
"Awas gendut loh," ujar Arion memperingatkan Karina yang asyik menghabiskan beberapa tusuk cumi bakar.
"Biar gendut kamu tetap suka kan?" tanya Karina dengan mulut penuh makanan. Arion gemas dan mencubit pipi Karina yang menggembung.
"Iya Sayang," jawab Arion.
Sebelum makanan di tangannya habis, Karina sudah mencari makanan lagi seakan tak pernah kenyang. Arion mengikut, sesekali ia juga melihat dan mencari makanan yang menarik minatnya.
"Sudah ah gak ada yang menarik lagi. Kita pulang," ucap Karina setelah sampai di ujung jalan utara.
Tak ada suara balasan dari Arion. Karina melihat kanan-kiri depan-belakang mencari Arion tetap saja tak ada.
"Kemana tuh orang? Diculik apa?" gumam Karina menggaruk kepalanya.
"Sayang nyariin ya?" tanya Arion percaya diri. Di tangannya ada sepiring jajanan.
"Dari mana saja kamu?" tanya kesal Karina.
"Habis beli ini. Standnya agak ke dalam sedikit dari yang lain," jawab Arion menunjukkan apa yang ia beli.
Karina melirik apa yang Arion beli dan langsung cepat menyambar satu kue dan langsung memakannya. Rasa manis dan gurih langsung lumer di mulutnya.
"Eh main ambil saja," celetuk Arion.
"Enak," ucap Karina langsung mengambil piring di tangan Arion.
"Bagi dong. Kan aku yang beli,"keluh Arion.
Karina menatap kesal Arion dan memberikan kembali piringnya ke tangan Arion lalu mengambil alih sepeda di samping Arion.
"Kamu pulang jalan ya … dadah Sayang,…," ucap Karina mengayuh sepedanya meninggalkan Arion yang masih bengong.
"What ? Tunggu Sayang …," teriak Arion berlari mengejar Karina. Sayang, Karina sudah tak terlihat lagi. Arion mengomel-ngomel sendiri jadinya.
"Gara-gara pukis aku disuruh jalan. Kan jauh? Awas ya aku aduin nanti kamu atas kasus KDRT …," gerutu Arion menendang botol di jalan.
Kue di piringnya tinggal 3 buah dari yang semula ada 8 buah. Tentu saja lima lainnya sudah bersemayam di lambung Karina.
Arion lantas mengambil handphonenya dan menghubungi Ferry agar menjemputnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah mobil berhenti di dekatnya, keluarlah Ferry dengan gayanya yang cool.
"Kunci mobil,",ucap Arion meminta kunci mobil yang Ferry bawa tadi. Tanpa curiga, Ferry langsung memberikannya.
Sebagai gantinya, Arion memberikan piring di tangannya yang masih tersisa satu kue lagi pada Ferry kemudian masuk ke mobil dan langsung pergi meninggalkan Ferry.
"Bodoh sekali aku pulang jalan kaki,tinggal hubungi Ferry, mobil datang, Ferry aku tinggal akunya pergi hahahahaha …," tawa Arion bergema di dalam mobil. Lagu 'play' menemani perjalanannya.
Tak sampai sepuluh menit ia berkendara, Arion sudah tiba di hotel. Dengan cepat, Arion menuju kamarnya.
***
Selepas mengembalikan sepeda yang ia pinjam serta membayar kelebihan jam sewanya. Bukannya segera pulang, Karina malah berjalan-jalan santai dulu di taman.
Di kirinya ada danau buatan dengan angsa yang bebas berenang kesana-kemari. Rimbunnya pohon pinus menambah kesan sejuk.
Karina berjalan menuju danau dan mendekati sepasang induk angsa yang sedang menggiring anaknya di pinggir danau.
"Hai … jangan takut. Aku ada sesuatu untuk kalian," ujar Karina berjongkok di tepi danau. Karina mengeluarkan satu plastik kecil makanan angsa dan melemparkannya ke danau. Tanpa takut, induk angsa dan anaknya segera memakan makanan yang Karina taburkan.
