Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 105


__ADS_3

Pintu terbuka, beberapa dokter memeriksa Joya, memberinya suntikan vitamin agar dapat menjaga kesehatan ibu dan anak.


"Wis, kamu mau buat Joya stress? Dia ibu dari calon anakmu loh," tanya Li menepuk pundak Darwis saat melihat Darwis keluar dari kamar di mana Joya disekap.


"Hanya sebentar. Mengingatkan dia agar tak mengganggu Karina dan Arion lagi," jelas Darwis santai. Li terkekeh pelan.


"Cepat jadikan dia milikmu secara sah. Tak mungkin kau menyanderanya lebih lama lagi bukan? Pasti Tua bangka itu akan kebakaran jenggot," saran Li, membuat Darwis menghentikan langkahnya, menatap Li bingung.


"Maksudnya aku nikah sama Joya begitu?" tanya Darwis memastikan. Li mengangguk.


"Gila, mana mungkin Karina setuju. Dia itu anak dari musuhnya," pekik Darwis tak setuju. Li menutup telinganya.


"Ada jalan, anak kamu, Karina tak mungkin memisahkan ayah dan anak," sahut Li pergi meninggalkan Darwis yang terperajat kaget. Darwis bersandar pada pilar kokoh markas.


Menimang saran Li lagi dengan penuh pertimbangan.


"Benar juga kata Li. Karina pasti akan setuju. Lagipula dia mengatakan aku bebas melakukan apapun padanya, termasuk menikahi Joya," gumam Darwis. Ia tersenyum tipis. Membayangkan Joya jadi pengantinnya. Darwis menggelengkan kepalanya pelan. 


"Ah, nanti saja bayangkannya. Lebih baik aku cari restu saja sama Karina," pikir Darwis beranjak pergi menuju kamar, bersiap  menyusuri alam mimpi.


***


Pukul 06.00, pagi hari yang agak mendung, para wanita sudah sibuk di dapur. Tak kecuali Karina. Sembari memasak, Maria sebagai yang tertua memberi nasehat pada tiga wanita muda itu. Maria mewanti-wanti menantu tersayangnya. Memberi arahan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilalukan oleh ibu hamil, terutama yang masih hamil muda. Sedangkan Raina dan Lila angguk-angguk paham.


Para lelaki berada di halaman villa, lari pagi beberapa putaran mengelilingi halaman villa yang luas. Udara sejuk menambah semangat berolahraga. 


Kicauan burung di pepohonan menambah keceriaan. Wilayah pegunungan di mana perkebunan dan villa Karina ini berdiri adalah milik pribadi, so tak ada yang berani mengusik Karina sekeluarga, apalagi ditambah hewan buas di kaki gunung yang sengaja tak dipindahkan dan jalur akses masuk yang hanya dapat ditempuh menggunakan helikopter, membuat villa dan perkebunan ini misterius di mata banyak orang.


Amri mengelap keringat dengan handuk putihnya, masih berlari satu putaran lagi untuk menggenapkan sepuluh putaran, ya begitulah, walaupun sudah memasuki masa pensiun, kesehatan dan kebugaran fisik tetap dijaga. Sedangkan Arion, Sam dan Calvin sudah menyelesaikan lari mereka lima menit yang lalu, kini mereka duduk di bawah pohon pinus, beralaskan tanah dan dedaunan kering. Mereka menunggu panggilan dari masing-masing wanita mereka untuk masuk dan sarapan.


Tak berselang lama, Amri menyelesaikan larinya. Ikut bergabung dengan anak mudanya. 


"Silahkan Tuan," ujar Pak Tri menyodorkan sebotol air mineral. Ya, Pak Tri memang Karina suruh untuk menemani dan melayani para pria mereka.


Amri mengambilnya, tak lupa mengucapkan terima kasih. 


"Pa, kita jadi ke air terjun kan?" tanya Arion menoleh ke arah Amri.


"Ya kita berangkat selesai sarapan nanti. Bukankah Karina yang mengajak?" tanya balik Amri sembari mengelap bibirnya.


Arion mangut-mangut mengerti. 


"Ar, tadi malam gue ngerasa lihat bayangan putih di pohon mahoni itu deh, loe lihat gak?" tanya Sam yang sedari tadi memperhatikan pohon di mana Mbak itu berada.


