
"Ada apa kau memanggilku? Kau dan anak kita merindukanku?" tanya Darwis memegang tangan kanan Joya yang terantai.
Joya menatap rumit Darwis. Darwis malah memasang tampang senang penuh senyuman.
"Sudah ku katakan berulang kali, ini bukan anakmu. Dan aku tak merindukanmu," jawab Joya ketus memalingkan wajahnya ke arah lain. Bukannya marah, Darwis tetap tersenyum, lebih lebar lagi.
"Joya, apakah perlu kita lakukan tes DNA sekarang juga?" tanya Darwis seraya membuka rantai tangan kanan Joya. Kemudian beralih membuka rantai tangan kiri.
Joya menggertakan giginya marah.
"Kau mau mencelakai janinku hah? Apa kau bodoh atau pura-pura bodoh hah?" teriak marah Joya menunjuk wajah Darwis dengan telunjuknya. Darwis malah mendekatkan wajahnya ke jari itu dan mengecupnya singkat, Joya sontak menarik tangannya.
"Itu kan pilihanmu. Sudah ku katakan bahwa itu anakku maka itu anakku. Tapi kau keras kepala, solusi cepatnya ya tes DNA, dengan konsekuensi ada hal buruk yang terjadi pada anak kita. Kau tak mau bukan?" sahut Darwis serius. Joya termenung. Kesal, mengapa Darwis bersikeras bahwa yang dikandungnya adalah anaknya? Padahal Joya mengklaim bahwa itu adalah anaknya dan Arion.
Joya bergerak bersandar pada kepala ranjang dan memegang kepalanya pusing. Darwis khawatir. Dengan cepat Darwis menempelkan punggung tangannya di dahi Joya. Joya tak menepisnya. Percuma saja.
"Tidak demam. Pasti kau dan anak kita lapar. Ayo sarapan, akan aku suapi dirimu," ujar Darwis mengambil piring berisi roti bakar di atas nakas. Memotongnya menjadi lebih kecil menggunakan pisau agar mudah untuk menyantapnya.
"Apa kau mau bertanggung jawab? Jikalau ini benar anakku?"
Joya bertanya lirik, menundukkan wajahnya tak berani menatap Darwis langsung.
Darwis tertawa kecil. Mulai menyuapi Joya.
"Dasar wanita bodoh. Tentu saja aku tanggung jawab. Jika tidak yang ku lakukan ini demi apa?" jawab Darwis menaikkan satu alisnya.
Tentu saja Joya. Kau adalah cinta pertamaku. Aku tak akan melepaskanmu kali ini. Apapun yang terjadi, tambah Darwis dalam hati.
Joya mendongak. Menatap Darwis serius. Tanpa sadar, bulir-bulir air mata ia keluarkan.
"Ayo makan. Apa mau aku suapi? Dari mulut ke mulut?" ucap Darwis menggoda. Joya membelalakan matanya. Dengan cepat menghapus air matanya.
"Jangan cium aku," ucap Joya kesal. Mulai menyantap suapan Darwis.
Darwis dengan serius menyuapi Joya. Joya hanyut dalam keseriusan menatap lekat Darwis
Semakin diperhatikan, ada kemiripan dengan Daren. Matanya sangat mirip dengan mata di balik kacamata Daren. Apa dia bersaudara dengan Daren? pikir Joya.
Tapi …? Dia apanya? Usianya bahkan sama dengan Daren? Ah … mungkin halusinasiku saja. Mungkin hanya kebetulan.
Joya beramsumsi dengan opininya sendiri. Darwis bukannya tak tahu Joya memperhatikannya. Dia diam, membiarkan Joya menatapnya tanpa canggung. Senyum kemenangan terukir di sanubarinya.
I love you, Joya, ucap Darwis dalam hati.
"Sampai kapan kau menatapku? Ini sudah lima menit. Sarapanmu sudah habis. Apa kau masih lapar dengan mulut terbukamu itu? Apa kau mau memakanmu agar kenyang?" tanya Darwis, menggoda Joya lagi. Membuat Joya terkesiap dan memalingkan wajahnya yang memanas.
"Yang ada aku akan kembali lapar jika memakanmu," gumam Joya pelan namun, tertangkap dengan telinga tajam Darwis.
"Aku tidak keberatan menambah jatah makanmu," ujar Darwis.
"Hah? Apa?" tanya Joya gugup.
