Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 333


__ADS_3

Pukul 21.30 pesawat pribadi keluarga Wijaya yang ditumpangi Karina, Arion, Li, Elina, dan Gerry mendarat di negara K. 


Satya yang menunggu dengan bersandar pada body mobil langsung berdiri tegak ketika melihat Karina keluar dan menuruni tangga, disusul dengan Arion dan tiga bawahannya.


"Karina," sapa Satya, membungkuk hormat sebagai bentuk penghormatan kepada pimpinan tertinggi. 


"Hm. Kau sendiri?"tanya Karina menilik mobil.


"Iya. Memangnya dengan siapa lagi? Rian di Meksiko, Darwis di rumah sakit," jawab Satya. 


Gerry yang mendengarnya mendengus dan memutar bola mata kesal. 


"Apa isterimu itu cuma pajangan?"cibir Gerry dengan senyum mengejeknya.


"Istri? Oh maksudmu Riska?"


Atmosfer yang tadinya nyaman menjadi tidak nyaman dengan aura Satya dan Gerry. Karina menghela nafas kesal.


Arion menggeleng pelan melihat dua pria itu yang masih terpecah, karena wanita.


Li dan Elina tidak ambil pusing. Mereka malah masuk ke mobil duluan. 


"Apa kau tidak tahu bahwa isteriku masih pelajar hah?"seru Satya.


"Sudah tahu pelajar kok kau nikahi?"sahut Gerry. 


Keduanya berjalan mendekat dan kini berhadapan dengan wajah menyebalkan masing-masing.


Karina menyuruh Arion untuk memasukkan koper ke bagasi.


"Ayo. Tinggalkan saja dua bebek itu," ucap Karina.


"Jika mengenai wanita sulit akur ya," kekeh Arion. 


Arion juga pernah berada di posisi Satya dan Gerry. Ya, dia dan Darwis yang kadang tidak akur karena Arion adalah mantan Joya. Cemburu.


"Memangnya kenapa kalau masih pelajar? Ada urusannya denganmu? Apa kau yang aku nikahi?"


Satya mendekatkan wajahnya pada Gerry dengan mata melotot.


"Sembarangan! Aku ini hanya prihatin terhadapmu. Kau pasti harus mati-matian menahan diri bukan? Sampai kapan kau menahan diri? Sampai istrimu lulus SMA apa wisuda? Uh di umur berapa nanti kau punya keturunan?"


Gerry mendorong wajah Satya menjauh darinya. Ledekan Satya membuat Satya tertegun. 


"Itu urusanku. Rumah tanggaku tidak perlu kau campuri. Urus saja rumah tanggamu sendiri!" sungut Satya.


"Astaga. Aku lupa. Kan banyak cara berhubungan tanpa menyebabkan kehamilan. Tapi sayang sekali benih berhargamu akan terbuang percuma."


Raut wajah Gerry berubah kasihan lagi untuk Satya.


Satya kembali terpojok. Senyum puas Gerry sunggingkan.


"Aku bilang jangan ikut campur dengan urusanku!"seru Satya kemudian, memberikan tatapan tajam pada Gerry.


"Jangan teriak. Nafasmu bau. Kau belum mandi? Atau kau tidak sikat gigi?"


Gerry menutup hidungnya dengan tatapan jijik pada Satya.


"Akan ku robek mulutmu!"geram Satya.


"Robek saja kalau bisa!"balas Gerry, tidak takut sama sekali.


Keduanya sama-sama mendengus dan membuang muka. Satya ke kanan sedangkan Gerry ke kiri. Gerry terdiam dengan mulut melongo.


"Karina ayo pergi. Darwis pasti sudah menunggu kita," ajak Satya.


"Kita ditinggal," sahur Gerry polos.


"Ditinggal?"


Satya menoleh ke arah yang sama. Ia mengerjap polos mendapati mobil, Karina, Arion, Li, dan Elina tidak ada di tempat.


"Ini serius?"tanya Satya.


