Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 115


__ADS_3

Detik berubah menjadi menit. Menit berputar menjadi jam. Jam berganti begitu cepat, tak terasa sudah dua hari berlalu. Dua hari lagi, menuju pernikahan Sam dan Lila serta Calvin dengan Raina.


Lila dan Raina yang pada dasarnya gila kerja tetap bekerja, mengikuti jejak nona mereka.


Seluruh persiapan dihandel oleh pihak mempelai lelaki. Mempelai wanita hanya datang waktu persiapan gaun pengantin, resepsi dan juga perhiasan. Itupun sudah jauh-jauh hari dipersiapkan. Jadi ya tinggal menuju hari H saja.


Hari ini Karina full berada di perusahaan. Tidak ke cafe ataupun ke markas. Di ruangannya, Karina dengan laptop dan beberapa dokumen terletak di atas meja. Wajahnya terfokus pada pekerjaannya. 


Karina mengerjapkan matanya setelah selesai mengerjakan pekerjaannya. Waktu menunjukkan pukul 16.00.


Kecepatan kerjanya tidak diragukan, apalagi dengan bantuan Lila dan Raina. Kebetulan juga hari ini pekerjaannya lenggang. 


"Raina, Lila." Karina memanggil dua bawahannya itu. Seraya merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah.


Mendengar namanya dipanggil, Raina dan Lila segera masuk ke dalam ruangan Karina.


"Saya Nona," jawab Lila dan Raina bersamaan. Menunduk hormat di hadapan Karina.


"Hmm … bagaimana persiapan pernikahan kalian berdua? Apa ada kendala?" tanya Karina.


"Em … semuanya lancar Nona. Hanya tinggal hari H nya saja. Semoga saja dilancarkan," jawab Raina.


"Iya Nona. Semoga saja Sam tak salah ucap ataupun demam panggung saat ijab qabul lagi."


Lila mengutakan keresahan hatinya akan Sam. Resah, takut jika nanti lidah Sam berbelit ataupun pikirannya blank.


"Itu wajar. Maka dari itu, katakan pada mereka untuk belajar dari Papa mereka atapun Arion," ujar Karina.


"Seperti Calvin pernah mengatakan hal itu. Tapi kapan ya?" Raina berusaha mengingat. Karina dan Lila menatap Raina.


"Sudahlah. Kau kan pikun akut masalah begituan. Yang ada di pikiranmu itu kan cuma kerja-kerja dan kerja. Mana ada mikirin soal pasangan. Andai saja dia tak gigih pasti kau masih meyandang status jomblo," ledek Lila. 


Karina terkekeh mendengarnya. Raina mengerucutkan bibirnya. Karina geli dengan Lila, dia meledek Raina tetapi tak sadar dengan dirinya sendiri.


"Kau juga sama Lila. Tetapi kau lebih gerak cepat. Sam minta pacaran, dirimu minta tunangan. Hahaha … lucu sekali aku mengingat wajah lugu dan kaget Sam."


Karina meledek Lila. Kali ini, Raina tertawa cekikikan. Gantian Lila yang diam membatu dengan semburat merah di pipinya. Tak berani membalas ledekan Karina. 


Jika Raina mungkin mereka sudah berdebat. Debat yang mengeratkan hubungan bukan memecah. Perbedaan itu wajah, tak akan ada perpecahan jika mempunyai opini yang positif tentang perbedaan. Dunia tak akan berwarna jika monoton. 


Lila tak bisa mengelak. Sebab mereka diajarkan untuk meminta kepastian bukan harapan. Akhirnya Lila hanya mampu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. 


"Hahaha … gantian Lil."


Raina tertawa dengan memegang perutnya. Karina tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Oh ya … lebih baik besok kalian tidak usah masuk kerja. Istirahat saja di apartemen," ucap Karina mulai serius. Raina berhenti tertawa. Lila menatap Karina dengan mengerjapkan matanya.


"Tidak!" pekik Raina dan Lila bersamaan. Karina menautkan alisnya.


"Mengapa? Bukankah pada umumnya mengatakan hore jika disuruh libur. Ini kok malah tidak mau?" heran Karina pura-pura tak tahu.

