
Malam semakin larut. Angin dingin berhembus menyapa dedaunan. Waktu menunjukan pukul 01.00 dini hari. Karina membuka mata, mengerjap perlahan.
Suasana kamar yang gelap, bias cahaya bulan menerobos jendela memberi kesan tersendiri. Karina menoleh ke samping. Arion tidur dengan nyenyak.
Karina turun perlahan dari ranjang.
"Kau sangat lelah. Aku tidak akan mengajakmu bermain. Aku akan segera kembali," lirik Karina, melangkah menuju walk in closet.
Karina menarik salah satu lagi. Di dalamnya terdapat banyak botol berwarna putih dan biru. Karina mengambil botol berwarna biru, membuka tutup dan mengeluarkan beberapa butir pil berwarna biru juga.
Karina meminum pil tersebut tanpa air. Itu adalah obat untuk staminanya.
Karina lantas membuka lemari untuk mengambil jaket. Semua itu ia lakukan tanpa suara. Setelah Karina memakai jaket, Karina melangkah tanpa suara pula keluar dari kamar.
Karina menyala lampu ruangan di luar kamarnya. Karina menuruni tangga dengan hati-hati.
Tiba di garasi, Karina langsung masuk ke dalam mobil putih favoritnya.
"Jalan, White!"titah Karina.
Mobil itu melaju meninggalkan kandang menuju tujuan yang telah ditetapkan. Gerbang terbuka lebar, penjaga gerbang memberi hormat saat mobil Karina melintas. Penjaga gerbang sudah tidak asing lagi dengan Karina yang keluar di tengah malam begini.
Jalanan menanjak serta berkelok. Tujuan yang dituju Karina terletak di daerah perbukitan. Karina menatap ke luar jendela. Terlihat jelas secara keseluruhan kota saat malam hari. Lampu-lampu sangat menyilaukan mata.
Karina tidak bisa berperilaku layaknya ibu hamil tua yang anteng di rumah menunggu saat melahirkan. Jiwanya bebas, tidak bisa dikekang.
Jika sudah berencana pasti akan terlaksana. Karina tidak merasa berat harus bertindak dengan kehadiran hamil bayi kembar, justru hal itu menjadi semangat baginya.
Karina pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa bayi sudah bisa mendengar sejak di dalam kandungan. Artinya kedua bayinya bisa mendengar semua pembuatannya.
Kedua anak ini akan menjadi pewaris organisasi dan perusahaannya. Tidak masalah jika pewaris perusahaan anak perempuan. Toh di dalam keluarga tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa setiap pewaris harus pria. Ini sudah tahun 2021, laki-kaki dan perempuan sudah sama kedudukannya.
Ya, Karina mengajari kedua anaknya cara kerjanya sejak dini. Agar kedua anaknya tidak kaget saat pertama kali melihat hal berdarah.
White berhenti sempurna di depan sebuah gedung yang bertulisan gudang kimia farmasi Angkasa. Di sana sudah menunggu sebuah mobil van dengan sekitar 5 orang pria berpakaian serba hitam lengkap dengan masker dan topi. Mereka berdiri dengan posisi istirahat di tempat.
Karina mengenakan masker dan kacamata hitamnya sebelum keluar dari mobil. Tangan kanan membawa sebuah korek api berwarna emas.
"Sudah kalian selesai?"tanya Karina datar.
"Sudah, Queen. Tinggal Anda akhiri saja," jawab salah seorang dari mereka.
Karina maju dan berdiri tepat di depan lobby gedung tersebut. Karina memainkan korek api tersebut. Bau bahan bakar tercium. Karina mengamati sejenak gedung yang akan menjadi korbannya malam ini.
"Gedungnya bagus, tapi isinya malapetaka," desis Karina dingin.
Karina berbalik, menatap kota yang semakin terlihat jelas dari sini.
"Jarak dari damkar ke sini adalah 60 km. Jika jalanan sepi seperti ini akan membutuhkan waktu sekitar setengah jam jika kecepatannya 100 lebih. Melihat luas gedung ini juga bahan bakar yang disebar, dalam waktu setengah jam sudah cukup untuk membakarnya habis. Baiklah, sekarang pukul 02.00, damkar pasti butuh persiapan sebelum berangkat. Paling cepat lima menit, jadi sekitar 35 menit. Kita bakar sekarang?"
