
Karina mengalihkan tatapannya pada handphone di atas meja. Karina menghembuskan nafas kasar saat melihat nama pemanggil.
"Assalamualaikum my hubby."
"Waalaikumsalam my wife."
"Ada apa?"
"Salahkan menelpon istri sendiri?"
"Tidak juga. Hanya saja aku yakin ada hal penting yang ingin kau tanyakan."
"Benarkah? Jika begitu coba katakan apa yang ingin aku tanyakan," tantang Arion.
"Ini pasti mengenai akuisisi Buana Corp, benarkan?"jawab Karina.
"Tepat sekali! Pulang nanti aku belikan kamu hadiah."
"Hadiah? Oke."
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan? Bukankah hal biasa perusahaan besar melakukan akuisisi bahkan menggulingkan sebuah perusahaan?"tanya Karina.
"Aku tahu. Aku hanya ingin tahu alasan tersembunyi mengakuisisi Buana Corp. Bukankah itu perusahaan ayah biologis Bima?"
"Ya itu benar. Tak ku sangka kau semakin peka."
"Ini juga akibat kau menghilang. Jadi apa alasannya?"
"Bukankah kau cerdas? Kau bertanya hanya untuk memastikan bukan?"
Tak terdengar sahutan.
"Ar?"
"Hahahaha … memang luar biasa memiliki istri hebat. Sayang hadiahnya aku berikan double!"
"Double? Kau mau menghabiskan berapa banyak? Anak kita sudah enam, jangan boros! Masa depan anak itu masih panjang. Jangan lupa kita harus punya dua anak lagi! Awas saja jika kau beli yang macam-macam! Akan ku cincang jika kau melakukannya!"semprot Karina.
Arion yang berdiri melihat pemandangan dari jendela ruangan, terperanjat kaget bahkan menjauhkan handphonenya mendengar omelan Karina.
"S-Sayang aku tahu. Jangan marah dulu, aku jamin hadiahnya nggak akan semahal itu."
Lagipula jika membeli hadiah yang mahal pun tidak akan mempengaruhi masa depan anak-anak.
"Baik! Awas jika kau bohong!"
"Aku akan tidur di depan kamar jika aku berbohong," ucap mantap Arion.
"Hm."
"Jadi apa yang mengusik hatimu, Ar?"
"Bukankah saat itu kita sepakat untuk tidak menjadikan Bima pewaris? Mengapa hari ini kamu mengakuisisi perusahaan itu atas nama Bima?"
"Awalnya aku berpikir itu hal yang tepat. Namun setelah ku pikir dan pertimbangan lagi itu tidak adil bagi anak-anak. Bima bisa bebas menjadi apa yang ia inginkan tanpa beban apapun sedangkan yang lain dibebani tanggung jawab dan kemungkinan sulit meraih impian pribadi mereka. Itu bisa menyebabkan keretakan di antara mereka. Lagipula, Buana Corp itu ku akuisisi bukan aku bangun. Bukankah luar biasa jika suatu saat nanti anak sah bertemu dengan anak siri yang mana anak sah hanyalah pemilik palsu sedangkan anak siri pemilik asli?"
Karina tertawa, membayangkan saat itu tiba.
"Mengapa kau menggunakan bahasa mandarin? Apa anak-anak ada di dekatmu?"heran Arion.
"Ya. Mereka sedang menatapku bingung." Menggunakan bahasa mandarin, menatap anak-anak yang duduk di sofa, menatap dirinya dengan tatapan beragam.
"Hah syukurlah. Sayang aku sudah mengerti. Aku juga tidak masalah, tapi jangan terlalu boros menghamburkan uang, ingat anak-anak kita."
"Apa katamu?! Awas kau!"pekik Karina kesal.
"Jangan matikan telponnya! Hei pria tua kau itu kepala keluarga! Kau yang bertanggung jawab atas aku dan anak-anak! Uangmu uangku, uangku ya uangku! Aku menghamburkan uang untuk masa depan anak kita!"
Karina meletakkan kasar handphone. Wajahnya masih bersungut-sungut kesal.
"Dasar!"gerutu Karina.
"Walaupun aku tidak mengerti perbincangan Mama dan Papa, dapat ku tebak Papa dapat masalah besar. Aku penasaran hadiah apa yang akan Papa berikan juga hadiah apa yang akan Mama berikan. Lihat saja senyuman Mama itu. Seakan ingin menelan Papa bulat-bulat," ucap Bintang, merinding melihat senyum smirk Karina.
"Konyol! Ibunda bukan ular phyton, bagaimana bisa menelan manusia dewasa utuh?"bantah Bara.
Biru dan Bima mengulum senyum. Inikan cuma perumpamaan, mengapa ditanggapi serius?
"Adik kecil, itu cuma majas, mengapa terlalu serius? Dan setahuku di tempatmu dulu tanah panas, mengapa tahu ular phyton?"balas Bintang.