Arion tersentak pelan, Calvin mengarahkan pandangan menuju pohon yang disebut oleh Sam.

__ADS_1


"Anda bisa melihatnya, Tuan?" tanya Pak Tri refleks menatap serius Sam.


"Iya Sam, loe bisa lihat?" tanya Arion pelan mengulang pertanyaan Pak Tri. 


Sam menggeleng. "Cuma bayangan, memangnya ada apa?" jawab Sam.


"Syukurlah," ujar lega Pak Tri.


"Iya, ada siapa rupanya di sana? Mengganggu tidak?" timpal Amri.


"Gak Pa, dia gak ganggu kok. Malah bertugas menjaga tempat ini. Kata Karina sih begitu, diakan bisa melihat dan berkomunukasi dengan mereka," jelas Arion.


"Yang Tuan Arion katakan memang benar. Nona memiliki kemampuan itu, Tuan-Tuan sekalian tenang saja, mereka tak akan mengganggu. Tapi beruntung, Tuan Sam tak melihatnya, jika tidak mungkin saat ini kami berdiri menyaksikan pemakanan Anda," tambah Pak Tri yang membuat semuanya terdiam, termenung meresapi ucapan Pak Tri.


"Siapa yang menjamin dia tak menganggu? Lantas mengapa Anda mengatakan hal itu?"ctanya Calvin menatap serius Pak Tri. 


"Nonalah yang menjamin. Apa ada yang meragukan beliau? Dan mengapa saya mengatakan hal itu? Jawabannya sebab siapapun yang melihatnya, baik fisik baik dan seram akan meninggal dunia malam di mana dia melihatnya," jelas Pak Tri.


Sam menghela nafas pelan. Nasib baik nyawanya belum melayang. Amri bergidik ngeri mengetahui penjaga villa Karina ini, masih bagian villa, belum keseluruhannya.


Saat asyik dengan pikiran masing-masing, suara panggilan Karina membuat lamunan mereka buyar dan menoleh ke sumber suara.


"Ayo masuk, kita sarapan dulu sebelum ke air terjun," panggil Maria kencang dari teras villa. Membuat para lelaki itu beranjak dan melupakan pembicaraan mereka tadi. Percaya bahwa jika tak ada yang akan menganggu jika mereka tak menganggu dan mengusik mereka duluan. 


"Iya Ma," sahut Amri. Mereka bergegas masuk ke dalam villa, tapi sebelumnya mereka mencuci kaki dan tangan di pancuran yang tersedia di teras.


"Wow nasi tumpeng? Tak biasanya," seru Amri menarik kursi dan mendudukinya.


"Pintar juga calon istriku masak," puji Calvin.


Raina tersipu malu. Para wanita segera mengambil posisi di samping masing-masing lelaki mereka.


"Acara kecil-kecilan merayakan kita jadi kakek sama nenek loh Pa," jawab Maria mulai mencentongkan nasi untuk Amri beserta lauk-pauknya.


Lila dan Raina pun melakukan hal yang sama, persiapan menjadi istri yang baik. Sedangkan untuk Arion dan Karina, Arionlah yang mengambilkan nasi untuk Karina.


"Thanks My Hubby."ujar Karina mencium singkat pipi Arion. Wajah Arion panas, terlihat jelas telinganya memerah. Tak biasanya Karina memanggilkan My Hubby. Jika tidak Ar pasti kamu ataupun kau, itulah sapaan Karina yang biasa terdengar.


"Sama-sama My Wife."ucap Arion mengalihkan pandangannya ke arah lain, menemukan senyum orang tua serta sahabatnya yang menggoda dirinya.


Arion batuk pelan.


"Mari makan. Ingat untuk berdoa," ujar Arion makan duluan, membuat semunya tertawa kecil.


"Jangan malu, Ar. Sudah sah kok," ledek Calvin.

__ADS_1


"Iya gue sudah sah dari lama. Kalian kapan?" tanya Arion membalas ledekan Calvin.


"Seminggu lagi gue sah," sahut Calvin.


"Sudah ayo sarapan. Satu jam lagi kita ke air terjun," putus Karina jengah mendengar keributan Arion dan Calvin.


