Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 215


__ADS_3

Selepas magrib, Karina telah bersiap dengan gayanya untuk menghadiri resepsi pernikahan Siska dan Ferry. Tak lupa, sebuah kotak berukuran kecil sebagai kado ia masukkan ke dalam tasnya. Tas dengan brand ternama melengkapi penampilannya. 


Dress dengan tangan sesiku dan di bawah lutut, ditambah rambut tergerai dan make up tipis dan natural, Karina menuruni tangga menuju lantai dasar. Gesekan antara alas kaki dan anak tangga menjadi musik pengiring.


Setibanya di depan pintu rumah, mobil dengan pintu terbuka sudah menyambut dirinya. Karina segera masuk, Pak Anton menutupkan pintu untuk majikannya. Kemudian segera masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobil menuju gedung resepsi.


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, mobil yang Pak Anton kemudikan memasuki halaman gedung resepsi dan berhenti di lobby. Ternyata Arion sudah tiba duluan dan menunggu Karina, Arion membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta. 


Karina tersenyum dan menyalami sang suami. Arion mencium kening Karina. Mereka segera memasuki gedung resepsi. Karpet merah terbentang sebagai jalan. Karina mengedarkan pandangannya. Tatapan semua tamu, kini mengarah padanya dan Arion. Karina dan Arion sama-sama tersenyum tipis dan melambaikan tangan menyapa.


"Kakak ipar, lama tidak berjumpa," sapa seseorang dan itu adalah Sam dengan sang istri. 


"Oh hai, kau gendutan ya?" sahut Karina.


Sam terkekeh. 


"Mana ada, naik sekilo saja. Itupun karena keinginan anakku ini," ucap malu Sam, menggaruk kepalanya. Lila tersenyum dan menyapa Karina. Karina mengangguk sebagai jawaban.


"Baguslah. Agar kamu tidak terbang seperti layangan diterpa angin kencang," ucap Arion, dengan gaya cueknya dan segera menggandeng Karina mencari Amri dan Maria yang telah tiba duluan. Sam memutar bola matanya kesal.


"Dia itu meledek saja tahunya," kesal Sam. 


Ternyata meja orang tua Arion dan kedua sahabatnya saling berdekatan.


"Sudah datang? Ayo duduk," ujar Maria, menepuk kursi di dekatnya, menyuruh Karina duduk di sampingnya.


"Iya Ma," jawab Karina dan Arion serentak. Amri menggendong Alia yang sepertinya tertidur padahal suasana ramai. 


"Berapa hari tidak jumpa, perutmu sudah tambah besar Karina," ujar Maria. Karina hanya tersenyum. Arion mengobrol dengan berbeda meja dengan Sam dan Calvin. Sedangkan istri mereka berdua, bergabung dengan Karina.


"Hei Ar, apa kamu sudah tahu MHZ mengeluarkan produk baru hari ini?" tanya Calvin, seraya meminum winenya.


Arion menatap Sam dengan menggoyangkan gelas minumannya dan mengangguk.


"Tentu. Tadi siang mereka merilisnya. Tapi setahuku, semua senjata yang dikeluarkan dibeli habis oleh orang misterius, dengar-dengar sih seorang wanita dan tidak terkenal juga di dunia bawah," jawab Arion.


Calvin menganggukkan kepalanya. 


"Ar, apa guncangan hebat pada Aditya Company, kalian berdua penyebabnya?" tanya Sam dengan tatapan menyelidiknya. Arion tersenyum tipis dan melirik Sam.


"Suruh siapa, anaknya itu menggoda istriku! Dan satu keluar, semuamu keluarga. Keluarga yang malang," ucap Arion santai. 


"Aneh! Sudah dijatuhkan malah dibangunkan. Kalian memang pasangan yang aneh," komentar Calvin menggelengkan kepalanya.


"Bukan aneh, tapi unik," ralat Arion. Berdiri dan menghampiri sang istri.


"Makan dulu yuk, waktunya adek makan," bisik Arion.


