
Aroma yang dikeluarkan oleh ikan yang dipanggang Sam dan Calvin membuat Karina mengerjap. Karina mengendus wangi itu. Hal yang sama juga Arion rasakan.
"Ya gosong," pekik Sam histeris melihat ikan yang berada dalam pengawasannya gosong sebelah. Karina dan Arion refleks terbangun dan menatap polos Sam.
"Gosong? Ikannya?" tanya Karina dan Arion bersamaan.
Sam mengangguk memelas. Arion dan Karina saling bertatapan, sedetik kemudian mereka kembali menatap Sam. Sam berdigik ngeri dan bersembunyi di belakang Lila.
"SAM … beraninya kau!" teriak Arion kesal. Susah payah mendapatnya ikannya, kini tinggal diolah pun harus gosong. Sam mengintip dari pundak Lila.
"Dasar banci," ledek Calvin yang masih fokus memanggang ikan. Tak mau kena amarah seperti Sam. Sam menjulurkan lidahnya mengejek balik Calvin.
"Kau juga sama, Pipin," ujar Raina membuat Calvin memperagakan menjahit mulutnya. Raina bersilang tangan, mengawasi Calvin.
"Beraninya kau menggosongkan ikanku! Kau tahu betapa sulitnya mendapatkan itu?" ucap Karina berdiri dan berjalan mendekati Sam yang bersembunyi di balik Lila. Arion mengikut. Ingin menghajar Sam yang menggosongkan ikannya.
"Kakak ipar, maaf gak sengaja," cicit Sam memeluk pinggang Lila.
"Samsul lepasin ah. Tanggung jawab sana," bisik Lila, membuat Sam semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu ganti nama aku," ucap Sam.
Kini Karina dan Arion berdiri tepat di hadapan Lila. Lila menundukkan wajahnya.
"Nona …," lirik Lila.
"Menyingkir. Biar aku tenggelamkan pria ini," ucap Karina datar. Lila diam saja, sebab Sam tak membolehkannya bergerak.
"Kakak ipar maaf, Ar aku gak sengaja," rengek Sam menunjukkan wajahnya yang ia tumpukan di bahu Lila.
Karina dan Arion dengan wajah datarnya menarik senyum tipis.
"Gak sengaja? Kok bisa?" tanya Arion menyidang Sam.
"Tadi aku lihat bidadari di sampingku, jadi gagal fokus dengan ikannya," terang Sam mencium pipi Lila, membuat Lila tersipu malu. Raina dan Calvin membulat mata mereka. Karina dan Arion berdehem menyadarkan mereka.
"Jangan buat malu," bisik Lila.
"Gak papa kali, kan pipi bukan bibir. Atau? Kamu mau kita ciuman bibir?" tanya Sam antusias menerka.
Arion panas mendengar rayuan Sam yang tak kenal tempat. Karina menatap Lila dengan menyeringai, membuat buluk kuduk Sam dan Lila otomatis berdiri. Agaknya Karina benar-benar kesal. Sam tersenyum canggung
"Sam aku sangat …." Belum selesai Arion mengucapkan perkataan, sudah disela duluan oleh Sam.
"Jangan khawatir, aku akan cari lagi ikannya. Tunggu sebentar," seru Sam langsung melepas pelukannya dan berjalan cepat menuju di mana tadi Arion dan Karina datang dengan membawa ikan.
"Hahahahahaha …," tawa Arion dan Karina terpingkal melihatnya. Lila menepuk dahinya pelan melihat tingkah calonnya ini. Calvin dan Raina terkekeh.
Amri, Maria dan Bayu yang sedari tadi hanya menyaksikan keributan itu ikut tertawa. Maria dan Amri kini sedang memisahkan daging ikan dari sisik yang hangus terbakar. Memang sisiknya tidak dibuang dulu sebelum dipanggang, tujuannya agar daging ikan tidak gosong walaupun kelihatannya gosong. Sama halnya dengan ikan mas, yang sisiknya tak pernah dibuang saat diolah, apapun itu.
Lain halnya dengan Bayu, ia bertugas membersihkan kulit terong bakar. Terong ini memang sengaja dibawa oleh Karina dari kebun belakang villa. Tentu saja yang mengambilnya adalah pelayan.
"Nona, saya susul Sam dulu ya," ujar Lila.
"Ya sudah sana. Ajak pulang calonmu itu. Katakan dia tak perlu mencari lagi, ikannya cuma gosong di luar. Dia terlalu serius," ucap Karina melambaikan tangannya. Lila mengangguk.