Sial. Ini bukan diriku. Aku jatuh hati dengan pria ini? Apa aku harus melepaskan Arion. Lagipula istrinya yang psiskopat itu pasti akan memagari Arion dengan bom, batin Joya.
__ADS_1
Joya menghela nafas kasar. Kini ia mulai merasa jauh dari Karina. Awalnya hanya menganggap Karina pemilik bahwa pegawai cafe dan delevery online. Namun kenyataannya adalah Karina merupakan pemilik perusahaan terbesar di dunia serta leader mafia yang disegani di dunia terlebih di dunia gelap.
"Sudahlah jangan dipikirkan. Cepat habiskan susumu ini. Spesial aku yang membuatnya. Diperas langsung lagi."Darwis berkata santai namun membuat Joya mendelik kesal.
"Kau memerasnya sendiri. Maksudnya kau memerasnya dari …," ucapan Joya terhenti, disela Darwis.
"Hilangkan pikiran kotormu. Tanamkan dalam hati, ingatan dan pikiranmu bahwa kau adalah wanita satu-satunya bagiku. Dan masalah susu tadi, aku memerasnya dari sapi di kandang bukan yang itu," terang Darwis menyentil kening Joya pelan.
"Oh." Joya langsung meminum habis susu itu. Mengelap sisa susu di sudut bibirnya.
"Istirahatlah. Aku pergi sebentar. Rindukan aku setiap detik," ujar Darwis bangkit dan mengecup singkat kening Joya. Keluar dengan membawa nampan berisi piring dan gelas kosong. Joya memegang dadanya yang berdebar. Tangannya tak kembali dirantai. Hanya kakinya saja.
Joya menggelengkan kepalanya kecil. Bingung dengan perkataannya tadi pada Darwis.
"Tapi apa Papa akan setuju?"gumam Joya murung. Apakah Papanya yang ambisius itu setuju dengan pilihannya ini?
Pasti sejutu. Kan Darwis Tuan muda dari Heart of Queen. Kasino terbesar di negara K, batin Joya.
Joya belum mengetahui bahwa Darwis adalah bawahan Karina. Bahkan dia tak tahu tempat ia ditahan adalah markas pusat Pedang Biru. Padahal kasino itu adalah aset Pedang Biru, namun tidak ditunjukkan kepemilikannya di depan publik.
Lelah dan pusing berperang batin, Joya memutuskan membaca buku yang tersedia setumpuk di nakas. Untung saja tangannya dapat menggapai. Menemani kesendirian dan menunggu Darwis menjenguknya lagi. Membaca dapat mengurasi kebosanan.
Sedangkan di area kolam renang, Darwis menghampiri keempat rekannya yang masih sibuk berenang berbagai gaya. Mulai dari bebas, dada, punggung hingga kupu-kupu. Oh ya ada satu gaya andalan Rian yaitu gaya batu setelah selesai melakukan keempat gaya di atas.
"Wis, sudah ada kemajuan?" tanya Li yang bersandar pada dinding kolam renang. Menggantung kacamata renang di lehernya.
Darwis menjawab dengan tersenyum lebar. Menandakan bahwa ada kemajuan.
Keempat rekannya saling berpandangan ikut bahagia. Lega kisah cinta Darwis akan segera menemukan kepastian.
"Iya Nih, kayaknya ada yang hatinya berbunga-bunga," timpal Satya.
"Yoi. Tinggal minta restu dan izin dari Karina untuk memboyong Joya menjadi istriku," jelas Darwis duduk pada kursi santai di pinggir kolam renang.
"Salah kamu Wis, minta izin dulu dari Bokapnya Joya. Yakin kamu bisa dapat izin dari Tuan Reza Argantara?" tanya Gerry yang membuat Darwis terkekeh pelan.
"Jika dia tak setuju tinggal paksa saja supaya setuju. Yang pentingkan anaknya mau. Memangnya selama Joya akan menurut pada Papanya yang ambisius itu?" tanya Darwis membuat Gerry menggelengkan kepalanya geli.
"Terserahmu saja. Kapan saja kau butuh bantuan, kabari kami," sahut Gerry.
"Kalian kapan melepas masa lajang? Setidaknya milikilah seorang kekasih, tetapi cepat halalkan," tanya Darwis, membuat semua nyengir.
"Belum ada yang cocok," sahut Rian.
"Kalau wanita banyak yang ngantri, tapi banyak yang matre. Maunya kalau ada uang saja," ucap Satya yang diangguki Li dan Gerry.