__ADS_1


"Nona, jika kami libur, maka pekerjaan kami akan menjulang setinggi ini. Ya walaupun hari Sabtu libur perusahaan tetapi apa Anda tahu betapa bosannya sehari tanpa pekerjaan kantor? Rasanya dokumen dan berkas-berkas ini sudah jadi nutrisi buat kami," jelas Raina dengan wajah memelasnya menggerakkan tangannya dari atas lantai menuju pinggangnya. 


Berharap Karina membatalkan titah untuk meliburkan mereka berdua. Walaupun hanya satu hari. Karina memutar bola matanya malas. Sekretaris dan asisten pribadinya ini terlalu agak berlebihan serta keroyalitas setinggi langit. 


"Aku tak mau kena amuk calon mertua kalian berdua. Ku dengar mamanya Sam akan melabrakku jika aku tak memberikan cuti pada kalian," ucap Karina menyangga dagunya.


"Eh??" kaget Lila.


"Ya aku tahu. Kau kan menceritakannya padaku. Kau juga pelupa akut sama seperti Raina. Bagaimana?" jelas Karina. Serasa ada panah yang menusuk jantung Lila. 


Namun ini sakit tak berdarah. Panahnya ilusi namun sakitnya terasa. Dua kali Lila kena ledek dari Karina satu hari ini. Raina kali ini hanya menahan tawa. 


"Nona Anda terlalu jujur," keluh Lila.


"Nona, masalah mertua itu bukan masalah besar. Toh kami juga belum resmi, belum bisa mereka mengatur kami. Hanya Anda seoranglah yang bisa. Tetapi masalah libur ini, mohon maaf kami menolak untuk libur," tegas Raina. Kemudian menunduk melihat wajah datar Karina.


Karina menghela nafas kasar. 


"Benar Nona. Andainya kami libur, kan hanya libur tak ke kantor, toh di apartemen kami juga akan mengerjakan berkas dan dokumen ini," tambah Lila mantap.


"Hmm … karena kalian tak mau diliburkan ya sudah. Tapi aku tak tanggung jawab jika mertua kalian itu jika melabrakku akan ke runtuhkan rumahnya," ucap Karina datar. Lila dan Raina yang sudah bernafas lega kini mendadak sesak lagi.


Satu urusan selesai, muncul lagi masalah ini. Raina menyenggol pelan Lila. Memberi kode.


"Calon mertua kamu berani gak? Nanti sebelum kejadian semangat membara, mulut koar sana koar sini, taunya pas jumpa sama orangnya, langsung mengerut dan kabur?" bisik Raina. Lila menggeleng. 


"Tentu saja tak berani," jawab singkat Lila.


"Saya pulang dulu. Terserah kalian mau pulang juga apa tidak! Mau menginap di sini pun tak masalah," ucap Karina berdiri dari kursinya dan menyambar kunci mobil.


Jam pulang kerja KS Tirta Grub adalah pukul 17.00, lain halnya jika lembur. Perusahaan ini libur di hari Sabtu, jika Minggu sudah pasti libur.


Karina melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dering handphone Karina membuat Karina memakai earphonenya.


"Halo Li," jawab Karina.


"Halo Karina. Saya punya laporan dengan kelompok itu dan perkembangan restu Darwis," ujar Li.


"Hmm … apa itu?" tanya Karina.


"Untuk kelompok itu, mereka belum melakukan pergerakan untuk menyerang kita. Saya rasa mereka masih menyusun rencana setelah kegagalan mencelakai anda. Tetapi, mereka sempat melakukan pergerakan mencari Ketua Muda Black Tiger Mafia. Namun Reza membatalkannya kemarin, sebab Joya telah kembali," terang Li melaporkan hasil penyelidikan mereka. Li menjeda ucapannya, menunggu Karina melanjutkan laporannya.


Karina menyunggingkan senyum tipis. 


"Apa kelompok itu tidak senang dengan Reza? Pasti imbalannya besar untuk hal itu," tanya Karina lagi.


"Hmm … untuk imbalan hanya dikirim sebesar 50% saja. Saya rasa Reza juga tak mau mencari masalah dengan mereka. Dan ketua kelompok itu menerimanya," jelas Li.


Karina tak heran dengan itu. Kelompok Cinnamon walaupun tidak terlalu populer di dunia atas tetapi cukup berpengaruh di dunia bawah. Tempat tinggal mereka berada di tengah hutan. Dengan banyak pohon kayu manis menggelilingi mereka.


Tentu saja Reza tak mau mencari masalah. 

