
Karina memicingkan matanya, mencoba menerka arti ujaran Elina. Beragam opini nangkrik di kepalanya. Lain halnya dengan Elina yang bersiap melanjutkan ucapannya. Ia berpikir keras dalam diamnya sejak Arion dan Karina berdebat.
Menimbang keuntungan dan kerugian jika bertarung dan tidak bertarung. Elina akhirnya merasa bahwa dia adalah pengecut, jika melawan ibu hamil. Anak adalah karunia Tuhan, kehamilan adalah hal yang membahagiakan. Dunia gelap akan jadi putih jika hati dan pikiran dan komitmen selaras dengan kebaikan, berubah menjadi lebih baik.
Seperti tertera di atas, Elina tak meragukan kekuatan Karina, tetapi dia berandai-andai apabila terjadi hal buruk pada Karina, terlebih pada kandungan Karina. Bukan kata sepakat yang terucap, Elina khwatir dan lebih yakin bahwa kata perang yang terseru, andainya itu terjadi.
"Hmm … lantas dengan cara apa kau mau bergabung denganku, Elina? Kau bukan tipe orang yang mau bergabung secara cuma-cuma. Apa yang kau inginkan?"tanya Karina melangkah kembali duduk. Biarlah Arion sendiri dulu.
Biarlah Arion menenangkan pirikannya dulu. Arion sudah dewasa, selayaknya dia sudah mampu mengambil keputusan yang baik, membedakan mana yang baik dan buruk. Pertentangan dalam rumah tangga maupun organisasi itu wajar.
Biarlah Arion menyadari apa yang baru saja ia katakan pada Karina. Dari yang Karina pahami selama ini, Arion akan luruh dengan sendirinya apabila hati dan jiwanya merasa bersalah ataupun keliru.
Kini Karina kembali mendaratkan berat tubuhnya di kursi rotan tempat sebelumnya ia duduk. Elina tersenyum penuh makna.
"Kau paham juga diriku. Oke. Tanpa basa-basi aku akan ajukan syaratnya."sahut Elina santai, menenggak kembali arak di atas meja yang juga terbuat dari rotan.
Karina mengangguk dan memasang posisi pendengar yang baik.
"Lanjutkan."ujar Karina.
"Yang pertama, aku mau mengunjungi makan Enji dan bertemu dengan hewan kesayanganku yang kau comot tanpa izin. Kau mencurinya. Aku mohon kembalikan dia padaku."ucap Elina menyampaikan syarat pertamanya. Karina menaikkan satu alisnya.
"Untuk Miu, aku minta maaf, kau tahu sifatku bukan? Aku akan mengambil apa yang aku suka, suka atau tidak suka itu bukan urusanku. Pendeknya adalah jika Miu mau kembali denganmu akan ku kembalikan. Jika tidak ikhlaskan dia padaku. Dan masalah kau mau ziarah, aku tak masalah."jawab Karina tegas. Elina mengangguk kepalanya setelah berpikir sejenak.
"Ada syarat lain?"tanya Karina.
"Ada."Elina mengangguk membenarkan.
"Katakan."titah Karina tegas. Sesekali melirik jam tangannya. Sudah dua jam lebih mereka di sini. Artinya kini sudah pukul 04.30 subuh. Rasa lelah menjalar sekujut tubuh. Tetapi untunglah daya tahan tubuh Karina berbeda daripada orang lain.
Diam-diam Karina bersyukur pernah mengalami penculikan pada masa kecilnya.
Kala itu tubuh kecilnya dicekoki beragam cairan daya tahan tubuh baik sebagai percobaan maupun untuk menjaga daya tahan tubuh sebenarnya, hingga sangking banyaknya Karina trauma dengan jarum suntik hingga sekarang.
"Aku mau bawahanmu yang bernama Li itu tinggal dan menikah denganku. Dia harus tinggal di sini sampai aku hamil."ucap Elina yang membuat Karina membulatkan matanya. Walaupun bunga cinta yang masih berkecambah dapat Karina tangkap tetapi ia tetap saja terkejut karena ini menjadi salah satu syarat Elina.
Karina bahagia karena Li ada yang melamar, artinya Li hanya akan berhubungan dengan satu wanita yang halal, bukan dengan para wanita malam di luar sana. Tapi satu hal yang Karina tidak suka, setelah hamil lalu dibuang? Hello apakah di sini laki-laki hanya untuk penyumbang untuk membuat adonan janin? Nyatanya memang benar.