"Maka dari itu, pandai-pandailah memilih pasangan. Jangan menilai dari penampilan saja. Yang utama adalah penilaian karakter. Ada yang cantik namun karakternya buruk. Dan sebaliknya. Tapi aku harap kalian mendapat pasangan baik luar dan dalam. Bukan hanya cover," nasehat Darwis memberi arahan.
"Benar itu. Jangan menilai sesuatu hanya dari cover," setuju Gerry mengangguk.
"Oke. Aku mau bertemu Queen dulu," ujar Darwis bangkit dari kursi dan meninggalkan kolam renang. Bersiap untuk bertemu Karina di tempat yang telah Karina tentukan.
***
__ADS_1
Pukul 10.00, Darwis sudah tiba di tempat yang Karina tentukan. Pegunungan selatan kota S.
Di tempat Karina pernah menghabisi orang suruhan Joya, terlihat mobil putih Karina terparkir manis dengan Karina duduk di kepala mobil. Menikmati semilir angin dengan apel merah di tangan.
Darwis memarkirkan mobilnya tepat di depan mobil Karina. Tak lama Darwis keluar dari mobil. Membuka kacamatanya dan menunduk hormat pada Karina.
"Karina," sapa Darwis.
"Hmm …," sahut Karina datar melirik Darwis.
Darwis kemudian bersandar pada bomper mobil. Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Lima menit berlalu. Darwis mulai gelisah. Karina asyik menikmati apelnya. Setelah gigitan terakhir Karina membuannya ke sembarang arah.
"Kau menculik Joya?" tanya Karina.
"Ya," jawab Darwis.
"Dia hamil anakmu?" tanya Karina lagi.
"Begitulah," jawab Darwis.
"Kau meminta izinku untuk menikahinya?" tanya Karina lagi. Namun yang ini terdengar sangat serius.
"Dia setuju," jawab Darwis memainkan jari tangannya.
"Lantas? Apa yang harus aku lakukan? Meminta izin dari tua bangka itu? Lalu menikahkanmu dengan sepupuku?" tanya Karina, Darwis tersentak pelan. Reaksi Karina jauh dari ekspetasinya. Ia mengira bahwa Karina akan ngamuk dan menolak permintaan izinnya.
"Tidak Karina. Masalah Tua bangka itu biar aku saja yang mengatasinya. Oh ya, jika dia tak setuju, harus aku apakan dia?" tanya Darwis meminta petunjuk dari Karina. Karina menarik senyum tipis.
"Bagaimana jika kita ambil nyawanya? Sekalian membalas dendam," saran Karina membuat Darwis mengangguk menyetujui.
Karina mengerutkan dahinya mengingat sarannya.
"Oh tidak," seru Karina.
"Ada apa?" tanya Darwis kaget.
"Aku lagi cuti membunuh. Takut bayiku kenapa-kenapa nanti," ringis Karina pelan.
"Apa? Bayi Anda? Anda hamil?" tanya Darwis beruntun.
"Ya," jawab singkat Karina.
Darwis refleks bersujud syukur. Karina hanya tersenyum kecil. Kehamilannya adalah kebahagian bagi semuaya. Apalagi bagi Pedang Biru, pewaris telah ada di rahim Queen mereka. Pasti dengan semangat empat lima, para bawahannya akan semakin melindunginya.
"Oh ya, jika Tua bangka itu menolak, kerahkan saja 100 pasukan elit menggempur Black Tiger Mafia. Kita buat dia kebingungan. Lila dan Raina sudah aku perintahkan menekan perusahaan Argantara. Sekarang giliran kita tekan organisasinya," ujar Karina.
"Tetapi Anda dilarang bertempur," tegas Darwis.
"Siapa bilang aku ikut bertempur? Aku kan memang cuti membunuh tetapi anak buahku kan tidak. Induk istirahat, anak beraksi," ujar Karina seraya memainkan kunci mobilnya. Darwis memahami maksud Karina.
"Laksanakan Queen," jawab tegas Darwis.
"Selesai bukan? Kalau begitu aku duluan ya" ucap Karina turun dari kepala mobil.
__ADS_1
"Sudah Karina," sahut Darwis. Karina segera masuk ke mobil, menghidupkan mobil dan melajukannya perlahan. Karina menekan klakson mobil.
"Selamat jalan. Hati-hati di jalan," ucap Darwis. Selepas mobil Karina hilang dari pandangannya, Darwis masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan pegunungan selatan.