Karina mengangguk. Karina izin dan berganti duduk di meja yang Calvin dan Raina tempati tadi. Arion berserta dua sahabatnya mengikut. Dan sepiring berduapun jadi tujuannya. 


Arion menyuapi Karina dengan penuh kasih, tak peduli ini tempat umum. Saat sedang asyik makan, ada yang menyapa mereka berdua. Karina menoleh, ternyata Mira. Wanita itu tampil anggun dengan long dress berwarna biru muda dan rambut disanggul dan polesan make up yang tepat. 


"Kau hadir juga Mira?" heran Karina.


"Ya tentu," jawab Mira, meminta izin untuk duduk satu meja dengan mereka. 


"Silahkan," ujar Arion. Mira segera duduk. Ia menatap lekat, perlakuan manis dan romantis pasangan di depannya ini.


Sebenarnya sudah biasa baginya, sebagai seorang dokter kandungan, hal biasa baginya melihat kemesraan pasangan suami dan istri. Akan tetapi, itu membuat hatinya menjerit sedih, dan dia tidak bisa berhenti dari pekerjaannya. Sebisa mungkin, Mira memanipulasi emosinya.


"Nyonya, jangan lupa tiga hari lagi kontrol, kehamilan Anda sudah memasuki bulan ke lima dan saya rasa Anda jangan terlalu lelah. Saya perhatikan, kegiatan Anda masih padat," ujar Mira, dengan sopan dan santun. Karina sembari menguyah menatap Mira.


"Ya kau benar, tapi percayalah, tubuhku berbeda dengan tubuh orang lain," ujar Karina, setelah makanan di mulutnya ia telan.


"Semakin dilarang, maka akan semakin ia langgar. Dokter, apa saya harus mengikat istri saya biar menurut?" tanya Arion, pura-pura kesal dengan Karina. Karina melirik datar. Mira malah tertawa.


"Tidak seperti itu juga Tuan. Pelukan dan cinta kasih adalah obat terbaik. Dan saya percaya pada Nyonya Karina, saya sebagai dokter beliau, hanya menjalankan tugas untuk memberi peringatan," jelas Mira.


"Hm." Arion mengguman dan lanjut menyuapi Karina.


Karina mengelap bibirnya dengan tisu setelah menyelesaikan makan malamnya. Arion pun melakukan hal yang sama. Saat Mira hendak beranjak, ada yang kembali menyapa Karina. Dan itu adalah Li, Elina diikuti Gerry.


Ketiga orang itu menunduk hormat pada Karina. Karina mengangguk. Gerry yang semula acuh, membeku dengan adanya Mira di sampingnya. Begitupun Mira, membelakan matanya melihat Gerry, dan ia baru tahu bahwa Gerry adalah orang Karina. Jika Li dan Elina, ia tahu, sebab mereka berdua juga pasiennya.


"Kamu," ucap keduanya bersamaan saling tunjuk. Keempat orang lainnya saling pandang. Gerry mengedarkan pandangannya. Mira mengejap. Dan debaran aneh mendera dirinya. Rasa senang melingkupi hati Gerry.


"Kau kenal dengan Mira, Gerry?" tanya Karina menyelidik. Gerry menggeleng. Dalam hati, berteriak senang. Akhirnya ia tahu nama Mira.


"Jadi?" desak Karina.


"Kami tak sengaja bertemu saat di pelabuhan. Selendangnya hinggap di wajahku. Dan saat ku tanya namanya, dia tidak menjawab. Dialah wanita yang membuatku jatuh hati dan patah hati bersamaan," tutur Gerry jujur, tak melepas pandangannya dari Mira yang menunduk malu.


"Oh, Mira setahuku single," ucap Karina, membuat Gerry membelakan matanya. Mira segera izin undur diri dan menghilang keramaian. Gerry hendak mengejar, namun ditahan oleh Karina.


"Queen, Anda tahu identitasnya?" tanya Gerry penasaran dan tak sabar.


"Ya, dia single tapi menyandang status janda," jawab Karina. Mengajak Arion untuk menyapa pengantin yang duduk bersanding di pelaminan. 