Karina dan Arion segera kembali menuju saung. Karina membuka keranjang berisi bekal makan siang mereka. Karina sengaja meminta para wanita tak membawa lauk-pauk. sebab lauknya ada di air terjun. Pauknya terong bakar.
Keranjang hanya berisi satu baskom penuh nasi, lalapan, sambal, air minum dan cemilan. Arion membantu Karina mencari daun pisang, ya untuk alas makan.
__ADS_1
"Sayang apa segini cukup?" tanya Arion menunjukkan 4 pelepah daun pisang yang masih muda pada Karina.
"Sudah Hubby," jawab Karina. Arion segera membersihkan daun pisang tersebut lalu melebarkannya di umbi saung. Karina mulai menata apik nasi memanjang mengikuti pola daun.
Tak berselang lama Raina, Calvin, Maria dan Amri serta Bayu mendekat. Calvin membawa semua ikan yang sudah dipanggang olehnya dan Sam serta dibersihakan oleh Amri dan Maria. Meletakkannya di tengah saung.
"Ayo makan, cacing Papa sudah demo," ucap Amri mengambil posisi.
"Papa, cacing perut kok dipelihara. Bagusan melihara cacing pakan ikan," cetus Karina membuat Amri tersenyum masam.
"Memangnya perut kamu gak ada cacingnya?" tanya Amri.
"Perut Karina isinya anak kami, bukan cacing," sahut Arion menjawab pertanyaan Amri. Semuanya tergelak tawa.
"Sudahlah ayo makan. Nanti sore kita kembali ke negara kita," ajak Maria menengahi suami dan anaknya.
"Tunggu Sam dan Lila, Tante," ucap Calvin.
Semenit kemudian, Sam dan Lila kembali. Dengan wajah polosnya Sam menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalian menipuku," ucap Sam merengek.
"Siapa suruh gagal fokus sama bidadari," sahut Karina menatap Sam santai.
"Waktunya makan," putus Arion.
Akhirnya mereka makan siang dengan tenang. Menikmati sajian yang terhidang. Apalagi yang lebih indah daripada berkumpul bersama keluarga, di tengah keindahan alam dan canda tawa.
Apalagi sajian nikmat sederhana yang dibuat sendiri. Penuh perhatian, cinta dan kasih sayang. Sentuhan terakhir makan siang mereka apalagi kalau bukan anggur.
Karina melihat jam tangannya. Karina menekan salah satu tombol menunjukkan pesan.
Karina aku minta restu dan izin menikah dengan Joya, pesan dari Darwis membuat Karina membelalakan matanya.
"Eh gak ada cuma masalah kecil," jawab Karina.
"Kalau begitu ayo pulang. Sudah jam setengah dua," ajak Maria yang diangguki semuanya.
Joya? Darwis? Bagus juga kalau mereka bersatu. Tapi … tua bangka itu harus apakan? Akhggg … bunuh sajalah. Balas dendam. Susun rencana dulu, putus Karina dalam hati mengukir senyum jahat, namun hanya sekilas.
Mereka segera membereskan barang bawaan.
"Eh kita foto dulu. Sayang jika tidak," seru Calvin mengangkat kamera yang dilawanya.
"Oke deh," sahut Karina.
Mereka segera berfoto ria. Dari single foto, foto bersama pasangan dan sahabat, foto keluarga dan terakhir foto bersama tanpa kurang satupun dengan kamera berada pada tripot dengan latar belakang air terjun.
Pukul 02.15 mereka meninggalkan air terjun tanpa berganti pakaian sebab pakaian sudah kering di badan.
Di pertengahan jalan, Arion menggendong Karina di punggungnya. Bayu digendong oleh Sam. Calvin iseng memotret perjalanan mereka.
"What the hell?" pekik Sam melihat tiga helikopter dengan lambang mawar biru bertengger manis di landasan saat memasuki halaman villa.
"Helikopter untuk kita pulang," jawab Karina santai memasuki villa.
Para pelayan segera membawa barang bawaan Nona mereka dan rombongan.
"Kakak apa ini tak berlebihan?" tanya Calvin serius.
__ADS_1
"Tidak. Kalau kurang biar aku panggil lagi," jawab Karina santai. Calvin terdiam.
"Kakak jadikan aku bawahanmu. Kau sangat royal dibandingkan Papaku," rengek Sam memegang tangan Karina. Arion memelototkan matanya menatap Sam kesal. Karina menaikkan satu alisnya mendengar permintaan Sam.