"Buka lebar matamu," jawab Gerry.


Satya mengusap matanya. 


"Astaga. Apa salahku hingga aku ditinggal? Karina aku yang menjemputmu kenapa aku yang tinggal," teriak Satya frustasi. 


"Ini semua gara-gara kau! Kalau saja kau tidak mengajakku berdebat pasti kita tidak akan ditinggal!"


Satya menunjuk kesal Gerry.


"Salahku? Kau sendiri yang tidak bisa menahan emosi. Dasar temperamental!"


Gerry tidak terima. Jika tadi mereka hanya adu mulut kini mereka mulai adu otot. Untung saja petugas bandara sigap melerai mereka jika tidak pasti keduanya akan dirawat inap di rumah sakit.


Keduanya kini berjalan lesu keluar dari area bandara. Satya menghubungi sopir kediaman untuk menjemputnya.


Tidak ada luka yang mereka terima hanya kepala saja yang agak pusing karena mereka adu otot rambut alias jambak-jambakan.


"Aku merasa lucu dengan diriku sendiri," ucap Gerry, memandang lurus ke depan. 


Mereka kini duduk di halte. Satya menoleh bingung. 


"Aku sudah mendapatkan wanita yang aku cintai. Kami sudah menikah tapi aku masih takut kau menganggu pernikahan kami padahal kau sendiri juga sudah menikah. Apakah ada yang salah dengan rasa cemburu?"ujar Gerry dengan nada datar.


"Itu berarti kau bodoh. Kau tidak percaya dengan cinta kalian. Kau merasa tidak sebanding denganku bukan? Kau merasa kecil dibandingkan diriku kan?"


Satya tersenyum lebar dengan wajah bangga.

__ADS_1


"Hidungmu sudah memanjang satu meter," ketus Gerry. 


"Aku percaya dengan cinta kami tapi tidak denganmu!"tambah Gerry.


"Hei! Aku sudah berkomitmen untuk mencintai isteriku. Aku juga memegang erat prinsipku untuk menikah sekali seumur hidup. Riska adalah satu-satunya wanitaku. Mira bukan milikku. Dia adalah adikku!"tegas Satya.


"Kita sudah bahagia dengan pilihan masing-masing. Mengapa kita harus mempertahankan pertengkaran kita hanya karena wanita? Apa persahabatan kita harus renggang karena ini?"


Nada bicara Satya terdengar sedih. Gerry menatap Satya dengan perasaan tidak percaya.


"Kau juga merasakan hal itu?"tanya Gerry ragu.


"Tentu saja. Kau itu sahabat dan saudaraku. Aku merasa tidak nyaman mengingat pertengkaran kita waktu itu," jawab cepat Satya.


"Seharusnya tidak! Tapi emosi dan egois kita yang membuat kita berpikir tidak jernih. Kawan maafkan aku yang bersikap kasar padamu. Maaf juga pernah memukulmu waktu itu," ujar Gerry menyesal.


Satya terkekeh.


"Tidak ku sangka kau duluan yang minta maaf. Aku kecolongan."


Satya malah tertawa kecil. Gerry tersenyum tipis. 


"Hei. Kita sudah baikkan bukan?"tanya Gerry.


"Lantas?"


"Tentu saja ya!"jawab Gerry.


Keduanya berdiri dan berpelukan. Tak lupa melakukan tos. Akhirnya kedua bawahan Karina itu menyelesaian konflik mereka secara total. Senyum lega begitu indah terpatri dari keduanya. Mereka kini tertawa lepas mengingat pertengkaran mereka. 


"Eh."


Tiba-tiba saja Satya terdiam.


"Ada apa?"


Gerry heran.


"Mira menjalani pembelajaran karena menyinggung Karina bukan?"


Gerry mengangguk.


"Aduh. Bagaimana ini? Aku takut Riska menyinggung Karina juga."


Satya mendadak panik. 


"Tenanglah."


Gerry menepuk pundak Satya.