Gerry tidak bisa menahan, apalagi lirikan tajam Arion ditambah Karina. Gerry duduk lemas di kursi. Li dan Elina saling tatap. Li menepuk pundak Gerry.

__ADS_1


"Mengapa kau bersedih? Bukankah dia single? Aku rasa tak ada salahnya mau mengejarnya," saran Li. 


"Ya aku tahu, tapi aku mau dapat yang masih disegel. Kan lucu aku masih perjaka, menikah dengan janda muda. Dan dari tatapan matanya, dia masih mencintai suaminya. Sangat dalam," ujar lesu Gerry. 


Plak!


Elina yang kesal dengan ucapan Gerry langsung memukul keras bahu Gerry.


"Kau itu mau dapat hati dan cinta apa darah hah? Kau itu mau tubuh apa cinta dunia akhirat? Dan setahu juga, kalian satu keyakinan," ketus Elina.


Gerry termenung. Li dan Elina memilih untuk menuju bagian hidangan dan makan. 


 Sedangkan di pelaminan, juru foto sibuk mengambil gambar pengantin dengan Karina, Arion, Sam, Lila, Raina dan Calvin. Senyum merekah mereka tunjukkan kecuali Karina yang tersenyum tipis.


Setelah sesi foto selesai, Karina mengeluarkan kado yang ia persiapkan dan memberikannya pada Siska. Siska meresa tak percaya mendapat hadiah dari sang Bos. Dengan hormat ia menerima dan meminta izin untuk membukanya.


"Jam tangan couple?" gumam Ferry.


"Ya, aku rasa itu hadiah yang tepat," jawab Karina.


"Ini keluaran terbaru, dan limited edision," seru takjub Sam.


"Terima kasih Nyonya," ujar Ferry dan Siska bersamaan.


Arion pun turut memberikan hadiah, paket liburan bulan madu selama dua malam tiga hari Arion berikan. Kedua pasangan itu terlonjak senang.


"Bermalam pertamalah di pesawat," ujar Arion, membuat pengantin baru itu tersipu dan mengangguk samar.


Karina dan lainnya tertawa renyah. Mereka segera turun pelaminan. Karina melihat jam tangannya. Dan mengajak Arion untuk salat di tempat yang disediakan. Arion mengangguk dan mengajak kedua sahabat beserta istri mereka. Amri dan Maria bergantian, sebab menjaga Alia. 


*


*


*


Mira melajukan mobilnya arah pulang dengan kecepatan sedang dan hati tak karuan. Ingatannya mengarah pada mimpi dan pertemuan di pelabuhan.


"Mas, apa dia pria yang kamu pilih untuk menggantikanmu di sisiku?" tanya Mira lirik, dijawab deru mobil di jalanan.


"Tapi, apa dia mau denganku ini?" pikir Mira lagi. 


Entahlah, dari banyanya pria yang ia jumpai, hanya pada Gerrylah jantung dan perasaan familiar seperti ia dan suaminya dulu terasa. Berdebar. 


*


*


*


Karina memejamkan matanya istirahat dan bersandar pada pundak Arion. Arion menutupi pundak Karina dengan jasnya.


"MHZ, MUSNAH!" Arion terkaget dengan desisan Karina dengan mata terpejam.


Arion mengeryit dan menduga.


Karina terbangun saat handphonenya berbunyi. 


Karina segera mengambil dan melihat handphonenya. Wajahnya terlihat puas membaca laporan dan melihat foto yang ikut disertakan. Arion menilik, matanya membulat melihat foto luar biasa. Perintah Karina benar-benar dijalankan oleh orangnya. 


"Yang," panggil Arion. Karina menoleh.


"Ada masalah apa kamu dengan MHZ?" tanya Arion ragu. Karina diam tak lama menghela nafas panjang.


"Mereka mengeluarkan produk yang seharusnya akulah yang mengeluarkannya, tapi bukan apa, semua akan tuntas saat fajar datang," jawab Karina dengan senyum smirknya.


