," ucap Karina.
"Jumlah pemegang saham tertinggi masihlah Anda, Nona. Delapan puluh persen saham adalah milik Anda. Sedangkan saham perusahaan di berbagai perusahaan paling rendah adalah 10%. Apakah Anda berniat melakukan penjualan saham di bursa efek Nona?" jelas Sasha.
"Hm, lelanglah 2% saham. Hasilnya investasikan ke bidang pendidikan serta panti sosial," jawab Karina singkat.
"Nona, akumulasi keuntungan tahun ini melebihi target, apakah akan ada tambahan bonus akhir tahun?" tanya Aleza.
"Berapa persen?" tanya Karina.
"Sepuluh persen," jawab Aleza. Karina mengangguk senang. Pundi-pundi kekayaannya semakin bertambah. Belum lagi dari usaha cafe dan mafianya. Karina menyetujui penambahan bonus akhir tahun. Karina lalu masuk dan mengecek harga saham beberapa perusahaan lawan. Ternyata tidak ada yang menarik.
"Hm, bagaimana dengan perkembangan para artis?" tanya Karina pada Lila, saat Lila dan Raina datang melapor.
"Hm, boyband yang debut pertama di awal tahun, kini sudah mendapatkan nama di masyarakat serta kini mereka sudah mengeluarkan single ke tiga mereka. Untuk para aktor dan aktis serta film yang mereka bintangi, 8 dari 10 menang penghargaan. Rating rata-rata adalah 4,8. Penghasilan dari KS Entertaiment juga meningkat tajam. Penjualan saham mencetak rekor baru dengan harga yang melambung. Nona, zaman keemasan KS Tirta Grub akan mencetak sejarah," jelas Lila.
"Bukan akan, tapi sudah. Kita sudah mencetak sejarah dan memantapkan posisi perusahaan ini sebagai perusahaan multibidang terkaya dan terbesar nomor satu di dunia. Jangan lupakan juga, mafiaku juga semakin kokoh. Akan tetapi, kalian jangan berpuas hati, semakin menjulang suatu pohon, akarnya juga harus semakin kokoh. Aku tidak mau kalian lupa akar kalian dan tumbang diterpa angin. Kalian paham?" peringat Karina. Lila dan Raina mengangguk paham.
"Ah ya Nona, Jaya Company mengadakan meeting pembagian deviden minggu depan. Apakah Anda akan hadir?" tanya Raina. Karina menaikkan alisnya.
"Berapa jumlah saham di sana?" tanya Karina penasaran. Dia kan pelupa.
"35%."
"Bagus, aku akan menghadirinya langsung. Akhir tahun, harus meriah bukan?" putus Karina.
"Anda benar, Nona," jawab Lila dan Raina serentak.
"Hm, bagaimana keadaan Argantara Company? Apa ada perkembangan yang signifikan?" tanya Karina.
"Semenjak di bawah KS Tirta Grub, investasi bertambah banyak, tapi kebanyakan dari mereka investor asing. Proyek yang menjanjikan adalah proyek pembangunan jalan tol yang bekerjasama dengan kementerian pembangunan. Juga beberapa di sektor pariwisata," jelas Lila membaca tabletnya.
"Infrastuktur dan periwisata adalah sektor menjanjikan. Bagus!" komentar Karina.
"Satu lagi, adakah pesta akhir tahun!" tegas Karina.
"Baik, Nona!"
"Ada lagi?" tanya Karina.
"Nona, bulan Februari minggu kedua, lauching Tirta Garden akan dilaksanakan," ucap Raina.
"Persiapan dengan matang!" sahut Karina. Lila dan Raina mengangguk mantap.
*
__ADS_1
*
*
Lonceng jam istirahat pertama berbunyi nyaring. Membuat para pelajar berlonjak senang. Yang awalnya lemas bak tidak bertulang lalu berdiri tegak dengan mata yang bersemangat. Ada juga yang mendengus sebal sebab materi pembelajaran yang disampaikan guru belum selesai ada juga yang biasa saja.
Di antara banyaknya siswa, hanya Bayu dan seorang siswi yang stay di kelas mereka. Teman-teman mereka sudah berhamburan keluar sejak guru meninggalkan kesal. Kebanyakan dari mereka ke kantin, ke purpustakaan, atau sekedar berbincang di depan kelas.