Karina malah bertanya pada tim khusus yang hanya menerima tugas langsung darinya.
"Keputusan ada di tangan Anda, Queen," jawab mereka serentak.
Karina tersenyum smirk yang tentunya tidak bisa dilihat oleh orangnya tapi bisa dirasakan.
Jress.
Api kecil menyala dari korek api. Karina menjatuhkan korek api tersebut di jalur bahan bakar yang berfungsi sebagai sumbu. Api dengan cepat merambat masuk ke dalam gedung.
Karina melepas kacamata ketika asap membumbung tinggi. Keamanan gedung sudah dibereskan lebih dulu oleh tim.
Boom.
Terjadi ledakan besar yang membuat Karina mundur beberapa langkah. Hawa dingin menghilang ditebas oleh hawa panas api. Si jago merah mengamuk di dinginnya malam. Karina kembali memakai kacamata.
Boom.
Boom.
__ADS_1
Terjadi ledakan lagi, kali ini lebih kecil dari yang pertama. Api sudah menguasai seluruh gedung. Sudah dipastikan semuanya yang ada di dalamnya hangus terbakar, jikapun ada yang tersisa adalah sisa bangunan berwarna hitam.
"Ayo."
Karina berbalik, masuk ke dalam mobil. Kelima orang itu juga masuk ke dalam van. Mobil Karina memimpin jalan meninggalkan gedung, mengambil jalur lain agar tidak berpapasan dengan mobil damkar.
Karina melepas masker dan kacamata. Tatapannya tertuju pada gedung yang terbakar hebat yang masih terlihat dari tempatnya kini.
"Permainan baru saja dimulai."
Karina menyeringai seraya mengusap perutnya. Karina tidak serta merta melewatkan kesempatan menonton kebakaran itu, yang tadi rasanya kurang jadi Karina meninggalkan robot lebahnya sebagai mata di gedung penyimpanan farmasi Angkasa. Hasilnya Karina sambungan ke layar LED yang ada di mobil.
*
*
*
"Tugas kalian selanjutnya adalah menculik para pengkhianat perusahaan sampah itu!"titah Karina pada kelima orang tersebut.
Kini mereka berada di sebuah jembatan yang terbentang lebar.
Kelima orang tersebut mengangguk.
"Bawa ke markas apa ke gedung biasa, Queen?"
"Gedung biasa saja," jawab Karina.
"Baik Queen," jawab mereka serentak.
"Seperti biasa, lakukan secara halus hingga mereka tidak sadar bahwa target menghilang," pesan Karina, mengingatkan salah satu tim terbaiknya ini.
"Kami mengerti, Queen."
"Good! Kalau begitu aku pergi duluan. Kalian pulanglah dan ingat, besok mereka harus sudah ada di sana!"tegas Karina.
Kelima orang itu juga segera masuk ke dalam van dan meninggalkan jembatan dengan arah yang berlawanan.
*
*
*
Karina tiba di rumah sekitar pukul 04.00 pagi. Dilihatnya lampu rumah bagian dalam sudah menyala terang benderang. Para pelayan sudah bangun dan mulai bekerja.
Menyadari majikannya yang baru kembali, para pelayan segera berbaris dan membungkuk hormat pada Karina. Karina mengangguk dan segera menuju kamar.
Karina menemukan Arion duduk di sofa dengan masih mengenakan piyama tidur, menatap tajam Karina. Karina memegang tengkuknya, merasa bersalah juga terancam.
"Dari mana kamu?"tanya Arion dengan nada datar.
"Cari udara segar," jawab Karina datar juga menutupi rasa bersalahnya.
Karina membuka jaketnya, ingin segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Bau sangit, apa yang kamu lakukan?"
Arion menahan tangan Karina dan merebut jaket hitam yang Karina pegang. Mata Arion menatap Karina menuntut penjelasan.
"Tadi dingin, aku buat api unggun," jawab Karina.
Tentu saja Arion tidak percaya, ia memicingkan mata kemudian memeriksa tubuh Karina.
"Apapun yang kamu lakukan malam ini, aku akan tahun setelah fajar tiba," ucap Arion melepas tangan Karina, merasa lega bahwa Karina tidak luka sedikitpun.
