
Ting.
Lift berdenting saat tiba di lantai 3. Mira yang masih terkejut akibat ulah Gerry, diam tidak berjalan keluar. Gerry tersenyum tipis. Ciuman singkat di lift memang berbeda. Ia menarik tangan Mira, keluar dari lift.
Seketika Mira sadar dan memalingkan wajahnya. Mira menghentikan langkahnya melihat Intan yang mondar-mandir di depan pintu ballroom. Ia tidak ingin mama mertuanya itu tahu hubungannya dengan Gerry sekarang.
"Ada apa? Kau takut?"tanya Gerry yang menangkap rasa ragu di mata Mira.
"Aku rasa ini bukan saat yang tepat," ucap Mira pelan.
Gerry menggelengkan kepalanya.
"Ini saatnya, ayo. Aku di sampingmu."
Gerry kembali menarik tangan Mira, Mira mengikut kaku.
Intan menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Matanya terbelalak melihat Mira yang berjalan di samping Gerry dengan jemari saling bertautan.
Mira menunduk melihat reaksi Intan. Kini keduanya berdiri tepat di hadapan Intan. Gerry memberikan senyum lebarnya.
"Mir, siapa pria tampan ini? Apa dia yang kamu ceritakan kemarin?"
Intan langsung bertanya setelah lepas dari keterkejutannya. Gerry menaikkan satu alisnya, menatap Mira ingin tahu. Mira mengangguk pelan dan tega menunduk menyembunyikan rasa malunya.
"Jadi Anda sudah tahu tentang saya? Apa yang Mira katakan pada Anda mengenai saya?"tanya Gerry pada Intan.
Ia merasa jika bertanya pada Mira hanya akan dijawab oleh angin, atau ya dan tidak.
Sejenak, Intan lupa akan suaminya. Pada pandangan pertama, ia sudah menyukai Gerry. Tampaknya wanita itu tidak akan melarang Mira dengan Gerry. Tapi akhirnya akan diputuskan oleh Tuan Adiguna.
Intan menceritakan secara ringkas bagaimana ia tahu. Ternyata kemarin sore, Intan dan Mira sempat berbincang di rooftop rumah. Niatnya sih mereka hanya berbincang tentang cara agar Tuan Adiguna sadar bahwa Eko sudah tiada dan sedikit mengenai pesta malam ini, juga kejutan malam untuk Tuan Adiguna.
Akan tetapi, atas dasar ketidaksengajaan alias keceplosan. Mira menyinggung soal Gerry. Tanpa sengaja dan sadar Mira bertanya, "seandainya aku punya kekasih, apa Mama akan setuju apapun itu latar belakangnya?"
Intan segera mencerna ucapan Mira, tentu saja ia penasaran dan terus mendesak Mira.
Akhirnya Mira menceritakan tentang Gerry. Tapi Mira tidak menyebut nama dan pekerjaan. Hanya awal bertemu, dan lamaran Gerry melalui telepon.
"Oh begitu ya. Mira apa namaku dan pekerjaanku terlalu kecil sehingga kamu tidak mengatakannya pada keluargamu?"
Mira tersenyum canggung, ia takut jika ia memberitahu pekerjaan Gerry yang seorang mafia, Intan akan langsung melarang.
Bukankah biasanya militer dan mafia bermusuhan?
"Bukan begitu, aku hanya--"
Belum selesai sudah Gerry potong.
"Baiklah. Aku akan memperkenalkan diriku sendiri. Perkenalkan nama calon suami menantu Anda ini adalah Gerry Herlambang. Pekerjaanku tidak kecil-kecil amat tetapi bisa menghasilkan pendapatan yang banyak dalam satu hari. Aku tahu alasan Mira tidak mengatakan pekerjaanku. Walaupun kecil, pekerjaan ini cukup berbahaya. Perlu kemampuan di beberapa bidang untuk dapat bertahan. Salah satunya adalah kekuatan dan kecerdasan. Dan pekerjaan ini dianggap sebagai salah satu musuh dari militer, sudah tertebak Nyonya?"
Intan diam lagi mencerna ucapan Gerry, matanya menilik lekat penampilan Gerry, juga Mira. Intan tercengang dengan gaun Mira yang sudah berganti.
__ADS_1
Mulutnya diam tapi jarinya menunjuk gaun Mira. Mira mendadak takut. Mira secara naluriah sembunyi di belakang Gerry.