Bayu dan siswi itu tidak lain adalah Lia. Ya Silsilia amanda Graham, yang bertekad meluluhkan hati es Bayu. Bayu yang berkutat dengan bekal makan siangnya sembari mendengarkan lagu, tidak memperdulikan Lia yang duduk di sampingnya.
Like an echo in the forest
Haruga doraogetji
Amu ildo eopdan deusi
Yeah life goes on
Like an arrow in the blue sky
Tto haru deo naragaji
On my pillow, on my table
Yeah life goes on
Like this again
Menyadari Lia yang menatapnya, Bayu melirik dengan wajah juteknya.
"Himalaya, mengapa kau masih saja dingin? Apakah perjuanganku selama ini belum mampu melelehkanmu?" Lia mengeluh, Bayu lagi-lagi hanya melirik.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah coba berbagai cara, beritahu aku bagaimana caranya?"
Lia menutup bekal makannya yang sudah habis. Bayu melepas handseatnya dan menoleh ke arah Lia yang menunjukkan wajah sendu. Gadis dengan mata coklat, bibir manis, dan rambut digerai itu menatap Bayu dengan mata yang mencari.
Bayu menarik senyum tipis. Semenjak Lia bertekad menaklukkannya, sudah banyak cara yang Lia lakukan, mulai dari berdandan semenarik mungkin, memberinya perhatian, mengejar melalui akademik agar membuat Bayu sedikit terkesan, mengikuti ekskul yang sama dengan Bayu yaitu melukis dan renang, hasilnya dilirikpun hanya untuk meledek.
"Pergi dan menjauh. Mungkin aku akan jatuh hati padamu." Seusai mengatakan hal itu, Bayu beranjak menuju depan kelas sebab lonceng masuk sudah berbunyi, mereka harus berbaris sebelum memulai pembelajaran mata pelajaran ke empat.
Lia tertegun di tempatnya, matanya panas ingin menangis, hatinya berkedut sakit. Bagaimana bisa anak berusia delapan tahun sekejam itu padanya? Dua kata itu cukup untuk menghancurkan hati wanita manapun. Lia mengepalkan kedua tangannya erat.
"Lia, ayo baris. Nanti kamu dipanggil BK loh," ujar teman sekelasnya.
"Kamu sakit Li? Kalau sakit duduk saja," ujar ketua kelas, yang kebetulan menyukai Lia.
"Eh, aku enggak papa kok. Aku baris," sahut Lia segera tidak ingin mendengar cibiran teman-temannya.
Lia mengambil barisan paling belakang, melewati Bayu yang duduk di barisan pertama.
__ADS_1
*
*
*
Mira duduk melamun di meja belajarnya. Laptop yang ia gunakan seakan hanya menjadi pajangan. Tangannya memang berada di mouse, matanya menatap layar laptop, tapi pikirannya melayang jauh bak dadelion tertiup angin.
Flashback On.
Saat Mira berada sendirian di ruang makan, Intan menghampirinya dan mengajaknya ke rooftop. Mira yang sedikit paham, mengangguk dan segera mengikut. Di rooftop, Mira berdiri dengan gelisah. Intan menatapnya tajam dengan kedua tangan melipat di dada.
"Apa yang membawamu kembali, Mira?" tanya Intan datar. Mira meremas-remas tangannya mengurangi kegugupannya.
"Apa maksud Mama? Aku kembali untuk ulang tahun Papa, bukankah wajar, Ma?" jawab Mira.
"Mengapa baru sekarang? Dua tahun lalu kamu tidak kembali. Hilang kabar. Tidak tahu kamu bermukim di mana. Apa kamu mau mengungkit luka dalam keluarga ini dengan menunjukkan wajahmu lagi? Aku berharap kamu tidak pernah kembali Mira. Jawabanmu kemarin, membuat harapan Papa semakin besar. Apa kamu juga yang mengirim surat-surat itu? Kamu membuat harapan palsu Mira. Eko sudah tiada, bagaimana bisa menulis surat?" cercah Intan dengan sorot mata kesedihan di netranya. Lidah Mira keluh, hatinya berteriak bukan itu maksudnya.
Intan, bukannya tidak suka pada Mira. Ia membesarkan Mira seperti anaknya sendiri. Walaupun jumpa besar. Akan tetapi, status Mira kini adalah janda dari putranya. Kehadiran Mira, akan semakin membuat Adiguna percaya bahwa Eko masih hidup, semua itu adalah bohong.