"Bukankah di rumah ada banyak ular phyton? Di kebun binatang juga. Aku juga tidak bodoh, bangsa ular makan tanpa memotong mangsanya," balas Bara.
"Wah kalau dipotong berarti siluman dong?" Biru memutar bola mata malas mendengar perdebatan kakak dan adiknya ini.
"Siluman itu cuma mitos. Yang ada itu cuma makhluk yang terlihat dan gaib," ucap Bara.
__ADS_1
"Duh-duh. Adik kecil, kakak beri pelajaran kedua, jangan pernah mempertanyakan kebenaran mitos ataupun legenda, terutama di depan kaum awam. Mitos dan legenda itu sudah ada sejak lama. Kita boleh tidak mempercayai hal itu, tapi jangan pernah menyinggungnya," ujar Bintang.
"Ck! Ternyata mitos dan legenda ada di mana-mana. Tak bisa dibuktikan kebenarannya, untuk apa dipercayai?"
"Jika itu mitos, aku masih setuju. Jika itu legenda, belum tentu. Ada bukti nyatanya."
"Bukankah bisa dijelaskan secara ilmiah?"
"Memang benar, tapi masih banyak yang menjadi misteri. Dunia ini luas, masih banyak tempat yang tidak terjangkau oleh manusia sekalipun menggunakan alat canggih."
"Itu aku tahu!"sahut Bara. Bintang tersenyum kecil dan kembali fokus pada pekerjaan rumahnya.
"Wah Kakak, kau sangat pandai berbicara," puji Brian.
"Pandai bicara itu penting, terlebih bagiku yang merupakan pewaris pertama juga saudara tertua dari kalian. Debat itu sangat penting. Tapi kalian jangan seperti tong kosong nyaring bunyinya," jawab Bintang.
"Maksudnya ribut tapi tak berbobot?"terka Bahtiar.
"Yap. Bicara seperlunya, dan jika bertemu dengan orang seperti itu, jangan dilanggati. Jikapun tak bisa menghindar, cukup katakan yang paling menusuk dan membuatnya membisu," ucap Bintang, lengkap dengan senyum tipisnya.
"Boleh aku buat dia bisu selamanya?" Bara menatap Bintang dengan mata serius.
"Uh itu tergantung situasi," jawab Bintang, menggaruk pelipisnya, gugup dengan aura yang dikeluarkan Bara.
"Baiklah." Biru memalingkan wajahnya, kembali fokus pada gambar di atas meja.
"Tapi Kakak … jika ada orang yang merendahkan kita bagaimana?" Bahtiar bertanya dengan sorot mata penasaran.
Bintang mengulas senyum tipis.
"Kalian pernah menjadi pangeran kecil, siapa yang berani merendahkan kalian? Ah baiklah. Papa selalu mengatakan jika ada yang merendahkan kita lakukan tiga hal dulu, ingatkan, ingatkan dan ingatkan! Jika tiga hal ini tidak digubris, kau boleh bertindak sesuai kekesalanmu, bahkan jika kau membuatnya merasakan kematian itu tidak masalah! Tidak ada yang bisa merendahkan keluarga kita karena kita adalah penindas yang sesungguhnya!"
"Apa yang harus diingatkan??" Bara ikut bergabung lagi.
"Jangan pernah meremehkan seseorang! Kau tahu … sifat kebanyakan orang adalah memandang rendah orang lain. Banyak orang pintar tapi belum tentu cerdas. Banyak orang berpendidikan tapi belum tentu berakhlak."
"Kakak … aku paham maksudmu, tapi jika ia berhasil diingatkan, apa yang harus dilakukan?"tanya Brian.
"Tentu saja tetap memberinya pelajaran! Tiga hal itu hanyalah alat ukur pelajaran mereka," jelas Bintang.
"Dari ucapan Kakak, apa Kakak pernah membunuh orang?"
"Membunuh? Heh tentu saja pernah!"jawab Bintang, tersenyum lebar.
"Ya," jawab Biru.
"Kami tiga serangkai, kegiatan apapun dilakukan bersama," tutur Bima.
Tiga anak termuda itu menelan ludah kasar. ah hanya dua, Bara hanya menatap tidak percaya.
"Aku tidak percaya sebelum melihatnya sendiri!"ucap Bara.
"Ya penting kau jangan pipis dalam celana jika kau melihatnya langsung," sahut Biru, dingin dengan tatapan tajam.
"Siapa takut!"balas Bara, balas menatap tajam Biru.
"Hmhp!" Biru kembali fokus pada buku pr di atas meja.
"Haduh, sudahlah tak perlu adik perempuan," gumam Bintang.
*
*
*
Menjelang magrib, Karina dan anak-anak tiba di rumah. Seperti biasa, segelas coklat hanya tersaji ketika Karina memasuki rumah.