"Ada saatnya Anda tahu nanti, sekarang apa penjelasanku sudah ada temukan jawabannya?"ucap Gerry.
Intan menghela nafas panjang. Tatapan matanya berubah tajam, wajah wibawa khas pendamping jenderal ia tunjukkan.
"Mafia. Kamu seorang mafia bukan? Kamu benar, mafia adalah musuh militer. Karena kamu sudah tahu sebaiknya kamu mundur dan segera angkat kaki dari sini sebelum saya memanggil tentara untuk menangkapmu!"ucap tegas Intan.
Gerry menaikkan alisnya, wajahnya tetap santai. Mira mencengkeram erat kemeja Gerry. Matanya mulai berkaca-kaca. Entah mengapa ia jadi cengeng.
Inikah rasanya saat hubungan tidak direstui? Walaupun hanya mertua. Intan adalah orang tua angkatnya selama beberapa tahun.
"Bagaimana saya bisa angkat kaki dari wilayah saya sendiri? Hotel ini adalah milik CEO KS Tirta Grub. Hotel milik atasan saya. Yang ada Anda yang harus pergi sebab semua penjaga di sini adalah mafia. Komunikasi tidak akan bisa karena sinyal diblok oleh pihak kami. Jadi saya sarankan sekarang Anda diam sampai Queen menindaklanjuti kejadian malam ini!"
Gerry menekan wajah wibawa Intan. Intan seakan luluh di hadapan Gerry. Mira tercengang mendengar Karina yang juga datang.
Apakah mereka sudah tahu apa yang akan terjadi?
Intan memilih diam, akan jadi bumerang baginya sendiri jika ia bertindak nekat. Ia juga sangat terkejut sebab Karina adalah seorang mafia. Tapi apa nama mafianya ia belum tahu.
Suasana hening beberapa saat dan diakhiri ketika pintu ballroom di dekat mereka terbuka. Li muncul sembari menilik mereka satu persatu. Senyum tipis Li ukir di bibir menawannya.
"Masuklah," ucap Li tegas, mempersilahkan Intan, Mira dan Gerry masuk.
Intan tanpa banyak tanyalangsung masuk. Ia ingin segera melihat suaminya. Mira mengintip dari punggung Gerry.
"Tuan Li juga di sini? Apa Nyonya Elina juga ikut?"tanya Mira berbisik.
Mira mengangguk.
"Hei Gerry, dokter Mira, ayo masuk. Kalian bintangnya malam ini," sentak Li.
"Iya cerewet!"ketus Gerry masuk menarik tangan Mira.
Li mendengus, ia lalu kembali menutup pintu dan duduk di samping Elina.
Intan dan Tuan Adiguna berpelukan. Intan ikut menangis melihat dan mendengar Tuan Adiguna yang matanya memerah dan masih senggugukan.
Elina melambaikan tangannya pada Mira menyapa dokter kandungannya itu. Mira tersenyum.
Kalimat "aku tahu", Tuan Adiguna ucapkan berulang kali. Karina dan Darwis tampak tenang.
Mira dan Gerry berdiri di belakang Karina. Karina menoleh ke belakang sekilas dengan senyum tipisnya. Mira jadi salah tingkah lagi.
"Bersiaplah untuk pernikahan," ucap Karina pelan.
Gerry tertegun sejenak kemudian tersenyum, ia mengeratkan pegangannya pada Mira. Mira dalam hati merasa sejuk. Jika Karina sudah berucap, maka besar kemungkinannya akan tercapai.
"Ger, Rian dan Satya mana? Mengapa tidak bersama kalian?"tanya Darwis.
Ia khawatir dengan dua adiknya itu. Gerry mendatarkan wajahnya.
__ADS_1
"Ke rumah sakit kali. Aku menghajar pria itu sampai mau mati. Andai saja Mira tidak teracuni aku pasti akan membunuhnya!"jawab Gerry geram.
Karina menaikkan tangan kanannya.
"Diam atau kalian yang aku bunuh!"
Suasana hening, hanya terdengar suara Intan yang menguatkan Tuan Adiguna dan Tuan Adiguna yang tergugu memeluk Intan.
Sungguh, saat ini ia bukan seorang jenderal, tapi seorang ayah yang sangat kehilangan anaknya.
Darwis mengambil handphone dan mengirim pesan pada Rian, menanyakan keberadaan dan kondisi mereka.