"Biarkan semua berjalan secara alami. Aku tidak ingin jika kau seandainya melarang Riska, istrimu itu akan semakin penasaran. Kau tahu, semakin dilarang maka semakin besar keingintahuan seseorang. Lagipula Karina mana punya waktu memperhatikan istrimu. Dia fokus dengan Joya," tutur Gerry.


"Kau benar juga. Ya sudahlah. Ikuti saja alurnya."


*


*


*


Karina menatap datar Joya yang terbaring koma di ranjang dengan berbagai alat penunjang kehidupan melekat di tubuh.


Karina kemudian duduk di kursi samping ranjang, menyentuh dan menggenggam jemari Joya. Mata Karina menatap lekat wajah cantik Joya yang pucat.


Atmosfir kesedihan menguap di ruangan ini. Arion memperhatikan perut Joya yang sudah mengecil, membandingkannya dengan perut Karina. 


Darwis sendiri tertidur di sofa karena rasa lelah yang mendera. Ia berniat untuk tetap membuka mata tapi apa daya matanya tidak sanggup. Ah sebenarnya ini ada campur tangan Satya. 


Satya merasa tidak tega dengan kondisi Darwis yang lemas dan berantakan. Sebelum pergi mengantar Riska pulang, Satya memberikan Darwis air minum yang telah dicampur dengan obat tidur dosis kecil. Setidaknya itu bisa membuat Darwis tidur walau hanya sebentar.


Li dan Elina berada di sisi ranjang yang berseberangan dengan Karina.


Keduanya menatap iba Joya dan Darwis. 


"Terima kasih sudah bertahan. Maafkan aku datang terlambat," ujar Karina pelan, menyentuh pipi Joya. 


Arion meletakkan kedua tangan di pundak Karina.


"Kita suntikkan sekarang?"


Arion juga merasa iba dengan Joya. Tubuh yang dulu berisi dan begitu sehat kini kurus dan tidak berdaya. Rambut yang dulu panjang dan lebat kini pendek dan tinggal sedikit. 


Bibir yang dulu selalu segar dan merah kini pucat. Joya berubah drastis. 


"Kita tunggu Darwis bangun," jawab Karina.


"Tidak ku sangka, wanita yang dulu adalah nona muda Black Tiger yang dulu garang dan licik kini terbaring koma di sini. Hah. Takdir memang sebuah misteri," ucap Li setelah mengamati kondisi Joya.


"Tapi di mana bayinya?"tanya Elina.


"Tentu saja di ruang bayi, Eli," jawab Li heran dengan Elina.


"Aku ingin melihat anak mereka," ujar Elina.


"Karina kau mau ikut?"tanya Li. 


Karina yang fokus mengamati garis naik turun detak jantung Joya menoleh ke arah Li.


"Hm," sahut singkat Karina.


*

__ADS_1


*


*


Kini keempat orang itu berada di depan kaca yang membatasi ruangan bayi dengan koridor. Suster yang menjaga di sana menunjuk salah satu box bayi dimana Baby Gibran berada.


Mata Karina melebar menatap bayi laki-laki yang tampak tertidur nyenyak. Arion malah fokus menatap perut Karina. 


Li dan Elina saling berpegangan tangan, tersenyum lembut menatap Baby Gibran.


*


*


*


Karina dan lainnya telah kembali ke ruangan Joya setelah puas mengamati anak Darwis dan Joya.


Karina yang merasa lelah langsung meminta Arion membuka ranjang portabel yang menyatu dengan dinding. Arion membantu Karina duduk di ranjang, bersandar pada dinding.


Begitu juga dengan Li, membantu Elina duduk dan bersandar. Kedua wanita hamil itu duduk satu ranjang.


Saat hendak memejamkan mata, Karina diikuti lainnya menoleh ke arah pintu saat pintu dibuka dengan kasar.


Satya dan Gerry masuk dengan nafas ngos-ngosan. Mereka menghampiri Karina cepat.