Bintang sebagai yang tertua, mengajak adik-adiknya untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Sedangkan Karina duduk di ruang tengah.
"Bibi sudah masak makan malam?"tanya Karina, mencari posisi yang nyaman di sofa.
"Belum, Non. Tadi kata Nyonya Maria, beliau yang akan memasak makan malam," jawab Bik Mirna.
"Lalu di mana mereka?"tanya Karina yang tidak mendapati Amri dan Maria, walaupun sekadar suara.
"Di kamar mereka, Non."
"Lalu Alia?"
"Kalau tidak salah berada gazebo belakang, Non."
Karina mengangguk mengerti.
"Bantu saya memasak makan malam," ucap Karina setelah menunggu beberapa menit, tapi Maria tidak kunjung muncul.
__ADS_1
"Lebih baik Nona beristirahat saja, biar Bibi yang menyiapkan makan malam," ujar Bik Mirna yang cemas dengan kesehatan Karina. Karina menatap Bik Mirna sekilas, mendengus sebal.
"Baiklah." Karina berdiri, melangkah menuju tangga dan naik ke lantai dua. Bik Mirna tersenyum, mengambil cangkir kosong bekas minum Karina kemudian menuju dapur.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Maria turun dengan wajah lelah tapi merona.
"Loh Bik tadi kan saya sudah bilang saya yang masak makan malam," protes Maria mendapati Bik Mirna yang sibuk memasak.
"Eh itu Nyonya … Anda terlalu lama di kamar. Saya khawatir malam makam akan terlantar," jawab Bik Mirna.
"Kalau terlantar kan kita bisa makan di luar," ucap Bik Mirna.
"Makanan di luar tidak senikmat makanan dapur sendiri. Lagian Mama di kamar ngapain sih? Olahraga?"
Maria tersentak dan menoleh ke belakang, tersenyum canggung karena tebakan Karina benar.
"Eh Karina, sudah pulang?" Karina mengangguk sembari menuruni tangga, diikuti oleh keenam anaknya yang telah mandi dan kini segar plus harum.
"Sebentar lagi magrib, lebih baik bersiap untuk salat dulu," ucap Karina.
"Baik, Non."
"Ya sudah deh, Mama nanti bantuan Bibi saja," ucap Maria.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul 21.00, anak-anak sudah tidur. Karina mematikan lampu kamar, kemudian keluar dari kamar anak-anak menuju kamarnya dan Arion.
Tiba di kamar, Karina mengeryit heran mendapati lampu kamar mati.
"Perasaan tadi hidup deh," gumam Karina heran, meraba mencari saklar.
"Surprise!" Karina tertegun mendapati Arion memegang nampan berisi sebuah kue bulat berwarna coklat.
"Apa ini?"heran Karina.
"Surprise."
"Perasaan ini bukan ulang tahunku deh," ucap Karina.
"Memang bukan but ini hari anniversary kita yang ke-7," ucap Arion.
"Anniversary ke-7? Apa iya?"
Karina malah membuka catatan penting di buku.
"Astaga! Benar! Aku benar-benar lupa. Ar maafkan aku." Karina memasang wajah menyesal. Arion tertawa kecil, meletakkan kue di atas meja kemudian mendekati Karina.
"Aku tahu. Aku saja baru ingat tadi siang. Rencananya aku ingin mengajakmu dinner, tapi mengingat anak-anak kita yang posesif, mana mungkin bisa dinner berdua," jelas Arion.
Mata Karina berkaca-kaca dengan tersenyum haru. Keduanya berpelukan. Arion mencium lembut pucuk kepala Karina sementara Karina menangis di pelukan Arion.
"Sudah - sudah jangan menangis," ujar Arion.
Tapi Karina tetap menangis. Arion melepas pelukannya, mengusap lembut air mata Karina.
"Kamu jelek kalau menangis." Arion mencubit gemas hidung Karina.
"Pembohong! Ekspresi apapun, aku tetap cantik!" Karina menyahut ketus, tangisnya mereda dan kini menatap tajam Arion.
"Oh ya tadi hadiah apa yang ingin kau berikan padaku?"tagih Karina.
"Itu." Arion menunjuk dua buah kue berukuran sedang di atas meja.
"Kue?"
"Yap kue dari toko favorit kamu, rasa coklat kesukaan kamu."
Karina mengangguk, tak menyangka Arion masih ingat. Jelas! Arion ingat semua tentang Karina, dari yang terbesar hingga terkecil.
Arion mengajak Karina duduk, memotong kue lalu menyuapi Karina.
"Sayang, jangan tinggalkan aku lagi, oke."
"Hm."
"I love you."
"I love you too, forever!"
Adegan selanjutnya adalah ciuman yang berakhir dengan pelepasan. Ya malam anniversary tanpa gangguan siapapun
__ADS_1