"Angsa terkenal dengan kesetiaannya. Aku harap hubunganku dapat seperti kalian. Saling melindungi satu sama lain dan tak pernah berpaling ke yang lain sampai maut memisahkan," ucap Karina pelan.
"Apa kalian tak takut?" tanya Karina menyiram angsa-angsa itu dengan air danau menggunakan tangannya.
Perlahan angsa-angsa itu mulai menjauh dan berhenti di sisi lain danau. Karina tersenyum. Ia lupa bahwa salah satu fakta unik angsa ini adalah dapat membedakan orang jahat dan orang baik.
Sedang Karina sendiri bingung dirinya orang baik atau jahat atau kedua-duanya.
Karina menatap jauh ke depan kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya kembali ke hotel. Karina ingin mempersiapkan kematangan rencana yang telah ia buat untuk balas dendam pada Berto.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Karina tiba di lobby hotel bersamaan dengan Ferry yang ngos-ngosan. Baju putih basah dengan keringat yang membuat tubuh sickpacknya tergambar dari luar. Karina heran melihatnya. Setahunya kan Ferry membahas pekerjaan bukan sedang lari marathon.
"Dari mana dirimu?" tanya Karina.
"Dari jalan Utara Nona," jawab Ferry mengatur nafasnya.
"Ngapain?" tanya Karina lagi.
"Awalnya saya diminta Tuan muda untuk menjemputnya di sana namun, Tuan muda meminta kunci mobil dan langsung pergi membawa mobil meninggalkan saya. Jadilah saya pulang jalan. Sudah di tengah jalan bertemu dengan orang gila yang ngejar-ngejar lagi," cerita Ferry. Karina sontak menahan tawa mendengar cerita Ferry.
__ADS_1
"Cowok apa cewek?" tanya Karina.
"Cewek. Padahal masih muda," jawab Ferry.
"Seharusnya kamu senang ada yang ngejar," ucap Karina.
"Maksudnya? Saya gak paham?" tanya Ferry heran. Dikejar orang gila kok malah senang seharusnya kan takut.
"Kan biasanya kamu dikejar waktu menyelesaikan pekerjaan. Gak ada waktu buat ngejar cewek untuk jadi kekasih. Nah sekarang kan kamu gak palah ngejar malah sudah dikejar kok malah lari?" jawab Karina langsung pergi menuju lift untuk naik menuju kamarnya.
Ferry terbengong mendengar jawaban Karina.
"Whatt? No. Masak saya sama orang gila sih? Ternyata Nona muda sama keterlaluannya dengan Tuan muda. Sungguh terlalu," ucap Ferry frustasi dan langsung menuju kamarnya menggunakan lift.
Sesampainya di kamar, Ferry segera membersihkan tubuhnya yang banjir dengan keringat. Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan mengusap rambutnya dengan handuk.
Pakaiannya sudah berganti. Ferry kembali melihat laptopnya. Matanya terbelalak saat ada pemberitahuan meeting dimajukan menjadi pukul 13.00 yang artinya itu dua jam dari sekarang.
"Mengapa dadakan sekali. Apa karena perusahaan besar itu dapat dengan mudah mengganti jadwal meeting!" gerutu Ferry. Dengan segera ia menuju kamar Arion untuk memberitahu bahwa meeting dengan KS Tirta Grub dimajukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Ferry mengetuk pintu kamar Arion, beberapa detik kemudian pintu terbuka dan muncullah Arion.
"Ada apa? Apa semua sudah beres?"tanya Arion tanpa rasa bersalah.
"Tuan muda. Dua jam lagi kita akan meeting dengan KS Tirta Grub," jelas Ferry. Alis Arion menyatu.
Ia mengalihkan pandangannya ke dalam kamar melihat Karina yang asyik bermain laptop. Wajahnya berubah jadi masam.
"Mengapa dadakan sekali perubahannya?" tanya Arion kembali menatap Ferry.
"Itu karena …."
Ferry tak melanjutkan ucapan sebab Karina menyambar jawaban dari belakang.
"Itu bukan dadakan. Lagian kan meeting ya di hotel ini juga. Apa kau tak ada persiapan? Padahal selama di pesawat kemarin kau betah sekali membahas pekerjaan sampai mengabaikanku," jawab Karina tanpa berpaling dari laptopnya.
