Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 336


__ADS_3

Rian menghela nafas kasar sebelum membuka pintu lebar di hadapannya yang diukir dengan hiasan khas Yunani. Rian menggeleng pelan, menurunkan kedua tangan dari gagang pintu. Rian berbalik, duduk di tepi ranjang dengan raut wajah frustasi.


Rian mengedarkan pandangannya sekali lagi ke seluruh sudut kamar ini. Kamar dengan nuansa dominan warna coklat. Jendela lebar, ranjang dengan kelambu mirip dengan kamar pangeran. Lampu hias yang dipasang di tengah langit-langit kamar. Ada perapian juga.


Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus segera menyelesaikannya. 


Kini Rian tidak berada di kamar hotel melainkan salah satu kamar tamu di kediaman Abraxas.


Kediaman ini mirip sebuah kastil dengan arsitektur campuran klasik dan modern. Tapi lebih dominan klasik. 


Awal muka Rian pindah adalah ide Rian sendiri. Rian berpikir lebih muda menghancurkan sesuatu dari dalam, langsung masuk ke sarang, bukan di luar sarang.


Awalnya Abraxas menolak. Pria itu tidak ingin Rian terancam dengan ibunya yang sangat waspada terhadap orang baru, kejam jika sudah menyiksa.


Tapi dengan bujuk rayu Rian serta kepandaian Rian mengolah kata serta sedikit ancaman membuat Abraxas luluh. 


Memang benar kata Abraxas. Ibunya memang sangat waspada. Saat Rian pertama kali menginjakkan kaki di kastil, sorot mata ibunya Abraxas seakan menelanjangi serta mengulitinya.


Rian yang sedang akting langsung saja bersembunyi di balik badan Abraxas dengan raut wajah ketakutan. Abraxas menjelaskan dan meminta pada ibunya untuk mengizinkan Rian tinggal di kastil ini.


Wanita tua itu cukup berbahaya. Aku harus segera menyingkirkannya.


Rian memijat pelan pelipisnya kemudian merebahkan tubuh di atas ranjang. Membuat rencana. 


Saat Rian tengah berpikir keras, pintu kamarnya diketuk diikuti suara yang sudah familiar di telinga Rian.


"Luca apa kau sudah bangun?"


Abraxas. Pria itu yang mengetuk pintu. Rian mengesah pelan. Ia mulai muak dengan tingkah manja Abraxas padanya.


Cium tangan dan pelukan tangan saja Rian harus mandi sangat lama, semoga saja tidak ada cium pipi apalagi bibir. Rian merasa merinding sembari memegang pipinya.


"Luca are you okay?"


Suara Abraxas terdengar khawatir karena Rian tidak menjawab.


"Ya. Aku sudah bangun, tunggulah sebentar," sahut Rian. Duduk lalu berdiri, melangkah untuk membuka pintu.


Abraxas melambaikan tangan menyapa Rian lengkap dengan senyum yang menunjukkan dua lesung pipinya.


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak kan?"


Abraxas langsung berubah menjadi kelinci, menatap Rian dengan mata penasaran.


"Ya. Tidurku sangat nyenyak sampai-sampai aku bangun kesiangan," jawab Rian tersenyum.


"Baguslah. Kalau begitu mari kita sarapan. Ini pagi pertamamu di kediamanku. Aku akan membawaku untuk tur," seru Abraxas dengan riangnya.


"Tur? Aku rasa tidak perlu," tolak Rian.


"Kenapa? Kediamanku tidak bagus?"tanya Abraxas dengan mata menunduk sedih.


"Ah bukan begitu."


Rian menggeleng.


"Aku lelah, Axas. Kediaman ini sangat lebar. Aku juga takut dengan orang-orangmu terutama ibumu. Dia sangat galak," jelas Rian, menyentuh pundak Abraxas.


Abraxas menoleh ke pundaknya.


"Kau lelah? Apa karena kencan kemarin?"


Dengan nada polos dan bersalah. Rian hampir tersedak, ia batuk kecil dan memalingkan wajah ke arah lain.


Wajahnya memerah, bukan karena malu tapi kesal.


"Iya. Aku lelah karena kencan kita kemarin."


"Baiklah. Kau beristirahat saja. Aku akan menyuruh pelayan mengantar sarapan untukmu. Tapi apakah kau ada waktu nanti siang? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," putus Abraxas tidak tega dengan Rian yang menunjukkan wajah lelah.


Abraxas memegang kedua tangan Rian, membawanya ke pipinya. Menatap Rian penuh harap. 


"Hm. Terima kasih."


Rian setuju. Menyusun rencana harus di luar sarang. Di dalam sarang tinggal menjalankan rencana.


"Terima kasih," ujar Abraxas senang, melepas tangan Rian kemudian berbalik dan berjalan menjauh. 