"Oh sudah puas bertengkarnya?"ledek Karina.


"Kami salah. Jangan tinggalkan kami lagi seperti tadi," rengek Satya berlutut dan memegang kemari Karina.


Arion membulatkan mata hendak menepis tapi malah ia yang ditepis oleh Gerry.


"Kami sudah berbaikan. Kamu tidak akan bertengkar lagi. Kami mohon jangan marah pada kami," timpal Gerry.


"Apa jaminannya?"tanya Karina.


"Haruskah kami buat surat pernyataan dengan cap darah?"


Satya bertanya dengan nada mantap. 


"Boleh juga. Buatlah."


Satya dan Gerry saling tatap kemudian mengangguk. Arion, Li, dan Elina terkekeh pelan. Awalnya Li sempat khawatir meninggalkan Satya dan Gerry berdua dalam keadaan ribut. Tapi sekarang ia lega karena masalah keduanya telah selesai.


Satya berdiri kemudian keluar diikuti oleh Gerry untuk mengetik surat pernyataan mereka.


Di sofa, Darwis menggeliat pelan kemudian membuka mata perlahan. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk.


Darwis lalu duduk dan memegang kepala yang terasa pusing.


"Sialan kau Ya!"geram Darwis ketika ingat ia diberi minuman obat oleh Satya.


Darwis menoleh ke arah ranjang. Senyum kecut Darwis berikan.


"Belum sadar juga,"gumam Darwis mengalihkan pandangan ke arah lain, arah tempat Karina, Arion, Li, dan Elina berada. 


"Karina?!"


Darwis terkejut dan langsung berdiri menghampiri Karina.


"Sudah bangun? Kau terlihat lebih baik," ujar Karina.


Darwis berlutut di samping Karina, memeluk Karina dari samping. Arion menghela nafas menetralkan rasa cemburu di hati.


Arion memilih beranjak menuju sofa, membuka koper dan mengeluarkan laptop miliknya. Lebih baik ia mengerjakan pekerjaannya seraya menunggu Darwis selesai mengadu.


Darwis mengadu pada Karina, menumpahkan kesedihan, ketakutan, dan kebahagian pada malaikatnya. Karina dengan sabar mendengarkan aduan Darwis seraya menepuk-nepuk pelan punggung Darwis.


"Kamu harus tegar. Untuk Joya dan anakmu yang telah lahir. Ah ya siapa nama anakmu? Dia sungguh perpaduan kalian berdua."


Darwis mendongak.


"Gibran. Gibran Raqqilla Firaz. Itu nama putra kami," jawab Darwis memperkenalkan nama anaknya.


"Indah sekali," tutur Elina. 


"Semoga anakmu jadi anak yang membanggakan ya Wis," harap Li.


"Terima kasih," balas Darwis.


"Aku akan menyuntikkan obatnya sekarang," ujar Karina.


Darwis melepas pelukannya, berdiri.


"Baikkah."


"Ambil obatnya di koper," ujar Karina menunjuk koper di samping Arion.


Darwis segera mengambil koper tersebut. Isi koper tersebut bukankah pakaian melainkan laptop, dua pistol, pisau, serta kotak kecil berbentuk persegi panjang berisi obat untuk Joya.


Karina membuka kotak kecil tersebut. Tiga buah jarum suntik dengan cairan berwarna merah di dalamnya. Karina mengambilnya satu kemudian berdiri menghampiri ranjang Joya.


Karina menyuntikkan cairan tersebut. Karina menghela nafas lega ketika seluruh cairan masuk ke dalam tubuh Joya.


"Hasilnya akan terlihat paling cepat tiga hari dan paling lama enam hari."


Karina menoleh kepada Darwis  yang menggenggam jemari Joya.


Darwis mengangguk.


"Tapi walaupun penyakitnya sudah sembuh, jika belum waktunya ia masih akan tetap koma. Aku harap kau mengerti."

__ADS_1


"Aku mengerti," jawab Darwis.


__ADS_2