Menurut. Satu kata yang cocok untuk sekarang. Sarapan dalam keheningan, menikmati sajian istimewa. Selepas sarapan, mereka bergegas bersiap menuju air terjun, dengan pakaian khas berpetualang melekat pada tubuh mereka.


Pukul 09.00 mereka start dari villa, mereka harus melewati jalan setapak yang memang dibuat menuju air terjun yang terletak di tengah pegunungan. Kamera menggantung manis di leher Calvin.


Jalanan tanah tak lebih dari satu meter lebarnya mereka turuni, kanan-kiri rimbun dengan pohon pinus. Ya pohon yang para pekerja Karina tanam.


Obrolan ringan mewarnai perjalanan, tak lupa mereka membawa keranjang berisi santapan makan siang. Mereka berjalan beriringan dan saling menggandeng tangan masing-masing pasangan.  Bayu berada di tengah Maria dan Amri, menikmati suasana pegunungan yang asri. 


"Jadi ingat masa kuliah, nanjak gunung sampai puncak, menikmati indahnya awan dari sana. Apalagi pas matahari terbit. Indah sekali," ucap Sam mengingat masa-masa kuliah dulu, di mana dia belum dibebani jabatan presdir perusahaan Antara Company.


"Salah kamu Sam, bukan masa kuliah tapi masa SMA," ralat Calvin.


"Iya tuh, masa kuliah kita sibuk, apalagi pas semester lima, kita kan koma di rumah sakit," timpal Arion menatap Karina. Karina menarik senyum tipis. Merasa bersalah, akibat perang dengan dirinya, tiga sekawan ini harus merasakan indahnya koma dan melawan maut.


"Ngomong-ngomong, masalah kalian koma bareng lima tahun lalu belum terjawab apa penyebabnya ya?" tanya Amri. 


Membuat tiga pasangan itu tertegun. Lila dan Raina yang tahu masalah itu, melirik lelaki mereka serius. 


"Iya Ar, Sam, Calvin, bukankah kalian pamit ke kota A mengapa malah terluka parah di pinggir jalan? Malah dekat lagi sama lokasi gedung meletus. Apa kalian ada hubungannya dengan itu?" tanya Maria.


"Hmm … Pa, bisakah itu tak dibahas di sini? Kita liburan loh," ujar Arion menghentikan langkahnya. Otomatis langkah Karina yang berada di samping dan langkah ketiga pasangan di belakangnya ikut berhenti.


"Tapikan Papa belum menemui kejelasan kejadian itu Ar?" tolak Amri. Bagaimana dia bisa lupa? Putra satu-satunya koma enam bulan di rumah sakit, dengan luka tembak yang menembus dada kirinya. Untung saja, posisi jantung Arion menurun Maria yaitu di sebelah kanan. Belum lagi cedera lainnya, baik ringan maupun berat. Pihak yang mencari alasan di balik itu pun tak dapat menemukan pelakunya dan kasus di tutup enam bulan kemudian, saat Arion bangun dari komanya.


"Apakah penjelasan kami dulu belum cukup Pa?" tanya Arion serius.


Amri dan Maria saling berpandangan, menurut mereka masing kurang. 


Arion hanya mengatakan bahwa mereka dirampok, namun bukti menyatakan bahwa mereka tidak dirampok. Akan tetapi, mengingat kondisi saat ini, Amri dan Maria tersadar bahwa ini adalah waktu bersenang-senang. Bukannya mengingat masa lalu.


Amri menghembuskan nafas pelan.


"Oke. Kita kami tidak akan membahas itu lagi. Ya lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang kalian sudah sembuh," ujar Amri yang membuat Arion tersenyum lebar.


"Kalau begitu, ayo lanjutkan perjalanan," seru Sam yang berada di belakang Amri dan Maria.


"Ayo," sahut yang lain bersemangat. Mereka melanjutkan perjalanan, menuruni pegunungan. Satu jam berlalu, belum tiba di lokasi yang dituju.


"Kakak ipar? Apa masih jauh lagi?" tanya Calvin pelan, ia lelah.

__ADS_1


"Tidak. Apakah kalian bisa mendengar suara air?" jawab Karina. 


__ADS_2