"Jangan sentuh istriku. Sentuh saja calon istrimu. Dan berhentilah merengek. Sudah besar juga," ketus Arion melepas pegangan Sam pada tangan Karina dan memeluk pinggang Karina posesif.
"Apa alasanku menjadikanmu sebagai bawahanmu? Masa kau turun pangkat dari CEO menjadi bawahanku. Lagian aku bingung meletakkanmu di mana? Semuanya sudah penuh. Jika kau mau helikopter pribadi, akan aku berikan sebagai hadiah pernikahanmu nanti," terang Karina membuat mata Sam berbinar.
"Benarkah?" tanya Sam. Karina mengangguk.
"Tentu," jawab Karina segera berlalu menuju kamar, bersiap untuk kembali ke negara mereka.
"Kakak aku juga mau," teriak Calvin cemburu pada Sam.
"Apanya?" teriak balas Karina.
"Yang kau berikan pada Sam," jawab Calvin.
"Oke. Gampang," sahut Karina membuat Maria, Arion dan Amri memegang dada mereka. Syok dengan menantu kaya nan royal ini.
Arion sibuk menghitung berapa harga dua helikopter yang bakal Karina hadiahkan.
Pusing, Arion menyusul Karina.
"Kakak ipar, apakah sekaya itu?" tanya Sam lirik pada Lila.
"Bukannya sombong, tapi jujur saja aku dan Raina kesulitan menjumlahkan seluruh aset Nona. Apalagi laporan keuangan perbulan. Semua yang Nona usahakan menghasilkan keuntungan. Apa kau tahu berapa omset perkebunan ini sebulan?" tanya Lila berbisik. Sam menggeleng.
"Memangnya berapa?" tanya Sam.
"Aku juga gak tahu, sebab ini bukan dalam tanggung jawab kami. Keuntungannya langsung ditransfer ke rekening Nona," jawab Lila tertawa kecil.
Sam menjatuhkan rahangnya. Rasa penasarannya hilang seketika berganti menjadi gemas. Lila mengedarkan pandangannya. Ternyata tinggal mereka berdua di halaman, yang lain telah bersiap untuk pulang. Lila segera menuju kamarnya, Sam pun begitu.
Pukul 04.30 mereka sudah selesai bersiap, para pelayan membantu membawakan barang bawaan.
"Nona, sering-seringlah kemari. Villa sepi tanpa Nona," pinta Pak Tri.
"Baiklah. Aku usahakan. Jaga baik-baik perkebunan," jawab Karina tersenyum. Pak Tri mengangguk harap.
"Ayo naik," ujar Karina mulai masuk ke dalam helikopter. Di mana pembagiannya adalah Karina dengan Arion pastinya, Sam, Lila, Raina dan Calvin satu helikopter dan terakhir Amri dan Maria serta Bayu satu helikopter. Baling-baling helikopter mulai berputar. Perlahan tapi pasti, helikopter mulai meninggalkan landasan.
"Selamat jalan semua," ujar Pak Tri membungkuk hormat kemudian melambaikan tangannya.
Karina dan lainnya membalas lambain itu. Perjalana menuju bandara membutuhkan waktu kurang lebih satu jam tiga puluh menit. Pukul 18.15, mereka tiba di bandara. Pesawat keluarga Wijaya bertengger manis ingin segera lepas landas mengangkasa di langit.
Tanpa banyak ba-bi-bu, mereka segera menaiki pesawat. Tak berselang lama, pesawat segera lepas landas menuju negara Y. Membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam penerbangan. Lelah dan ngantuk menyerang, Karina memutuskan tidur, ditemani Lila dan Raina. Arion dan lainnya mengobrol tentang berbagai bidang menemani perjalanan. Salah satunya, liburan mereka yang sangat mengesankan.
"Eh masalah pernikahan kalian, yakin mau barengan lagi kayak tunangan dulu?" tanya Maria serius menatap Sam dan Calvin yang sudah seperti anaknya itu.
"Iya Tante. Biar asyik," jawab Sam cengengesan.
"Oh … begitu? Di Tirta Hotel kan?" tanya Amri.
"Iya Om, di hotel Kakak ipar. Siapa tahu saja gratis seperti tunangan dulu," ucap Calvin.
Pletak.
Pletak.
__ADS_1
Arion menjitak Sam dan Calvin.
"Sekarang gak ada yang gratis. Bayar semua. Kalian mau buat istriku bangkrut? Sudah minta hadiah helikopter malah minta gratis lagi tempat pernikahan," ketus Arion.