"Itu adalah hak Li. Bukan hakku. Jika dia setuju aku juga setuju. Ku lihat ada binar love di matamu untuknya. Akan tetapi aku tak setuju dan tak suka kau mencampakkannya setelah kau hamil. Aku mau peraturan itu berubah."tegas Karina, bergabung artinya menggabungkan sesuatu yang berlainan.
Bergabung, harus menyelaraskan peraturan, ide, visi dan misi, pemikiran dan yang pasti adalah satu hati, sebab hati adalah pangkal perubahan. Semua dimulai dari hati. Musuh menjadi cinta, benci menjadi cinta, cinta menjadi benci. Karena cinta seseorang berubah, semua berawal dari hati, bukankah cinta letaknya di hati?
"Peraturan adalah peraturan, tak bisa secepat itu diubah. Lagipula aku tak punya hak untuk itu. Ibuku masih pemegang adat tertinggi di sini. Aku memang ketua tetapi aku tak punya wawenang untuk merubah peraturan. Itu hanya bisa dirubah oleh pemangku adat."ujar Elina dengan senyum kecutnya.
Ia sudah berulang kali meminta ibunya untuk menghapus peraturan itu tetapi jawaban ibunya adalah kata tidak yang tegas tak terbantahkan. Dan yang paling penting adalah Elina tak pernah tahu siapa ayahnya. Nama, wajah dan foto pun tak pernah diungkap oleh ibunya.
Bukan berarti dia adalah anak haram hasil hubungan terlarang ataupun kejadian tak diinginkan. Ibu dan ayahnya adalah pasangan resmi, walaupun hanya tercatat dalam kelompok ini. Satu lagi, kelompok ini adalah kelompok yang tak percaya akan Tuhan, alias atheis.
Haluan hidup yang mereka gunakan adalah peraturan dan adat dari nenek mereka. Yang mana dimulai dari ibu dari ibunya.
"Aku tak paham susunan kelompokmu ini. Jika mau bergabung lebih baik kau panggil saja ibumu itu bergabung dengan kita. Agar semuanya selaras untuk menghindari perpecahan dan pertikaian di masa yang akan mendatang."saran Karina. Elina menimang saran Karina.
__ADS_1
"Ibuku sedang berada di ruangan barat. Untuk saat ini aku tak bisa memanggil ataupun menemuinya. Ia sedang melakukan pelatihan tertutup selama satu minggu dan baru berakhir pukul 18.00 nanti."terang Elina pada Karina. Karina mendengus kesal dan menghela nafas.
Setelah diam beberapa saat, mereka kembali mengajukan syarat. Baik Karina maupun Elina memberikan syarat. Menurut mereka lebih baik mereka lanjut membahas daripada harus terhenti karena satu syarat yang belum ada titik terangnya. Lebih baik membahas yang bisa dipenuhi lebih dulu.
***
Li dan Gerry dan dua lainnya memerah geram menatap Arion yang ngedumel buruk tentang Karina. Kata-kata Arion menusuk dan menyakiti hati mereka. Bagaimana tidak? Malaikat tak bersayap yang berjasa pada mereka kini dicap wanita gila kekuasaan, rela melakukan apapun termasuk mengorbankan keselamatan bayi dalam kandungan.
Wanita gila, tak menghargai suami, bar-bar dan selalu mengeluarkan aura intimidasi jika keinginannya tak dipenuhi.
Itulah segelintir kalimat gerutuan Arion.
"Sudah selesai kau berkoar hah?"geram Gerry dengan nafas memburunya. Arion langsung berhenti mengomel setelah merasakan aura membunuh yang kental di belakang tubuhnya.
"Kau bodoh. Mengapa Karina bisa mendapat suami sepertimu? Karina bukan wanita gila kekuasaan, tetapi semua yang kau katakan memang ada benarnya. Karina memang punya penyakit jiwa. Dia memang bar-bar dan suka mengintimidasi orang. Tetapi apakah kau tahu alasan di balik itu hah?"sarkas Li memegang kerah baju Arion. Andai saja bukan suami tercinta Queen mereka pasti kini Arion tinggal raga tanpa nyawa. Arion mundur selangkah dengan Li yang masih memegang kerah bajunya. Ia menatap Li meminta penjelasan.
Karina penderita penyakit jiwa? Istrinya adalah gila? Tapi … karakter Karina tak menunjukkan kondisi itu. Dingin dan santai. Hanya emosional di beberapa kondisi.