"Masih ngambek? Sudah dong ngambeknya," rayu Arion.
"...."
Karina tak menjawab dan semakin fokus pada laptopnya.
"Karina, Syang, kamu jangan abaikan aku dong," pinta Arion. Karina menatap sekilas Arion.
"Kamu kan aku suruh jalan kok malah naik mobil?" tanya Karina datar.
"Kamu kok tega sih. Masa' aku disuruh jalan kaki. Nanti ketampanan aku luntur lagi," jawab Arion tersenyum.
"Kamu mau aku melakukan apa supaya kamu gak ngambek lagi?" tanya Arion berusaha membujuk Karina lagi.
"Buatkan aku makan siang," jawab Karina.
"Itu saja? Gampang," sahut Arion langsung menghubungi pegawai hotel untuk mengirimkan dua porsi makan siang ke kamarnya.
"Selesai," ucap Arion.
"Dasar bloon. Aku minta buat bukan pesan. Jadi kamu ke dapur hotel dan buatkan aku makan siang. Understand?" jelas Karina menatap Arion kesal.
Arion kembali terdiam. Buat sendiri? Berarti dia harus masak dong! Arion menarik nafas akan permintaan istrinya itu.
"Ya sudah. Tunggu aku ya," ucap Arion keluar dari kamar. Karina kembali pada laptopnya. Sedari tadi ia memeriksa data lama perusahaan mengenai tanah panti asuhan.
"Ternyata benar apa yang dikatakannya. Huff … ternyata aku masih gagal memimpin perusahan. Aku harus segera selesai ini sendiri," gumam Karina menutup laptopnya dan keluar kamar. Sebelum pergi ia meletakkan surat di nakas.
***
Gedung perusahaan KS Tirta Grub. Karina menatap datar gedung perusahaannya itu dari mobilnya. Kali ini ia berniat masuk ke dalam perusahaan tanpa mengenakan topeng. Bajunya pun belum terganti.
Karina segera masuk ke perusahaan dan menemui resepsionis.
"Bisa bertemu dengan kepala divisi Credit Risk?" tanya Karina ramah.
__ADS_1
"Sudah ada janji Nona?" tanya resepsionis tak kalah ramah.
Heh? Untuk apa janji? Inikan perusahaanku, cibir Karina dalam hati.
"Sudah Nona," jawab Karina berbohong.
"Baiklah Nona. Silahkan masuk. Ruangannya ada di lantai 20," jelas resepsionis.
Karina mengangguk, sebelum beranjak, Karina menatap resepsionis dengan seksama. Resepsionis itu mengerut heran namun tetap berusaha tersenyum.
"Ada apa ya Nona? Mengapa Anda menatap saya seperti itu?" tanya resepsionis takut plus heran.
"Bukan apa," jawab Karina langsung menuju lift dan masuk.
Ternyata ia tak naik sendiri, bersamaan dengannya ada 6 orang lainnya. Sebenarnya lift ini sanggup menampung 10 sampai 12 orang namun Karina yang tak terbiasa malah menjadi kesal.
Biasanya Karina biasa sendiri atau bertiga bersama Lila dan Raina. Karina mengumpat kesal dalam hati.
"Kecil sekali lift ini. Sepertinya harus direnovasi deh," umpat Karina pelan. Posisinya sekarang berada di tengah.
Ting ….
lift berhenti di lantai 2, dua orang keluar namun malah 3 orang masuk. Begitu seterusnya. Jika 2 orang yang keluar pasti yang masuk akan bertambah.
Hingga tiba di lantai 20, tinggallah Karina sendiri. Karina tak ikut keluar melainkan terus naik menuju ruangannya. Tentu saja tak ada yang curiga. Sebab lift di perusahaannya ini terdapat sekitar 5-10 lift untuk memudahkan mobilitas, kecepatan dan efisiensi kerja.
Ting ….
Lift kembali berdenting menandakan sudah tiba di lantai 70. Karina segera keluar dan menuju ruangannya. Di dalam, Lila dan Raina sedang rebahan di sofa sehabis memeriksa semua berkas perusahaan cabang ini.