Karina menatap Arion tidak mengerti. Aigo, apa Karina tidak menyadari perbuatannya tadi?
"Mandilah kemudian kita subuh," ujar Arion, memilih mengalah dan mencari jawaban sendiri.
__ADS_1
Karina akan semakin angel jika dipaksa. Istrinya ini punya mental dan fisik baja yang tidak akan meleleh karena ancaman.
"Bagaimana caranya kau mencari tahu?"tanya Karina penasaran.
"Kau juga akan tahu sendiri nanti. Ayo lekas bersihkan tubuhmu. Atau kau mau aku yang memandikanmu? Aku sih tidak keberatan 100%," jawab Arion, malah melayangkan godaan.
Wajah datar Karina tersipu. Pikirannya sudah tertuju kepada hal mesun yang akan Arion lakukan.
"Heihei, lihatlah. Kau malah tersipu. Artinya kau memang ingin suamimu ini memandikanmu, bukan?"goda Arion lagi.
Arion terdiam sejenak saat Karina mengangguk.
"Apa artinya?"tanya Arion, malah bingung sendiri.
Apakah Karina tidak tahu bahwa ia akan langsung benar-benar mandi jika Arion yang menjadikannya?
Tidak mungkin. Karina tidak se pelupa itu. Artinya, Karina sudah tahu dan pasrah.
"Ah tunggu dulu. Apakah kau ingin menyuapku?"tanya Arion curiga.
"Menyuap apa? Kita suami istri, wajarkan bermesraan?"sahut Karina enteng.
"Sudahlah. Kau mau atau tidak?"tanya Karina yang merasa kelamaan menunggu jawaban.
Arion tersenyum.
"Tentu saja, ya!"
*
*
*
Berita terkini. Kebakaran hebat menghanguskan gudang penyimpanan farmasi Angkasa. Kebakaran diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari. Penyebab kebakaran masih ditangani oleh kepolisian. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini, tapi menyebabkan banyak kerugian material.
Arion memicing melihat berita pagi. Arion melihat di layar kaca gedung yang tinggal baru sepotong yang berwarna hitam dengan puing-puing bangunan yang berserakan. Kepulan asap masih terlihat di beberapa tempat.
"Sayang, kau yang melakukannya bukan?"terka Arion menunjuk televisi setelah Karina keluar dari ruang walk in closet dengan mengenakan setelan kerja.
Aura Presdir muda berpengaruh menyelimuti Karina.
Akhirnya Karina tahu bagaimana caca Arion menemukan alasan kepergiannya. Media.
"Kau bersenang-senang tanpa diriku," rajuk Arion mendengus.
"Maaf. Wajahmu begitu lelah, aku tidak tega membangunkanmu," jawab Karina dengan wajah memelas meminta maaf.
"Ah ini bukan yang pertama. Sudahlah itu tidak penting. Aku tahu kau melakukannya dengan perhitungan matang. Tapi apa alasannya kau membakar gedung itu? Itu adalah salah satu aset berharga Angkasa Grub. Apa ini bentuk balas dendam?"
Karina duduk di samping Arion, bersandar pada Arion.
"Sampah memang harus dibakar bukan? Mereka itu sampah, di hukum, finansial, farmasi, di semua bidang yang mereka masuki. Lihat saja ini, mereka mengembangkan obat yang mengandung narkotika dan uji coba yang merenggut nyawa dengan sengaja. Belum lagi para antek-antek setia yang menjadi penjilat, grub ini bukannya membawa kemakmuran malah petaka. Aku gerah melihatnya," papar Karina berapi-api.
"Tapi ini bukan tugasmu, kan?"
"Kau lupa dengan identitas istimewa yang ku miliki? Selain pemilik perusahaan dan mafia, aku juga anggota kehormatan di pengadilan tinggi, kejaksaan, kepolisian, kemiliteran. Ah iya, aku bekerja dengan caraku. Potong semua dahan baru mencabut akarnya," jawab Karina tersenyum.
"Ya - ya. Kau yang terhebat. Ayo kita sarapan," ajak Arion.
Karina mengangguk.
Di meja makan, Bik Mirna sudah menyajikan menu sarapan yakni sandwich, susu dan kopi. Kedua minuman itu tidak pernah absen dari list menu sarapan.
*
*
*
__ADS_1