"Dia juga psiskopat."timpal Satya yang membuat Arion semakin membeku. Li menghempaskan kerah baju Arion mendorongnya mundur beberapa langkah dan pergi sedikit menjauh. Menetralkan emosi yang masih membumbung tinggi.
Gila, psiskopat, bar-bar? Lengkap sekali.batin Arion.
"Kau hanya mengenalnya kurang dari delapan bulan. Tapi apa kau tahu apa yang dia lalui selama lebih kurang 24 tahun ini? Apa kau tahu riwayat hidupnya? Arion Wijaya, kau pintar tapi kau bodoh. Kau cerdas tetapi kau picik."timpal Rian
"Apa maksudmu istriku memiliki penyakit jiwa hah? Jawab aku Li."seru Arion mengejar Li. Meminta jawaban. Tapi Li tidak menggubris itu. Lebih memilih meninggalkan halaman menuju mobil.
"Dia memang gila. Tetapi sudah mulai membaik. Gejalanya hanya kambung dalam waktu satu tahun sekali. Jika ia memiliki banyak tekanan waktu kambuhnya bisa bertambah menjadi dua atau tiga kali dalam setahun."Satya menjawab pertanyaan Arion dengan tegas. Lutut Arion lemas. Tak percaya jika bukan Karina sendiri yang mengucapkannya.
Tapi, satu hal lagi yang membuat Arion berkecamuk. Mengapa Karina tak kunjung keluar mengejarnya? Berharap boleh kan?
"Tuan, ketidakpercayaanmu adalah kekalahan bagi Queen."ujar Rian datar. Ia ikut melangkahkan kakinya menyusul Li. Tinggallah Gerry dan Satya. Gerry menghembuskan nafas kasar. Kemudian mendekati Arion dan menepuk pundaknya.
"Kau merenunglah dulu. Apa yang Karina katakan pada saat mengajakmu dalam kegiatan kali ini, ingat kembali. Karina melakukan hal itu karena rasa keinginan melindungi yang kuat. Dia sudah kehilangan banyak orang yang ia sayangi karena ia merasa lemah.
Untuk itu, dia mulai menghimpun kekuatan dan kekuasaan untuk melindungi semua yang berada dalam genggamannya."ucap Gerry. Emosi Gerry mulai menurun, mencoba mendinginkan kepalanya.
"Jika dia berkata dia bisa maka dia pasti bisa. Cukup kita percaya padanya maka itu akan menjadi kekuatan terbesar baginya. Jika kita meragukannya maka itu adalah tamparan batin dan kekalahan telaknya sebelum bertarung."tambah Satya.
Gerry melangkah menuju bangku kayu yang tersedia di sana. Duduk menunggu Karina selesai berurusan dengan Elina. Sedang pasukan elit kini duduk beralaskan tanah dengan meluruskan kaki mereka ke depan. Kondisinya lebih mirip rehat sehabis latihan LKBB. Pasuka Cinnamon juga melakukan hal yang sama.
Arion merenung. Mengingat segalanya. Sedikit demi sedikit menelaah ucapan bawahan Karina. Ia bersandar pada pohon kayu manis yang terletak setengah meter darinya. Satya menghampiri Gerry dan ikut duduk. Membiarkan Arion merenung.
***
"Aku tunggu kehadiranmu dan ibumu serta Jenderal Amoymu itu di markas utama Pedang Biru besok pukul 14.00. Untuk melanjutkan pembicaraan dan beberapa poin syarat yang belum terselesaikan."ucap Karina tegas menjabat tangan Elina.
"Baik. Saya akan berusaha tepat waktu untuk itu. Terima kasih atas kelapangan hati Anda. Semoga rencana bergabungnya kita ini dapat terlaksana dengan lancar."harap Elina. Tersenyum penuh arti pada Karina.
"Hmm … itu tergantung pada ibu Anda. Semoga ibu Anda dapat berdamai dengan masa lalunya. Oh ya. Bawalah dan gunakan cincin ini saat kau ke markasku nanti. Ini adalah lambang bahwa kau adalah kawan bukan lawan."ucap Karina mengeluarkan sebuah cincin dengan permata berbentuk bunga mawar. Elina menerimanya sedikit ragu.
"Pakailah. Jika tidak kau akan dianggap musuh nanti."imbuh Karina menyakinkan Elina. Elina menyematkan cincin itu pada telunjuk kanannya. Pas sekali di jemarinya itu.
__ADS_1
"Cantik."gumam Elina kagum dengan ukiran mawar biru itu.