"Pa, maaf kan Mira karena tidak pulang selama tiga tahun ini. Sebenarnya Mira lah yang mengirim surat atas nama Mas Eko. Di sana Mira juga tidak tinggal di markas prajurit. Mira tinggal sendiri dan bekerja sebagai dokter kandungan. Sesuai dengan jurusan yang Mira ambil. Maafkan Mira juga kerena tidak bisa memberi Papa cucu. Mira sangat menyesal telah berbohong pada Papa," ucap Mira memecah suasana.
Tuan Adiguna mengangkat pandangannya, mencari keberadaan Mira. Matanya memerah, ia mengusap air matanya sendiri.
Tuan Adiguna hanya menatap Mira, tidak dengan Gerry. Pria itu tersenyum, meminta Mira mendekat padanya.
Gerry melepas pegangannya. Mira mendekat dengan perasaan campur aduk. Intan berdiri, menyuruh Mira duduk di samping Tuan Adiguna.
"Papa lah yang seharusnya meminta maaf. Secara tidak langsung, Papa lah yang mendorong kamu untuk berbohong. Aku tidak pantas disebut sebagai papa mertua yang baik untukmu. Papa sudah tahu kebenaran bahwa suamimu sudah tiada tapi kekerasan hati Papa, menutup mata Papa dari kebenaran. Rasa kehilangan yang besar, membuat Papa menciptakan keyakinan tidak berdasar bahwa Eko masih hidup dan akan kembali suatu hari ini. Tapi itu hanya imajinasiku semata, kebenaran tetaplah kebenaran. Tidak akan berubah sekeras apapun Papa mencoba menyangkalnya. Maafkan Papamu yang penakut ini. Maafkan Papa Mira," tutur Tuan Adiguna serak, memeluk Mira.
Mira meneteskan air mata, mengusap punggung Tuan Adiguna.
"Pa, yang telah berlalu biarlah berlalu. Kita harus saling memaafkan," ujar Mira.
"Kalau Papa sudah menerima, ada baiknya kita mengunjungi makam Eko besok," saran Intan.
Tuan Adiguna dan Mira mengangguk.
"Baguslah, semua sudah jelas. Sekarang waktunya membahas hubungan Mira dan tangan kananku, Gerry!"
Tuan Adiguna mengerutkan dahinya. Ia menatap Mira meminta jawaban. Intan mengubah raut wajahnya masam. Itu tertangkap oleh mata Karina.
Karina menerka bahwa Gerry mengatakan sesuatu yang menyinggung atau menentang Intan.
"Tuan Adiguna, sebenarnya saya sudah jatuh hati pada Mira sejak pandangan pertama. Setelah memastikan perasaan saya, saya memutuskan melamar Mira melalui telepon. Beberapa hari kemudian, Mira menerima saya sebagai tunangannya. Saya harap Anda merestui hubungan kami agar kami bisa segera melangsungkan upacara pernikahan," ucap Gerry tegas.
Mata Tuan Adiguna menilik Gerry. Wajah pria itu datar dengan aura mengintimidasi Gerry. Tentu saja Gerry santai, tidak merasa tegang ataupun tertekan.
Tuan Adiguna menghela nafas panjang. Ia menatap Karina.
" Mira sudah terlepas dari hubungan suami istri dengan anakku. Aku tidak ada hak melarangnya untuk membina hubungan dengan pria lain. Akan tetapi sebagai seorang mantan mertua, saya ada hak untuk mengetahui latar belakang calon Mira--," ucap Tuan Adiguna, belum selesai sudah dipotong oleh Intan.
"Mama tidak setuju Mira dengan dia!"
Intan menunjuk Gerry. Matanya tajam berkilat, Karina menaikkan alisnya.
"Mengapa? Apa Mama tahu sesuatu?"tanya Tuan Adiguna.
"Kita tidak bisa menerima seorang mafia masuk dalam keluarga kita. Walaupun Mira bukan menantu kita, Mira tetaplah anak kita. Mama sudah merawatnya seperti anak sendiri sejak usianya belasan tahun. Mama tidak bisa menerima mafia ini, militer dan mafia selalu bertentangan!"tegas Intan.
__ADS_1
Darwis tersedak kaget dengan ucapan Intan, matanya melirik Intan remeh. Li dan Elina saling tatap, tersenyum santai. Karina, hanya menaikkan satu alisnya. Gerry ia kesal mengepalkan kedua tangannya.