Rian menatap kepergian Abraxas dengan wajah datar. Kelopak matanya mengerjap perlahan. 


Setelah punggung Abraxas menghilang dari penglihatannya barulah Rian kembali masuk ke dalam kamar.


*


*


*

__ADS_1


Dengan mengendarai sedan toyota berwarna hitam, Rian bersama dengan Abraxas meninggalkan kastil menuju tempat tujuan Abraxas. Di  belakang mobil mereka mengikut sebuah mobil toyota sport berwarna hitam juga. 


Karena kehadiran Rian serta kewaspadaan tingkat tinggi ibunya Abraxas, pengawalan dan pengawasan terhadap Abraxas diperketat.


Abraxas sempat menolak dan berdebat dengan ibunya. Ia ingin pergi berdua dengan Abraxas tanpa terganggu dengan sorot mata tajam para pengawalnya. 


Tapi pada akhirnya Abraxas menerima keputusan sang ibu atas permintaan Rian. Menolak musuh terang-terangan di dalam sarang bisa menyebabkan masalah.


Ternyata Abraxas mengajak Rian ke sebuah butik mewah.


"Ayo," ujar Abraxas seraya membuka sabuk pengaman.


Rian yang penasaran mengangguk, membuka sabuk pengaman kemudian turun.


Dengan santai, Abraxas menggandeng lengan Rian masuk ke dalam butik. Rian menunjukan wajah enggannya sekilas kemudian tersenyum lebar mengingat ada pengawal di belakangnya.


Abraxas membawa Rian ke jajaran dress elegan nan mewah. 


"Axas, kau memilih dress untuk siapa? Apa kau juga transgender?"tanya Rian to the point. 


Abraxas menatap Rian dengan mata kaget, ia kemudian tertawa.


"Tidak. Aku bukan transgender. Aku hanya punya kelainan seksual. Dress ini untuk ibuku. Besok adalah hari ulang tahunnya. Aku sebagai anak satu-satunya harus memberikannya hadiah. Hah … aku sedih karena semua saudaraku meninggal," papar Abraxas, raut wajahnya sendu.


"Andai saja mereka masih hidup aku tidak perlu menanggung tanggung jawab sebagai ketua," ujar Abraxas lesu.


Rian menepuk pelan pundak Abraxas.


"Kau hebat bisa menanggung beban sebagai ketua. Aku bangga padamu."


Mata Abraxas melebar, ia mengangguk pelan kemudian memeluk Rian. Rian merasa kaku sesaat, membalas pelukan Abraxas.


"Ibuku menyukai warna putih. Bantu aku memilih barang-barang bagus di sini yang berwarna putih," pinta Abraxas.


Rian mengangguk.


"Aku akan memilih tas di sana," ujar Rian menunjuk jajaran tas.


"Baiklah," jawab Abraxas.


Rian melangkah menuju jajaran tas. Selama memilih, otak Rian merancang rencana untuk menyingkirkan ibunya Abraxas.


Ide pokoknya sudah dapat tinggal merangkai kerangka rencana. 


Rian tersenyum tipis saat semua kerangka rencana  telah selesai. Rian mengambil tas berwarna putih yang menurutnya bagus. 


Suka warna putih? Aku tahu hadiah ulang tahun yang cocok untukmu!


*


*


*


Selesai berbelanja, Rian langsung mengajak Abraxas pulang. Dengan membawa belanjaan mereka berupa dress, high heels, tas, serta aksesoris berupa jepit rambut dan sebuah kalung berwarna perak. 


"Axas, aku ada rencana untuk menggulingkan ibumu," ujar Rian dalam perjalanan pulang. 


Abraxas menoleh sekilas.


"Apa rencananya?"tanyanya penasaran.


"Aku akan memberitahumu nanti. Sekarang aku butuh jawabanmu, kau mau atau tidak?"tegas Rian.


"Sepertinya itu rencana yang sangat hebat. Baiklah aku setuju. Aku lelah menjadi boneka. Aku ingin lepas dari belenggu ini. Aku ingin kembali terbang seperti burung elang. Luca, setelah aku lepas nanti, kau mau kan pergi denganku?"


Rian diam tidak langsung menjawab. Abraxas membiarkan Rian berpikir matang-matang dulu. Dengan lembut, Abraxas meraih jemari Rian, membawanya ke dekat bibir, memberi kecupan hangat di sana.


Rian tersentak pelan. Menatap Abraxas dengan wajah memerah, kesal bukan malu.


"Hm," sahut singkat Rian.


"Malam ini aku akan memasukkan orang-orangku ke dalam kastilmu," ucap Rian serius.


"Orang-orangmu?"


Mata Abraxas menyipit, curiga sedikit dengan Rian.