"Kalau begitu aku pamit. Oh ya aku ada hadiah untukmu. Anggap saja hadiah kenang-kenangan pertemuan ini."ujar Karina. Merangkul Elina dengan gaya santainya dan mengajak Elina keluar. Elina mengikut dengan agak canggung. Belum ada yang pernah merangkulnya seperti ini.
"Li kau di mana?"tanya Karina melalui earphone.
"Saya di mobil Queen. Ada apa?"tanya Li menyahut Karina.
"Bawakah apa yang telah aku persiapkan untuk mereka. Kau kan dekat, jadi kau saja yang mengatakan pada sopir yang membawanya."ucap Karina.
"Baik Queen."jawab Li. Karina mengakhiri panggilannya.
"Apa yang kau persiapkan untuk kami? Kau mau membuat markasku menjadi kembang api?"tanya selidik Elina. Karina diam saja tak menjawab.
Kini dia dan Elina sudah berada di tengah-tengah pasukan elit dan Cinnamon. Karina melepaskan rangkulannya.
Arion dengan langkah gusar nan lemahnya menghampiri Karina dan memeluknya langsung tanpa aba-aba. Gerry dan Satya menghampiri Karina dengan wajah santai mereka. Percaya saja apa yang Karina lakukan.
Karina membeku. Namun, cuma sesaat. Hatinya menghangat. Ia membalas pelukan Arion. Elina menjauh mendekati Amoy. Memberitahu garis besar pembicaraan agar Amoy dan lainnya tak mati penasaran. Bisa gawat nantinya.
"Maaf."ujar lirik Arion menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Karina.
Sebenarnya Karina jengah dengan kata maaf setiap kali Arion melakukan kesalahan. Bukan ini bukan kesalahan melainkan pemikiran sepihak.
"Hmm … aku juga minta maaf. Aku egois, jarang sekali mendengarkanmu. Kamu benar. Surgaku ada padamu."balas Karina.
Arion melepas pelukannya dan menatap Karina. Tatapannya bercampur, iba, merasa bersalah, sedih dan tak percaya. Karina mengeryit heran dengan itu. Tatapan kasihan yang paling ia tak suka Arion tunjukkan.
Apa Li, Gerry, Rian dan Satya mengatakan sesuatu tentang tentang masa laluku?batin Karina bertanya.
"Tolong jangan tunjukkan tatapan itu. Please."pinta Karina penuh harap. Arion mengerjapkan matanya dan mengangguk. Sekali lagi ia memeluk Karina.
"Queen."panggil Li pelan. Karina melepaskan diri dari Arion dan menoleh ke arah Li.
"Semua sudah kami turunkan. Apakah kita kembali sekarang?"tanya Li melapor.
Elina tampak heran dengan tumpukan senjata dan amunisi di depan mereka kini. Elina yakin itu senjata kelas atas.
"Ini? Maksudnya apa?"tanya Elina bingung.
Karina mengalihkan pandangannya kepada Elina.
"Ini adalah apa kau tanyakan sebelumnya."jawab Karina. Mata Elina berbinar seketika. Kelompok ini adalah pecinta senjata. Mereka bisa melakukan apapun demi sebuah senjata terbaik.
"Benarkah?"tanya Elina memastikan. Tangannya bergerak sendiri ingin menyentuh senjata-senjata itu.
"Ya."jawab singkat Karina. Kali ini Arion tak protes. Mengikuti saja alurnya.
"Kalau begitu kami pamit. Ku tunggu kehadiranmu."Karina berpamitan. Elina mengangguk. Para pasukan elit berdiri dan berjabat tangan dengan pasukan Cinnamon. Awal tanda jadi.
Li, Gerry dan Lainnya berjabat tangan dengan Elina dan Amoy, tak terkecuali Arion. Li dan Elina cukup lama berjabat tangan dengan wajah saling bertatapan. Hingga deheman Karinalah yang menyadarkan mereka.
__ADS_1
Selepas acara berpamitan, Karina dan lainnya segera menuju mobil. Langit gelap mulai memudar. Udara dingin masih terasa. Satu persatu mobil mulai bergerak meninggalkan markas Cinnamon ditemani lambain tangan tangan Elina dan lainnya.
Waktu menunjukkan pukul 05.40, satu jam kemudian, Karina diikuti mobil bawahannya membelokkan mobilnya masuk ke dalam Tirta Hotel untuk beristirahat. Ia lelah dan lainnya juga lelah. Waktunya tidur di kala orang lain bangun. Tak apalah jadi kalelawar sesekali.