__ADS_1


"Lanjutkan tentang Darwis," titah Karina.


"Darwis telah mendapat izin, ya walaupun harus babak belur dan istirahat penuh selama dua hari. Dan waktu dia mengobati lukanya di klinik markas, Ren sempat mengingatkannya dengan peraturan tidak tertulis Pedang Biru. Agaknya Darwis mempunyai sebuah rencana," ucap Li.


"Kau benar. Anak itu pasti ada sebuah rencana. Selidiki terus." Karina membenarkan ucapan Li yang terakhir.


"Baik Queen. Tetapi saya khawatir tentang satu hal. Saya khawatir bahwa kelompok itu akan menyerang pada saat pernikahan Lila dan Raina, tanpa kami ketahui ataupun terlewat dalam pengawasan kami," ujar Li mengutarakan keresahannya.


"Jika begitu, jika serang saja mereka duluan. Lagipula alasannya bukan cuma itu, tetapi menuntut mereka atas percobaan perbunuhan terhadapku. Kali ini aku tak akan melepaskan mereka," tegas Karina mengukir seringai di wajahnya.


"Baiklah. Saya akan mempersiapkan segalanya bersama mereka," sahut Li mantap.


"Ingat nanti malam, pukul 00.00," ujar Karina langsung mematikan sambungan.


Sedangkan Li yang berada di markas, mengusap tengkuknya merasa akan terjadi lagi pertumpahan darah. Li segera memberitahu Gerry, Rian  dan Satya untuk bersiap dan mempersiapkan segalanya.


***


Kini Karina sudah berada di kediaman Wijaya, keluar dari mobil dengan wajah datarnya. Melangkah masuk dengan langkah tegas.


"Assalamualaikum, Ma, Pa," ucap Karina saat tiba di ruang keluarga.


"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Maria dan Amri, tetapi Amri tak mengucapkan kata sayang.


"Bayu mana Ma?" tanya Karina mendaratkan tubuhnya di sofa. Tak biasanya Bayu tidak berkumpul bersama Maria dan Amri. 


"Bayu di kamar. Katanya banyak sekali tugas sekolah," jawab Maria.


Karina mengangguk. Karina, Amri dan Maria mengobrol ringan.


"Sayang, kamu jangan terlalu keras bekerja. Jangan sampai kelelahan. Kasihan kamu dan calon bayimu."


Maria memberi peringatan. Karina hanya mengangguk sebagai jawaban. Lima belas menit kemudian Karina pamit menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Karina langsung memasuki kamar mandi untuk membasuh dan menyegarkan tubuhnya setelah penat seharian bekerja.


Apa aku ajak saja ya Arion? Dari pada nanti dia marah aku keluar malam tanpa izin? Kan tidak mungkin juga aku kasih dia obat tidur lagi. Bisa-bisa kecanduan dia kebiasaan dikasih. Sudahlah ajak saja. Mau enggaknya urusan belakang, batin Karina saat merendam tubuhnya di buth up beraromakan bunga mawar.


Selesai menyegarkan tubuhnya, Karina segera berganti pakaian dan mengistirahatkan tubuhnya bersandar pada kepala ranjang sembari memainkan handphonenya.


"Pesan dari siapa ini?" gumam Karina saat ada sebuh pesan tanpa nama pengirim. 


Karina mengklik pesan itu. 


*Nona Presdir yang terhormat, saya harap Anda segera menarik tekanan Anda terhadapa perusahaan saya. Syarat Anda mengenai putri saya yang aAnda minta untuk menjauhi dan tidak menganggu rumah tangga Anda telah terwujud. Putri saya tidak akan menjadi duri lagi, sebab putri saya akan menikah dengan pria lagi dalam minggu ke depan. 


Salam hormat: Reza Argantara, CEO Argantara Company*.


Karina tersenyum membacanya.


"Baiklah akan ku tarik. Tapi tidak sekarang," gumam Karina tanpa membalas pesan dari Reza. 

__ADS_1


Karina kemudian meletakkan handphone dan beralih mengambil majalah bisnis di atas nakas. Membaca tentang serba-serbi dunia bisnis akhir-akhir ini.


Karina tersenyum kala membaca wacana mengenai pembangunan Tirta Garden. Kini pembangunannya sudah rampung 40%. Diperkirakan pembangunannya akan rampung 100% dalam waktu dua tahun.


__ADS_2