"Oh, tapi bukan kamu kan yang turun? Jika iya, aku tidak mengizinkanmu," ujar tegas Arion melarang Karina.


"Untuk mereka, buat apa aku turun tangan? Cukup Li, Gerry ditambah dia sudah bisa untuk menuntaskan mereka," jawab Karina santai.


"Dia? Siapa dia?" Arion penasaran dengan dia, dan menerka bahwa pelaku dari foto-foto yang dikirimkan pada Karina adalah perbuatan sih dia.


"Dia? Seorang wanita, berambut seperti dora, wajahnya garang. Bernama Amber. Dia lebih mirip pria ketimbang wanita," papar Karina.


"Ingatkan aku jika bertemu dengannya. Agar aku tak salah nama dan memanggilnya Ember," ujar Arion.


Karina terkekeh dan memukul bahu Arion pelan. Arion mendekap Karina dalam pelukannya dan mencium pucuk rambutnya.


*


*


*


"Hehehe, tinggal tunggu dua pria itu maka aku bisa lanjut tidur," tawa seorang wanita dengan ciri-ciri yang Karina ucapkan pada Arion. Ia baru saja mengeksekusi beberapa orang yang berkaitan dengan pembicaraannya tadi dengan sang pimpinan.


"Ckck, darah-darah segar ini membuatku bergairah. Apa aku cari pelampiasan dulu ya? Hm, tak ada salahnya. Aku ke bar saja," pikir Amber, menuju motornya dan melaju menuju lokasi yang ingin ia datangi.


*

__ADS_1


*


*


Waktu menunjukkan pukul 23.00, Karina tidak bisa tertidur. Arion khawatir dan langsung bertanya. 


Karina bangun dan melangkah menuju balkon. Arion mengikut dengan menarik selimut dan menyelimuti Karina yang duduk di kursi.


"Nyanyikan aku sebuah lagu, kita berduet," pinta Karina tanpa menatap Arion. Karina menatap ke arah langit, melihat bintang dan bulan si anak malam. Karena mereka bersinar saat gelap datang.


Arion memiringkan kepalanya sejenak kemudian beranjak ke dalam mengambil gitar. Menyetel senar dan memetiknya sejenak menguji apakah suaranya enak atau tidak.


"Demi cintaku padamu


Ke mana pun kau 'kan kubawa


Walaupun harus kutelan


Lautan bara." 


"Demi cintaku padamu


Ke gurun ku ikut denganmu


Biarpun harus berkorban


Jiwa dan raga


Bulan madu di awan biru


Tiada yang mengganggu."


"Bulan madu di atas pelangi


Hanya kita berdua


Nyanyikan lagu cinta


Walau seribu duka


Kita takkan terpisah


Andai dipisah laut dan pantai


Tak akan goyah gelora cinta." 


"Andai dipisah api dan bara


Tak akan pudar sinaran cinta."


"Bulan madu di awan biru


Tiada yang mengganggu." 


"Bulan madu di atas pelangi


Hanya kita berdua


Nyanyikan lagu cinta


Walau seribu duka


Kita takkan terpisah


Andai dipisah laut dan pantai


Tak akan goyah gelora cinta."


"Andai dipisah api dan bara


Tak akan pudar sinaran cinta


Andai dipisah laut dan pantai


Tak akan goyah gelora cinta."


Andai dipisah api dan bara


Tak akan pudar sinaran cinta


Andai dipisah laut dan pantai


Tak akan goyah gelora cinta."


"Andai dipisah api dan bara


Tak akan pudar sinaran cinta


Andai dipisah laut dan pantai

__ADS_1


Tak akan goyah …."


Selepas itu, Arion mengangkat pandangannya dan melihat Karina. Arion tersenyum melihat Karina yang sudah memejamkan mata. Dengan segera Arion meletakkan gitarnya dan mengangkat Karina beserta selimut kembali ke ranjang. Setelah memasukkan gitar dan menutup pintu balkon, barulah Arion membaringkan tubuhnya di samping Karina dan tidur.


__ADS_2