"Apa kau lupa, aku ini pernah menjadi mafia. Wajarkan bagiku memiliki bawahan?"


Rian menaikkan satu alisnya seraya tersenyum.


"Benar juga. Aku lupa. Maaf mencurigaimu," sesal Abraxas.


"Hm kau tidak mempercayai diriku seutuhnya," gerutu Rian membuang muka.


Abraxas menatap Rian dengan wajah panik.

__ADS_1


"Aku kecewa," imbuh Rian yang membuat Abraxas menginjak rem mobil mendadak. 


Uh


Rian mengeluh sakit saat kepalanya membentur dashboard mobil. 


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka," ucap Abraxas menyesal, membuka sabuk pengamannya.


Sakit sialan!umpat Rian menunjukan wajah geramnya saat menunduk.


"Luca," cemas Abraxas melihat Rian yang masih menunduk dengan memegang dahi. 


Rian tanpa sadar menoleh dan memberikan tatapan tajamnya. Abraxas terkesiap. Menelan ludah gugup. 


Saat hendak menyentuh pundak Rian untuk meminta maaf, kaca mobil Abraxas diketuk oleh pengawal yang khawatir dengan ketuanya.


Abraxas menurunkan kaca mobil.


"Tidak ada apa-apa. Aku baik- baik saja. Kembalilah," ucap Abraxas.


"Baik, Ketua."


Abraxas kembali menoleh pada Rian. Tatapan Rian sudah berubah menjadi merasa kesakitan. Mengusap memar di pelipis.


"Kalau kau tidak percaya padaku, lebih baik aku pergi," ucap Rian dingin bersiap membuka sabuk pengaman.


"Tidak!"


Abraxas menahan tangan Rian dengan wajah pias. 


"Jangan! Jangan pergi! Maafkan aku!"seru Abraxas.


"Apa alasanku tinggal jika kepercayaan itu tidak ada? Lebih baik aku pergi," ucap dingin Rian.


"Tidak. Jangan tinggalkan aku. Aku sungguh menyesal. Luca kau bisa memegang janjiku ini," tolak Abraxas menatap Rian dengan wajah memelas.


"Janji apa?"tanya Rian.


"Aku berjanji mulai saat ini aku adalah milikmu. Aku berjanji tidak akan mencurigaimu, tidak akan menghianatimu, aku akan mengikuti semua ucapanmu, aku akan setia padamu. Aku mencintaimu," ucap Abraxas dengan penuh kesungguhan.


Rian tertegun. Jika ungkapan cinta itu antara pria dan wanita, atau antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita  yang saling mencintai itu tidak masalah.


Cinta? Aku benar-benar berhasil memikat pria. Oh Tuhan aku mohon bantu aku menahan emosiku yang menggebu.


Rian menenangkan hatinya yang bergejolak emosi yang diekspresikan dengan wajah datar.


"Kau benar-benar berjanji bukan?"


Rian memastikan.


"Iya. Aku berjanji dengan nyawaku sebagai taruhannya," jawab mantap Abraxas.


"Baiklah. Aku akan tetap di sini bersama denganmu. Ku minta jangan pernah mencurigai diriku lagi. Aku melakukan ini semua untuk kebahagian kita, Axas. Saranghae," putus Rian, tersenyum lebar.


"Sa-sarang-saranghae?"


Abraxas tidak mengerti dengan arti kata tersebut.


"I love you too," jelas Rian.


Apa yang aku katakan? Dasar gila kau Rian! Hilang sudah harga diriku yang tinggi. Awas saja kalian berdua!


Rian mengumpat dalam hati. 


Mata Abraxas melebar sempurna. Wajah bahagia serta senyum lebar terlibat jelas di wajah Abraxas. Akhirnya setelah sekian lama Abraxas memiliki tambatan hati lagi.


"Terima kasih, Luca."


Abraxas memegang kedua pipi Rian, dengan lembut mengecup luka memar Rian. 


Dahi suciku sudah ternoda, ringis Rian dalam hati.


Rian memejamkan mata dengan telapak tangan mengepal erat.


"Ayo kita kembali ke kastil," ucap Rian.


"Baiklah."


Rian segera memalingkan wajah ketika mendapati gelagat Abraxas yang ingin mencium bibirnya. Cukup sudah dahinya yang disentuh oleh bibir Abraxas tidak dengan bagian lainnya.


Abraxas hanya tersebut melihat penolakan halus Rian.


"Maaf," ujar Abraxas, kembali memasang sabuk pengaman dan melanjutkan perjalanan pulang.


Rian juga memakai kembali sabuk pengamannya, menatap jalanan dengan wajah datar.


Akhirnya … misi ini akan segera selesai, batin Rian tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2