Mereka terbangun saat mendengar pintu terbuka dan menampilkan Karina dengan wajah datarnya. Dengan cepat Lila dan Raina berdiri dan langsung membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali Nona," sambut Lila.
"Hmm … tegakkan badan kalian. Panggil semua kepala divisi perusahaan termasuk William ke ruang meeting," perintah Karina duduk di kursinya. Entah apa yang membuatnya tak marah akibat kelakuan Lila dan Raina yang rebahan di jam kerja.
Lila dan Raina berpandangan bingung. Bingung sebab Nonanya tak marah dan juga meeting dadakan yang sebelumnya tidak pernah sekalipun.
Namun, dengan cepat mereka berdua berbagi tugas menjalankan perintah Karina. Sedangkan Karina kembali mengotak-atik komputer di hadapannya.
"Dapat. Tenyata kalian pelakunya. Nikmatilah hari terakhir kalian di sini dan di dunia,"seru Karina senang.
Tak lama Lila dan Raina kembali menghadap pada Karina dan memberitahu bahwa semuanya sudah selesai. Seluruh kepala divisi sudah berada di meeting room.
Karina segera berdiri dan menuju ke ruang meeting. Sebelum keluar dari ruangannya, Karina kembali meminta topeng pada Lila. Lila segera memberikanya sebab topeng Karina selalu ia bawa kemanapun di jam kerja.
"Lil, kok gue ngerasakan Nona berbeda hari ini? Coba loe cek tanggal deh. Manatahu sudah jadwal tahunan Nona tiba," bisik Raina pada Lila setelah Karina keluar dari ruangannya.
"Bentar. Gue cek dulu … tanggal 17 Agustus?" jelas Lila.
"17 Agustus tahun 45?" tanya Raina polos.
"Bukan tapi hari ulang tahun Nona yang kedua puluh empat tahun, Raina,"jawab Lila.
Mata Lila membulat, begitu juga dengan Raina. Menyadari Karina sudah masuk lift menuju lantai 69, Lila dan Raina langsung menepis kekagetan mereka dan langsung menyusul Karina.
***
In meeting room, suasana riuh terdengar sangat jelas. Para kepala divisi saling bertanya satu sama lain mengenai meeting dadakan ini. Apalagi 15 menit lagi adalah waktu makan siang.
Mereka mengira Williamlah yang memerintahkan untuk meeting dadakan. Namun, mereka kembali heran saat William sudah masuk ke ruang meeting namun tak memulai meeting segera. William tak duduk di kursinya dan terus melihat ke arah pintu. Wajahnya tampak tegang.
"Tuan, apakah ada hal lain yang ditunggu? Seluruh kepala divisi sudah hadir di sini," tanya heran kepala divisi personalia.
"Sebentar lagi dia tiba. Harap jaga sopan santun kalian di depannya," jawab William tegas sekaligus memberi peringatan.
Benar saja tak lama pintu terbuka mengangetkan seluruh peserta meeting sebab pintu dibuka dengan cara ditendang.
Sedangkan pelakunya yang tak lain adalah Karina malah melenggang santai dan duduk di kursi yang biasanya William tempati.
"Anda siapa Nona? Mengapa tak pakai sopan santun? Anda kira ini perusahaan Anda?" tanya emosi kepala divisi Credit Risk.
Karina menatap tajam kepala divisi itu kemudian menatap William yang sudah berkeringat dingin.
"Beginikah caramu mendidik bawahanmu, William?" tanya dingin Karina pada William sedangkan kepala divisi lain diam menyimak.
"Maaf … maafkan kelalaian saya Nona. Pak Andreas segeralah minta maaf atau saya tak berani menjamin nasib Anda," ujar William pada Andreas, kepala divisi Credit Risk.
__ADS_1
Andreas yang pada dasarnya angkuh tentu saja tak mau melakukannya, sebab menurutnya ia tak salah menegur Karina. Namun sayang, dia tak tahu bahwa yang ia tegur adalah pemilik perusahaan di mana ia bekerja.
Karina tersenyum sinis di balik topengnya. Lila dan Raina sengaja ia suruh berada di luar dan masuk ketika menerima kode darinya.