"Ma, bukan itu maksud Mira. Mama ingat ucapan Mira sebelum Mira pergi?" tanya Mira.
"Tentu aku ingat. Kamu akan kembali jika kamu sudah mengikhlaskan Eko, tunggu itu artinya, Mira, kamu sudah rela?"
Mata Intan membulat tidak percaya, secara cinta yang dipupuk sejak lama akan sangat sulit menerima kehilangan. Mira mengangguk. Intan mendekati Mira dan menepuk kedua pundaknya.
"Iya Ma. Mira sudah rela walaupun rasanya sulit. Akan tetapi Mira harus bangkit dari kenangan lama, biarlah masa-masa bersama Mas Eko menjadi kenangan terindah dan termanis dalam hidupku," jawab Mira dengan mata berkaca-kaca. Ia yakin, Intan mengatakan hal itu untuk kebaikan mereka semua. Bukan karena membencinya.
"Mama salut padamu Nak, akan tetapi Mama khawatir tentang Papamu. Kamu tahu Mama kan?" Intan menarik Mira dalam pelukannya. Mereka berdua berpelukan erat saling berbagi kekuatan.
"Mira paham Ma. Mira akan pergi setelah ulang tahun Papa dan tidak akan kembali lagi," ujar Mira.
Intan terlihat menggeleng. Ia melepas pelukannya.
"Tidak. Kamu harus kembali ke rumah ini, hanya saja setelah Papamu tiada. Mira, terlepas dari kamu adalah menantuku, kamu juga adalah anakku. Jadi setelah kepergian Papa kelak, kamu harus kembali ke rumah ini," ucap Intan serius. Mira diam tidak berkata. Intan melanjutkan ucapannya.
"Mama dan kami semua tidak mau mengekang kehidupanmu Nak. Kami tahu kamu pasti sangat menghargai Papamu. Kami tahu, kamu tidak akan mudah membuka hati pada lelaki lain. Oleh karena itu, sekembalinya dari sini, bukalah hati kamu untuk pria lain. Kamu berhak bahagia. Kamu berhak melanjutkan kehidupanmu. Kamu tidak boleh terjebak dalam keyakinan Papa. Semua itu hanya bohong belaka. Mama merestuimu Nak. Carilah pria yang bisa membahagia dan melindungimu. Kamu sudah terlepas dari ikatan suami istri dengan Eko. Mama percaya, jika kalian cinta sejati, maka kalian pasti akan dipersatukan kembali. Mira, menikahlah lagi," tutur Intan melanjutkan ucapannya.
Mira, matanya memanas menahan laju air mata yang hendak turun. Kata-kata Intan begitu masuk ke dalam hatinya. Kata-kata Intan sama persis dengan kata-kata Eko dalam mimpinya. Intan, bukannya tidak menangis mengatakan hal itu, pipinya dibasahi oleh air mata.
Berat, jujur berat mengatakan semua hal itu, akan tetapi itulah yang seharusnya ia lakukan. Intan menyeka air mata Mira. Intan menggeleng mengatakan pada Mira agar jangan menangis.
"Bagaimana? Bagaimana aku bisa menikah dan mengabaikan keyakinan Papa? Ma, Mira akan tenang setelah Papa menerima kepergian Mas Eko. Mira hanya akan menikah, jika Papa ikut merestui!" ucap tegas Mira. Intan mengeryit dan menyeka air matanya sendiri.
"Bagaimana caranya Mira?" tanya Intan.
"Selama ini, kita semua hanya diam dan mengiyakan bahwa Mas Eko masih hidup, secara tidak langsung, kitalah yang memperkuat keyakinan Papa bahwa Mas Eko masih hidup. Maka oleh sebab itu, kita juga yang harus membantu Papa merelakan kepergian Mas Eko," terang Mira.
"Caranya?" tanya Intan. Mira menggeleng.
__ADS_1
"Itulah yang Mira tidak tahu, Mira takut, jika Papa mendengar itu, maka Papa akan drop. Kita harus pakai cara halus. Mira akan memikirkannya setelah Mira pulang dari sini. Lagipula, cuti Mira hanya tinggal empat hari. Jadi, Mira pulang bukan karena Mama suruh tapi karena memang sudah harus pulang," jelas Mira. Intan tersenyum menyetujui. Keduanya lantas kembali berpelukan, kemudian melangkah kembali ke dalam rumah.
Flashback off.